Senandung Kematian di Ujung Jemari Senja
Di balik kabut tebal yang selalu menelan Desa Sasana Kala setiap senja tiba, Senja—seorang pianis muda berbakat yang dirundung duka—kembali ke rumah tua peninggalan keluarganya demi mencari jawaban atas hilangnya sang kembaran secara misterius. Di ruang tengah yang berdebu, ia menemukan sebuah piano kuno bertahtakan ukiran gading rupa jemari manusia, menyimpan lembaran partitur usang tanpa nama yang ditulis dengan tinta sewarna darah kering. Terpikat oleh rasa penasaran dan bisikan halus yang seolah memanggil namanya dari balik tuts hitam-putih, Senja mulai memainkan melodi melankolis itu tepat saat matahari tergelincir di ufuk barat. Namun, ia tidak menyadari bahwa setiap nada yang mengalun dari ujung jemarinya bukan sekadar musik biasa, melainkan sebuah undangan maut bagi entitas kuno haus darah yang telah lama tertidur di balik bayang-bayang senja.
Kengerian mulai meneror desa ketika satu per satu penduduk ditemukan tewas mengenaskan dengan kondisi sepuluh jemari mereka terpotong rapi, seolah dikorbankan demi sebuah ritual estetika yang mengerikan. Ketakutan Senja memuncak saat ia menyadari bahwa melodi terkutuk itu kini mengendalikan tangannya sendiri; jemarinya bergerak di luar kendali, dipaksa terus memainkan senandung kematian tersebut setiap kali senja menyapa, sementara bayangan mengerikan sang kembaran yang telah tiada terus membisikkan peringatan dari balik cermin. Di tengah kepungan histeria massa yang menuduhnya sebagai pembawa petaka dan ancaman kematian yang kian mendekat, Senja terpaksa menggali rahasia kelam silsilah keluarganya yang ternyata telah menumbalkan anak-anak perempuan mereka kepada "Sang Pemotong Jemari" demi kemasyhuran abadi generasi terdahulu.
Kini, dengan sisa-sisa kewarasannya yang kian terkikis dan jemari yang mulai membusuk akibat kutukan yang menjalar, Senja harus menghadapi pilihan paling mengerikan dalam hidupnya menjelang pertunjukan senja terakhir. Untuk memutus rant** kutukan darah yang telah mengikat keluarganya selama beberapa generasi, ia harus menyelesaikan bait terakhir lagu tersebut—sebuah tindakan yang menuntutnya untuk memilih antara memotong kedua tangannya sendiri demi menyelamatkan sisa penduduk desa, atau membiarkan melodi kematian itu memainkan nada penutup yang akan merenggut jiwanya dan menenggelamkan seluruh desa ke dalam kegelapan abadi yang tak pernah lagi melihat fajar.