Ada Cowok Asing di Kamar Mandiku!

Bab 1: Kos Baru, Tetangga Baru

Pengaturan Membaca

Dua koper besar, satu kardus penuh barang pecah belah, plus satu ransel berat yang sukses membuat bahu gue serasa mau copot.

Gue berdiri di depan sebuah gerbang kayu tinggi berwarna putih bersih, menatap plang kuningan kecil yang estetik di sampingnya: *Kos Lavender*.

Gue mengembuskan napas panjang, mencoba menyeka keringat di dahi dengan ujung lengan kaus longgar gue. Akhirnya, setelah drama pencarian kos-kosan yang melelahkan selama hampir satu bulan, gue resmi menapakkan kaki di sini. Kos Lavender bukan cuma sekadar tempat berteduh. Ini adalah kos eksklusif paling hits di sekitar kampus gue. Desain bangunannya bergaya minimalis modern dengan sentuhan skandinavia, didominasi warna putih, abu-abu muda, dan aksen kayu hangat. Di area halamannya, berjejer tanaman hijau yang tertata rapi, membuat tempat ini kelihatan seperti kafe-kafe mahal di Jakarta Selatan daripada sebuah kos-kosan mahasiswa.

Gue, Clara Anastasya. Mahasiswi semester tiga jurusan Desain Komunikasi Visual yang selama ini hidupnya lurus-lurus saja. Flat, monoton, dan tanpa drama. Alasan gue pindah ke sini simpel: gue butuh suasana baru yang bisa memicu inspirasi buat tugas-tugas kuliah gue yang makin hari makin tidak manusiawi. Dan tentu saja, gue mendambakan ketenangan.

"Kamar 203... Kamar 203..." gumam gue sambil menyeret koper menaiki anak tangga menuju lant** dua.

Lant** dua kos ini menggunakan lant** parket kayu yang kalau diinjak memberikan kesan hangat. Koridornya c**up luas, dengan pencahayaan hangat dari lampu gantung yang estetik. Suasananya sepi, tipikal kos-kosan mahal yang dihuni oleh orang-orang individualis yang sibuk dengan urusan masing-masing. Baguslah, batin gue. Gue memang tidak terlalu suka kebisingan.

Gue berhenti di depan pintu kayu berwarna cokelat muda dengan nomor 203 yang terbuat dari besi hitam. Begitu gue menempelkan kartu akses ke gagang pintu digitalnya, bunyi *pip* pelan terdengar, disusul suara klik halus.

Gue mendorong pintu dan langsung disambut oleh aroma terapi lavender yang menenangkanβ€”rupanya pengelola kos sudah menyalakan *diffuser* sebelum gue datang. Kamarnya c**up luas. Ada tempat tidur ukuran *queen*, meja belajar yang langsung menghadap jendela besar, lemari pakaian pintu geser, dan sebuah kamar mandi dalam yang tergolong mewah untuk ukuran anak kos.

"G***, ini sih surga," bisik gue pelan, langsung menjatuhkan diri ke atas ka**r yang empuknya luar biasa. Gue menatap langit-langit kamar dengan senyum lebar. Keputusan gue untuk merogoh kocek lebih dalam demi kos ini rasanya sangat tidak sia-sia.

Namun, rasa lelah mendadak menyerang tubuh gue. Sebelum gue tenggelam dalam mimpi di ka**r baru ini, gue memutuskan untuk merapikan beberapa barang bawaan yang paling penting dulu. Gue bangkit berdiri, membuka kardus besar, dan mulai mengeluarkan beberapa botol skincare, buku-buku tebal, serta beberapa pajangan meja.

Setelah sekitar setengah jam beres-beres, tenggorokan gue mulai terasa kering. Gue lupa membeli air mineral botolan saat jalan ke sini tadi. Sialnya, dispenser umum kos ini ada di ujung koridor lant** dua, dekat area komunal.

Gue mendesah pelan, merapikan kaus *oversized* warna abu-abu gue yang agak kusut, lalu melangkah keluar kamar dengan membawa botol minum kosong.

Saat gue baru saja menutup pintu kamar 203, suara klik dari pintu sebelah kiri gue terdengar. Kamar 204.

Gue secara refleks menoleh ke arah sumber suara.

