"Gue kelihatan kayak lagi bercanda?" Nada suara Rian naik satu oktav. Wajahnya yang biasanya kelihatan songong, sant**, dan menyebalkan, sekarang berubah drastis jadi tegang banget. Rahangnya mengeras, dan ada gurat kecemasan yang gak bisa dia sembunyikan di balik matanya yang memerah karena sisa demam.
"Nggak... nggak mungkin," gumam gue. Lutut gue mendadak lemas, kayak semua tulang di kaki gue baru aja dipreteli paksa. Gue terduduk di tepi ka**r, menatap kosong ke arah lant** semen kamarku yang terasa dingin banget pagi ini.
Dunia gue rasanya kayak runtuh seketika.
"Kalau video itu sampai kesebar... tamat riwayat gue, Yan. Anak-anak kampus bakal makin liar nge-bully gue. Gosip murahan kemarin aja udah bikin gue males berangkat kuliah, apalagi kalau video itu sampai jatuh ke tangan orang yang salah. Nyokap-bokap di rumah... oh God, gue harus gimana?" Gue menjambak rambut gue sendiri, bener-bener frustrasi.
Isak tangis yang sejak tadi gue tahan akhirnya lolos juga. Ketakutan ini terlalu besar untuk gue tanggung sendiri. Selama ini gue selalu sok kuat, sok gak peduli dengan segala rumor miring tentang gue di kampus. Tapi kali ini, pertahanan gue jebol.
Rian yang melihat gue mulai terisak langsung berlutut di depan gue. Dia memegang kedua pundak gue dengan lembut tapi tegas. Sentuhan tangannya yang masih agak hangat karena sisa demam semalam entah kenapa memberikan sedikit rasa aman di tengah badai kepanikan yang lagi berkecamuk di dada gue.
"Cla, liat gue. Tatap mata gue," kata Rian, suaranya melembut, kontras banget sama kepanikannya yang tadi.
Gue mendongak dengan mata berkaca-kaca, menatap cowok asing yang beberapa minggu lalu tiba-tiba muncul di kamar mandi gue ini. Cowok yang awalnya gue anggap sebagai pembawa sial, tapi sekarang malah jadi satu-satunya orang yang ada di samping gue.
"Gue gak akan ngebiarin hal itu terjadi. Paham?" Rian menatap gue dalam-dalam, meyakinkan. "Gue yang bawa masalah ini ke hidup lo, dan gue bersumpah demi apa pun, gue yang bakal selesaiin ini. Lo gak sendirian, Cla. Kita bakal cari HP itu bareng-bareng."
Mendengar ucapan Rian, ada sesuatu yang hangat perlahan mengalir di dada gue. Ego gue yang selama ini menjulang tinggiβyang selalu menolak untuk terlihat lemah di depan Rianβmendadak runtuh begitu saja. Di detik ini, gue sadar kalau gue gak bisa menghadapi ini sendirian. Gue butuh Rian. Dan untuk pertama kalinya, gue terpaksa menurunkan gengsi gue dan mengandalkan cowok ini sepenuhnya.
"Tapi kita mulai dari mana, Yan?" tanya gue dengan suara serak, menghapus air mata di pipi gue dengan punggung tangan. "HP lo gak mungkin jalan sendiri, kan?"
Rian berdiri, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu gue berdiri. "Pertama, kita harus tahu kapan terakhir kali HP itu aktif. Laptop lo mana? Kita lacak lewat akun Google gue."
Gue langsung bergerak cepat mengambil laptop di atas meja belajar dan menyalakannya. Rian duduk di sebelah gue, jarinya dengan cekatan mengetik alamat *Find My Device* dan mema**kkan akun Google miliknya. Jantung gue berdegup kencang, rasanya kayak lagi nunggu hasil ujian yang menentukan hidup dan mati.
Layar laptop menunjukkan proses *loading* selama beberapa detik yang rasanya kayak berabad-abad. Begitu peta digitalnya muncul, sebuah titik hijau berkedip-kedip di layar.
