Layar laptop gue berkedip beberapa kali sebelum akhirnya menampilkan peta digital dengan titik hijau yang berkedip-kedip di atasnya. Gue menahan napas, gak berani berkedip sedetik pun. Jantung gue rasanya kayak lagi tanding maraton, berdegup kencang banget sampai telinga gue berdenging.
"Ketemu," bisik Rian. Suaranya rendah, tapi penuh dengan ketegangan yang pekat.
Gue mendekatkan wajah ke layar, memperhatikan titik hijau itu. "Ini... ini kan daerah ruko dekat kampus? Kafe La Luna?"
"Iya. HP gue ada di sana. Dan posisinya diam, gak bergerak," kata Rian sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas meja. "Siapa pun yang ngambil HP gue, dia lagi sant**-sant** di sana sekarang."
"Tunggu, Yan," kata gue, mendadak merasa ada yang aneh. "Maling HP biasanya langsung matiin daya atau ngejual HP-nya ke penadah, kan? Kenapa ini malah sengaja dinyalain di tempat umum kayak kafe?"
Belum sempat Rian menjawab pertanyaan gue, ponsel di saku celana gue tiba-tiba bergetar heboh. Nada dering pesan ma**k berbunyi berturut-turut. Dengan tangan gemetar, gue merogoh saku dan membuka layarnya. Ada nomor tidak dikenal yang mengirimkan beberapa pesan WhatsApp.
Begitu gue membuka pesan itu, seluruh darah di tubuh gue rasanya mendadak membeku.
Pesan pertama adalah sebuah foto. Foto layar ponsel Rian yang menampilkan folder video pribadi kamiβlebih tepatnya, video rekaman kejadian tidak sengaja di kamar mandi beberapa waktu lalu, di mana gue panik setengah te******* karena ada Rian di sana.
Pesan kedua adalah sebuah video singkat berdurasi tiga detik. Itu adalah potongan video gue yang sedang menjerit histeris.
Dan pesan ketiga berupa teks singkat yang bikin dada gue sesak:
*βHai, Clara. Cantik juga ya lo di video ini. Mau gue bantu share ke grup angkatan kampus biar lo makin terkenal? Datang ke VIP room La Luna Cafe sekarang. Berdua sama Rian. Jangan telat, atau jari gue kepeleset nekan tombol share.β*
"Cla? Kenapa?" tanya Rian yang menyadari perubahan drastis di wajah gue. Dia langsung merebut ponsel dari tangan gue.
Gue cuma bisa diam mematung, menatap kosong ke depan sementara air mata gue kembali mengalir tanpa bisa dicegah. Rian menatap layar ponsel gue, dan sedetik kemudian, gue bisa mendengar dia menggeram rendah. Matanya yang merah kini menyala penuh kemarahan yang luar biasa. Rahangnya mengeras sampai urat-urat di lehernya menonjol.
"Ba******," desis Rian, suaranya terdengar sangat mengerikan. "Ini kerjaan Monica."
"Mo... Monica?" tanya gue terbata-bata. "Mantan lo yang manipulatif itu?"
"Gak ada orang lain yang se-psiko ini selain dia," jawab Rian dingin. Dia langsung berdiri, menyambar jaket kulit hitamnya yang tergeletak di kursi. "Kita ke sana sekarang. Gue gak akan biarkan dia nyentuh lo atau ngerusak hidup lo, Cla. Sumpah."
Sepanjang jalan menuju kafe menggunakan motor Rian, gue cuma bisa memeluk pinggangnya erat-hard. Angin jalanan yang menerpa wajah gue gak mampu mendinginkan kepala gue yang rasanya mau pecah. Pikiran gue melayang ke mana-mana. Bagaimana kalau kami terlambat? Bagaimana kalau Monica sudah telanjur menyebarkannya? Reputasi gue di kampus yang sudah susah payah gue bangun bakal hancur lebur dalam hitungan detik.
Begitu sampai di La Luna Cafe, Rian langsung menarik tangan gue ma**k. Kafe itu c**up ramai oleh mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas atau sekadar nongkrong. Kontras banget dengan suasana hati kami yang seperti sedang menuju medan perang.
Rian melangkah lebar menuju area *VIP room* yang terletak di bagian belakang kafe, dipisahkan oleh sekat kaca buram. Tanpa mengetuk pintu, Rian langsung mendorong pintu kaca itu dengan kasar.
*B**k!*
Suara pintu yang terbuka lebar membuat satu-satunya orang di dalam ruangan itu menoleh.
Seorang cewek cantik dengan rambut panjang bergelombang yang dicat kecokelatan sedang duduk sant** di sofa kulit. Dia memakai pakaian bermerek, tampak sangat modis dan elegan. Di depannya, ada segelas iced americano yang sudah tinggal setengah. Dan di atas meja kayu di hadapannya, tergeletak ponsel hitam milik Rian.
Dia adalah Monica. Mantan pacar Rian yang selama ini sering Rian ceritakan dengan nada penuh penyesalan.
"Oh, *look who's here*," ucap Monica dengan senyum manis yang terlihat sangat palsu di mata gue. Dia melirik jam tangan pintarnya yang mewah. "Tepat waktu banget. Gue suka orang yang disiplin."
"Balikin HP gue, Mon," kata Rian langsung pada intinya. Suaranya terdengar sangat dingin, seolah-olah dia sedang berbicara dengan musuh bebuyutannya, bukan mantan kekasih.
Monica terkekeh manja, suara tawa yang entah kenapa bikin bulu kuduk gue merinding. Dia menyandarkan tubuhnya ke sofa, menatap Rian dengan pandangan menilai, lalu beralih menatap gue dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan meremehkan.
"Sabar dong, Sayang. Kita baru aja ketemu setelah berbulan-bulan lo menghilang bagai ditelan bumi," kata Monica, nadanya terdengar terluka tapi dibuat-buat. "Dan sekarang, lo muncul-muncul langsung bawa cewek murah-an ini? Selera lo turun drastis ya, Yan? Dari gue, terus beralih ke anak kosan udik kayak dia?"
"Jaga mulut lo, Monica!" bentak Rian, melangkah maju satu langkah untuk melindungi gue di belakang punggungnya. "Gue gak punya waktu buat drama lo. Apa mau lo sebenarnya? Kenapa lo harus nyuri HP gue lewat orang suruhan lo?"
Monica berdiri dari duduknya. Senyum manisnya perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi dingin dan penuh kebencian yang mendalam. Matanya menatap Rian dengan tajam.
"Gue mau lo hancur, Yan. Sama kayak lo yang udah ngehancurin hidup gue!" desis Monica dengan nada suara yang tiba-tiba meninggi. "Lo pikir lo bisa pergi gitu aja setelah bikin reputasi gue hancur di depan bokap lo? Lo mutusin gue sepihak, bikin gue kelihatan kayak cewek g*** di depan teman-teman angkatan kita, dan sekarang lo hidup bebas seolah gak terjadi apa-apa?"
"Lo emang g***, Mon!" balas Rian, gak mau kalah. "Lo yang selingkuh sama sepupu gue sendiri, lo yang manipulasi semua orang buat benci sama gue, dan sekarang lo bertingkah seolah-olah lo korbannya? Sadar gak sih lo?!"
"Gue gak peduli!" teriak Monica, wajah cantiknya kini tampak menyeramkan karena dikuasai amarah. Dia menyambar ponsel Rian dari meja dan mengacungkannya ke arah kami. "Yang jelas, sekarang kartu as ada di tangan gue. Cewek di belakang lo ini... siapa namanya? Clara, kan? Kasihan banget ya, harus jadi korban dari dendam gue ke lo."
Gue merasa lutut gue gemetar hebat. Gue memberanikan diri untuk bersuara, mencoba menekan ego gue demi keselamatan reputasi gue sendiri. "Monica... tolong, jangan sebarin video itu. Gue gak ada hubungannya sama masa lalu kalian. Gue cuma korban salah paham di sini..."
Monica tertawa sinis mendengar ucapan gue. "Korban? Lucu banget. Di dunia ini gak ada yang gratis, sayang. Kalau lo mau video ini aman, ada harga yang harus dibayar."
Monica kembali menatap Rian, kali ini dengan senyum penuh kemenangan yang licik. "Rian, gue tahu lo lagi nyelidikin tentang pemilik kos lama tempat Clara tinggal sekarang. Gue tahu lo udah berhasil ngumpulin bukti-bukti keterlibatan dia dalam ka**s penipuan tanah dan penggelapan dana yang juga menyeret nama keluarga gue."
Jantung gue mencelos. Jadi ini semua saling berhubungan? Ka**s kos-kosan lama Clara dan masa lalu Rian?
"Gue mau seluruh bukti penyelidikan itu," kata Monica, suaranya kini terdengar sangat manipulatif dan mengintimidasi. "Serahin semua file, flashdisk, dan salinan dokumen yang lo punya tentang pemilik kos lama itu ke gue sekarang juga. Tanpa sisa."
"Gak bisa, Mon. Bukti-bukti itu satu-satunya cara buat bersihin nama bokap gue yang udah difitnah sama pemilik kos ba****** itu!" tolak Rian tegas.
Monica mengangkat bahu dengan sant**. Jarinya mulai menari-nari di atas layar ponsel Rian. "Oh, ya? Pilihan ada di tangan lo, Rian sayang. Serahin bukti itu, atau..." Monica menunjukkan layar ponselnya ke arah kami.
Di layarnya, sudah terbuka aplikasi WhatsApp group dengan nama "GRUP ANGKATAN 2022". Video gue sudah siap dikirimkan di kolom chat. Jari jempol Monica berada tepat satu milimeter di atas tombol *send* yang berwarna hijau.
"Satu klik, Yan. Satu klik aja, dan cewek kesayangan lo ini bakal jadi bahan gunjingan satu kampus besok pagi. Beasiswa dia? Hancur. Masa depan dia? Tamat. Orang tuanya di kampung? Pasti bakal bangga banget liat video anaknya kayak gini," ancam Monica dengan nada kejam.
"Jangan, please..." tangis gue akhirnya pecah juga. Gue memegang ujung jaket Rian dengan sangat erat, menyembunyikan wajah gue di punggungnya. Gue bener-bener gak sanggup membayangkan kalau video itu sampai tersebar. Dunia gue rasanya benar-benar runtuh detik itu juga.
Rian menegang. Gue bisa merasakan otot-otot tubuhnya mengeras. Dia menatap gue yang sedang menangis ketakutan di belakangnya, lalu kembali menatap Monica dengan pandangan yang campur aduk antara amarah, frustrasi, dan kekalahan yang amat sangat.
Monica tersenyum penuh kemenangan, tahu betul kalau dia sudah berhasil mengunci pergerakan Rian.
"Gimana, Rian? Waktu lo berjalan. Pilih nama baik bokap lo yang udah pensiun itu, atau masa depan cewek malang ini?" tanya Monica dengan nada mengejek yang sangat kental.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!