**Bab 9: Bencana: Ponsel Itu Hilang!**
Sinar matahari pagi yang menerobos ma**k lewat celah gorden bikin mata gue berkedip-kedip sepet. Gue menggeliat pelan, berusaha mengumpulkan nyawa yang masih berceceran. Bau minyak kayu putih dan sisa aroma hujan semalam langsung tercium di indra penciuman gue.
Ingatan tentang kejadian semalam mendadak berputar kayak rol film di kepala gue.
Rian yang basah kuyup. Rian yang tiba-tiba meluk gueβatau lebih tepatnya, menyandarkan kepalanya di bahu gue dengan gestur super rapuh. Rian yang akhirnya ambruk karena demam, bikin gue panik setengah mati sampai harus begadang semalaman buat ngompres jidatnya.
Gue langsung menegakkan tubuh, menoleh ke arah ka**r lant** di sebelah tempat tidur gue. Kosong. Selimut abu-abu milik gue sudah terlipat rapi di atas bantal.
"Rian?" panggil gue dengan suara serak khas bangun tidur.
Gak ada sahutan.
Gue mengucek mata, lalu beranjak turun dari ka**r. Baru aja gue mau melangkah ke kamar mandi, pintu kaca balkon tiba-tiba digeser dengan kasar. Suara berisik itu bikin gue refleks berjengit.
Rian ma**k dengan napas terengah-engah. Rambutnya yang biasanya rapi sekarang acak-acakan banget, mirip orang yang baru aja kena badai. Dia cuma pakai kaos hitam polos semalam yang udah agak kering dan celana training panjang. Mukanya pucat, tapi matanya menyiratkan kepanikan yang luar biasa.
"Rian, lo ngapain sih pagi-pagi udah berisikβ"
"Cla, lo liat HP gue gak?"
Rian langsung memotong ucapan gue. Kalimatnya cepat, nadanya bergetar, bener-bener beda dari gaya bicaranya yang biasanya sant** dan menyebalkan.
Gue mengerutkan kening. "HP lo? Ya mana gue tahu. Bukannya semalam lo kantongin?"
"Gak ada," sahut Rian frustrasi. Dia langsung mengacak-acak rambutnya sendiri, lalu berlutut di dekat ka**r lant**, menyibak selimut, membalik bantal, bahkan sampai kolong tempat tidur gue pun dia raba-raba dengan panik. "Gak ada di sini. Di kamar mandi juga gak ada. Gue udah cari ke semua sudut."
Gue yang tadinya masih setengah sadar, mendadak langsung melek sepenuhnya. Jantung gue mendadak berdegup lebih kencang. Ada perasaan gak enak yang tiba-tiba merayap di dada gue.
"Bentar... HP lo yang mana dulu?" tanya gue, memastikan. "HP utama lo, atau... HP yang itu?"
Rian mendongak. Tatapan matanya yang tajam kini dipenuhi kecemasan yang gak bisa dia sembunyikan lagi. Dia gak perlu menjawab lewat kata-kata. Dari ekspresi wajahnya yang menegang, gue langsung tahu jawabannya.
"Ponsel yang itu, Cla. Ponsel yang ada rekaman video lo... dan semua file bukti yang lagi gue kumpulin buat ngebersihin nama lo dari anak-anak mading kampus."
*Deg.*
Dunia rasanya kayak berhenti berputar selama beberapa detik. Seluruh pasokan oksigen di sekitar gue mendadak hilang. Rasanya kayak ada batu besar yang baru aja dijatuhkan tepat di atas dada gue, bikin gue sesak dan susah napas.
"Lo... lo gak bercanda kan, Yan?" suara gue mendadak mencicit. "Jangan becanda pagi-pagi begini, gak lucu tahu gak!"
"Gue kelihatan kayak lagi becanda?!" bentak Rian setengah frustrasi. Tapi dia langsung meredam suaranya begitu sadar kalau dia baru aja membentak gue. Dia mengembuskan napas kasar, memijat pangkal hidungnya yang mancung. "Maaf. Gue gak bermaksud bentak lo. Tapi serius, Cla... ponsel itu bener-bener gak ada."
Gue langsung lemes. Lutut gue rasanya kayak jeli sampai gue harus pegangan ke pinggiran lemari pakaian biar gak ambruk.
Di dalam ponsel itu ada rekaman video intim gueβvideo manipulasi yang hampir aja menghancurkan hidup gue di kampus. Video yang bikin gue dicap cewek murahan oleh satu fakultas. Rian sengaja menyimpan file aslinya di ponsel cadangan itu untuk melacak siapa dalang di balik penyebaran video tersebut. Dan sekarang... ponsel itu hilang?
"Gimana bisa hilang, Rian?!" pekik gue, panik setengah mati. Air mata rasanya udah mau menetas di sudut mata gue. "Lo semalam dari mana aja sih? Kenapa bisa teledor banget?!"
"Gue gak tahu, Cla!" Rian berdiri, mondar-mandir di kamar gue yang sempit kayak setrikaan. "Semalam gue dikejar sama anak-anak buahnya si target yang lagi gue selidiki. Gue lari lewat gang-gang sempit dekat kampus pas hujan deras. Gue sempat jatuh sekali di dekat selokan belakang teknik. Apa mungkin jatuh di sana ya?"
"Ya terus kenapa lo gak langsung cari?!"
"Semalam gue pingsan, Clara! Kepala gue pusing banget dan gue gak sadar kalau HP itu udah gak ada di saku jaket gue!" Rian membela diri, nadanya frustrasi bercampur sesal yang amat sangat.
"Terus sekarang gimana?" Suara gue mulai bergetar karena nangis. Kepanikan bener-bener menjajah isi kepala gue. "Kalau ada orang lain yang nemuin HP itu... kalau mereka berhasil buka kuncinya... terus video itu kesebar lagi... gue... gue harus gimana, Rian? Reputasi gue di kampus udah di ujung tanduk! Kalau sampai video itu kesebar lagi dengan kualitas yang lebih jelas, gue bisa didepak dari kampus! Orang tua gue... mereka bisa serangan jantung kalau tahu!"
Gue menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Tangis gue pecah seketika. Bayangan tentang tatapan sinis anak-anak kampus, bisik-bisik tetangga, dan kekecewaan di mata bokap-nyokap gue langsung berkelebat di pikiran. Ketakutan terbesar gue kembali menghantui, bahkan kali ini rasanya jauh lebih nyata dan mengerikan.
Tiba-tiba, gue merasakan sepasang tangan yang hangat mencengkeram lembut kedua bahu gue.
Gue mendongak dengan mata basah. Rian sudah berdiri tepat di depan gue. Cowok kulkas yang biasanya selalu pasang tampang datar dan menyebalkan itu, kini menatap gue dengan tatapan yang sangat bersalah. Ada gumpalan emosi yang dalam di matanya.
"Cla, dengerin gue," bisik Rian hangat, tapi tegas. Dia menatap langsung ke dalam mata gue, mencoba menyalurkan ketenangan yang sebenarnya dia sendiri pun gak punya saat ini. "Gue gak akan biarkan hal itu terjadi. Gue bersumpah demi apa pun, gue bakal dapetin HP itu kembali sebelum ada satu orang pun yang bisa buka isinya."
"Tapi gimana caranya, Rian? HP itu gak ada GPS-nya yang aktif kan? Lo bilang itu HP cadangan yang gak pakai kartu SIM utama!" kata gue sambil sesenggukan.
Rian terdiam sejenak. Dia tampak berpikir keras, rahangnya mengeras sampai urat-urat di lehernya kelihatan. "Memang gak ada kartu SIM aktif, tapi HP itu terhubung ke akun email cadangan gue. Gue bisa lacak lokasi terakhirnya lewat *Find My Device* dari laptop lo. Sekarang, ambil laptop lo!"
Perintah Rian bagaikan alarm darurat yang langsung menggerakkan tubuh gue. Tanpa banyak tanya lagi, gue langsung menyambar laptop di atas meja belajar dan membukanya dengan tangan gemetar.
"Nih, cepat!" kata gue sambil menyodorkan laptop yang sudah menyala ke arah Rian.
Rian dengan cekatan mengetikkan alamat email dan kata sandinya. Jarinya menari-nari di atas keyboard dengan kecepatan tinggi. Gue berdiri di sampingnya, meremas ujung kaos gue sendiri sampai kusut, menahan napas saking tegangnya.
Layar laptop menampilkan peta digital. Sebuah ikon lingkaran hijau mulai berputar, mencoba mendeteksi keberadaan ponsel tersebut.
*Sedang melacak...*
Jantung gue rasanya mau copot. Detiknya terasa berjalan lambat banget kayak siput.
"Gimana, Yan? Ketemu?" tanya gue gak sabar.
"Bentar... koneksinya agak lambat..." gumam Rian, matanya fokus menatap layar.