Pintu kamar 204 terbuka lebar. Dan dari dalam sana, melangkah keluar seorang cowok yang seketika membuat gerakan gue terkunci di tempat.

Cowok itu tinggi. Sangat tinggi, mungkin sekitar 180 senti lebih. Dia cuma memakai kaus oblong hitam polos dan celana pendek olahraga abu-abu, tapi auranya langsung mendominasi koridor yang tadinya terasa luas ini. Rambut hitamnya agak berantakan, tipe *messy hair* alami yang justru membuatnya kelihatan sepuluh kali lipat lebih keren. Tapi yang paling mencuri perhatian adalah wajahnya.

Dia blasteran. Garis rahangnya tegas, hidungnya mancung sempurna seperti pahatan patung Yunani, dan matanya... matanya berwarna cokelat terang dengan tatapan yang sangat dingin. Tajam, cuek, dan seolah-olah tidak peduli dengan apa pun di sekitarnya.

Gue mengerjapkan mata. Jantung gue mendadak memberikan reaksi anehβ€”detaknya berlipat ganda dalam satu detik.

*Tunggu. Jangan bilang dia...*

Gue menajamkan ingatan gue. Cowok ini tidak asing. Sangat tidak asing. Di kampus gue, Universitas Nusantara, ada satu nama yang selalu jadi bahan perbincangan hangat di kalangan mahasiswi, mulai dari maba sampai mahasiswi tingkat akhir yang hampir drop out.

Rian Aland.

Anak jurusan Teknik Arsitektur semester lima yang terkenal sebagai "The Untouchable Prince". Dia blasteran Indo-Jerman yang kabarnya super genius, kaya raya, tapi punya kepribadian sedingin es di kutub utara. Dia tidak pernah terlihat nongkrong tidak jelas, tidak punya media sosial yang aktif, dan kabarnya selalu menolak cewek-cewek yang mencoba mendekatinya dengan cara paling sadis sedunia: mengabaikan mereka seolah mereka itu angin lalu.

Dan sekarang, cowok legendaris itu berdiri tepat dua meter di samping gue. Mengenakan baju sant**, memegang sebuah mug keramik hitam.

Gue menelan ludah dengan susah payah. Sebagai sesama penghuni koridor ini, dan sebagai orang baru yang tahu tata krama, gue merasa harus menyapanya. Setidaknya memberikan senyum ramah sebagai tanda bertetangga.

Gue memaksakan sebuah senyuman tipis, lalu sedikit mengangguk. "Hai... Gue Clara, anak baru di kamar 203," ucap gue dengan suara yang gue usahakan terdengar se-ka**al mungkin.

Rian menghentikan langkahnya. Dia menoleh perlahan ke arah gue.

Matanya yang dingin menatap gue dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tatapannya datar, tanpa emosi, bahkan tidak ada binar ketertarikan sedikit pun. Rasanya seperti sedang di-scan oleh mesin pemindai keamanan bandara. Dingin dan mengintimidasi.

Gue menahan napas, menunggu responsnya. Minimal dia menyebutkan namanya, atau sekadar membalas senyum gue.

Namun, yang gue dapatkan justru di luar dugaan.

Rian tidak tersenyum. Dia bahkan tidak membuka mulutnya untuk bersuara. Cowok itu cuma menatap gue selama tiga detik yang terasa seperti tiga abad, lalu kembali memalingkan wajahnya ke depan dan melanjutkan langkahnya menuju tangga seolah-olah gue hanyalah pajangan dinding koridor yang tidak sengaja dia lihat.

Gue mematung di tempat. Botol minum di tangan gue hampir saja merosot kalau gue tidak segera menggenggamnya erat-erat.

"Wah... g***," bisik gue setelah punggung tegap cowok itu menghilang di balik belokan tangga. "Rumor tentang dia ternyata beneran nyata. Itu orang manusia atau kulkas dua pintu sih?"

Gue mengembuskan napas kesal. Rasa canggung bercampur kesal mendadak memenuhi dada gue. Memang sih, gue tidak berharap kita bakal langsung akrab dan jajan seblak bareng, tapi setidaknya membalas sapaan tetangga baru adalah hal yang normal dilakukan manusia bersosialisasi, kan?

