Ada Cowok Asing di Kamar Mandiku!

Bab 4: Kucing dan Tikus di Koridor Kampus

Pengaturan Membaca

**Bab 4: Kucing dan Tikus di Koridor Kampus**

Satu hal yang baru gue pelajari hari ini: cowok ganteng itu tingkat kemunafikannya bisa setinggi langit.

Gue bersandar di pilar koridor gedung Fakultas Ekonomi, menyilangkan dada sambil memperhatikan pemandangan di depan gue dengan senyum geli yang gak bisa gue sembunyikan. Di sana, berjarak sekitar sepuluh meter dari tempat gue berdiri, ada Rian.

Si penyusup kamar mandi gue semalam.

Sekarang, gak ada lagi tampang panik, rambut basah berantakan, atau wajah merah padam mirip kepiting rebus yang semalam memohon-mohon supaya gue gak teriak. Rian yang sekarang adalah Rian si cowok hits kampus yang super dingin. Dia memakai kemeja flanel hitam-merah yang kancingnya dibuka setengah, menutupi kaus putih di dalamnya, lengkap dengan *tote bag* hitam yang tersampir cuek di bahu kiri. Di sekelilingnya ada gerombolan anak-anak fasyun kampus yang sibuk ketawa-tawi, sementara Rian cuma menanggapi sesekali dengan anggukan tipis atau senyum super irit.

Dingin banget. Benar-benar kayak es batu berjalan.

Gue meraba saku celana jins gue, menarik keluar ponsel, lalu membuka aplikasi WhatsApp. Berkat kecerdikan gue semalamβ€”yang menolak membukakan pintu balkon sebelum dia memberikan nomor telepon aslinyaβ€”sekarang gue punya 'kartu as' cowok populer ini.

Gue mengetik satu pesan singkat.

**Clara:** *Keren banget aktingnya hari ini. Kakak kelas teladan yang dingin ya, Kak? Beda banget sama cowok yang semalem mojok di bilik shower gue sambil megangin handuk.*

Gue menekan tombol kirim, lalu mengunci layar ponsel, menatap lurus ke arah Rian.

Hanya butuh waktu tiga detik sampai ponsel di saku celana Rian bergetar. Gue melihatnya merogoh saku, membaca layar ponselnya, dan seketika itu juga gerakan tubuhnya membeku. Bahunya menegang. Kepalanya langsung terangkat, matanya yang tajam langsung bergerak liar menyapu koridor, mencari keberadaan gue.

Gue gak bersembunyi. Malah, gue sengaja melangkah maju satu langkah dari balik pilar, mengangkat ponsel gue tinggi-tinggi, lalu mengedipkan sebelah mata dengan senyum paling provokatif yang gue punya.

Begitu mata kami bertemu, rahang Rian mengeras. Pipinya samar-samar mulai berubah warna pinkβ€”persis kayak semalam. Dia buru-buru menunduk lagi ke layar ponselnya, jempolnya mengetik dengan gerakan cepat dan gusar.

*Bzzzt.* Ponsel gue bergetar.

**Rian:** *Gue gak bercanda. Hapus nomor gue, dan pura-pura gak kenal gue di kampus. Please.*

Gue terkekeh pelan. Enak aja main suruh hapus. Permainan ini baru aja dimulai, dan gue gak punya niat buat menyudahinya secepat ini. Adrenalin yang gue rasakan semalam masih menyisa di ujung saraf gue, dan rasanya terlalu adiktif buat dilepas begitu aja.

**Clara:** *Gak mau. Lagian kita kan emang gak saling kenal? Tapi kalau lo mau kenalan lagi secara resmi... gimana kalau nanti malam di kamar mandi gue lagi? Pintu balkon gak bakal gue kunci kok. πŸ˜‰*

Gue bisa melihat dari jauh bagaimana Rian hampir saja menjatuhkan ponselnya sendiri. Dia buru-buru pamit pada teman-temannya dengan gestur tangan yang kaku, lalu berbalik arah dan berjalan cepat menuju arah tangga.

Gue gak tinggal diam. Jiwa "kucing" gue mendadak bangkit untuk mengejar si "tikus". Gue melangkah sant**, mengikuti rute yang diambil Rian dengan jarak aman.

Koridor lant** dua gedung perkuliahan siang itu agak sepi karena sebagian besar mahasiswa sudah ma**k kelas. Rian mempercepat langkahnya, seolah tahu kalau gue sedang membuntutinya. Tapi langkah kaki gue yang ringan dengan mudah menyusulnya di dekat belokan menuju laboratorium yang kosong.

*Set.*

Gue sengaja mempercepat langkah, lalu memotong jalannya tepat di sudut koridor yang sepi. Rian terpaksa berhenti mendadak supaya tubuh jangkungnya gak menab**k gue.

"Lo apa-apaan sih?" desis Rian dengan suara rendah yang tertahan. Dia menatap sekeliling dengan cemas, takut ada mahasiswa lain yang melihat interaksi kami.

"Gak apa-apa. Cuma mau nyapa tetangga kos baru," jawab gue sant**, menatapnya dari bawah ke atas. Harus gue akui, di bawah sinar matahari siang, cowok ini emang beneran ganteng maksimal. Wangi parfum maskulinnya yang segar langsung memenuhi indra penciuman gue. "Kenapa mukanya tegang banget? Takut ketahuan ya kalau lo punya rahasia sama cewek biasa kayak gue?"

Rian menghela napas kasar. Dia maju satu langkah, membuat jarak di antara kami mengikis drastis. Tubuhnya yang tinggi menjulang membuat gue harus sedikit mendongak. Aroma parfumnya makin menguar, bikin jantung gue mendadak berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya.

"Clara," panggilnya, suaranya terdengar deep dan serak, mengirimkan getaran aneh ke perut gue. "Semalam itu murni kecelakaan. Gue gak punya pilihan lain karena penjaga kosan lagi patroli dan kamar lo satu-satunya yang balkonnya kebuka. Gue gak bermaksud macam-macam. Jadi, tolong, stop ganggu gue."

"Gua gak ngerasa keganggu tuh," sahut gue, menantang tatapan matanya. Gue melangkah maju lagi, membuat dada gue hampir bersentuhan dengan dadanya. Gue bisa melihat jakun Rian naik turun saat dia menelan ludah dengan susah payah. "Malah, gue ngerasa ini... seru."

"Seru?" Rian mengernyit, menatap gue seolah gue adalah makhluk asing dari planet lain. "Lo g*** ya?"

"Mungkin," bisik gue, sengaja mendekatkan wajah gue ke telinganya saat ada langkah kaki terdengar dari kejauhan. "Tapi lo juga gak kalah g*** karena berani ma**k ke kamar mandi cewek yang cuma pakai handuk."

Gue bisa merasakan tubuh Rian menegang sempurna mendengar bisikan gue. Sebelum orang yang berjalan di koridor itu melihat kami, gue langsung mundur dua langkah, memberikan Rian senyuman termanis gue, lalu berbalik dan berjalan pergi dengan langkah ringan.

Gue tahu, dari belakang, Rian pasti masih menatap gue dengan pandangan campur aduk antara kesal, bingung, dan... mungkin sedikit tertarik?

***

Malam harinya, tensi permainan kami bukannya mereda, tapi malah makin menjadi-jadi.

Kos tempat kami tinggal adalah kosan eksklusif tiga lant** yang menerapkan sistem campur, tapi dengan aturan ketat bahwa area koridor adalah area publik yang dipantau CCTV di ujung-ujungnya. Kamar gue berada di lant** dua, dan ternyata, kamar Rian berada tepat di seberang lorong, hanya bergeser dua pintu ke arah kanan. Pantas saja semalam dia bisa dengan mudah menyeberang lewat dahan pohon kamboja besar yang tumbuh di antara balkon kami.

Sekitar jam sembilan malam, gue keluar kamar dengan membawa botol minum kosong untuk mengisi air di dispenser bersama yang terletak di ujung koridor.

Gue baru saja menekan tombol air dingin ketika mendengar suara pintu kamar terbuka. Dari pantulan bodi dispenser yang mengkilap, gue melihat Rian keluar dari kamarnya. Dia hanya memakai celana pendek hitam dan kaus abu-abu polos yang tampak sangat pas di tubuh atletisnya. Rambutnya agak basah, menandakan dia baru selesai mandi.

Begitu melihat gue berdiri di depan dispenser, langkah kaki Rian langsung melambat. Dia tampak ragu antara ingin putar balik atau tetap lanjut berjalan. Pada akhirnya, ego cowoknya tampaknya menang. Dia tetap berjalan mendekat dengan wajah sedatar tripleks.

"Malam, Rian," sapa gue dengan nada riang yang disengaja.

Rian gak menjawab. Dia cuma berdiri di samping gue, menunggu giliran menggunakan dispenser dengan tangan yang dima**kkan ke dalam saku celana. Pandangannya lurus ke depan, pura-pura fokus pada mading kosan yang tertempel di dinding dekat dispenser.

"Sombong banget. Padahal semalem nanya nama gue sampai dua kali," sindir gue setengah berbisik, mendekatkan botol minum gue yang hampir penuh.

Rian tetap bergeming, tapi gue bisa melihat otot rahangnya yang mengetat.

"Lo tahu gak?" gue melanjutkan, kali ini sengaja menggeser posisi berdiri gue hingga bahu kami saling bersentuhan ringan. Kontak fisik yang minim itu mendadak mengirimkan sengatan listrik mini yang membuat bulu kuduk gue meremang. "Gue sengaja gak ngunci pintu balkon malam ini. Siapa tahu ada 'penyusup' yang mau bertamu lagi."

Rian mendengus pelan, akhirnya menyerah untuk tetap diam. Dia menoleh ke arah gue, matanya berkilat tajam di bawah temaram lampu koridor.

"Gue bukan maling jemuran yang bakal ma**k lewat balkon yang sama dua kali, Clara," balasnya dengan suara rendah yang hampir menyerupai bisikan magnetis.

"Oh ya?" Gue menaikkan satu alis gue, menutup botol minum gue dengan bunyi *klik* yang nyaring. "Tapi gue rasa lo tipe cowok yang suka tantangan. Buktinya, lo gak langsung balik ke kamar sekarang padahal lo tahu gue ada di sini."

Rian tidak langsung menjawab. Dia malah mengambil langkah maju, memojokkan gue di antara dispenser dan dinding koridor. Jarak kami sangat dekat sekarang. Gue bisa mencium aroma sabun mint yang segar dari tubuhnya, bercampur dengan kehangatan kulitnya yang menguar alami.

"Jangan main api, Clara," bisik Rian, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah gue. Matanya turun menatap bibir gue selama satu detik sebelum kembali mengunci tatapan mata gue. "Lo gak tahu apa yang bisa gue lakuin kalau gue beneran ma**k lewat balkon lo malam ini."

Jantung gue berdegup kencang, kali ini dengan ritme yang liar dan tak beraturan. Adrenalin di dalam tubuh gue berpacu hebat, menciptakan sensasi menggelitik yang sangat menyenangkan di dada gue. Sentuhan bahunya, napas hangatnya yang menerpa dahi gue, semuanya terasa begitu intens di koridor yang sepi ini.

Gue menelan ludah, tapi gue menolak untuk terlihat lemah. Gue membalas tatapannya dengan keberanian yang gue kumpulkan dari sisa-sisa harga diri gue.

"Gue gak takut sama api, Rian," tantang gue dengan suara yang sengaja gue buat seringan mungkin, meski dalam hati gue sudah menjerit histeris karena ketegangan ini. "Justru gue yang mau lihat... seberapa cepat lo bakal terbakar."

Sebuah senyum tipisβ€”sangat tipis hingga hampir tak terlihatβ€”muncul di sudut bibir Rian. Itu adalah senyum pertama yang gue lihat darinya sejak semalam, dan si****, senyum itu membuat ketampanannya naik berkali-kali lipat.

Sebelum gue sempat memproses reaksinya, Rian tiba-tiba mundur satu langkah, memutus jarak intim di antara kami dalam sekejap. Dia mengambil botol airnya yang sejak tadi dia pegang, lalu berbalik arah menuju kamarnya tanpa mengisi air sedikit pun.

"Selamat tidur, Clara," ucapnya tanpa menoleh ke belakang, sambil melambaikan satu tangannya dengan sant** di udara.

Gue berdiri terpaku di depan dispenser, memegangi botol minum gue yang terasa dingin, sementara seluruh tubuh gue terasa hangat luar biasa. Si****. Cowok itu baru saja membalikkan keadaan.

Gue tersenyum lebar sambil menatap pintu kamarnya yang tertutup rapat.

*Permainan ini... bakal jadi jauh lebih seru dari yang gue bayangkan.*

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca