**Bab 6: Hampir Ketahuan!**
"Heh, ini area steril! Lo ngapain sih di sini?!" sambung gue dengan nada berbisik yang super ditekankan, menatap Rian dengan tatapan mengintimidasi yang—jujur aja—sama sekali gak mempan buat dia.
Tapi, sebelum Rian sempat membuka mulut untuk menjawab, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki berat yang mendekat dari arah lobi utama. Suara dehaman berat khas Pak Doni, penjaga kos paruh baya yang terkenal galak dan hobi bawa senter segede gaban, menggema di lorong sunyi itu.
"Siapa di sana?!" seru Pak Doni dari kejauhan.
Seketika, gue dan Rian saling pandang. Pupil mata Rian melebar karena panik, dan tanpa mikir dua kali, gue langsung menyambar pergelangan tangan cowok itu. Gue menariknya setengah berlari menuju kamar gue yang kebetulan berada di lant** bawah, paling dekat dengan koridor dapur.
*Cklek.*
Gue menutup pintu kamar secepat dan sepelan mungkin, lalu bersandar di balik pintu sambil memegangi dada gue yang naik-turun. Jantung gue berdegup kencang kayak habis lari maraton keliling GBK sepuluh kali. Di sebelah gue, Rian berdiri kaku, napasnya yang memburu terasa hangat di puncak kepala gue karena jarak kami yang super rapat.
"Napas lo biasa aja dong, kayak habis dikejar s**** aja," bisik gue ketus, mendongak menatapnya.
Rian mendengus, merapikan kupluk hoodie-nya yang agak miring. "Lo yang tiba-tiba narik gue kayak copet. Lagian, kenapa kita harus sembunyi di kamar lo sih?"
"Oh, jadi lo mau gue biarin ditangkap Pak Doni, terus besok pagi muka ganteng lo terpampang nyata di mading kampus dengan *headline* 'Penyusup Mesum Wisma Kartika'? Gitu?!" cerocos gue dengan suara super pelan tapi penuh penekanan.
Rian baru mau membalas ucapan gue saat tiba-tiba...
*Krieeek...*
Gagang pintu kamar gue bergerak turun.
Jantung gue rasanya langsung merosot sampai ke jempol kaki. Gue membeku. Demi apa pun, gue lupa mengunci pintu kamar karena saking paniknya tadi!
"Claraaa! Lo belum tidur, kan? Kamar lo gak dikunci, gue ma**k ya—"
Suara cempreng nan familier itu terdengar dari balik pintu. Sarah! Si ratu gosip Wisma Kartika yang kamarnya ada di sebelah kamar gue. Cewek itu punya kebiasaan buruk luar biasa: hobi bertamu tanpa mengetuk pintu dan langsung nyelonong ma**k kayak pemilik saham terbesar di kosan ini.
"Mampus!" bisik gue panik setengah mati. Mata gue bergerak liar ke sekeliling kamar yang ukurannya gak seberapa ini. Di bawah ka**r? Gak muat, kolong ka**r gue penuh sama kardus-kardus bekas paket belanja *online*. Kamar mandi? Malah lebih berisiko kalau Sarah tiba-tiba numpang pipis.
Satu-satunya pilihan yang tersisa adalah... lemari pakaian.
Tanpa b***bu, gue langsung mencengkeram lengan Rian, menyeret tubuh jangkungnya menuju lemari baju kayu dua pintu milik gue.
"Eh, eh! Ngapain gue dima**kin ke—" Rian protes, tapi gue gak peduli.
"Ma**k atau gue teriak lo pemerkosa sekarang juga!" ancam gue kejam.
Ancaman gue berhasil. Rian mendelik pasrah. Dengan susah payah, dia menekuk tubuhnya yang setinggi 180 senti itu untuk ma**k ke dalam lemari gue yang sempit. Saking sempitnya, dia harus berdiri di antara gantungan baju-baju gue dan tumpukan kaos kaki di bagian bawah. Sebelum gue menutup pintu lemarinya, mata kami sempat bertemu. Tatapan Rian seolah bilang: *Awas lo ya setelah ini.*
*B**k!*
Gue menutup pintu lemari rapat-rapat tepat di detik yang sama saat pintu kamar gue terbuka lebar.
"Clara! Ih, lo lagi ngapain sih? Kok mukanya tegang banget kayak habis liat hantu?" Sarah melangkah ma**k dengan sant**. Dia memakai piyama satin bergambar stroberi dan masker wajah berwarna hijau lumpur yang bikin mukanya kelihatan kayak Shrek versi lokal.
Gue langsung memaksakan senyum paling manis—yang gue yakin malah kelihatan kayak orang stroke ringan. Gue buru-buru menyambar ponsel di atas meja belajar agar kelihatan sibuk.
"Eh, Sarah! Hehe... enggak kok, gak ngapa-ngapain. Ini... gue lagi nyari sinyal aja. Iya, sinyal di pojok sini agak susah," jawab gue ngasal, sambil berdiri mepet di depan pintu lemari pakaian, seolah-olah sedang menjaga harta karun paling berharga di dunia.
Sarah mengernyitkan dahi, menatap gue penuh selidik dari balik masker hijaunya. Untungnya, rasa keponya yang tinggi segera teralihkan. Dia langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ka**r empuk gue, membuat ka**r itu sedikit berderit.
"Sumpah ya, Clar, gue tuh lagi gabut banget! Mau tidur tapi gak bisa, mana mata gue seger banget habis nonton gosip artis di TikTok," cerocos Sarah tanpa jeda. Dia mulai memainkan bantal guling gue. "Eh, lo tahu gak sih? Gue punya gosip terbaru dari kampus kita!"
Gue menelan ludah dengan susah payah. Di dalam lemari tepat di belakang punggung gue, ada seorang cowok yang statusnya lagi jadi buronan di kosan ini. Dan sekarang gue harus meladeni obrolan Sarah?
"Oh... ya? Gosip apa?" tanya gue seadanya, mencoba terdengar seantusias mungkin biar Sarah gak curiga.
"Itu loh, si Rian! Kakak tingkat kita yang anak Teknik Sipil itu!" seru Sarah heboh, menepuk-nepuk ka**r gue.
*Deg.*
Gue refleks melirik ke arah pintu lemari di belakang gue. Jantung gue berdegup makin kencang. Rian... ada di dalam sana. Dan dia pasti bisa mendengar setiap det**l pembicaraan ini dengan sangat jelas karena jarak kami yang cuma terhalang sekat kayu tipis.
"Kenapa... emangnya sama Kak Rian?" tanya gue, mencoba menstabilkan nada suara gue agar tidak gemetar.
"Ih, lo kudet banget sih! Masa lo gak tahu? Gosipnya, dia itu sebenarnya *sugar baby* salah satu dosen senior kita! Makanya nilainya selalu bagus dan dia sering bawa mobil mewah ke kampus. Padahal aslinya dia tuh dari keluarga biasa aja katanya," ujar Sarah dengan nada super yakin, seolah-olah dia sendiri yang memegang bukti otentiknya.
Gue hampir aja tersedak ludah sendiri. *Sugar baby?!* Astaga, imajinasi anak-anak kampus ini kreatifnya udah di luar nalar. Gue setengah mati menahan diri untuk tidak menengok ke belakang. Gue gak bisa membayangkan gimana ekspresi muka Rian di dalam lemari saat mendengar dirinya digosipkan jadi *sugar baby* dosen senior. Cowok dingin, galak, dan bermuka datar kayak dia? Yang benar saja!
"Ah... masa sih, Sar? Kayaknya itu cuma rumor deh. Gak boleh seudzon tahu," kata gue, mencoba membela Rian (atau lebih tepatnya, menyelamatkan kuping Rian dari gosip sampah ini).