Dengan perasaan dongkol, gue berjalan cepat menuju dispenser, mengisi botol minum gue dengan air dingin, lalu buru-buru kembali ke kamar 203. Gue langsung mengunci pintu rapat-rapat, bersandar di balik pintu sambil memegangi dada gue yang masih berdegup kencang.

Gue mengambil ponsel dari saku celana, lalu langsung mendial nomor Karin, sahabat karib gue yang tahu segala gosip ter-update di kampus.

"Karin! Lo nggak bakal percaya apa yang baru aja terjadi sama gue!" seru gue tanpa salam pembuka begitu pangg***n tersambung.

*"Apaan sih, Cla? Baru juga pindahan udah heboh aja. Kenapa? Kosan lo berhantu? Atau ibu kosnya galak?"* sahut suara cempreng Karin dari seberang telepon.

"Lebih parah dari hantu! Lo tahu siapa tetangga kamar sebelah gue di Kos Lavender?"

*"Siapa? Anak rektor?"*

"Rian! Rian Aland! Si cowok es batu dari jurusan Arsitektur itu!"

Terdengar suara berisik dari seberang telepon, seolah Karin baru saja menjatuhkan sesuatu karena terkejut. *"Demi apa?! Lo sekos sama Rian?! Kamar sebelah-sebelahan banget?!"*

"Iya! Kamar dia 204, gue 203! Tadi pas gue baru keluar kamar, kita papasan. Terus gue coba sapa dia dengan ramah tamah layaknya warga negara I****esia yang baik dan benar."

*"Terus? Terus? Dia bales apa?"* tanya Karin dengan nada super antusias.

"Nggak dibales sama sekali, Rin! Dia cuma ngelihatin gue dari atas sampai bawah pakai tatapan yang dingin banget, terus pergi gitu aja tanpa ngomong sepatah kata pun. Sumpah, gue berasa kayak remahan rengginang di hadapan dia!" adu gue berapi-api.

Karin malah tertawa terbahak-bahak di seberang sana, membuat gue makin kesal. *"Hahaha! Kan gue udah pernah bilang, Clara sayang. Rian itu kastanya beda sama kita-kita kaum jelata. Jangankan lo yang baru jadi tetangga baru, ya. Bulan lalu, anak cheers yang paling cantik se-fakultas hukum aja nembak dia di kantin sambil bawa cokelat, dicuekin mentah-mentah sampai nangis di tempat. Jadi, level dicuekin pas disapa mah itu udah biasa banget bagi seorang Rian."*

Gue mendengus, berjalan menuju ka**r dan merebahkan diri di sana. "Tetep aja menurut gue itu nggak sopan. Kita kan tinggal di koridor yang sama. Gimana kalau nanti ada keadaan darurat? Masa dia mau tetep cuek?"

*"Ya makanya, lo jangan cari gara-gara sama dia. Anggap aja dia pajangan estetik kosan. Lagian, beruntung banget lo bisa ngelihat wajah gantengnya setiap hari dari jarak dekat. Gue aja harus sengaja lewat gedung Teknik cuma buat dapet *glance* dari dia."*

"Ganteng sih ganteng, tapi kalau sedingin itu mah bikin merinding," gumam gue.

*"Udah ah, gue mau lanjut nugas dulu. Nikmatin aja hari pertama lo di kosan baru, Clara. Siapa tahu nanti kulkas dua pintu itu bisa mencair gara-gara lo,"* goda Karin sebelum memutuskan sambungan telepon sepihak.

Gue menatap layar ponsel gue yang menggelap dengan helaan napas panjang. "Mencair? Yang ada gue duluan yang beku kalau deket-deket dia."

Gue melempar ponsel ke samping bantal, lalu menatap langit-langit kamar lagi. Rasa lelah fisik akibat pindahan perlahan-lahan mulai mengalahkan rasa kesal gue. Perlahan, mata gue mulai terasa berat. Keheningan kamar baru ini, ditambah aroma lavender yang menenangkan, akhirnya berhasil membawa gue tenggelam ke alam mimpi.

Gue tidak pernah tahu bahwa ketenangan yang gue dambakan di Kos Lavender ini... tidak akan bertahan lama. Dan gue juga tidak pernah menduga bahwa takdir punya cara yang sangat aneh sekaligus mengerikan untuk menghubungkan gue dengan cowok dingin di kamar sebelah itu.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca