Kamar Kos Sebelah
Bagi Aurora, Arga adalah sosok kakak tingkat populer yang tak terjangkau, cowok dingin yang fotonya selalu ia pandangi diam-diam di meja belajar kamar kosnya yang sempit. Aurora merasa c**up menjadi pengagum rahasia dari kejauhan, tanpa pernah berani menyapa langsung di koridor kampus. Namun, yang tidak Aurora ketahui adalah bahwa dinding kamar kosnya sangatlah tipis, dan cowok misterius penghuni kamar sebelah yang sering mengetuk dinding karena terganggu oleh suara langkah kaki dan kebiasaan begadangnya di malam hari, sebenarnya adalah Arga sendiri. Arga yang menderita insomnia perlahan-lahan mulai hafal dengan ritme hidup Aurora—mulai dari jam berapa gadis itu menyeduh mi instan, lagu sedih yang diputarnya saat stres kuliah, hingga helaan napas pasrahnya sebelum tidur.
Ketegangan dimulai ketika mereka berdua tidak sengaja terlibat dalam satu kepanitiaan kampus yang sama. Aurora mati-matian menyembunyikan rasa gugupnya di depan Arga, sementara Arga yang sudah tahu rahasia "tetangga berisiknya" mulai melancarkan aksi usil untuk mendekati Aurora. Hubungan benci-tapi-butuh ini semakin rumit ketika Aurora diteror oleh mantan pacarnya yang obsesif, memaksa Arga untuk turun tangan dan berpura-pura menjadi pacar pelindungnya. Di balik kepura-puraan itu, dinding pemisah di antara mereka perlahan runtuh, menciptakan getaran manis sekaligus kecemasan bagi Aurora yang takut kalau Arga akan menemukan foto dirinya di kamar sebelah.
Puncak konflik pecah saat Arga akhirnya ma**k ke kamar Aurora dan melihat foto dirinya terpajang di sana, membuat rahasia masing-masing terbuka lebar. Alih-alih menjauh, momen memalukan itu justru menjadi titik balik bagi keduanya untuk jujur tentang perasaan mereka yang sebenarnya selama ini. Melalui obrolan larut malam tanpa sekat dinding dan saling berbagi trauma masa lalu, Arga dan Aurora menyadari bahwa kenyamanan yang mereka cari ternyata tidak pernah jauh—hanya berjarak satu ketukan pintu kos di sebelah mereka.