"Ih, tapi banyak yang bilang gitu! Terus ya, gosip kedua... katanya Kak Rian itu aslinya *gay*! Soalnya selama tiga tahun kuliah di sini, gak pernah sekalipun dia kelihatan deket atau pacaran sama cewek. Ada cewek cantik yang nembak dia aja langsung ditolak mentah-mentah di depan umum. Sadis banget, kan? Makanya banyak yang curiga kalau dia itu sebenernya—"
*KRETEK.*
Tiba-tiba terdengar suara patahan kayu kecil dari dalam lemari.
Seketika, kata-kata Sarah terhenti di udara. Matanya yang bulat langsung beralih menatap tajam ke arah lemari pakaian di belakang gue.
"Eh? Suara apa itu, Clar?" tanya Sarah curiga. Dia mulai bangkit dari posisi tidurnya dan duduk tegak di tepi ka**r.
Keringat dingin mulai bercucuran di pelipis gue. Gue tahu persis itu suara apa. Itu pasti suara gantungan baju kayu gue yang gak kuat menahan beban tubuh Rian, atau mungkin Rian yang refleks bergerak karena emosi dituduh *gay*.
"H-ha? Suara apa? Gak ada suara apa-apa kok," jawab gue terbata-bata, mencoba memblokir pandangan Sarah ke arah lemari dengan melebarkan kedua tangan gue.
"Ada kok! Jelas banget tadi bunyinya dari dalam lemari lo," kata Sarah sambil berdiri. Dia melangkah mendekati gue dengan mata menyipit penuh rasa penasaran. "Jangan-jangan... lo menyembunyikan sesuatu ya di dalam situ?"
"Gak ada! Sumpah gak ada!" sahut gue histeris, membuat Sarah malah makin curiga.
"Masa sih? Kok lo panik gitu? Jangan-jangan ada tikus ma**k ya? Sini, biar gue buka lemarinya. Gue kan pawang tikus kosan ini," ujar Sarah sambil mengulurkan tangannya, bersiap meraih gagang pintu lemari.
Dalam sepersekian detik, otak gue berputar cepat mencari cara untuk menghentikannya. Kalau Sarah membuka lemari ini, tamat sudah riwayat gue. Bukan cuma gue yang bakal diusir dari kosan karena membawa cowok ke dalam kamar malam-malam, tapi reputasi Rian di kampus juga bakal hancur lebur dalam sekejap di tangan ratu gosip ini.
Tepat saat jari-jari Sarah hampir menyentuh gagang pintu lemari, gue langsung menyambar lengannya dengan kuat.
"Aaaaa! Sar, lo liat itu gak?!" teriak gue histeris sambil menunjuk ke arah sudut langit-langit kamar mandi gue yang pintunya sedikit terbuka.
Sarah tersentak kaget mendengarnya. "Apa?! Apaan?!"
"Itu! Ada kecoa terbang raksasa! Warnanya hitam pekat, kumisnya panjang banget, lagi nangkring di atas pintu kamar mandi gue! Kayaknya dia siap-siap mau mendarat di muka lo yang lagi pakai masker!" cerocos gue dengan ekspresi penuh ketakutan yang dibuat-buat se-dramatis mungkin.
Mendengar kata 'kecoa terbang', pertahanan Sarah runtuh seketika. Wajahnya yang hijau langsung berubah pucat pasi. Ketakutan terbesarnya di dunia ini adalah serangga terbang si**** itu.
"H-HAH?! MANA?! A****, CLARA, GUE BENCI BANGET KECOA!" jerit Sarah histeris. Dia langsung melompat mundur, naik ke atas ka**r gue sambil memeluk guling erat-erat.
"Itu! Dia mau terbang, Sar! Buruan keluar dari kamar gue sebelum dia hinggap di rambut lo!" kompor gue lagi, sengaja menambah bumbu kepanikan.