"Masih di sekitar sini!" seru gue, sedikit lega tapi juga bingung. "Titiknya tumpang tindih sama area kosan kita."
Rian mendekatkan wajahnya ke layar, menganalisis peta tersebut. "Lokasi terakhir diperbarui jam lima pagi tadi. Sekarang HP-nya dalam keadaan mati atau gak ada sinyal, makanya kita gak bisa dapet lokasi *real-time*-nya. Tapi ini membuktikan satu hal: pelakunya adalah orang dalam. Seseorang yang ada di kosan ini."
Gue menelan ludah. Kos putri tempat gue tinggal ini memang gak terlalu besar, cuma ada sepuluh kamar. Tapi hampir semua penghuninya adalah mahasiswi yang sibuk dengan urusan masing-masing. Siapa yang tega melakukan ini?
"Jaket lo semalam... pas lo pingsan, lo taruh di mana?" tanya gue mencoba merunut kejadian semalam.
"Gue gak inget, Cla. Tapi seingat gue, pas gue ma**k ke kamar lo dalam keadaan basah kuyup, gue langsung lepas jaket dan gue kantongin HP itu di sana." Rian memijat pelitanya yang pasti masih terasa pening.
"Gantungan luar!" pekik gue tiba-tiba teringat sesuatu. "Semalam jaket lo basah banget, jadi gue gantung di jemuran luar lorong biar gak bikin kamar gue becek. Astaga, berarti HP itu ada di saku jaket yang dijemur di luar?"
"Kemungkinan besar iya. Dan siapa pun yang lewat lorong pagi-pagi buta, pasti bisa dengan mudah merogoh saku jaket itu," analisis Rian tajam.
Gue langsung berdiri. "Ayo kita periksa keluar."
Kami berdua keluar dari kamar dengan langkah sepelan mungkin agar tidak menimbulkan kegaduhan. Koridor kosan masih sepi, hanya ada suara gemercik air dari kamar mandi umum di ujung lorong. Gue langsung menuju ke arah gantungan baju di dekat tangga. Jaket hitam milik Rian masih ada di sana, tapi begitu gue meraba sakunya... kosong. Sama sekali gak ada apa-apa di dalam sana selain selembar struk minimarket yang sudah basah.
"Nggak ada, Yan," bisik gue lemas.
Tiba-tiba, terdengar suara pintu kamar terbuka dari arah lant** dua. Langkah kaki seseorang terdengar menuruni tangga kayu dengan sant**. Gue dan Rian refleks langsung berdiri tegak, mencoba bersikap senormal mungkin.
Muncul sesosok cewek berambut sebahu yang mengenakan kaus kebesaran dan celana tidur pendek. Di tangannya ada sebuah mug keramik bergambar kucing.
Sarah.
Sarah adalah salah satu penghuni kos di lant** dua yang terkenal paling suka bergosip. Dia selalu tahu berita terbaru di kampus, dan yang paling menyebalkan, belakangan ini dia sering banget memperhatikan gerak-gerik gue. Setiap kali gue berpapasan dengannya di dapur atau di ruang tamu, tatapannya selalu penuh selidik, seolah-olah gue adalah buronan yang lagi dia int**.
Begitu melihat gue dan Rian berdiri di dekat jemuran, langkah kaki Sarah mendadak terhenti sebentar. Matanya melebar sedikit, ada kilatan gugup yang sempat melintas di wajahnya sebelum akhirnya dia memasang senyum manis yang kelihatan dipaksakan banget.
"Eh... Clara? Rian?" Sarah menyapa dengan nada suara yang agak terlalu ceria untuk ukuran jam tujuh pagi. "Pagi-pagi udah di luar aja. Tumben Rian masih di sini? Bukannya semalam hujan deras banget ya?"
Rian melangkah maju satu langkah, menutupi sebagian tubuh gue di belakangnya. Gestur protektifnya yang alami itu bikin dada gue berdesir hangat lagi.
"Iya, semalam numpang neduh karena hujan badai. Baru mau balik sekarang," jawab Rian sant**, tapi matanya menatap Sarah dengan tajam, seolah-olah sedang membaca pikiran cewek itu. "Oh ya, Sar. Lo sempat liat HP warna hitam gak di sekitar sini pagi tadi? HP gue jatuh kayaknya."
Tangan Sarah yang memegang mug keramik kelihatan sedikit gemetar. Dia buru-buru memindahkan mug itu ke tangan kirinya. "HP? Nggak tuh. Memang jatuh di mana? Kok bisa hilang di kosan cewek?"
"Mungkin jatuh dari saku jaket gue yang digantung di sini," sahut Rian dengan nada datar namun menuntut. "Penting banget soalnya. Di dalam HP itu ada file rahasia yang kalau sampai hilang... bisa urusan sama polisi."
Gue sempat melihat jakun Sarah naik-turun, dia menelan ludah dengan susah payah. Wajahnya yang tadi agak pucat sekarang jadi makin kelihatan tegang.
"O-oh... ya nggak tahu ya. Mungkin jatuh di jalan pas kamu dateng semalam? Kan semalam gelap gulita dan hujan deras," kata Sarah, mencoba terdengar logis tapi bicaranya agak terlalu cepat. "Gue... gue ke kamar dulu ya, mau bikin kopi di atas. Duluan ya."
Tanpa menunggu jawaban dari kami, Sarah langsung berbalik badan dan hampir setengah berlari menaiki tangga menuju kamarnya kembali.
Begitu Sarah menghilang di balik tikungan tangga, gue langsung menarik lengan kaus Rian. "Yan, dia bohong. Fix, dia bohong!" bisik gue dengan nada gemas yang tertahan.
"Gue tahu," jawab Rian, matanya masih menatap ke arah tangga dengan pandangan dingin. "Cara dia memegang mug tadi, napasnya yang mendadak pendek, dan alasan dia yang langsung pengen pergi... dia tahu sesuatu tentang HP itu."
Kami berdua kembali ke dalam kamar gue dan langsung mengunci pintu rapat-rapat. Suasana di dalam kamar mendadak terasa makin mencekam. Tekanan waktu membuat dada gue rasanya mau meledak.
"Kenapa Sarah yang ngambil? Apa hubungannya dia sama masalah kita?" tanya gue sambil berjalan mondar-mandir di dalam kamar, menggigiti kuku ibu jari gue karena cemas.
"Lo inget gak, beberapa hari lalu lo bilang Sarah sering ngobrol sama anak-anak mading kampus?" Rian mengingatkan.
Ingatan gue langsung berputar. "Oh iya! Kemarin sore gue liat dia lagi bisik-bisik serius banget sama Amanda di dekat gerbang kampus. Pas gue lewat, mereka langsung diam dan ngelirik gue sinis. Jangan-jangan..."
"Sarah sengaja ngambil HP itu karena dia tahu HP itu milik gue, dan dia mau ngasih isinya ke Amanda buat ngejatuhin lo," potong Rian, menyimpulkan hal yang paling gue takuti.
Gue langsung lemas dan terduduk kembali di lant**, menyandarkan punggung gue di pintu kamar. Air mata gue kembali menggenang. "Kalau bener begitu... berarti sekarang video itu mungkin udah ada di tangan Amanda. Gue habis, Yan. Karir kuliah gue, nama baik gue... semuanya hancur."
Rian berjalan mendekat ke arah gue. Dia ikut duduk di lant** dingin, tepat di hadapan gue. Kali ini, dia gak sekadar memegang pundak gue, tapi dia meraih kedua tangan gue dan menggenggamnya erat-erat. Genggaman tangannya begitu kokoh, seolah-olah dia sedang menyalurkan semua kekuatan yang dia punya ke dalam tubuh gue yang gemetar.
"Cla, dengerin gue baik-baik," kata Rian, suaranya terdengar sangat tulus dan dalam, bener-bener beda dari Rian yang biasanya suka meledek gue. "Gue gak akan membiarkan skenario terburuk itu terjadi. Gue berjanji sama lo. Kalaupun nanti seluruh kampus mutusin buat gak percaya sama lo, gue yang bakal tetep berdiri di samping lo. Gue yang bakal jadi tameng lo."
Gue menatap matanya yang hitam pekat. Di sana, gak ada lagi keraguan. Gak ada lagi permainan adrenalin yang selama ini jadi kedok kami untuk sering bersama. Yang ada hanyalah kejujuran yang murni.
"Kenapa... kenapa lo peduli banget sama gue, Yan?" tanya gue lirih, suara gue bergetar. "Awalnya kita kan cuma partner karena terpaksa. Kenapa lo sampai harus nanggung risiko sebesar ini buat gue?"
Rian tersenyum tipis, sebuah senyuman hangat yang baru pertama kali ini gue lihat menghiasi wajahnya yang tampan.
"Awalnya mungkin karena terpaksa, Cla. Tapi sekarang... gue gak tahan liat lo ketakutan kayak gini. Ego gue runtuh, Cla. Gue sadar kalau gue gak bisa cuma diam dan pura-pura gak peduli. Gue butuh lo di hidup gue, dan gue mau lo juga mengandalkan gue sepenuhnya mulai sekarang. Tolong, jangan tanggung beban ini sendirian lagi. Biarin gue bantu lo."
Mendengar pengakuan jujur Rian, rasanya seperti ada bongkahan es besar yang mencair di dalam dada gue. Semua ketakutan gue perlahan-lahan menguap, digantikan oleh rasa percaya yang begitu kuat pada cowok di depan gue ini. Gue mengangguk pelan, air mata gue kembali menetes, tapi kali ini bukan karena takut, melainkan karena rasa lega yang luar biasa.
Gue mencondongkan tubuh gue ke depan, menyandarkan dahi gue di bahunya yang lebar. Rian tidak menolak, dia malah melingkarkan lengannya di punggung gue, memeluk gue dengan erat dan penuh kehangatan. Di dalam pelukannya, di tengah situasi yang menegangkan ini, ikatan emosional di antara kami terajut semakin erat, menghapus semua jarak yang selama ini kami bangun sendiri.
"Makasih, Yan," bisik gue di balik bahunya.
"Sama-sama, Cla. Sekarang, waktunya kita atur strategi," kata Rian sambil melepaskan pelukannya perlahan, lalu menatap gue dengan senyum penuh keyakinan. "Kita harus rebut kembali HP itu sebelum Sarah sempat menyerahkannya ke Amanda."
"Gimana caranya?" tanya gue, mendadak kembali bersemangat karena merasa punya kekuatan baru.
"Sarah gak akan bisa membuka kunci HP itu dengan mudah karena ada sensor sidik jari dan sandi pola yang rumit. Dia punya dua pilihan: membawa HP itu ke konter buat di-*flash*βyang mana akan menghapus semua data di dalamnya, terma**k video ituβatau dia harus menunggu sampai bisa bertemu langsung dengan Amanda untuk mencari cara membukanya," jelas Rian taktis.
"Dan hari ini hari Sabtu," sahut gue cepat, otak gue mulai bekerja menyambungkan kepingan taktik Rian. "Kampus libur. Berarti kalau mereka mau ketemu, kemungkinan besar di kafe dekat kampus atau Sarah yang bakal nyamperin Amanda ke kosannya."
"Tepat sekali," Rian menjentikkan jarinya. "Dan tugas kita adalah mengawasi setiap pergerakan Sarah hari ini. Begitu dia keluar dari kosan, kita ikuti dia."
Gue tersenyum kecil, perasaan optimis mulai merayap di dada gue. "Siap, Partner."
Di tengah badai yang siap menghantam, kami berdua tahu bahwa apa pun yang akan terjadi di depan nanti, kami tidak akan lagi menghadapinya sendirian. Kami adalah tim sekarang, dan kami siap mengejar jejak sang pencuri sampai ke ujung mana pun.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!