**Bab 7: Cemburu dan Sudut Gelap**
Suara dentum musik remix yang diputar lewat *speaker* sewaan panitia malam keakraban—atau yang biasa kami sebut makrab—jurusan Komunikasi malam ini benar-benar bikin gendang telinga gue mau pecah. Di tengah aula terbuka kampus yang dihias lampu tumblr warna-warni seadanya, ratusan mahasiswa kelihatan asyik berbaur. Ada yang sibuk bakar jagung sambil ketawa-tawa kencang, ada yang mojok nyanyi diiringi gitar fals, dan ada juga yang cuma sibuk tebar pesona demi dapet gebetan baru sebelum semester ganjil berakhir.
Gue berdiri di dekat meja prasmanan, memegangi segelas es sirup jeruk yang es batunya sudah mencair setengah. Pikiran gue sebenarnya gak ada di sini. Pikiran gue masih tersangkut pada kejadian tiga hari lalu di kosan. Kejadian g*** di mana gue terpaksa menyumpal Rian ke dalam lemari baju gue yang sempit gara-gara Sarah hampir memergoki kami.
Mengingat bagaimana tubuh jangkung cowok itu tertekuk pasrah di antara tumpukan baju kaos dan kardus belanjaan gue, ditambah jarak wajah kami yang cuma beberapa sentimeter selama hampir sepuluh menit di dalam sana... dada gue mendadak rasanya aneh. Ada semacam sengatan listrik kecil yang tertinggal, yang sialnya, susah banget buat gue usir dari kepala.
Gue mengembuskan napas panjang, mencoba fokus kembali ke dunia nyata. Pandangan gue mengedar ke seluruh penjuru aula, sampai akhirnya mata gue menangkap satu sosok yang berdiri di dekat pilar pembatas gedung.
Itu Rian.
Cowok asing yang entah bagaimana sekarang resmi jadi 'penumpang gelap' paling menyebalkan di kamar mandi gue itu malam ini kelihatan... berbeda. Dia gak pakai kaos oblong tipis atau celana pendek sant** kayak biasanya. Malam ini Rian memakai *oversized* kemeja flanel hitam-merah yang kancing atasnya sengaja dibuka, memperlihatkan kaos hitam di dalamnya. Rambutnya yang biasa berantakan sehabis mandi sekarang tertata rapi, agak basah, memberi kesan dingin sekaligus misterius yang langsung sukses menarik perhatian cewek-cewek angkatan gue.
Gue mendengus pelan saat melihat dua orang cewek dari kelas sebelah mulai mendekati Rian, sok-sokan menawarkan jagung bakar dengan senyum yang dibuat manis-manis manja. Rian sendiri cuma menanggapi dengan anggukan tipis dan wajah datar andalannya. Dasar cowok kulkas dua pintu! Sombongnya gak ketulungan, tapi herannya tetap aja ada yang antre.
Tiba-tiba, sebuah ide jahil nan provokatif melintas di otak gue.
Sejak insiden lemari itu, Rian selalu bersikap seolah-olah dia punya 'hak khusus' untuk mengatur hidup gue. Dia hobi berkomentar tentang baju-baju gue, menginterogasi ke mana gue pergi, bahkan melarang gue pulang kemalaman. Sekarang, gue pengen tahu, sampai di mana batas pertahanan cowok misterius ini kalau gue pancing sedikit.
Gue celingukan, mencari target yang pas. Gak butuh waktu lama sampai mata gue tertuju pada Kevin.
Kevin adalah tipikal cowok idaman semua mahasiswi baru. Dia aktif di himpunan, ramah, murah senyum, dan punya *vibes* kayak mas-mas barista ramah yang siap mendengarkan curhatan lo sampai pagi. Kebetulan, Kevin juga teman sekelompok gue di mata kuliah Pengantar Humas.
Gue langsung memasang senyum paling manis yang gue punya, lalu melangkah lebar menghampiri Kevin yang lagi berdiri sendirian di dekat stan minuman hangat.
"Hai, Kevin!" sapa gue dengan nada suara yang sengaja gue naikkan satu oktav, biar terdengar ceria—dan yang paling penting, biar terdengar sampai ke pilar tempat Rian berdiri.
Kevin menoleh, wajahnya langsung cerah begitu melihat gue. "Eh, Clara! Hai. Lo sendirian aja dari tadi?"
"Iya nih. Temen-temen gue pada sibuk berburu konsumsi gratisan," canda gue sambil tertawa kecil. Gue sengaja melangkah selangkah lebih dekat ke arah Kevin, membiarkan bahu kami hampir bersentuhan. "Lo sendiri ngapain di sini? Gak ikut gabung anak-anak yang lagi nyanyi?"
"Enggak deh, suara gue bisa bikin pawang hujan datang," gurau Kevin, membuat gue tertawa lepas.
Sambil tertawa, gue sengaja menyentuh lengan Kevin sekilas—sebuah sentuhan ramah yang biasa dilakukan orang yang sedang asyik mengobrol. Tapi dari sudut mata gue, gue gak melewatkan perubahan drastis di sudut pilar sana.
Rian. Dia gak lagi melihat ke arah cewek-cewek yang mengajaknya mengobrol. Matanya yang tajam sekarang terkunci rapat pada tangan gue yang baru saja menyentuh lengan Kevin. Rahangnya mengeras, dan gue bisa melihat tangannya yang ada di dalam saku celana bergerak gelisah.
*Yes! Kena lo,* batin gue bersorak puas.
"Clar, lo malam ini kelihatan beda deh. Cantik banget. Jepitan rambut lo lucu," puji Kevin tiba-tiba, membuat gue agak terkejut tapi langsung memanfaatkan momen ini dengan maksimal.
"Masa sih, Kev? Makasih ya. Lo juga rapi banget malam ini, wangi lagi. Bikin betah deket-deket," balas gue setengah berbisik, tapi dengan gestur tubuh yang sengaja gue condongkan ke arah Kevin.
Gue melirik Rian lagi. Kali ini, cowok itu benar-benar mengabaikan dua cewek di hadapannya. Dia menatap gue dengan tatapan intens yang seolah-olah bisa melubangi kepala gue saat itu juga. Aura di sekitar Rian mendadak berubah jadi sangat dingin dan mengintimidasi. Gue bisa merasakan tengkuk gue meremang, tapi rasa puas karena berhasil memprovokasinya jauh lebih mendominasi.
"Kev, gue ke toilet bentar ya. Kebelet nih," pamit gue setelah beberapa menit melancarkan aksi sandiwara ini.
"Oh, oke. Mau gue temenin sampai koridor depan?" tawar Kevin perhatian.
"Gak usah, sant** aja. Gue bisa sendiri kok. Entar gue balik lagi ke sini ya," ucap gue sambil mengedipkan sebelah mata, lalu berbalik arah menuju koridor F-building yang mengarah ke toilet.
Koridor F-building malam ini sangat sepi dan remang-remang. Sebagian besar mahasiswa menumpuk di aula utama, sehingga lorong dengan deretan loker besi tua ini terasa sunyi senyap. Hanya ada suara langkah kaki gue yang menggema pelan, beradu dengan suara musik yang sayup-sayup terdengar dari kejauhan.
Gue baru saja berjalan sekitar sepuluh meter dari belokan koridor ketika tiba-tiba pergelangan tangan gue dicekal dari belakang dengan sangat kuat.
"Eh—"
Sebelum gue sempat berteriak atau memprotes, tubuh gue ditarik dengan kasar namun terarah, berputar 180 derajat, dan dalam detik berikutnya, punggung gue sudah membentur tembok semen koridor yang dingin.
*Duk.*
Gue m****ik tertahan. Sebuah tubuh jangkung langsung mengunci pergerakan gue. Kedua tangannya bertumpu di dinding di kanan dan kiri kepala gue, menutup semua celah bagi gue untuk melarikan diri.
Itu Rian.
Napas Rian memburu hangat, menerpa permukaan wajah gue. Di bawah temaramnya lampu koridor yang kuning dan agak berkedip, wajah Rian kelihatan luar biasa tegang. Matanya yang gelap menatap gue dengan intensitas yang sangat tinggi—campuran antara marah, frustrasi, dan sesuatu yang lebih dalam yang gak bisa gue artikan.
"Rian! Lo g*** ya?!" bisik gue setengah berteriak, mencoba mendorong dadanya yang kokoh. Tapi tubuh cowok ini sama sekali gak bergeser satu senti pun. Malah, dia makin mengikis jarak di antara kami sampai gue bisa mencium aroma parfum maskulinnya yang bercampur dengan wangi mint yang familier.
"Lo yang g***, Clara," desis Rian, suaranya rendah, serak, dan penuh penekanan yang bikin merinding. "Maksud lo apa tadi di depan?"
Gue mencoba memasang wajah tak acuh, meski di dalam dada, jantung gue sudah mulai berdegup liar kayak habis maraton. "Maksud apa? Gue cuma ngobrol sama Kevin. Emang gak boleh?"
"Ngobrol?" Rian mendengus sinis, matanya menyipit berbahaya. "Ngobrol sampai harus sedekat itu? Sampai harus pegang-pegang lengannya? Sampai harus senyum-senyum gak jelas kayak gitu ke dia?"
"Ya terus kenapa? Kevin kan temen sekelas gue. Dia ramah, baik, ganteng pula. Gak kayak cowok gak jelas yang hobinya numpang di kamar mandi orang dan suka ngatur-ngatur gak jelas!" balas gue menantang, mendongak menatap matanya langsung. Gue gak mau kelihatan lemah di depan dia.
Tapi pertahanan gue runtuh dalam sekejap ketika Rian tiba-tiba menurunkan kepalanya, mendekatkan wajahnya ke telinga gue. Embusan napasnya yang hangat membuat seluruh tubuh gue meremang seketika.
"Gue gak suka, Clara," bisik Rian tepat di samping telinga gue, suaranya sangat rendah tapi bergetar oleh emosi yang tertahan. "Gue gak suka lo ngelihat cowok lain dengan cara kayak gitu. Gue gak suka lo disentuh atau menyentuh cowok lain selain gue."
Gue menelan ludah dengan susah payah. Jantung gue rasanya mau lompat keluar dari rongga dada. "L-lo... lo gak punya hak buat ngatur gue. Kita... kita gak ada hubungan apa-apa, Rian!" suara gue mendadak gemetar, kehilangan semua keberanian yang tadi gue banggakan.
Rian menarik kepalanya kembali, menatap gue lurus-lurus ke dalam mata. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang terasa dingin sekaligus berbahaya.
"Gak ada hubungan apa-apa?" Rian mengulang kalimat gue dengan nada mengejek. Dia menurunkan satu tangannya dari tembok, lalu dengan perlahan—sangat perlahan hingga membuat napas gue tercekat—ujung jarinya menyentuh dagu gue, mengangkatnya sedikit agar gue terus menatapnya.
"Setelah semua yang terjadi di kamar lo? Setelah kita sedekat itu di dalam lemari kemarin, sampai gue bisa denger detak jantung lo yang sekencang ini?" Rian mengarahkan telapak tangannya yang hangat ke dada kiri gue, tepat di atas jantung gue yang memang sedang mengg***. "Lo masih mau bilang kita gak ada hubungan apa-apa, hm?"
Sentuhan tangan Rian di dada gue rasanya seperti sengatan listrik ribuan volt. Gue membeku. Seluruh argumen yang sudah gue siapkan di kepala mendadak menguap entah ke mana.
Gue menyadari satu hal dengan sangat jelas saat ini. Permainan provokasi yang gue mulai dengan niat bercanda ini... ternyata sudah melenceng jauh dari jalurnya. Ini bukan lagi sekadar sandiwara atau taktik kekanak-kanakan untuk membalas dendam. Intensitas tatapan Rian, cara dia memegang gue, dan bagaimana cemburunya terasa begitu nyata serta menyesakkan... semuanya membuktikan bahwa ada perasaan asli yang mulai terlibat di sini. Dan sialnya, perasaan itu bukan cuma milik Rian, tapi juga mulai merayap ma**k ke dalam hati gue sendiri.
"Rian... lepasin..." cicit gue, kali ini benar-benar memohon karena gue takut pertahanan diri gue runtuh sepenuhnya kalau dia terus berada dalam jarak sedekat ini.
Rian menatap gue lama. Matanya menelusuri setiap jengkal wajah gue yang sekarang pasti sudah merah padam seperti kepiting rebus. Ada kilat kepuasan sekaligus rasa bersalah yang melintas di matanya yang gelap itu.
Perlahan, Rian menjauhkan tangannya dari dada dan dagu gue. Dia mundur selangkah, memberi gue ruang untuk bernapas lega, meski rasa dingin langsung menyergap bagian tubuh gue yang tadinya hangat karena kedekatan kami.
Rian merapikan jaket flanelnya yang agak berantakan, lalu menatap gue sekali lagi dengan tatapan yang jauh lebih tenang, tapi masih menyisakan peringatan yang sangat jelas.
"Jangan pernah pancing gue lagi dengan cara kayak tadi, Clara. Karena kalau lo ngaku kita gak ada hubungan apa-apa..." Rian menjeda kalimatnya, menunduk sedikit untuk menyejajarkan wajahnya dengan wajah gue yang masih syok. "...gue bisa dengan senang hati bikin hubungan itu jadi nyata sekarang juga."
Setelah mengucapkan kalimat yang sukses membuat otak gue *error* total itu, Rian berbalik dan berjalan pergi meninggalkan koridor, menghilang di balik kegelapan belokan lorong.
Gue merosot perlahan, bersandar pada dinding semen yang dingin, lalu memegangi dada gue yang masih naik-turun gak karuan. G***. Cowok itu benar-benar g***. Dan yang lebih g*** lagi... kenapa gue malah merasa sebahagia ini setelah diancam olehnya?
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!