Bab 12: Rencana Nekat di Batas Akhir
Deru mesin motor Rian membelah jalanan malam yang mulai lengang. Gue memeluk pinggang Rian erat-erat, menyandarkan kening gue di punggung tegapnya yang terasa kaku dan tegang. Angin malam menusuk pori-pori kulit, tapi hawa dingin itu sama sekali gak bisa meredakan panas di kepala gue. Pikiran gue semrawut kayak benang kusut yang mustahil diurai.
Begitu motor Rian berhenti di pelataran parkir La Luna Cafe, Rian langsung mematikan mesin dan turun dengan terburu-buru. Dia gak nungguin gue, langsung melangkah lebar-lebar menuju pintu ma**k kafe dengan rahang yang mengeras. Gue buru-buru menyusul di belakangnya, setengah berlari biar gak ketinggalan.
Kafe malam ini c**up ramai oleh mahasiswa yang lagi nongkrong atau ngerjain tugas. Tapi langkah Rian lurus menuju lorong belakang, tempat ruang VIP berada. Rian membuka pintu kayu bertuliskan "VIP 1" dengan sekali sentak.
Di dalam ruangan ber-AC dingin itu, seorang cewek berambut *ash-grey* yang ditata rapi sedang duduk sant** sambil menyilangkan kakinya. Monica. Dia mengenakan *blazer* ka**al berwarna pastel, kelihatan sangat elegan dan berkelas. Di atas meja di depannya, sebuah ponsel hitamβyang gue yakini adalah milik Rianβtergeletak begitu saja di sebelah cangkir *iced americano*.
Begitu melihat kami ma**k, senyum manis tapi beracun langsung terukir di bibir merahnya.
"Wah, tepat waktu banget. Gue suka orang yang disiplin," ujar Monica dengan nada suara yang kelewat sant**, seolah-olah dia lagi menyambut teman lama di acara reuni.
"Gak usah banyak basa-basi, Monica," desis Rian, suaranya terdengar sangat rendah dan berbahaya. Dia melangkah mendekati meja, tapi Monica dengan cepat menyambar ponsel itu dan mema**kkannya ke dalam tas desainer miliknya.
"Eits, jangan buru-buru dong, sayang," kata Monica sambil menatap Rian dengan tatapan memuja yang bikin gue merinding. "Gue baru aja mau menikmati malam ini sama lo. Tapi... kenapa lo harus bawa benalu ini sih?" Monica melirik gue dengan tatapan jijik dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Gue mengepalkan tangan di samping tubuh. Rasanya pengin banget gue jambak rambut abu-abunya itu, tapi gue tahu gue harus tetap tenang. Ini bukan waktunya pakai otot.
"Mau lo apa, Mon? Sebutin aja. Jangan ganggu Clara," kata Rian, mencoba menahan emosinya agar tidak meledak.
Monica tertawa renyah, sebuah suara tawa yang terdengar sangat manipulatif di telinga gue. "Gampang kok. Gue cuma mau keadilan. Sejak lo mutusin gue demi cewek udik ini, hidup gue berantakan, Rian. Reputasi gue di kalangan anak-anak organisasi hancur karena mereka tahu lo yang ninggalin gue."
"Gue ninggalin lo karena lo selingkuh dan selalu bohongin gue!" bentak Rian, napasnya mulai memburu.
"Gak peduli!" suara Monica meninggi egois. "Yang jelas, gue mau lo balik sama gue. Kita pacaran lagi, dan lo harus umumin itu di grup angkatan kita biar semua orang tahu kalau kita gak pernah putus."
"G*** lo ya?" tanya gue, akhirnya gak tahan buat gak bersuara. "Rian bukan barang yang bisa lo paksa buat balik ke lo!"
Monica menatap gue tajam, matanya menyipit penuh kebencian. "Diam lo, cewek murahan. Lo gak punya hak bicara di sini. Oh, atau lo mau video lo lagi menjerit histeris tanpa baju di kamar mandi Rian tersebar di grup angkatan besok pagi? Biar semua orang tahu aslinya lo kayak gimana?"
Dada gue berdesir hebat mendengar ancaman itu. Wajah gue langsung pucat pasi.