Tiba-tiba, lingkaran hijau itu berhenti berputar. Sebuah titik merah muncul di atas peta. Tapi, begitu melihat lokasi yang ditunjukkan oleh titik merah itu, dahi Rian langsung berkerut dalam.
"Di mana itu?" tanya gue, ikut mendekatkan wajah ke layar. "Itu... bukan di daerah kampus kan?"
"Bukan," sahut Rian, suaranya mendadak berubah dingin dan berat. "Ini di daerah perumahan elite dekat sektor timur. Dan lokasi persisnya..." Rian menjeda kalimatnya, tangannya mengepal kuat di atas meja. "...ini alamat rumah salah satu anak mading yang kemarin paling gencar nyudutkan lo. Rumahnya si Gathan."
Gue membeku. Nama itu rasanya kayak petir di siang bolong.
Gathan. Cowok populer di kampus yang juga menjabat sebagai ketua divisi investigasi mading. Cowok yang sejak awal selalu memandang gue dengan tatapan merendahkan seolah-olah gue adalah sampah masyarakat yang gak layak ada di kampus mereka.
"Gathan?" bisik gue gak percaya. "Kenapa... kenapa HP lo bisa ada di rumah dia? Apa jangan-jangan dia yang nemuin semalam?"
"Atau," Rian memotong dengan nada sarkas yang tajam, "dia yang sengaja nyuruh orang buat ngikutin gue semalam dan ngambil HP itu dari gue pas gue lengah."
Mimpi buruk yang tadinya cuma bayangan abstrak, sekarang bener-bener menjelma jadi monster nyata yang siap menerkam gue kapan aja. Permainan kucing-kucingan yang selama ini kami jalani dengan sant**, sekarang resmi berubah jadi situasi hidup dan mati buat reputasi gue.
"Yan, kita harus gimana?" tanya gue setengah panik, air mata gue mulai mengalir lagi. "Kalau Gathan nemuin video itu... dia pasti bakal pakai itu buat ngehancurin gue sepenuhnya di depan anak-anak kampus. Dia benci banget sama gue!"
Rian berbalik, menatap gue lekat-lekat. Ketegangan yang tadi sempat menguasainya kini berganti dengan aura dingin yang sangat mengintimidasi. Tatapan matanya kembali menajam, seperti pisau yang siap mengoyak siapa saja yang berani mengusiknya.
"Dia gak akan sempat ngelakuin itu," kata Rian pelan, tapi setiap katanya terdengar seperti janji yang mematikan. "Gue bakal ke rumah dia sekarang."
"Gue ikut!" sahut gue cepat, refleks memegang lengan jaket Rian.
"Gak, Clara. Ini bahaya. Lo gak tahu Gathan dan circle-nya itu kayak gimana di luar kampus. Biar gue yang selesaikan."
"Gak bisa, Rian! Ini hidup gue yang lagi dipertaruhkan!" bantah gue keras, gak mau kalah. "Gue gak bisa cuma duduk diem di kamar ini sambil nunggu kabar dengan perasaan cemas setengah mati sampai g***! Gue harus ikut. Lagian, kalau ada apa-apa, gue bisa bantu lo."
Rian menatap gue lama. Dia seolah sedang menimbang-nimbang keputusan di dalam kepalanya. Setelah beberapa detik yang terasa menyiksa, dia akhirnya mengembuskan napas panjang dan mengangguk pelan.
"Oke. Lo ikut. Tapi lo harus janji satu hal sama gue." Rian memegang kedua tangan gue, meremasnya lembut seolah ingin memberikan kekuatan. "Apapun yang terjadi nanti di sana... lo harus tetep di belakang gue. Jangan bertindak bodoh tanpa aba-aba dari gue. Mengerti?"
Gue menelan ludah, lalu mengangguk mantap. "Gue janji."
"Bagus. Sekarang ganti baju lo. Kita berangkat sekarang juga sebelum terlambat."
Gue langsung menyambar jaket denim gue yang tergantung di balik pintu dan memakai sepatu kets dengan tergesa-gesa. Di dalam hati, gue terus merapalkan doa yang gak putus-putus. *Tuhan, tolong selamatkan gue kali ini aja. Jangan biarkan hidup gue hancur berantakan.*
Saat kami melangkah keluar dari kamar kosan menuju motor Rian yang terparkir di bawah, langit pagi yang mendung seolah ikut menggambarkan suasana hati kami yang kalut. Badai semalam mungkin sudah reda, tapi badai yang sebenarnya baru aja akan dimulai.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!