Satu... dua... tiga!
Dengan sekali sentakan kuat, gue menggeser pintu kaca buram itu sampai terbuka lebar. Botol toner kaca di tangan kanan gue sudah melayang di udara, siap gue hantamkan ke kepala siapa pun penyusup yang berani ma**k ke kamar mandi gue.
"Heh! Keluar gak loβ"
"Ssst! *Please*, jangan teriak! Sumpah, jangan teriak!"
Sesosok cowok jangkung yang mengenakan hoodie hitam polos langsung mengangkat kedua tangannya ke atas. Dia refleks mundur sampai punggungnya membentur dinding keramik bilik *shower*. Napasnya memburu, matanya yang bulat melebar panik, dan rambut hitamnya yang agak berantakan tampak basah karena sisa uap air hangat di kamar mandi gue.
Gue membeku. Botol toner masih melayang di udara.
Hal pertama yang terlintas di otak gue adalah: *A****, ini cowok ganteng banget.*
Dia punya rahang yang tegas, hidung mancung, dan tipe wajah blasteran yang biasa lo temuin di novel-novel fiksi remaja populer. Tapi hal kedua yang langsung menyadarkan gue adalah situasi kami saat ini. Gue cuma pakai handuk putih yang melilit dada sampai paha, rambut gue basah kuyup, dan ada cowok asing asing terjebak di bilik *shower* gue di tengah malam.
Normalnya, cewek bakal langsung teriak histeris, nangis, atau lari keluar kamar sambil teriak minta tolong. Tapi entah kenapa, sirkuit di otak gue seolah konslet. Alih-alih rasa takut yang melumpuhkan, sebuah sengatan adrenalin yang luar biasa justru menjalar ke seluruh tubuh gue. Jantung gue bergedup kencang, tapi bukan karena takut. Ini adalah debaran aneh yang menyenangkan. Jiwa petualang gue yang selama ini terpendam mendadak bangun. Ada kepuasan rahasia yang menggelitik dada gue saat menyadari kalau gueβdengan segala keterbatasan penampilan malam iniβjustru memegang kendali penuh atas situasi absurd ini.
Gue menurunkan botol toner perlahan, tapi tatapan mata gue tetap tajam dan dingin. "Lo siapa? Mau maling, ya?" tanya gue dengan suara yang sengaja gue buat seanteng mungkin.
Cowok itu tampak kaget melihat ketenangan gue. Dia menelan ludah, matanya sempat turun ke arah lilitan handuk gue sebelum dengan cepat membuang muka ke arah ubin. Pipinya mendadak merona merah. Si****, dia malah salfok.
"Gue... gue bukan maling. Sumpah!" bisiknya setengah merengek, takut suaranya terdengar sampai luar koridor. "Gue Rian. Gue tinggal di... ah, itu gak penting. Yang jelas gue gak berniat jahat sama lo!"
"Nggak berniat jahat tapi nyelinap ke kamar mandi cewek malam-malam?" Gue melipat tangan di dada, membuat handuk gue sedikit terangkat. Rian langsung memejamkan matanya rapat-rapat, wajahnya makin merah padam seperti kepiting rebus. Lucu juga ternyata.
"Gue ma**k lewat balkon!" bela Rian dengan suara tertahan. "Pintu balkon lo gak dikunci rapat. Gue terpaksa nyelinap ke sini karena ada patroli penjaga kos di bawah. Gue gak punya pilihan lain!"
"Balkon? Kamar gue di lant** dua, pinter. Lo pikir lo Spiderman?" cibir gue, meski dalam hati gue tahu ada pohon kamboja besar yang dahan-dahannya memang merambat sampai ke dekat pagar pembatas balkon kamar 203.
"Gue panjat pohon kamboja itu! Sumpah, tangan gue sampai lecet nih!" Rian menunjukkan telapak tangannya yang memang agak memerah dan kotor terkena kulit pohon. "Gue lagi nyelidikin sesuatu di kos ini. Kos Lavender ini gak sebersih yang lo kira. Ada rumor aneh tentang pemilik kosan dan beberapa kamar kosong di lant** atas. Gue cuma mau cari bukti!"
Gue menaikkan sebelah alis. "Nyelidikin? Lo detektif swasta? Atau cuma cowok gabut yang kebanyakan nonton film *thriller*?"
Rian mendengus, tampak frustrasi karena penjelasannya terdengar sangat tidak ma**k akal. "Terserah lo mau percaya apa gak. Tapi gue beneran gak ada niat mesum. Gue bahkan gak tahu kalau kamar ini udah ada penghuninya hari ini. Setahu gue kamar 203 kosong dari bulan lalu!"
Gue memperhatikan gerak-gerik cowok bernama Rian ini. Dia kelihatan panik banget. Matanya terus melirik ke arah pintu keluar kamar mandi, seolah takut gue bakal mendadak lari dan memanggil sekuriti. Ketakutan yang terpancar dari wajahnya yang ganteng itu membuat insting licik gue mendadak menyala.
Gue menyadari satu hal: posisi gue di sini sangat diuntungkan. Dia penyusup, gue korban. Kalau gue teriak sekarang, reputasinya hancur, dia bisa dipenjara, atau minimal digebukin satu RT. Dia ada di bawah telapak kaki gue sekarang.
Saat itulah gue menyadari kalau tangan kanan Rian masih mencengkeram sebuah ponsel pintar berwarna hitam. Layar ponselnya masih menyala, menampilkan aplikasi kamera yang sedang dalam mode p****aman video yang dijeda.
Gue menyipitkan mata. "Itu apa?"
Rian refleks menyembunyikan ponselnya ke belakang punggung. "Bukan apa-apa!"
"Jangan bohong. Lo ngerekam gue?" Nada suara gue mendadak turun satu oktav, terdengar mengancam. "Lo ngerekam gue mandi?!"