Monica tersenyum puas melihat reaksi gue. Dia mengeluarkan ponselnya sendiri dari saku, lalu mengetuk layarnya beberapa kali. "Gue kasih waktu tepat 24 jam. Besok malam jam delapan. Rian harus balik jadi pacar gue, dan lo, Clara... gue mau lo transfer uang ganti rugi sebesar 50 juta ke rekening gue. Anggap aja itu denda karena lo udah lancang merusak hubungan orang lain. Kalau sampai besok jam delapan malam persyaratan gue gak dipenuhi, atau kalau gue lihat kalian berdua masih jalan bareng... video ini bakal langsung viral di kampus. Paham?"
"50 juta?!" gue m****ik gak percaya. "Uang dari mana sebanyak itu?!"
"Gak mau tahu. Cari pinjaman, jual ginjal lo, atau apa pun terserah. Waktu kalian berjalan dari sekarang," kata Monica sambil berdiri, menyampirkan tasnya di bahu, lalu berjalan melewati kami begitu saja dengan senyum kemenangan. Sebelum benar-benar keluar, dia berbisik di telinga Rian, "Sampai jumpa besok malam, pacar baruku."
Pintu VIP tertutup dengan dentuman pelan, meninggalkan kami berdua dalam keheningan yang mencekam.
***
Begitu kami keluar dari kafe dan sampai di parkiran yang agak sepi, Rian tiba-tiba berbalik menghadap gue. Wajahnya yang tadi merah padam karena marah kini berubah layu dan dipenuhi kepanikan yang luar biasa. Dia memegang kedua pundak gue dengan erat, cengkeramannya agak gemetar.
"Cla, dengerin gue," kata Rian dengan suara yang tercekat. "Mulai detik ini, lo jangan pernah hubungi gue lagi. Jauhin gue."
Gue tertegun. Jantung gue kayak berhenti berdetak sesaat. "Maksud lo apa, Yan?"
"Gue bakal turutin semua mau Monica," ujar Rian cepat, bicaranya mulai melantur karena panik. "Gue bakal balik sama dia. Masalah uang 50 juta itu, biar gue yang cari jalannya. Gue bisa jual motor gue, atau pinjam ke temen-temen komunitas gue. Yang penting lo aman, Cla. Lo gak boleh hancur gara-gara gue."
"Lo g*** ya, Rian?!" gue menepis tangan Rian dari pundak gue dengan kasar. Air mata gue yang sempat tertahan kini mulai berebut keluar. "Lo pikir dengan lo ngorbanin diri kayak gini, semuanya bakal selesai? Lo mau balik sama cewek psikopat kayak dia?!"
"Terus gue harus gimana?!" Rian berteriak frustrasi, dia mengacak rambutnya kasar lalu menendang ban motornya sendiri. "Gue gak punya pilihan, Clara! Video itu ada di tangan dia. Kalau video itu tersebar, kuliah lo bakal hancur. Keluarga lo bakal malu. Gue gak akan pernah bisa dimaafkan kalau sampai hal itu terjadi sama lo. Ini semua salah gue! Salah gue karena malem itu gue mabuk dan berakhir di kamar mandi kosan lo!"
Melihat Rian yang begitu terpukul dan menyalahkan dirinya sendiri, amarah gue perlahan surut, digantikan oleh rasa sesak yang luar biasa di dada. Gue melangkah mendekat, lalu menggenggam kedua tangan Rian yang terasa dingin banget. Gue memaksa dia untuk menatap mata gue.
"Rian, liat gue," bisik gue lembut, mencoba menyalurkan ketenangan yang sebenarnya gue sendiri juga gak punya banyak. "Gue gak mau jadi cewek egois yang lari dan menyelamatkan diri sendiri sementara lo menderita sendirian. Kita ma**k ke masalah ini bareng-bareng. Dari awal, sejak cowok asing aneh tiba-tiba ada di kamar mandi gue, kita udah terlibat satu sama lain."
Rian menatap gue dengan mata yang berkaca-kaca. "Tapi, Cla..."
"Enggak ada tapi-tapi," potong gue tegas. "Kita hadapi ini berdua. Jangan pernah coba-coba dorong gue menjauh lagi. Kita cari jalan keluarnya sama-sama. Monica pikir dia udah menang karena punya kartu as kita, tapi dia lupa kalau kesombongan itu selalu bikin orang lengah."
Rian menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan degup jantungnya. Dia menggenggam balik tangan gue dengan sangat erat, seolah-olah gue adalah satu-satunya pegangan hidupnya saat ini. "Lo beneran gak mau mundur?"
Gue tersenyum tipis, menghapus air mata di pipi gue dengan punggung tangan. "Gak akan pernah."
***
Malam itu juga, kami memutuskan untuk kembali ke kosan gue. Kami duduk bersila di lant** kamar, dengan sebuah kertas kosong dan pulpen di antara kami. Waktu terus berjalan, dan angka di jam dinding terasa berputar dua kali lebih cepat dari biasanya. Kami punya waktu kurang dari 24 jam untuk menyusun sebuah rencana.
"Monica itu licik dan perfeksionis," Rian memulai analisisnya sambil mengetuk-ngetuk pulpen ke lant**. "Dia pasti punya cadangan video itu. Walaupun besok kita berhasil rebut HP gue, gak ada jaminan dia gak punya salinannya di laptop atau akun cloud-nya."
"Bener," gue menyetujui. "Jadi, cara satu-satunya adalah bukan cuma menghapus videonya, tapi bikin dia gak berani dan gak bisa menyebarkan video itu selamanya."
Rian menaikkan alisnya, bingung. "Maksud lo?"
"Kita harus punya kartu as yang lebih besar dari dia. Sesuatu yang bisa bikin dia langsung ma**k penjara kalau dia berani macam-macam," jawab gue mantap. Pikiran gue yang tadinya buntu kini mulai terbuka. "Monica melakukan pemerasan dan pengancaman. Itu melanggar hukum, kan? Ada UU ITE yang mengatur tentang penyebaran konten pribadi dan pemerasan."
Mata Rian seketika berbinar. "G***, Cla. Lo bener. Ancaman hukuman untuk ka**s pemerasan dan pengancaman itu gak main-main. Bisa bertahun-tahun penjara."
"Nah, makanya. Kita harus jebak dia besok malam di tempat transaksi yang dia tentukan," jelas gue, mulai bersemangat. "Kita pura-pura setuju sama semua syaratnya. Gue bakal bawa amplop tebal yang isinya potongan kertas kosong dilapisi beberapa lembar uang asli di bagian luar biar kelihatan kayak uang 50 juta. Dan lo... lo pura-pura pasrah buat balikan sama dia."
"Terus gimana kita dapet buktinya?" tanya Rian.
Gue mengambil ponsel gue sendiri. "Gue bakal taruh HP gue di saku kemeja yang longgar, dengan kamera yang menghadap keluar dan posisi merekam video secara *live* ke akun cloud pribadi gue. Jadi kalaupun dia curiga dan banting HP gue, rekamannya udah otomatis tersimpan di internet. Kita juga harus pasang *voice recorder* cadangan yang disembunyikan di tempat yang aman, mungkin di bawah meja kafe sebelum dia dateng."
Rian manggut-manggut, tapi raut wajahnya kembali terlihat cemas. "Rencana ini nekat banget, Cla. Monica itu pinter. Kalau dia sadar kita lagi menjebak dia, dia bisa langsung nekan tombol *share* detik itu juga. Kita bener-bener main di batas akhir."
Gue memegang pundak Rian, menatapnya dengan penuh keyakinan. "Gue tahu ini bahaya. Tapi ini satu-satunya kesempatan kita untuk bebas dari dia selamanya. Lo percaya sama gue, kan?"
Rian menatap gue lama, mencari keraguan di mata gue, tapi dia gak menemukan apa-apa selain tekad yang bulat. Perlahan, senyum tipis mulai terukir di wajahnya yang tampan.
"Gue percaya sama lo, Clara. Selalu," kata Rian tulus. Dia mengacak rambut gue pelan dengan gemas. "Kalau gitu, mari kita matangkan rencana ini. Besok malam, kita bakal kasih Monica pelajaran yang gak akan pernah dia lupain seumur hidupnya."
Gue mengangguk mantap. Ketakutan yang tadinya melumpuhkan gue kini berubah menjadi bahan bakar keberanian. Kami berdua akan bertaruh dengan sisa waktu yang ada. Hidup gue, hidup Rian, dan masa depan kami berdua ditentukan dalam waktu kurang dari 24 jam ke depan.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!