Bab 13: Showdown di Tengah Hujan
"G*** lo ya?"
Kalimat itu meluncur bebas dari mulut gue sebelum gue sempat mengeremnya. Dada gue kembang kempis menahan emosi yang udah sampai ke ubun-ubun. G***. Cewek di depan gue ini bener-bener udah gak waras. Dia pikir hidup ini drama Korea yang bisa dia atur naskahnya sesuka hati?
Monica malah ketawa. Suara tawanya melengking di dalam ruang VIP yang kedap suara itu, terdengar sangat menyebalkan di telinga gue.
"G***?" Monica menatap gue dengan pandangan meremehkan. "Sori-sori aja, Clara. Ini namanya taktik. Di dunia ini, yang kuat yang menang. Dan sekarang, gue memegang kartu as cowok lo."
Monica berdiri, menyampirkan tas desainer mahalnya ke bahu. Dia mengambil ponsel hitam milik Rian dari meja dengan gerakan lambat, seolah sengaja memamerkan kekuasaannya di depan kami.
"Gue gak punya banyak waktu buat ngeladenin debat kusir gak bermutu kalian," kata Monica sambil melangkah menuju pintu. "Gue kasih waktu lima menit buat lo mikir, Rian. Gue tunggu di luar. Kalau lo gak nyamperin gue dan setuju buat balikan, file di HP ini bakal langsung kesebar ke seluruh grup angkatan. Dan lo tahu kan apa dampaknya buat beasiswa dan masa depan lo?"
Tanpa nunggu jawaban dari Rian, Monica melenggang pergi, meninggalkan aroma parfum mawar yang menyengat dan suasana ruangan yang mendadak sedingin es.
Gue menoleh ke arah Rian. Wajah cowok itu pucat pasi, tangannya yang mengepal di sisi tubuh gemetaran hebat. Gue bisa melihat ketakutan yang luar biasa di matanya, jenis ketakutan yang belum pernah gue lihat sebelumnya dari seorang Rian yang biasanya selalu tenang dan cuek.
"Rian," panggil gue lembut, menyentuh lengannya yang terasa kaku kayak batu.
"Gue harus turutin dia, Cla," bisik Rian, suaranya parau. "Gue gak boleh kehilangan beasiswa ini. Nyokap gue... nyokap gue bisa jantungan kalau tahu gue dikeluarin dari kampus."
"Gak, Rian. Dengerin gue," gue mencengkeram kedua pundaknya, memaksa dia buat menatap langsung ke mata gue. "Kalau lo nurutin dia sekarang, dia bakal terus-terusan meras lo seumur hidup lo. Kita harus selesaikan ini sekarang juga. Gue punya rencana."
"Rencana apa?" tanya Rian bingung.
Gue meraba kantong jaket denim gue, merasakan keberadaan ponsel gue di sana. Sebuah ide g*** mendadak melintas di kepala gue. "Gue bakal pancing dia buat ngaku. Lo c**up ikutin permainan gue dan cari celah buat merebut HP lo balik. Oke?"
Rian menatap gue ragu, tapi akhirnya dia mengangguk pelan. "Oke. Gue percaya sama lo, Cla."
Begitu kami melangkah keluar dari lobi La Luna Cafe, hawa dingin langsung menyergap kulit. Langit malam yang tadinya kelabu gelap kini benar-benar tumpah. Hujan deras langsung mengguyur bumi tanpa ampun, disert** gemuruh petir yang saling bersahutan di kejauhan.
Di tengah pelataran parkir yang mulai sepi, Monica berdiri di dekat mobil hatchback merahnya. Dia tampak kesulitan membuka payung karena angin kencang yang bertiup. Rambut abu-abunya yang ditata rapi kini mulai basah terkena cipratan air hujan.
"Monica!" teriak gue, membelah suara gemuruh hujan.
Gue dan Rian langsung berlari menerobos hujan. Dalam hitungan detik, pakaian kami basah kuyup. Air hujan mengalir deras di wajah gue, bikin mata gue agak perih, tapi gue gak peduli. Fokus gue cuma satu: cewek manipulatif di depan gue ini.
Monica berbalik, terkejut melihat kami yang nekat menerobos hujan deras tanpa pelindung apa pun. Senyum kemenangan kembali mengembang di wajahnya yang mulai basah.
"Wah, dramatis banget ya," teriak Monica, berusaha mengalahkan suara deru hujan yang semakin bising. "Jadi gimana, Rian? Lo udah siap buat minta maaf dan balik sama gue?"
Gue melangkah maju, memosisikan diri gue di depan Rian. Gue sengaja mema**kkan tangan kanan gue ke dalam kantong jaket, diam-diam meraba tombol p****am suara di ponsel gue, lalu menekannya. *Satu... dua... p****am aktif.*
"Mon! Tolong jangan lakuin ini!" teriak gue dengan nada suara yang dibuat-buat panik dan ketakutan. Gue harus akting totalitas di sini. "Lo gak kasihan sama Rian? Lo yang sengaja jebak dia kan? Kenapa lo tega banget, sih?!"
Monica melipat kedua tangannya di dada, payungnya dia jepit di antara bahu dan lehernya. "Kasihan? Buat apa gue kasihan sama cowok yang udah buang gue demi cewek udik kayak lo?"
"Tapi cara lo ini kotor, Mon!" teriak gue lagi, memancingnya lebih dalam. "Lo sengaja ngambil HP Rian pas dia lenggah di perpustakaan minggu lalu, kan? Terus lo nge-hack akunnya dan bikin semua chat palsu itu? Lo sengaja bikin fitnah biar reputasi Rian hancur di kampus!"
Mendengar ucapan gue, Monica malah tertawa sombong. Sifat aslinya yang arogan benar-benar keluar saat dia merasa berada di atas angin. Di bawah guyuran hujan yang semakin deras, dia melangkah mendekati gue, wajahnya dipenuhi rasa puas yang menjijikkan.
"Ya, emang kenapa kalau iya?!" teriak Monica tanpa ragu. "Siapa lagi yang se-genius gue, hah? Gampang banget tahu ngambil HP Rian pas dia lagi ke toilet. Dan soal chat palsu itu? Itu gampang banget dibuat! Gue tinggal bayar orang buat ngedit tangkapan layar, sebarin ke anak-anak organisasi, dan boom! Semua orang langsung percaya kalau Rian itu cowok br****** yang suka mainin cewek!"
Gue melirik Rian sekilas. Rian tampak menahan napas, matanya menatap Monica dengan kemarahan yang mendalam. Gue memberikan kode lewat tatapan mata agar Rian tetap diam dan bersiap-siap.
"Terus foto-foto editan itu juga kerjaan lo?" tanya gue lagi, mempertegas bukti.
"Tentu saja!" sahut Monica dengan nada angkuh yang luar biasa. "Gue yang ngerancang semuanya, Clara! Gue yang bikin Rian kelihatan bersalah biar dia gak punya pilihan selain berlutut dan memohon balik sama gue! Di kampus ini, gak akan ada yang percaya sama omongan kalian berdua. Gue punya uang, gue punya pengaruh, sedangkan kalian berdua? Cuma serpihan debu!"
Gue mengembuskan napas lega yang langsung tersamarkan oleh air hujan. C**up. Gue udah mendapatkan semua yang gue butuhkan.
Gue menarik tangan kanan gue dari kantong jaket, mengeluarkan ponsel gue yang dilapisi casing antik-air, lalu mengarahkan layarnya yang menyala terang tepat ke depan wajah Monica. Di layar itu, aplikasi p****am suara sedang berjalan, merekam setiap kata, setiap pengakuan, dan setiap nada sombong dari mulut Monica selama hampir tiga menit terakhir.
"Makasih banyak atas pengakuannya, Monica," ujar gue dengan nada suara yang berubah drastisβdingin, tenang, dan penuh kemenangan. Gue menyunggingkan senyum lebar. "Pengakuan lo barusan... jernih banget kedengarannya. Bahkan suara hujan gak bisa meredam suara lo yang kelewat bangga sama kejahatan lo sendiri."
Seketika itu juga, senyum di wajah Monica luntur. Matanya membelalak lebar, menatap ponsel di tangan gue seolah-olah itu adalah bom waktu yang siap meledak. Wajahnya yang semula merah karena amarah kini mendadak pucat pasi, kontras dengan maskaranya yang mulai luntur terkena air hujan.
"Lo... lo merekam gue?!" teriak Monica histeris.
"Yup. Seratus persen terekam sempurna," jawab gue sant**.
"Siniin HP lo!" Monica berteriak histeris dan langsung merangsek maju, mencoba merebut ponsel dari tangan gue.
Tapi sebelum tangan Monica sempat menyentuh ujung jaket gue, Rian dengan gerakan kilat langsung pasang badan di depan gue. Dengan satu gerakan cepat dan tak terduga, Rian mencengkeram pergelangan tangan Monica yang sedang memegang ponsel hitam miliknya.
"Lepasin, Rian! Lepas!" jerit Monica, mencoba berontak.
Rian gak memedulikan teriakan Monica. Dengan kekuatan penuh tapi tanpa kekerasan yang berlebihan, Rian berhasil meregangkan jemari Monica dan merebut kembali ponsel hitamnya yang selama ini menjadi alat pemerasan.
Begitu ponsel itu beralih ke tangannya, Rian langsung melangkah mundur, berdiri kokoh di samping gue. Dia memeriksa ponselnya sekilas, lalu mema**kkannya dengan aman ke dalam saku celananya yang basah.
"Gak... gak mungkin..." gumam Monica, napasnya memburu. Payung yang dipegangnya terlepas begitu saja, jatuh ke aspal yang basah dan terbawa angin. Kini Monica berdiri sepenuhnya di bawah guyuran hujan deras, tampak basah kuyup, kacau, dan benar-benar tidak berdaya.
"Semua taktik jenius lo itu... sekarang gak ada gunanya lagi, Mon," kata Rian, suaranya terdengar dingin dan tegas, memotong suara gemuruh badai di sekeliling kami. "Satu klik dari Clara, dan rekaman pengakuan lo ini bakal langsung sampai ke email Dekan, grup angkatan, bahkan ke orang tua lo."
"Jangan! Tolong jangan!" Monica mendadak panik. Keangkuhannya runtuh seketika, digantikan oleh ketakutan yang nyata. Dia tahu betul kalau rekaman ini tersebar, bukan cuma reputasinya yang hancur, tapi dia juga bisa dituntut secara hukum atas tindakan pencurian, pencemaran nama baik, dan pemerasan. "Gue mohon... hapus rekamannya, Clara. Rian, gue minta maaf..."
Gue menatap Monica dengan pandangan dingin. Rasanya puas banget melihat cewek yang tadinya merasa paling berkuasa ini sekarang memohon-mohon di bawah guyuran hujan, dengan air mata yang bercampur dengan air hujan di pipinya.
"Gue gak akan nyebarin ini ke grup angkatan, Mon," kata gue, membuat Monica sempat mengembuskan napas lega. Tapi kalimat gue selanjutnya langsung membuat dia kembali membeku. "Asalkan... lo bersihin nama Rian. Lo harus bikin pernyataan klarifikasi di grup angkatan kalau semua tuduhan dan bukti kemarin itu palsu dan cuma bikinan lo. Lo punya waktu sampai besok pagi."
"Kalau sampai besok pagi nama Rian belum bersih," timpal Rian, menatap Monica dengan tajam, "rekaman ini bakal langsung mendarat di meja birokrasi kampus. Dan lo tahu sendiri konsekuensinya."
Monica hanya bisa berdiri mematung, bibirnya bergetar tanpa bisa mengeluarkan kata-kata lagi. Dia benar-benar mati kutu. Semua rencana licik yang dia susun rapi hancur lebur dalam sekejap karena kecerobohannya sendiri.
Rian menoleh ke arah gue, lalu menggenggam tangan gue dengan erat. Sentuhan tangannya yang hangat di tengah dinginnya air hujan membuat dada gue terasa hangat.
"Yuk, Cla. Kita balik. Di sini dingin," ajak Rian lembut.
Gue mengangguk. "Yuk."
Kami berbalik dan berjalan meninggalkan pelataran parkir, membiarkan Monica berdiri sendirian di tengah hujan deras yang terus mengguyur, meratapi kekalahannya yang telak.
Di bawah satu jaket denim Rian yang didekatkan di atas kepala kami berdua untuk menghalau sisa-sisa air hujan, gue tersenyum lebar. Rian merangkul pundak gue erat-erat, seolah menegaskan kalau mulai detik ini, gak akan ada lagi yang bisa memisahkan kami. Konfrontasi malam ini memang melelahkan dan basah kuyup, tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, gue merasa menang mutlak.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!