Ada Cowok Asing di Kamar Mandiku!

Bab 5: Misi Rahasia Rian

Pengaturan Membaca

**Bab 5: Misi Rahasia Rian**

Sekitar pukul sebelas lewat tiga puluh malam, kosan putri "Wisma Kartika" udah sepi kayak kuburan. Sebagian besar anak kos pasti udah pada molor, atau minimal lagi maraton drakor di dalam kamar mereka masing-masing dengan lampu dimatikan.

Sementara gue? Gue malah lagi kelaparan setengah mati.

Gue mengendap-endap turun ke lant** bawah sambil memeluk mangkuk ramen instan kosong, berniat buat menyeduh air panas di dispenser yang ada di area dapur umum dekat lobi utama. Langkah kaki gue sengaja dibuat seringan mungkin biar gak bikin suara berisik di lant** kayu.

Begitu gue sampai di dekat koridor yang mengarah ke dapur, mata gue gak sengaja menangkap sekelebat bayangan hitam di dekat halaman belakang—area yang berbatasan langsung dengan kantor pengelola kos yang lama. Kantor itu udah lama dikunci dan dibiarkan kosong sejak pemilik kosan ini berganti manajemen tiga bulan lalu.

Gue menghentikan langkah. Jantung gue mendadak berdegup dua kali lebih cepat.

*Maling?* batin gue panik.

Gue menyipitkan mata, mencoba fokus menembus kegelapan malam yang cuma dibantu sedikit cahaya dari lampu taman yang temaram. Bayangan itu tinggi, tegap, memakai hoodie hitam dengan kupluk yang ditarik dalam-dalam sampai menutupi rambutnya. Dia lagi sibuk mengotak-atik gembok pintu kayu kantor lama dengan sebuah kawat kecil.

Gerakannya lincah, tapi ada gestur gugup yang sangat familier.

Gue menaruh mangkuk ramen gue di atas meja makan dapur dengan sepelan mungkin, lalu melangkah tanpa suara mendekati bayangan itu. Jarak kami makin dekat. Lima meter. Tiga meter. Dua meter.

"Rajin banget, Kak. Selain hobi nyusup ke kamar mandi cewek, sekarang nambah profesi jadi spesialis bobol pintu ya?" bisik gue tepat di belakang telinganya.

"Anj—"

Cowok itu tersentak hebat sampai hampir menjatuhkan kawat di tangannya. Dia berputar cepat, tangannya reflex bergerak menutup mulut gue dengan telapak tangannya yang lebar dan hangat. Aroma parfum maskulin bercampur wangi sabun mint yang sangat gue kenal langsung menyerbu indra penciuman gue.

Rian. Benar-benar cowok ini lagi.

"Sstt! Diem gak lo!" bisik Rian dengan nada panik yang ditahan setengah mati. Matanya melotot tajam ke arah gue dari balik bayangan kupluk hoodie-nya.

Gue cuma bisa mengerjapkan mata, memberi isyarat lewat tatapan mata kalau gue gak bakal teriak. Setelah beberapa detik memastikan gue gak bakal bikin keributan, Rian perlahan-lahan menurunkan tangannya dari mulut gue. Tapi dia tetap berdiri sangat dekat, seolah siap membekap gue lagi kalau gue nekat macam-macam.

"Lo ngapain sih di sini? G*** ya? Kalau ketahuan penjaga kos, lo bisa digebukin warga sekampung!" bisik gue ketus, meskipun sebenarnya ada rasa geli yang menggelitik perut gue.

Rian mengembuskan napas kasar, meraup wajahnya dengan frustrasi. Tampang dingin dan berwibawa yang dia tunjukkan di kampus siang tadi runtuh seketika. "Gue ada urusan penting. Dan lo... kenapa sih selalu muncul di saat yang gak tepat?"

"Heh, ini kosan gue ya! Harusnya gue yang tanya, ngapain lo malem-malem bobol kantor kosong gini? Lo beneran maling? Wah, gue gak menyangka ya, cowok hits FEB ternyata punya kerjaan sampingan yang menantang maut." Gue menyilangkan dada, menatapnya penuh selidik.

Rian memejamkan matanya sejenak, mencoba mengatur napasnya yang memburu. Saat dia membuka mata lagi, binar jenaka atau kesal yang biasanya ada di sana mendadak hilang. Yang tersisa cuma tatapan lelah, cemas, dan... rapuh. Tatapan yang sama sekali gak pernah gue bayangkan bakal keluar dari sosok Rian yang terkenal untouchable di kampus.

"Gue bukan maling, Clara," kata Rian dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti bisikan putus asa. "Gue cuma mau ngambil apa yang harusnya jadi milik keluarga gue."

Gue tertegun. Nada suaranya berubah serius banget. "Maksud lo?"

Rian bersandar di tembok kayu di samping pintu, menatap gembok yang gagal dia buka. "Pemilik kosan ini yang lama... dia mantan rekan bisnis bokap gue. Dia nipu keluarga gue sampai hampir bangkrut. Semua aset keluarga gue disita, dan bokap gue sekarang jatuh sakit karena stres dituduh melakukan korupsi yang gak pernah dia lakukan."

Gue menahan napas. Rasa ingin tahu gue yang awalnya cuma buat seru-seruan langsung menguap, digantikan oleh rasa sesak yang tiba-tiba menjalar di dada.

"Dia bikin dokumen palsu yang menyudutkan bokap gue," lanjut Rian, suaranya agak bergetar namun dia berusaha keras menyembunyikannya. "Gue dapet info dari mantan sekretarisnya kalau salinan dokumen asli yang bisa membersihkan nama bokap gue disimpan di dalam b**nkas kantor lama ini. Dia sengaja ninggalin itu di sini sebelum kabur ke luar negeri karena mikir gak bakal ada yang berani nyari di kos-kosan putri."

Rian menoleh ke arah gue, matanya menatap langsung ke dalam mata gue. "Gue gak punya pilihan lain, Clara. Hukum formal terlalu lambat, sedangkan kondisi bokap gue makin memburuk setiap hari. Gue harus dapetin dokumen itu secepatnya."

Mendengar penjelasan Rian, tenggorokan gue mendadak terasa kering. Rasa simpati langsung mengalir deras di dalam diri gue. Cowok di depan gue ini ternyata lagi memikul beban yang begitu berat di pundaknya, sementara siang tadi gue dengan egoisnya malah mempermainkan dia cuma demi kesenangan pribadi. Ada rasa bersalah yang mencubit hati gue.

"Rian... gue..."

Sebelum gue sempat menyelesaikan kalimat gue, terdengar suara langkah kaki berat dari arah gerbang depan, disert** dengan siulan sant** dan suara gemerincing kunci yang sangat familier.

*Pak Bambang.* Penjaga kosan yang terkenal galak dan selalu keliling setiap tengah malam.

"Sial," umpat Rian pelan.

Sorot lampu senter mulai menyapu area halaman samping, perlahan bergerak menuju ke arah tempat kami berdiri. Cahaya kuning itu bergoyang-goyang di dinding, makin lama makin dekat.

"Ada orang di sana?" suara berat Pak Bambang terdengar memecah keheningan malam.

Kepala gue langsung kosong karena panik. Kalau kami ketahuan berdua di sini tengah malam, tamat sudah riwayat kami. Rian bakal dilaporkan ke polisi, dan gue bakal didepak dari kosan ini dengan tidak hormat.

Sebelum gue sempat berpikir jernih, Rian tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan gue. Tarikannya kuat tapi lembut, menarik gue dengan cepat ke arah ruang sempit di bawah tangga kayu luar yang menghubungkan lant** satu dan lant** dua.

