Bunyi deras hujan di luar sana masih terdengar samar-samar, kalah bising oleh suara helaan napas lega yang kompak keluar dari mulut gue dan Rian.
Setelah drama rebut-rebutan HP yang super menegangkan dengan Monica di bawah guyuran hujan badai tadiβyang untungnya berakhir dengan kemenangan di pihak kami karena Monica panik setengah mati saat gue mengancam akan meneriakinya malingβakhirnya kami bisa kembali ke kamar kos gue yang tenang. Hangat, kering, dan yang paling penting: aman.
Gue menyodorkan sebuah handuk kering berwarna biru muda ke arah Rian yang duduk di lant**, bersandar pada pinggiran ka**r gue. Rambut cowok itu masih agak basah, menyisakan beberapa tetes air yang jatuh ke bahu kaus hitamnya.
"Nih, keringin dulu rambut lo. Entar lo ma**k angin, gue malas ngerawatnya," kata gue, mencoba bersuara senormal mungkin meski jantung gue sebenarnya masih berdegup kencang karena sisa adrenalin tadi.
Rian mendongak, menerima handuk itu sambil tersenyum tipis. "Makasih, Cla."
Gue mengambil posisi duduk di atas ka**r, melipat kaki gue dan menatap Rian yang mulai menggosok rambutnya dengan handuk. Kamar kos gue yang berukuran tiga kali empat meter ini mendadak terasa jauh lebih sempit dari biasanya. Suasana yang tadinya penuh ketegangan perlahan-lahan mencair, digantikan oleh keheningan yang sedikit canggung. Hanya ada suara detak jam dinding dan gemercik sisa hujan di luar.
Rian menghentikan kegiatannya. Dia menaruh handuk itu di pundaknya, lalu meraba saku celana jinsnya yang setengah basah. Dia mengeluarkan ponsel hitam miliknya yang sempat menjadi rebutan tadi. Ponsel itu agak basah di bagian layarnya, tapi untungnya masih menyala dengan normal.
Gue menahan napas saat melihat benda persegi itu. Ponsel yang selama ini menjadi sumber dari segala mimpi buruk gue, sekaligus alasan kenapa cowok asing di depan gue ini bisa berakhir di kamar mandi gue, lalu di kamar gue, dan akhirnya di hidup gue.
"Cla," panggil Rian lembut. Dia berbalik, merubah posisinya menjadi berlutut menghadap ke arah gue yang duduk di tepi ranjang.
"Kenapa?" tanya gue pelan.
Rian menyalakan layar ponselnya, lalu mengetikkan kata sandinya. Dia membuka aplikasi galeri, lalu menelusuri beberapa folder sampai akhirnya dia berhenti di sebuah folder privat yang terkunci dengan sidik jarinya. Begitu folder itu terbuka, sebuah file video muncul di sana. Thumbnail video itu langsung membuat wajah gue terasa panas. Itu video gue. Video bodoh yang membuat gue terjebak dalam permainan konyol ini.
Rian menatap gue lekat-lekat, lalu mengarahkan layar ponselnya tepat di depan wajah gue. "Gue mau lo lihat ini sendiri."
Gue menatap layar itu, lalu beralih menatap mata cokelat gelap Rian. Ada keseriusan yang belum pernah gue lihat sebelumnya di sana. Tidak ada lagi tatapan jahil, tidak ada lagi senyum menyebalkan yang biasanya dia tunjukkan untuk menggoda gue.
Ibu jari Rian bergerak di atas layar. Dia menekan lama file video tersebut sampai muncul tanda centang, lalu dia menekan ikon tempat sampah di pojok bawah.
*Apakah Anda yakin ingin menghapus file ini?*
Sebuah kotak dialog konfirmasi muncul di layar. Rian menatap gue sekali lagi, seolah meminta persetujuan akhir. Gue hanya bisa mengangguk pelan, tenggorokan gue mendadak terasa kering.
Rian menekan tombol *Hapus*. Video itu menghilang dari galeri.
Tapi dia tidak berhenti di situ. Rian membuka menu pengaturan, ma**k ke bagian penyimpanan cloud, lalu membuka folder *Recently Deleted* atau tempat sampah sistem. Di sana, file video itu masih bertengger manis.
"Gue hapus dari cloud juga. Biar bener-bener gak ada sisa di mana pun," gumam Rian.
Dia menekan tombol *Hapus Permanen*. Layar ponselnya memunculkan animasi loading kecil selama satu detik, sebelum akhirnya menampilkan layar kosong bertuliskan: *Tidak ada item*.
"Udah," kata Rian pelan, menurunkan ponselnya dan meletakkannya di atas ka**r di samping gue. "Selesai. Bersih total. Gak ada lagi salinannya di mana-mana. Gue gak punya cadangan lain di laptop atau mana pun. Gue janji."
Gue menatap layar ponsel yang kini sudah gelap itu. Selama beberapa detik, otak gue rasanya lambat memproses apa yang baru saja terjadi.
Beban berat yang selama berminggu-minggu ini menggelayuti pundak gue, yang bikin gue gak bisa tidur nyenyak tiap malam, yang bikin gue selalu merasa waswas tiap kali berpapasan dengan orang di kampus... tiba-tiba hilang begitu saja. Lenyap. Menguap ke udara bersama sisa hujan malam ini.
Gue mengembuskan napas panjang. Rasanya lega banget. Saking leganya, mata gue mendadak terasa panas dan air mata hampir saja tumpah kalau gue gak cepat-cepat mengerjapkan mata.
"Gue bebas?" tanya gue, suara gue agak bergetar.
Rian tersenyum lembut, matanya ikut melengkung hangat. "Iya, Cla. Lo bebas. Permainan rahasia kita... resmi berakhir hari ini."
Gue menunduk, menatap jemari tangan gue yang saling bertautan. "Makasih, Rian. Makasih karena lo gak nepatin ancaman lo, dan makasih karena lo udah hapus itu di depan gue."
"Gue yang harusnya minta maaf, Cla," kata Rian, suaranya terdengar sangat tulus. Dia menggeser duduknya sedikit lebih dekat ke arah ka**r. "Gue minta maaf karena udah jadi cowok br****** yang manfaatin situasi itu buat nahan lo. Gue minta maaf udah bikin hidup lo kayak roller coaster beberapa minggu ini."
"Gak apa-apa. Yang penting sekarang udah kelar," jawab gue, mencoba tersenyum.
Tapi, begitu kelegaan itu lewat, sebuah perasaan aneh langsung menyergap gue. Perasaan canggung yang luar biasa besar mendadak memenuhi ruangan ini.
Permainan kami sudah berakhir. Itu artinya, alasan Rian untuk ada di sekitar gue juga sudah habis. Gak ada lagi alasan buat dia nungguin gue di depan kelas, gak ada lagi alasan buat dia nebeng makan di kosan gue, gak ada lagi alasan buat kami pura-pura jadi pacar di depan orang-orang, dan gak ada lagi alasan buat dia tiba-tiba muncul di kamar mandi gue.
Semuanya kembali ke awal. Kami akan kembali menjadi dua orang asing yang kebetulan satu kampus. Gue akan kembali ke kehidupan gue yang membosankan, dan Rian akan kembali ke dunianya yang populer.
Kenapa... kenapa memikirkan hal itu malah bikin dada gue terasa agak sesak? Bukannya ini yang selama ini gue mau? Bebas dari Rian?
Gue berdeham, mencoba mengusir rasa tidak nyaman di dada gue. "Ehem... jadi, karena semuanya udah beres, lo... lo mau balik ke kosan lo sekarang? Udah gak hujan juga di luar, tinggal gerimis dikit."
Rian tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap gue dengan pandangan yang sulit diartikan. Detik berikutnya, dia menghela napas panjang dan mengacak rambutnya yang setengah basah dengan frustrasi.
"Cla," panggil Rian.
"Ya?"
"Gue boleh jujur gak?"
Gue mengerutkan dahi, bingung melihat perubahan ekspresinya yang tiba-tiba kelihatan gelisah. "Jujur soal apa?"
Rian memajukan tubuhnya, menumpukan kedua lengannya di atas ka**r, tepat di depan lutut gue. Jarak kami sekarang dekat banget, sampai-sampai gue bisa mencium aroma sabun mint yang samar dari tubuhnya. Jantung gue kembali berpacu, tapi kali ini bukan karena takut atau panik karena Monica. Ini jenis deg-degan yang berbeda. Jenis deg-degan yang membuat perut gue terasa seperti diaduk-aduk.
