Ada Cowok Asing di Kamar Mandiku!

Bab 2: Ada Penyusup di Kamar Mandiku!

Pengaturan Membaca

**Bab 2: Ada Penyusup di Kamar Mandiku!**

Malam pertama gue di Kos Lavender ternyata sama sekali nggak berjalan seindah ekspektasi.

Setelah drama tenggorokan kering yang sukses memaksa gue turun ke lobi untuk membeli beberapa botol air mineral di *vending machine*, gue kembali ke kamar 203 dengan tubuh yang rasanya remuk redam. Jam dinding digital di atas meja belajar sudah menunjukkan pukul sebelas malam lewat sedikit. Koridor kos sudah sunyi senyap, menyisakan suara embusan angin malam yang menerpa jendela kaca besar di kamar gue.

Untuk mengusir rasa lelah yang menggelayuti pundak, gue memutuskan untuk mandi air hangat. Kamar mandi dalam kos ini beneran juara. Begitu keran shower gue putar, air hangat langsung mengalir dengan tekanan yang pas, memba**h seluruh kepenatan yang gue rasakan seharian ini. Aroma sabun cair rasa lavender yang gue bawa dari rumah langsung memenuhi ruangan, menciptakan suasana rileks yang sempat membuat gue memejamkan mata saking nyamannya.

Sekitar lima belas menit kemudian, gue menyudahi ritual mandi gue. Gue meraih handuk putih tebal yang tergantung di dekat pintu, lalu melilitkannya erat-erat di sekeliling tubuh gueβ€”mulai dari sebatas dada sampai pertengahan paha. Rambut panjang gue yang basah juga gue gulung asal menggunakan handuk kecil lainnya.

Gue melangkah ke depan cermin wastafel, berniat memakai beberapa lapis *skincare* malam sebelum tidur. Namun, baru saja gue membuka tutup botol toner, sebuah suara aneh terdengar dari arah bilik shower di belakang gue.

*KREK.*

Itu suara gesekan halus. Seperti suara sol sepatu yang bergeser di atas ubin basah.

Gue seketika mematung. Botol toner di tangan gue nyaris saja merosot kalau gue nggak cepat-cepat mencengkeramnya erat. Jantung gue mendadak berdegup dua kali lebih cepat.

Gue menahan napas, mencoba mendengarkan dengan lebih jeli. Suasana kamar mandi kembali hening. Hanya ada suara sisa tetesan air dari kepala shower yang jatuh ke lant**. *Mungkin cuma perasaan gue aja,* batin gue mencoba menenangkan diri. *Secara, gue kan baru pindah, wajar kalau agak parno.*

Tapi, begitu gue berbalik untuk keluar dari kamar mandi, sudut mata gue menangkap sesuatu yang janggal. Pintu bilik shower yang terbuat dari kaca buram itu... sedikit bergeser. Padahal seingat gue, tadi gue sudah menutupnya rapat-rapat setelah selesai mandi.

Dan yang membuat bulu kuduk gue merinding seketika adalah siluet samar di balik kaca buram itu.

Ada bayangan hitam berukuran c**up besar di sana. Siluet itu bergerak pelan, seolah mencoba memosisikan diri agar tidak terlihat dari luar.

Gue membeku di tempat. Seluruh darah di tubuh gue rasanya seperti turun ke kaki. Otak gue langsung memproses skenario-skenario terburuk. Apakah ada hantu? Atau lebih parah... maling?

Dengan keberanian yang dipaksakan dan tangan yang gemetar hebat, gue melangkah mendekati bilik shower itu. Gue meraih botol toner kaca yang c**up berat di atas wastafel, menjadikannya senjata darurat kalau-kalau ada hal buruk yang terjadi.

Gue menarik napas dalam-dalam, lalu dengan satu sentakan cepat, gue menggeser pintu kaca bilik shower itu sampai terbuka lebar.

"SIAPA LO?!" teriak gue histeris.

Detik itu juga, napas gue seolah berhenti berembus.

Di dalam bilik shower yang sempit itu, duduk seorang cowok dengan posisi meringkuk. Dia mengenakan hoodie abu-abu *oversized* dan celana jins hitam yang basah kuyup di bagian bawahnya. Rambut hitamnya agak berantakan, dan wajahnyaβ€”yang harus gue akui sebenarnya sangat ganteng dengan rahang tegasβ€”tampak pucat pasi dengan napas yang memburu cepat.

Tapi bukan penampilan cowok itu yang membuat gue syok setengah mati.

Fokus gue langsung tertuju pada tangan kanannya yang sedang memegang sebuah ponsel pintar. Layar ponsel itu menyala terang benderang di dalam remang-remang bilik shower. Dan di layar itu, gue bisa melihat dengan sangat jelas: aplikasi kamera dalam mode p****aman video sedang aktif. Angka merah penunjuk durasi di bagian atas layar terus berjalan.