Di bawah tangga itu ada tumpukan kursi lipat rusak dan beberapa dus bekas yang berdebu. Tempatnya sangat sempit, gelap, dan nyaris gak menyisakan ruang untuk bernapas. Rian menarik gue ma**k ke sudut paling dalam, menyudutkan tubuh gue ke dinding kayu sementara tubuhnya sendiri merapat, menutupi tubuh gue sepenuhnya dari pandangan luar.

"Sstt... jangan bersuara," bisik Rian, sangat dekat di telinga gue.

Napas gue tercekat. Bukan cuma karena takut ketahuan Pak Bambang, tapi karena posisi kami yang sekarang benar-benar... intim.

Tubuh Rian menempel erat pada tubuh gue. Gue bisa merasakan dada bidangnya naik turun dengan cepat, bergesekan langsung dengan dada gue yang cuma terbalut kaus tipis. Tinggi badannya yang menjulang membuat kepala gue terpaksa mendongak sedikit, bersandar di dadanya. Aroma tubuhnya—campuran antara keringat tipis, sabun, dan dinginnya angin malam—langsung memenuhi seluruh indra penciuman gue, membuat kepala gue mendadak pening karena sensasi yang terlalu intens.

Lampu senter Pak Bambang menyapu tepat ke arah bawah tangga. Garis-garis cahaya menembus celah-celah kayu tangga, menerangi sebagian wajah Rian yang berada hanya beberapa sentimeter di depan wajah gue.

Gue bisa melihat dengan jelas rahang tegasnya yang mengeras karena tegang. Bulu matanya yang lentik, hidung mancungnya, dan bibir tipisnya yang sekarang terkatup rapat. Di bawah temaram cahaya senter, Rian terlihat berkali-kali lipat lebih tampan sekaligus berbahaya.

*Dug-dug. Dug-dug.*

Gue gak tahu itu suara detak jantung gue atau detak jantung Rian. Suaranya terdengar begitu keras di telinga gue, bertalu-talu kayak genderang perang.

Pak Bambang berhenti tepat di depan tangga. Langkah kakinya terdengar sangat dekat, mungkin cuma berjarak satu meter dari tempat kami bersembunyi. Gue refleks mencengkeram erat jaket hoodie Rian di bagian pinggangnya, menyembunyikan wajah gue di ceruk lehernya karena ketakutan.

Saat gue melakukan itu, gue merasakan tubuh Rian menegang sesaat. Sedetik kemudian, satu tangannya perlahan naik, melingkar di pinggang gue, menarik tubuh gue semakin merapat tanpa celah, seolah-olah dia ingin menyembunyikan gue sepenuhnya ke dalam dirinya sendiri. Sentuhan tangannya di pinggang gue terasa hangat, bahkan menembus lapisan kaus yang gue pakai, mengirimkan sengatan listrik aneh yang membuat bulu kuduk gue meremang.

Napas hangat Rian berembus lembut di puc** kepala gue, membuat rambut-rambut halus di leher gue meremang. Kami berdua sama sekali gak berani bergerak, bahkan untuk sekadar bernapas pun kami lakukan secara perlahan dan hati-hati.

Di dalam kegelapan dan kesempitan itu, dunia luar seolah-olah lenyap. Yang ada cuma gue, Rian, detak jantung yang saling berkejaran, dan kehangatan tubuh kami yang saling bertukar di tengah dinginnya malam. Ketegangan fisik di antara kami memuncak ke tingkat yang belum pernah gue rasakan sebelumnya. Ini bukan lagi sekadar permainan kucing dan tikus yang seru. Ada sesuatu yang lain, sesuatu yang jauh lebih mendalam dan mendebarkan yang mendadak meletup di antara kami.

"Aneh, kayak ada suara tadi..." gumam Pak Bambang di luar sana. Terdengar suara langkah kakinya berputar-putar sebentar, sebelum akhirnya terdengar helaan napas panjang. "Ah, palingan kucing liar."

Langkah kaki Pak Bambang perlahan menjauh, diikuti oleh suara pintu lobi yang ditutup kembali. Keadaan kembali sunyi senyap.

Namun, baik gue maupun Rian gak ada yang langsung bergerak.

Kami masih tetap dalam posisi yang sama selama beberapa saat yang terasa seperti selamanya. Tangan Rian masih melingkar protektif di pinggang gue, dan tangan gue masih setia meremas jaketnya.

Perlahan, Rian menundukkan kepalanya, membuat tatapan mata kami bertemu di dalam kegelapan yang pekat. Jarak wajah kami sangat dekat, hingga gue bisa merasakan embusan napasnya yang hangat menerpa bibir gue. Mata tajam yang biasanya dingin itu sekarang menatap gue dengan binar yang sulit diartikan—campuran antara kelegaan, rasa terima kasih, dan sesuatu yang terasa sangat intens hingga membuat jantung gue sekali lagi berdegup kencang.

"Clara..." bisik Rian pelan, suaranya terdengar serak di tengah kesunyian malam.

Gue menelan ludah, mendadak merasa sangat gugup. "Y-ya?"

Rian gak langsung menjawab. Matanya turun menatap bibir gue sesaat, sebelum kembali menatap mata gue. Dia perlahan melepaskan pelukannya di pinggang gue, memberikan sedikit ruang bernapas yang langsung terasa dingin tanpa kehadirannya.

"Makasih," katanya tulus, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat manis—senyuman nyata pertama yang pernah gue lihat dari seorang Rian. "Dan... maaf udah bikin lo terlibat dalam masalah bahaya kayak gini."

Gue berdeham pelan, mencoba menetralkan detak jantung gue yang masih mengg*** sambil merapikan kaus gue yang agak berantakan. "G-gak apa-apa. Lagian gue juga bosan di kamar terus."

Rian terkekeh pelan, suara tawanya yang rendah terdengar sangat s**** di bawah tangga yang gelap ini. Dia menarik kupluk hoodie-nya lagi, kembali ke mode misteriusnya. "Gue harus pergi sekarang sebelum penjaga itu balik lagi. Pintu gemboknya susah dibuka pakai kawat biasa, gue butuh alat lain."

Dia bersiap untuk keluar dari celah tangga, tapi entah dorongan dari mana, gue mendadak menahan ujung lengan hoodie-nya.

Rian berbalik, menatap gue heran. "Kenapa?"

Gue menggigit bibir bawah gue sejenak, menimbang-nimbang keputusan g*** yang baru saja melintas di kepala gue. Tapi melihat wajah lelahnya, gue tahu gue gak bisa tinggal diam begitu aja.

"Besok malam," kata gue mantap. "Gue bakal bantu lo ma**k ke kantor itu. Ibu kos yang baru sering naruh kunci cadangan semua ruangan di lobi utama. Gue tahu di mana dia menyimpannya."

Rian menatap gue dengan mata membelalak, tampak sangat terkejut dengan tawaran gue. "Clara, ini bahaya. Kalau ketahuan—"

"Gak bakal ketahuan kalau lo kerja sama bareng gue," potong gue sambil tersenyum menantang, kembali ke mode Clara yang biasanya penuh percaya diri. "Gimana? *Deal*?"

Rian menatap gue lama, seolah sedang menakar keseriusan di wajah gue. Perlahan, senyuman tipis kembali terukir di wajah tampannya.

"Oke," bisik Rian lembut. "*Deal*. Besok malam, di sini."

Dan malam itu, di bawah tangga yang sempit dan berdebu, gue sadar kalau permainan ini sudah berubah sepenuhnya. Gue bukan lagi penonton yang cuma ingin mengusili cowok populer kampus. Gue sekarang adalah partner kejahatan—dan mungkin, seseorang yang mulai jatuh dalam pesonanya yang berbahaya.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca