βon hapus di layar ponselnya.
Sebuah kotak dialog konfirmasi muncul di layar: *Apakah Anda yakin ingin menghapus file ini secara permanen?*
Tanpa ragu sedikit pun, ibu jari Rian menekan pilihan *Ya*.
Gue menahan napas selama sepersekian detik, memperhatikan layar ponsel itu yang sempat memproses perintah selama satu ketukan, sebelum akhirnya folder privat itu benar-benar kosong melompong. Tidak ada lagi video itu. Tidak ada lagi rekaman yang selama ini membuat tidur gue nggak nyenyak, yang bikin jantung gue hampir copot setiap kali Rian tersenyum misterius di koridor kos.
Semuanya hilang. Bersih tanpa sisa.
Gue mengembuskan napas panjang yang entah sejak kapan gue tahan. Rasanya seolah-olah ada beban seberat satu ton yang mendadak diangkat dari pundak gue. Kepala gue yang tadinya pusing langsung terasa ringan.
"Udah," kata Rian pelan. Dia meletakkan ponselnya di atas ka**r, tepat di samping lutut gue, lalu menatap gue dengan kedua mata cokelatnya yang kini terlihat sangat teduh. "Nggak ada lagi yang bisa ngancem lo, Cla. Nggak ada Monica, dan nggak ada gue."
Gue mengerjajakan mata, masih agak tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. "Lo... beneran hapus?"
Rian terkekeh pelan, tipe kekehan khasnya yang dulu sempat bikin gue kesal setengah mati, tapi sekarang malah terdengar sangat menenangkan di telinga gue. "Iya, Clara. Gue hapus permanen. Bahkan di *recently deleted* juga udah gue bersihin. Lo mau cek sendiri?"
Gue menggeleng cepat. "Nggak usah. Gue percaya sama lo."
Mendengar kata-kata gue, senyum Rian melebar. Tapi kali ini, itu bukan senyum usil atau senyum penuh kemenangan yang menyebalkan. Itu senyum tulus, yang membuat matanya ikut menyipit hangat.
"Makasih ya, udah mau percaya sama gue setelah semua hal g*** yang gue lakuin," ujar Rian. Dia mengulurkan tangannya, meraih jemari gue yang masih terasa agak dingin karena sisa ketakutan tadi. Genggamannya hangat dan erat, seolah menyalurkan rasa aman yang selama ini paling gue butuhkan.
"Gue yang harusnya makasih, Rian," sahut gue pelan, menatap punggung tangannya yang bergerak pelan mengusap jemari gue. "Lo udah bantu gue ngadepin Monica tadi. Kalau nggak ada lo... gue nggak tahu apa yang bakal terjadi sama HP gue, atau sama reputasi gue di kampus."
"Gue kan udah janji bakal jagain lo," potong Rian cepat. Tatapannya mendalam, mengunci pandangan gue. "Dan asal lo tahu, gue bener-bener minta maaf soal cara awal gue deketin lo. Gue tahu gue br****** banget karena pakai video itu buat nahan lo di samping gue. Tapi, Cla... gue bener-bener bingung waktu itu. Gue cuma pengen lo ngeliat gue, bukan cuma anggap gue sebagai cowok asing yang numpang lewat di hidup lo."
Gue tertegun. Mendengar pengakuan jujur dari mulut Rian membuat dada gue berdesir aneh. Rasa hangat yang menyenangkan menjalar dari ujung kaki sampai ke kepala gue.
"Gue emang benci banget sama lo pas awal-awal," aku gue jujur, membuat Rian meringis pelan sambil menggaruk tengkuknya yang nggak gatal. "Tapi... seiring berjalannya waktu, gue sadar kalau lo nggak seburuk itu. Lo aneh, iya. Menyebalkan, banget. Tapi lo selalu ada tiap kali gue butuh bantuan. Dan anehnya, gue mulai terbiasa sama kehadiran lo."
"Tunggu, jadi sekarang lo udah nggak benci sama gue?" tanya Rian dengan binar jenaka di matanya.
Gue memutar bola mata, sengaja mendengus. "Gue pikir-pikir dulu deh."
"Yah, kok dipikir-pikir sih?" Rian cemberut, pura-pura kecewa, tapi tangannya sama sekali nggak melepas genggaman kami. Malah, dia menarik tubuhnya sedikit lebih dekat ke arah ranjang tempat gue duduk. "Padahal gue udah berniat buat jadi pacar yang baik setelah ini."
Jantung gue langsung berdegup dua kali lebih cepat. "Pacar? Emang siapa yang bilang mau jadi pacar lo?"
Rian mendongak, menatap gue dengan seringai andalannya yang kini terlihat jauh lebih manis. "Gue yang bilang. Dan gue nggak menerima penolakan, Clara."
Gue nggak bisa menahan senyum gue lagi. Tawa kecil lolos dari bibir gue, disusul oleh tawa Rian yang ikut pecah. Di dalam kamar kos berukuran tiga kali empat meter ini, di tengah sisa-sisa aroma hujan dan kehangatan lampu kamar, ketakutan yang selama ini menghantui kami akhirnya melebur, digantikan oleh sesuatu yang nyata. Sesuatu yang sehat, terbuka, dan tanpa rahasia lagi.
***
Dua hari setelah kejadian malam itu, suasana kampus terasa sangat berbeda bagi gue.
Nggak ada lagi perasaan waswas setiap kali gue berjalan melewati koridor fakultas. Nggak ada lagi perasaan ingin bersembunyi atau lari ketakutan saat melihat siluet Rian dari kejauhan. Semuanya terasa begitu bebas. Gue bisa berjalan dengan kepala tegak, menikmati embusan angin pagi yang menerpa wajah gue tanpa ada beban yang menggelayuti pikiran.
"Cla! Sini!"
Gue menoleh ke arah sumber suara. Di bawah pohon rindang dekat kantin teknik yang biasanya ramai, gue melihat Rian sedang berdiri. Dia mengenakan jaket denim ka**al di atas kaus putih, penampilannya yang sant** tapi ganteng maksimal itu sukses menarik perhatian beberapa mahasiswi yang lewat. Tapi, mata cowok itu hanya tertuju pada satu arah: ke arah gue.
Di meja dekat tempat Rian berdiri, ada tiga orang temannyaβanak-anak teknik yang biasanya cuma gue lihat sekilas dari jauh karena mereka terkenal sebagai gerombolan cowok-cowok populer yang agak berisik. Ada Bimo yang jangkung, Aldo yang selalu sibuk dengan ponselnya, dan pacar Aldo yang juga teman seangkatan gue.
Kaki gue sempat ragu untuk melangkah. Biasanya, kalau di kampus, gue dan Rian selalu pura-pura nggak kenal. Kami hanya berinteraksi lewat pesan singkat yang penuh sarkasme, atau bertemu secara sembunyi-sembunyi di sudut koridor sepi yang jarang dilewati orang. Hubungan kami seperti sebuah rahasia gelap yang harus dijaga rapat-rapat.
Tapi hari ini, Rian melambaikan tangannya dengan lebar, senyumnya merekah lebar tanpa ada beban.
Gue menarik napas dalam-dalam, memantapkan hati, lalu melangkah menghampirinya. Begitu gue sampai di dekatnya, Rian langsung bergeser, memberikan ruang bagi gue untuk berdiri di sampingnya. Tanpa canggung, dia melingkarkan satu tangannya di bahu gue, menarik gue sedikit lebih dekat ke sisinya.
Sentuhan spontan itu membuat gue sedikit tersentak, tapi anehnya, rasanya sangat nyaman. Nggak ada kepanikan. Hanya ada rasa hangat yang menjalar di dada gue.
"Wih, wih, wih! Siapa nih, Yan?" Bimo langsung meletakkan gelas es teh manisnya dengan heboh, menatap kami berdua dengan mata membelalak heran. "Tumben banget lo bawa cewek ke markas kita. Biasanya juga lo sibuk sendiri kayak jomblo karatan."
Aldo juga ikut mendongak dari layar ponselnya, menatap gue dan Rian bergantian dengan dahi berkerut. "Eh, bentar. Ini kan Clara? Anak Sastra yang waktu itu lo tanyain ke gue, kan?"
Wajah gue mendadak terasa panas. Gue melirik Rian dengan mata membelalak. *Dia pernah nanyain gue ke temennya?*
Rian hanya terkekeh sant**, sama sekali nggak terlihat terganggu atau malu karena rahasianya dibongkar. Dia malah semakin mengeratkan rangkulannya di bahu gue, membuat gue bisa mencium aroma parfum maskulinnya yang segar dan menenangkan.
"Iya, ini Clara," kata Rian dengan nada suara yang terdengar sangat bangga. Dia menatap teman-temannya satu per satu dengan senyum lebar yang belum pernah gue lihat sebelumnya di area kampus. "Kenalin, dia pacar gue."
Suasana meja itu mendadak hening selama dua detik, sebelum akhirnya Bimo berteriak heboh sambil menggeb**k meja pelan. "ANJAY! Akhirnya Rian pecah telor juga! G***, demi apa lo dapet cewek seimut Clara?!"
"Wah, parah sih lo, Yan. Diam-diam menghanyutkan ternyata," timpal Aldo sambil menggeleng-gelengkan kepalanya heran, tapi ada senyum lebar di wajahnya. "Selamat ya, Clara. Semoga lo sabar menghadapi makhluk ajaib kayak Rian ini."
Gue tertawa mendengar ucapan Aldo, rasa canggung yang sempat mendominasi diri gue perlahan-lahan menguap begitu saja. Teman-teman Rian ternyata sangat ramah dan menyenangkan, jauh dari kesan menyeramkan yang sempat gue bayangkan sebelumnya.
"Tenang aja, Clara udah punya taktik khusus buat ngadepin gue," sahut Rian jenaka, sambil melirik gue dengan kedipan mata yang membuat jantung gue sekali lagi berulah.
Gue mendongak, menatap profil samping wajah Rian yang sedang tertawa bersama teman-temannya. Sinar matahari pagi yang menerobos celah-celah daun pohon rindang jatuh tepat di wajahnya, membuat cowok itu terlihat berkali-kali lipat lebih bersinar.
Gue teringat kembali bagaimana semua keg***an ini dimulai. Dari sosok cowok asing misterius yang tiba-tiba muncul di kamar mandi kos gue, ancaman video bodoh, drama kejar-kejaran dengan Monica, hingga malam-malam penuh ketegangan yang kami lalui bersama. Siapa yang menyangka kalau semua permainan obsesi berbahaya dan penuh rahasia itu akan menuntun kami ke titik ini?
Rian menoleh ke bawah, menyadari kalau gue sedang memperhatikannya. Dia melepaskan rangkulannya di bahu gue, lalu menurunkan tangannya untuk menggenggam jemari gue erat-erat di bawah mejaβbukan lagi secara sembunyi-sembunyi, melainkan dengan terang-terangan di depan semua orang.
"Kenapa? Ganteng ya?" bisik Rian pelan di dekat telinga gue, membuat bulu kuduk gue meremang geli.
"Narsis banget sih lo," balas gue berbisik, tapi gue nggak bisa menyembunyikan senyum bahagia yang merekah di bibir gue.
Rian tertawa pelan, lalu mempererat genggaman tangannya pada tangan gue. Di tengah riuh rendah suara kantin teknik, di antara candaan teman-temannya yang saling bersahutan, gue tahu satu hal dengan pasti.
Hubungan kami bukan lagi sebuah rahasia yang harus disembunyikan di balik pintu kamar mandi atau koridor kos yang gelap. Ini nyata. Ini hangat. Dan ini adalah akhir dari semua ketakutan gue, sekaligus awal dari kisah kami yang sesungguhnya.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!