"Gak! Demi Tuhan, enggak!" Rian panik setengah mati. Dia langsung menyodorkan ponselnya ke depan wajah gue dengan tangan gemetar. "Gue tadi lagi ngerekam area sekitar kosan dari luar buat dokumentasi penyelidikan gue. Pas gue panjat balkon dan denger suara air, gue langsung ma**k dan matiin kameranya. Sumpah, kameranya cuma dapet rekaman gelap pas gue lagi ngumpet di balik kaca ini! Gak ada video lo... lo yang aneh-aneh!"
Gue merebut ponsel itu dari tangannya. Rian pasrah, gak berani melawan karena posisinya yang memang bersalah. Gue membuka galeri dan memutar video terakhir berdurasi tiga menit.
Benar kata dia. Menit-menit awal hanya memperlihatkan rekaman halaman kosan yang sepi dari sudut pandang atas pohon. Lalu kamera bergoyang ekstrem saat dia memanjat balkon, disusul suara napasnya yang memburu saat melompat ma**k ke kamar gue yang gelap gulita. Detik berikutnya, kamera merekam pintu kamar mandi gue yang terang benderang dengan suara gemercik air *shower*. Bagian akhir video hanya menampilkan layar hitam pekat karena ponselnya disembunyikan di saku hoodie, tapi audio di video itu merekam dengan sangat jelas suara langkah kaki gue, suara pintu bilik *shower* yang gue geser, dan suara teriakan gue tadi.
Sebuah ide g***, absurd, dan super nekat tiba-tiba melintas di otak gue. Gue tersenyum tipisβtipe senyuman yang biasanya bikin orang lain merinding.
"Oke, Rian," kata gue, menyebut namanya dengan nada yang sengaja dimanis-maniskan. Gue melangkah maju satu tapak, membuat Rian terpaksa merapatkan punggungnya ke dinding keramik yang dingin. "Gue punya penawaran menarik buat lo."
"Penawaran apa?" tanya Rian curiga. Matanya menatap gue dengan pandangan waswas, seolah gue adalah singa betina yang siap menerkamnya kapan saja.
"Lo gak mau kan ka**s ini sampai ke polisi? Atau minimal ke telinga pemilik kos dan semua penghuni di sini? Bayangin aja judul berita besok pagi: *Seorang Cowok Tertangkap Basah Mengintip Mahasiswi Baru di Kamar Mandi Kos Lavender*."
Rian menelan ludah dengan susah payah. Jakunnya naik turun. "Gue gak ngintip..." cicitnya lemah.
"Tapi bukti video di HP lo ini bilang sebaliknya," kata gue sambil menggoyang-goyangkan ponselnya di depan matanya. "Video ini merekam jelas lo ma**k ke kamar gue tanpa izin. Ini bukti kuat ka**s penerobosan wilayah pribadi. Dan lo tahu apa yang paling seru?"
"Apa?"
"Gue gak bakal ngebiarin lo hapus video ini."
Rian membelalakkan matanya. "Hah?! Lo g*** ya? Kenapa gak boleh dihapus? Kalau lo mau lapor polisi, ya bawa aja HP itu. Tapi kalau lo gak mau lapor, buat apa video itu disimpen?!"
Gue tertawa pelan, suara tawa yang terdengar sangat puas. "Karena video ini adalah jaminan gue. Mulai malam ini, lo ada di bawah kendali gue, Rian."
"Maksud lo apa sih? Jangan muter-muter deh, gue pusing!" Rian mengacak rambutnya frustrasi. Sumpah, ekspresi paniknya malah bikin dia kelihatan makin menggemaskan.
"Kesepakatannya simpel," gue melipat tangan, menatapnya dengan pandangan superior. "Satu, lo dilarang keras menghapus video ini dari HP lo, dan lo harus kirim salinannya ke nomor gue sekarang juga. Dua, lo harus turuti semua permainan gue mulai besok. Apa pun yang gue minta, lo harus lakuin tanpa banyak tanya. Kalau lo melanggar satu aja dari aturan ini, atau lo mencoba kabur dari gue..."
Gue mendekatkan wajah gue ke wajahnya, hingga jarak kami hanya tersisa beberapa sentimeter. Gue bisa merasakan embusan napasnya yang hangat dan wangi mint yang samar.
"...gue bakal sebar video ini ke grup chat kosan, lapor polisi, dan gue pastiin hidup lo di kampus atau di mana pun gak bakal tenang. Gimana? *Deal*?"
Rian menatap gue seolah-olah gue adalah monster paling mengerikan yang pernah dia temui sepanjang hidupnya. Dia pasti gak menyangka kalau cewek berhanduk di depannya ini ternyata punya otak yang agak geser.
"Lo... lo beneran g***, ya?" bisik Rian fana.
"Memang," sahut gue dengan senyum lebar tanpa beban. "Jadi, gimana? Mau kesepakatan g*** ini, atau mau menginap di sel polsek terdekat malam ini?"
Keheningan malam mencengkeram kamar mandi kami selama beberapa detik. Rian tampak berpikir keras, matanya bergerak gelisah menatap ke segala arah, mencari celah untuk kabur. Tapi dengan gue yang berdiri tepat di depan pintu keluar bilik *shower*, ditambah botol toner kaca yang masih gue genggam erat, dia tahu dia gak punya kesempatan untuk lolos.
Akhirnya, dengan bahu yang merosot lesu tanda menyerah, Rian mengembuskan napas panjang.
"Oke," jawab Rian pelan, suaranya terdengar sangat pasrah. "Gue setuju. Kirim nomor lo, gue kirim videonya sekarang."
Gue tersenyum puas. "Pilihan yang cerdas, Rian. Selamat datang di permainan gue."
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!