"Sebenarnya..." Rian menjeda kalimatnya, matanya menatap langsung ke dalam manik mata gue, mengunci pandangan gue agar tidak beralih ke mana-mana. "Video itu... udah lama mau gue hapus."
Gue tertegun. "Maksud lo?"
"Gue udah mau hapus video itu dari minggu kedua kita mulai 'permainan' ini," aku Rian jujur. Wajahnya perlahan memerah di bagian pipi. "Gue tahu tindakan gue di awal itu jahat dan kekanak-kanakan banget. Tapi, makin ke sini, gue sadar kalau gue gak butuh video itu lagi buat mengancam lo."
"Terus kenapa gak lo hapus dari kemarin-kemarin?" tanya gue, agak kesal tapi juga penasaran setengah mati.
Rian menggaruk tengkuknya yang gak gatal, matanya sempat melirik ke arah lain sebelum kembali menatap gue dengan tatapan yang sangat, sangat tulus.
"Karena gue takut," bisik Rian pelan.
"Takut apa?"
"Takut kalau video itu gue hapus, lo bakal langsung pergi menjauh dari gue. Takut kalau permainan ini selesai, lo gak bakal sudi lagi ngomong sama gue. Gue takut kehilangan alasan buat bisa terus ada di dekat lo, Cla."
Kata-kata Rian mengalir begitu saja, terdengar sangat jujur dan tanpa beban, tapi sukses membuat otak gue mendadak *blank*. Gue mematung di tempat. Jantung gue sekarang gak cuma deg-degan, tapi udah kayak mau melompat keluar dari dada gue.
"R-rian... lo ngomong apa sih?" tanya gue terbata-bata, mendadak jadi salah tingkah sendiri.
Rian meraih tangan gue yang ada di atas ka**r. Sentuhan tangannya yang hangat langsung mengirimkan sengatan listrik mini yang membuat bulu kuduk gue merinding. Dia menggenggam tangan gue dengan lembut, tidak terlalu erat tapi c**up kuat untuk membuat gue tidak bisa melepaskannya.
"Gue gak lagi bercanda, Clara," kata Rian, suaranya melembut, terdengar sangat dalam di keheningan malam ini. "Gue gak butuh alasan permainan konyol itu lagi buat terus ada di dekat lo. Gue gak butuh alasan kontrak atau apa pun buat bisa nemenin lo makan, buat bisa nganterin lo pulang, atau buat bisa jagain lo kayak tadi."
Dia menarik napas dalam-dalam, seolah sedang mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa di dalam dirinya.
"Gue suka sama lo. Beneran suka, sebagai cowok ke cewek. Bukan karena permainan, bukan karena keterpaksaan. Gue mau terus ada di dekat lo karena emang itu yang gue mau, karena itu yang bikin gue seneng." Rian menatap gue dengan binar mata yang begitu hangat. "Gue pengen kita mulai dari awal. Tanpa ancaman, tanpa rahasia, tanpa video bodoh itu lagi. Cuma gue, Rian, yang pengen jadi cowok yang beneran ada buat lo. Lo... mau gak kasih gue kesempatan itu?"
Gue terdiam. Kata-kata Rian berputar-putar di kepala gue kayak kaset rusak.
Cowok populer ini, cowok asing yang dulu sangat gue benci karena tiba-tiba ada di kamar mandi gue dan mengacaukan hidup tenang gue, sekarang lagi menggenggam tangan gue di lant** kosan gue, menyatakan perasaannya dengan wajah merah padam dan mata penuh harap.
Di luar, gerimis perlahan-lahan berhenti, menyisakan suara tetesan air dari atap kosan yang jatuh satu-satu. Di dalam kamar ini, dunia gue rasanya baru saja berputar 180 derajat. Dan anehnya, gue sama sekali gak merasa keberatan dengan putaran itu.
Gue menatap tangan kami yang saling bertautan, lalu perlahan-lahan, sebuah senyuman tipis yang gak bisa gue tahan akhirnya terukir di bibir gue.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!