**Bab 8: Sisi Lain Sang Cowok Dingin**
Hujan deras malam ini rasanya kayak mau merubuhkan atap kosan gue. Suara petir sesekali menggelegar, bikin gue refleks menutup telinga rapat-rapat di bawah selimut. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas lewat, tapi mata gue sama sekali gak mau diajak kerja sama.
Pikiran gue masih melayang-layang ke kejadian beberapa hari lalu setelah acara makrab. Sejak malam itu, hubungan gue sama Rian jadi makin aneh. Ada kecanggungan yang gak kasat mata di antara kami. Setiap kali kami gak sengaja tatap-tatapan di dalam kamar, Rian pasti langsung buang muka dan balik lagi ke mode "kulkas dua pintu" andalannya. Tapi di sisi lain, gue juga gak bisa bohong kalau ada sesuatu yang beda dari cara dia ngelihat gue sekarang. Gak sedingin dulu.
*Petir menyambar lagi, lebih kencang dari sebelumnya.*
Gue mengembuskan napas frustrasi, lalu memutuskan untuk duduk di tepi ka**r. Kamar mandi gue sepi. Rian belum balik sejak sore tadi. Cowok itu emang makin sering keluar entah ke mana, dan jujur, itu bikin gue diam-diam khawatir. Mau nanya, tapi gue gengsi. Lagian, emangnya gue siapanya dia?
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pelan dari arah pintu balkon.
Gue langsung menoleh dengan waswas. Jantung gue berdegup dua kali lebih cepat. Kosan gue ini ada di lant** dua, dan balkon itu langsung berbatasan dengan pohon mangga besar di samping gedung. Siapa yang malam-malam begini ngetuk pintu balkon dalam kondisi badai luar biasa?
Gue memberanikan diri untuk melangkah mendekat. Dengan tangan agak gemetar, gue menyibak sedikit tirai abu-abu yang menutupi pintu kaca balkon.
Di sana, berdiri sesosok cowok dengan kepala tertunduk. Tubuhnya basah kuyup, kaos hitam yang dia pakai menempel ketat di badannya, dan rambutnya yang acak-acakan meneteskan air hujan ke lant** balkon yang sudah ba****.
"Rian?!" pekik gue tertahan.
Gue buru-buru membuka kunci pintu geser dan membukanya lebar-lebar. Hembusan angin malam yang dingin langsung menusuk kulit gue, tapi itu gak sebanding dengan rasa syok gue saat melihat kondisi Rian.
Rian melangkah ma**k dengan gont**. Dia gak berkata apa-apa. Tubuhnya gemetar parah, bukan cuma karena kedinginan, tapi gue bisa merasakan ada aura keputusasaan yang sangat pekat menyelimuti dirinya malam ini. Tatapan matanya yang biasa tajam dan menusuk, kini kelihatan kosong. Sayu. Dan sangat, sangat lelah.
"Lo g*** ya, Rian?!" omel gue, panik setengah mati melihat air menetes dari seluruh tubuhnya ke lant** kamar gue yang baru disapu. "Kenapa lewat balkon? Kenapa basah kuyup kayak gini? Lo dari mana aja sihβ"
Ucapan gue terhenti saat Rian tiba-tiba melangkah maju dan menyandarkan dahinya di bahu gue.
Gue membeku. Tubuh gue mendadak kaku kayak batu.
Aroma hujan yang dingin bercampur dengan sisa wangi maskulin khas Rian langsung memenuhi indra penciuman gue. Bahunya yang lebar terasa begitu dingin, kontras dengan napasnya yang berembus hangat dan terengah-engah di ceruk leher gue.
"Bentar, Clara..." bisik Rian. Suaranya serak, nyaris hilang tertelan suara gemuruh hujan di luar. "Biarin kayak gini sebentar aja. Gue... capek banget."
Mendengar nada suaranya yang begitu rapuh, kemarahan gue langsung menguap entah ke mana. Ada sesuatu yang mencubit dada gue dengan kuat. Ini bukan Rian yang gue kenal. Rian yang gue kenal adalah cowok menyebalkan, sombong, dingin, dan selalu punya jawaban untuk membalikkan omongan gue. Rian yang sekarang ada di pelukan gue... terasa seperti anak kecil yang baru saja kehilangan arah pulang.
Gue perlahan mengangkat kedua tangan gue, ragu-ragu sebentar, sebelum akhirnya menepuk-nepuk punggungnya yang basah dengan lembut. "Ya udah, lo tenang dulu. Tapi lo harus keringin badan lo, nanti lo bisa sakit, Rian."
Rian melepaskan sandarannya dengan perlahan. Dia menatap gue dengan mata yang agak kemerahan. Ada lingkaran hitam di bawah matanya yang memperjelas kalau dia udah gak tidur nyenyak selama berhari-hari.
Gue bergegas mengambil handuk kering dari dalam lemari dan menyerahkannya ke Rian. "Nih, keringin rambut lo. Gue ambilin baju ganti."
Gue mengambil salah satu kaos oblong longgar milik gueβyang biasanya gue pakai buat tidurβdan celana training panjang yang untungnya karetnya melar. Rian menerima barang-barang itu tanpa membantah sedikit pun. Dia berjalan ke kamar mandi dengan langkah lambat.
Sepuluh menit kemudian, Rian keluar dengan pakaian kering. Kaos hitam gue kelihatan agak kekecilan di tubuh kekarnya, tapi setidaknya dia udah gak basah kuyup lagi. Dia duduk di atas karpet bulu di samping ka**r gue, menekuk kedua lututnya, dan menenggelamkan wajahnya di sana.
Gue mendekat, membawa secangkir teh manis hangat yang baru saja gue buat pakai teko listrik. Gue menaruh cangkir itu di dekatnya, lalu ikut duduk di sampingnya, menjaga jarak aman agar dia gak merasa terganggu.
"Minum dulu, biar anget," kata gue lembut.
Rian mengangkat kepalanya sedikit, menatap cangkir teh itu, lalu beralih menatap gue. Dia mengambil cangkir itu dan menyesapnya perlahan. Uap hangat dari teh membuat wajahnya yang pucat sedikit lebih berwarna.
"Makasih," gumamnya pelan.
"Sama-sama." Gue memeluk lutut gue sendiri, memandang ke luar jendela di mana hujan masih belum menunjukkan tanda-tanda akan reda. "Lo... mau cerita? Kenapa lo bisa sekacau ini?"
Rian terdiam c**up lama. Hanya ada suara detak jam dinding dan gemercik air hujan yang mengisi keheningan di antara kami. Gue gak mau memaksa. Kalau dia gak mau cerita, gue bakal tetap di sini menemani dia sampai dia merasa lebih baik.
Namun, di luar dugaan, Rian meletakkan cangkir tehnya ke lant**. Dia bersandar pada dinding kamar gue, menatap langit-langit dengan senyum sinis yang terlihat sangat menyakitkan.
"Gue ketemu sama dia tadi," ujar Rian tiba-tiba.
Gue menoleh. "Dia? Siapa?"
"Sherly. Mantan gue." Rian memejamkan matanya rapat-rapat, seolah-olah mengingat nama itu menimbulkan rasa sakit fisik di kepalanya. "Dia ada di sekitaran kampus kita tadi sore. Sama cowok barunya. Dan lucunya, begitu dia lihat gue, dia teriak histeris seolah-olah gue ini monster yang mau bunuh dia."
Gue mengernyitkan dahi. "Kenapa dia kayak gitu? Lo... lo pernah ngapain dia emangnya?"
Rian tertawa hambar. Tawa yang terdengar sangat kosong dan menyedihkan. "Gak ngapa-ngapain, Clara. Itu masalahnya. Gue gak pernah ngelakuin apa pun yang dituduhkan orang-orang ke gue."
Rian menarik napas dalam-dalam, lalu menatap gue dengan mata yang berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya, gue melihat benteng pertahanan cowok ini runtuh sepenuhnya.
"Satu tahun yang lalu, di kampus lama gue, gue dituduh melakukan pelecehan seksual ke Sherly," kata Rian dengan suara bergetar.
Kata-kata itu bagaikan petir yang menyambar langsung ke otak gue. Gue terperangah, menatap Rian gak percaya. "P-pelecehan?"
Rian mengangguk lemah. "Sherly selingkuh sama sahabat gue sendiri. Waktu gue tahu dan gue minta putus, dia gak terima karena takut reputasinya hancur kalau orang-orang tahu dia yang salah. Jadi, dia mutar balikkan fakta. Dia bikin skenario seolah-olah gue yang kasar, gue yang posesif, dan puncaknya... dia fitnah gue di depan anak-anak himpunan kalau gue mencoba buat melecehkan dia di ruang sekretariat."
Air mata setitik jatuh melewati pipi Rian. Dia buru-buru menghapusnya dengan kasar, tapi gue bisa melihat betapa terlukanya dia.
"Semua orang percaya sama dia, Clara," lanjut Rian dengan nada putus asa. "Sahabat gue yang selingkuh sama dia malah tampil sebagai 'pahlawan' yang menyelamatkan Sherly dari gue. Reputasi gue hancur dalam semalam. Di medsos, foto gue disebar dengan *caption* monster, pelaku pelecehan, cowok gak tahu diri. Gue dikeluarkan dari kampus secara gak terhormat. Orang tua gue malu punya anak kayak gue, sampai akhirnya gue diusir dari rumah."
Gue mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari mulut Rian dengan dada yang terasa sesak. Air mata gue sendiri tanpa sadar mulai menetes. Gue gak bisa membayangkan gimana hancurnya perasaan Rian saat itu. Diasingkan, difitnah, kehilangan masa depan, dan dikhianati oleh orang-orang yang paling dia percaya.
"Gue pindah ke kota ini buat melarikan diri," bisik Rian lagi, suaranya makin melemah. "Gue gak punya tempat tinggal, gak punya uang yang c**up. Makanya... makanya gue terpaksa menyelinap dan tinggal di kamar mandi lo waktu itu. Karena gue gak tahu lagi harus ke mana. Gue takut sama dunia luar. Gue takut orang-orang bakal mengenali gue dan mulai nunjuk-nunjuk gue lagi sebagai penjahat."
Rian menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya berguncang pelan. Dia menangis tanpa suara.
Melihat pemandangan itu, ada sesuatu yang meledak di dalam diri gue. Rasa ingin melindungi yang sangat kuat tiba-tiba membakar dada gue. Cowok di depan gue ini bukan cowok sombong yang menyebalkan. Dia cuma korban dari kekejaman orang lain yang dipaksa memakai topeng dingin agar tidak ada lagi orang yang bisa menyakitinya.
Tanpa berpikir panjang, gue menggeser duduk gue mendekat ke arahnya. Gue menarik kedua tangan Rian dari wajahnya, lalu menggenggam jemarinya yang dingin dengan kedua tangan gue.
"Rian, lihat gue," kata gue dengan nada selembut mungkin.
Rian perlahan membuka matanya, menatap gue dengan pandangan yang rapuh dan hancur.
"Gue percaya sama lo," ucap gue tegas, menatap langsung ke dalam matanya agar dia tahu kalau gue gak main-main. "Gue gak peduli apa kata orang di luar sana. Tapi selama lo ada di sini, di kamar ini, lo aman. Lo gak perlu takut lagi."
Rian terpaku mendengar ucapan gue. Matanya yang basah menatap gue dengan binar yang sulit diartikan.
"Gue tahu lo bukan orang kayak gitu. Selama lo tinggal di sini, meskipun lo nyebelin banget, gue tahu lo cowok yang baik," lanjut gue, mencoba menyelipkan sedikit candaan agar atmosfernya gak terlalu tegang, meskipun air mata gue sendiri masih mengalir. "Jadi... jangan merasa sendirian lagi, ya? Lo punya gue sekarang."
Rian menatap genggaman tangan kami yang saling bertautan, lalu perlahan, dia membalas genggaman tangan gue. Sangat erat. Seolah-olah tangan gue adalah satu-satunya pegangan yang tersisa yang bisa menyelamatkan dia dari jurang kegelapan.
"Clara..." bisik Rian, dan untuk pertama kalinya, sebuah senyuman tipis yang sangat tulus terukir di bibirnya. "Makasih. Makasih banyak."
Malam itu, di tengah badai yang mengamuk di luar, di dalam kamar kosan yang sempit ini, gue menyadari satu hal. Gue gak cuma ingin menampung cowok asing ini di kamar mandi gue. Gue... ingin menjaga dia dari dunia yang sudah bersikap begitu kejam padanya.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!