Ada Kamera Tersembunyi di Apartemen Baruku
Maya pikir menyewa apartemen studio murah di pusat kota adalah awal dari kehidupan mandirinya yang sempurna setelah lolos dari hubungan yang toksik. Sebagai ilustrator *freelance* yang banyak bekerja dari rumah, tempat itu terasa seperti surga yang tenang—sampai dia menemukan titik merah kecil yang berkedip di sela-sela jeruji kipas angin gantungnya. Setelah diperiksa lebih teliti, ketakutan terburuknya menjadi nyata: itu adalah lensa kamera tersembunyi. Sialnya lagi, itu bukan satu-satunya. Maya menemukan beberapa kamera lain yang disembunyikan dengan sangat rapi, mengarah langsung ke tempat tidur dan kamar mandinya, memantau setiap gerak-geriknya secara *real-time*.
Tiba-tiba saja, tempat yang seharusnya menjadi zona amannya berubah menjadi labirin teror yang mencekam. Semua orang di sekitar Maya kini tampak mencurigakan; mulai dari Pak Danu, pengelola apartemen paruh baya yang terlalu ramah dan punya kunci cadangan; Elian, tetangga sebelah kamar yang tampan tapi penyendiri dan sering bertingkah aneh; hingga mantan pacar Maya yang masih terobsesi padanya. Ketegangan memuncak saat Maya mulai menerima pesan-pesan teks misterius dari nomor tidak dikenal yang mengomentari pakaian yang ia kenakan atau apa yang sedang ia makan di dalam kamarnya sendiri. Sadar bahwa nyawanya terancam dan ia tidak bisa memercayai siapa pun, Maya memutuskan untuk berpura-pura tidak tahu demi menjebak si pelaku.
Dibantu oleh seorang detektif swasta amatir yang ia sewa secara rahasia, Maya mulai menyusun rencana berbahaya untuk melacak ke mana sinyal kamera tersebut dikirimkan. Penyelidikan ini membawanya ma**k ke dalam konspirasi gelap yang jauh lebih besar dari sekadar pengint** mesum biasa, di mana nyawanya menjadi taruhan utama dalam sebuah permainan kucing-kucingan yang mematikan. Maya harus bergerak cepat mengungkap sosok di balik layar sebelum si pengint** memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyiannya dan menyentuhnya secara langsung.