"Aaaaa! Gue balik kamar aja! Clar, usir kecoanya ya! Bye!"
Tanpa menunggu hitungan ketiga, Sarah langsung melompat dari ka**r dan berlari sekencang-kencangnya keluar dari kamar gue. Dia membanting pintu kamar gue hingga tertutup rapat, menyisakan keheningan yang mendadak terasa begitu kontras di dalam kamar.
Gue mengembuskan napas panjang yang sedari tadi tertahan di tenggorokan. Tubuh gue mendadak lemas, sampai-sampai gue harus bersandar pada pintu lemari untuk menjaga keseimbangan.
"Aman..." gumam gue lirih.
Gue langsung memutar kunci pintu kamar gue rapat-rapat—pembelajaran berharga dari kejadian barusan. Setelah memastikan semuanya benar-benar aman, gue berbalik menghadap lemari pakaian gue.
Gue mengetuk pintu lemari itu pelan. "Rian... lo bisa keluar sekarang. Shrek-nya udah pergi."
*Cklek.*
Pintu lemari terbuka perlahan dari dalam. Rian melangkah keluar dengan gerakan yang sangat kaku, mencoba meregangkan otot-otot badannya yang pegal karena harus melipat diri di ruang sempit selama hampir lima belas menit.
Namun, yang membuat gue salah fokus adalah wajah cowok itu.
Wajah Rian yang biasanya putih bersih kini tampak memerah padam sampai ke telinga. Entah karena dia kepanasan di dalam lemari yang pengap, atau karena dia menahan emosi yang luar biasa setelah mendengar semua gosip miring tentang dirinya dari mulut Sarah tadi.
Kami berdua saling diam selama beberapa detik. Atmosfer di dalam kamar mendadak berubah menjadi sangat canggung dan aneh.
"Jadi..." gue berdeham pelan, mencoba memecah keheningan yang menyiksa ini. "Soal gosip... *sugar baby* dan... um, *gay* itu..."
Rian langsung menatap gue dengan tatapan tajam yang seolah-olah bisa membunuh gue saat itu juga.
"Jangan. Berani. Bahas. Itu. Lagi," desis Rian dengan suara rendah dan penuh penekanan di setiap katanya.
Melihat tampang frustrasi dan malunya yang super langka itu, entah kenapa rasa takut gue menguap begitu saja, digantikan oleh rasa geli yang luar biasa. Gue menutupi mulut gue, mencoba menahan tawa yang hampir meledak.
"Kenapa? Padahal kalau dipikir-pikir, gosipnya kreatif banget tahu," goda gue dengan cengiran jahil. "Ternyata pesona lo di kampus sampai bikin orang bikin teori konspirasi kayak gitu."
Rian mendengus kasar, meraup wajahnya dengan kedua tangan, lalu menatap gue dengan ekspresi pasrah sekaligus kesal. "Gue menyesal ma**k ke kamar lo."
"Heh, harusnya lo berterima kasih ya sama gue! Kalau bukan karena kecoa fiktif gue tadi, lo sekarang udah jadi bahan siaran langsung di grup WhatsApp angkatan!" balas gue gak mau kalah.
Rian terdiam sejenak. Dia menatap gue, lalu perlahan-lahan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang hampir gak kelihatan—senyuman pertama yang gue liat dari cowok dingin ini sejak pertama kali kami bertemu di kamar mandi.
"Ya. Makasih, Clar," ucapnya tulus, dengan suara yang mendadak terdengar begitu lembut di telinga gue.
Gue tertegun. Jantung gue yang baru saja tenang setelah insiden Sarah, tiba-tiba kembali berdegup kencang. Tapi kali ini, penyebabnya bukan karena panik hampir ketahuan.
Melainkan karena cowok asing yang sekarang sedang berdiri di tengah kamar tidur gue ini.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!