*01:12... 01:13... 01:14...*

Dan lensa kamera belakang ponsel itu... mengarah tepat ke arah gue berdiri. Ke arah gue yang saat ini hanya berbalut selembar handuk basah.

Otak gue mengalami *error* sistem selama beberapa detik. Cowok asing. Di kamar mandi gue. Memegang ponsel. Merekam video.

"L-lo..." Suara gue tercekat di tenggorokan. Rasa takut yang tadinya mendominasi mendadak menguap, digantikan oleh gelombang amarah yang luar biasa panas menjalar ke seluruh tubuh. "LO NGEREKAM GUE?!"

Mata cowok itu membelalak panik begitu mendengar teriakan gue. Dia langsung refleks mematikan rekaman videonya dan buru-buru bangkit berdiri. Karena gerakannya yang tergesa-gesa, kepalanya sempat terbentur pelan ke dinding kaca shower, menimbulkan suara *jedug* yang c**up keras.

"Aduh! S-sshh! Tunggu, dengerin gue dulu! Ini nggak kayak yang lo pikirin!" bisik cowok itu dengan nada super panik, mencoba meredam suaranya sendiri sambil mengangkat tangan kirinya ke depan dada, memohon agar gue tidak berteriak lagi.

"G*** YA LO?! MESUM! MALING! PENYUSUP!" teriak gue tanpa memedulikan usahanya untuk menenangkan gue. Air mata kemarahan mulai menggenang di pelupuk mata gue. Gue merasa sangat terhina dan terancam. "KELUAR GAK LO! GUE PANGGIL PENJAGA KOS SEKARANG JUGA!"

"Sumpah, demi apa pun, gue nggak sengaja! Sssttt! Jangan teriak, please!" Cowok itu melangkah maju, mencoba mempersempit jarak di antara kami untuk menghentikan teriakan gue.

"JANGAN DEKET-DEKET!" jerit gue histeris sambil mengacungkan botol toner kaca ke arah wajahnya. "Satu langkah lagi lo maju, gue pecahin kepala lo pakai botol ini!"

Cowok itu langsung mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke udara, tanda menyerah. Napasnya masih memburu, matanya menatap gue dengan tatapan memohon yang luar biasa frustrasi. "Oke, oke! Gue nggak maju! Tapi tolong, kecilin suara lo. Gue mohon banget. Gue... gue bukan orang mesum, sumpah!"

"Bukan orang mesum dahi lo peyang! Terus itu handphone lo ngapain nyala mode video pas gue mandi?!" cecar gue dengan napas terengah-engah. Tangan gue yang memegang botol toner gemetar hebat, begitu juga dengan kaki gue yang rasanya lemas seperti jeli.

"Ini... ini kecelakaan! Tadi handphone gue emang lagi aktif kameranya pas gue lari ma**k ke sini. Gue panik banget sampai nggak sadar kalau tombol rekamnya kepencet!" cowok itu menjelaskan dengan kalimat yang super cepat, seolah takut gue akan memotong bicaranya lagi. "Gue nggak ngintip lo mandi! Sumpah! Pas lo ma**k kamar mandi, gue udah telanjur ngumpet di sini dan gue nggak berani gerak sama sekali karena takut ketahuan!"

Gue menatapnya dengan tatapan penuh kebencian dan ketidakpercayaan. "Bohong! Siapa sih lo? Gimana bisa lo ma**k ke kamar gue?! Pintu kamar gue dikunci pakai *smart lock*, ya!"

"Gue Rian. Anak kamar 204. Tetangga sebelah lo," jawabnya dengan nada frustrasi, sambil menunjuk ke arah dinding luar. "Gue ma**k lewat balkon. Pintu kaca balkon lo nggak dikunci, makanya gue bisa langsung ma**k ke kamar lo pas... pas ada keadaan darurat."

Mendengar penjelasannya, ingatan gue langsung melayang ke beberapa jam yang lalu. *Oh, sial.* Gue memang sempat membuka pintu balkon untuk melihat pemandangan luar setelah beres-beres, dan gue benar-benar lupa menguncinya kembali karena terlalu buru-buru ingin mandi.

"Tetep aja lo penyusup! Dan lo... lo udah ngerekam gue!" teriak gue lagi, menyadari kenyataan pahit bahwa tubuh gue yang hanya berbalut handuk ini mungkin saja sudah tersimpan di dalam galeri ponsel cowok asing di depan gue ini. Rasa malu yang luar biasa kini bercampur dengan kemarahan gue.

"Gue hapus! Sekarang juga gue hapus di depan mata lo!" Rian dengan cepat mengarahkan layar ponselnya ke arah gue. "Nih, lihat! Gue buka galerinya. Video yang tadi, kan? Nih, gue klik *delete*."

Gue memperhatikan jarinya yang bergerak cepat di atas layar. Sebuah video berdurasi satu menit lebih memang muncul di urutan paling atas galerinya. Di thumbnail-nya, samar-samar terlihat bayangan putihβ€”yang tak lain adalah gue yang sedang mengeringkan rambut. Dada gue rasanya sesak melihat itu.

"Tuh, udah ma**k tempat sampah. Sekarang gue buka album *Recently Deleted*, terus gue hapus permanen. Lihat!" Rian menekan tombol hapus permanen, lalu menunjukkan layar ponselnya yang kini sudah bersih dari video memuakkan itu. "Udah bersih, kan? Sumpah, gue nggak bohong. Gue nggak punya niat jahat sama sekali ke lo."

Gue menurunkan botol toner di tangan gue secara perlahan, meski ketegangan di tubuh gue belum berkurang sedikit pun. "Kenapa lo harus ngumpet di kamar gue? Lo dikejar polisi? Lo habis ngerampok?"

Rian memutar bola matanya, tampak frustrasi dengan spekulasi gue. "Bukan! Nggak ada hubungannya sama polisi atau rampok-rampokan. Ini urusan... pribadi. Pokoknya ada orang g*** yang nyariin gue ke kamar, dan satu-satunya jalan keluar yang paling aman cuma lompat ke balkon kamar lo."

"Gue nggak peduli apa urusan lo!" potong gue dingin. "Sekarang, keluar dari kamar mandi gue. Keluar dari kamar gue. Sekarang juga!"

Rian menatap pintu kamar mandi, lalu kembali menatap gue dengan ragu. "Boleh... boleh nggak gue nunggu di sini lima menit lagi aja? Gue mau mastiin kalau orang itu udah pergi dari koridor."

"KAYAKNYA LO KURANG PAHAM YA?!" teriak gue, kembali menaikkan nada suara gue. "Gue sekarang cuma pakai handuk! Dan lo, cowok asing yang baru aja ketahuan ngumpet di bilik shower gue, minta izin buat numpang nongkrong di sini?!"

Karena terlalu emosional saat berteriak, gerakan tubuh gue yang terlalu heboh membuat ikatan handuk di dada gue melonggar. Gue bisa merasakan handuk itu perlahan-lahan merosot turun.

*Oh, mampus.*

"Eh, eh! Handuk lo!" Rian langsung m****ik panik. Dia dengan sigap menutup kedua matanya rapat-rapat menggunakan telapak tangan kirinya, sementara tangan kanannya terangkat ke depan seolah mencoba menghalangi pandangannya sendiri. "Gue nggak lihat! Sumpah gue merem!"

Dengan gerakan secepat kilat, gue langsung menyambar bagian atas handuk gue yang nyaris melorot melewati batas aman, lalu mengikatnya kembali dengan super kencang sampai dada gue rasanya agak sesak. Wajah gue sekarang pasti sudah berwarna merah padam mengalahkan buah tomat matang. Rasanya gue ingin menghilang saja dari muka bumi ini sekarang juga.

"KELUAR!!!" teriak gue dengan sisa-sisa harga diri gue yang sudah hancur lebur.

"Oke! Oke! Gue keluar sekarang! Sori banget, sumpah!" Rian berkata dengan mata yang masih terpejam erat. Dia berjalan meraba-raba ke arah pintu kamar mandi, lalu dengan cepat membukanya dan melangkah keluar menuju area kamar utama gue.

Gue mengikutinya dari belakang dengan langkah lebar, masih memeluk tubuh gue sendiri dengan protektif. Begitu sampai di area kamar, Rian langsung berjalan menuju pintu utama kamar 203. Sebelum dia membuka pintu, dia berbalik sebentar ke arah gue yang masih berdiri kaku di depan pintu kamar mandi.

"Sekali lagi... gue bener-bener minta maaf atas kekacauan ini," ucap Rian dengan nada yang terdengar tulus, meski wajahnya masih menyiratkan rasa bersalah sekaligus malu yang luar biasa. "Gue nggak bermaksud lancang. Dan... pintu balkon lo, jangan lupa dikunci mulai sekarang."

Gue hanya menatapnya dengan pandangan membunuh tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Rian menghela napas pasrah, lalu menekan tombol pembuka kunci manual pada pintu *smart lock* gue. Begitu pintu terbuka, dia melangkah keluar ke koridor dan menutup pintu kamar gue kembali hingga terdengar bunyi klik mengunci yang otomatis.

Begitu pintu benar-benar tertutup rapat, lutut gue langsung lemas seketika. Gue terduduk di atas lant** parket yang dingin, menyembunyikan wajah gue di antara kedua lutut.

Malam pertama di Kos Lavender yang gue dambakan sebagai surga ketenangan, baru saja berubah menjadi mimpi buruk paling memalukan dalam hidup gue. Dan cowok bernama Rian itu... gue bersumpah tidak akan pernah mau berurusan lagi dengannya.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca