Aku Menikahi Hantu Penunggu Apartemenku

Bab 1: Diskonan Berujung Horor

Pengaturan Membaca

**BAB 1: Diskonan Berujung Horor**

Tuhan memang adil. Di saat saldo rekening gue cuma tersisa seratus lima puluh ribu rupiah akibat klien hobi minta revisi tapi hobi menunda pembayaran, sebuah keajaiban jatuh dari langit.

Gue, Alena, seorang ilustrator lepas yang nyaris didepak dari kosan lama karena nunggak tiga bulan, tiba-tiba nemu iklan sewa apartemen di sebuah situs web properti. Unit tipe *studio* di Lotus Heights Apartmentβ€”salah satu kawasan elit di pusat Jakartaβ€”ditawarkan dengan harga satu juta lima ratus ribu per bulan. Lengkap dengan *fully furnished* bergaya minimalis modern yang super *aesthetic*.

Satu juta lima ratus ribu! Di pusat kota!

Bahkan kamar kosan gue yang sempit dan bau apek di gang sempit aja harganya dua juta. Tanpa pikir panjang, langsung gue bayar lunas untuk tiga bulan ke depan menggunakan sisa uang tabungan darurat yang gue simpan di bawah ka**r. Sang agen properti, seorang bapak-bapak paruh baya yang keringat dinginnya bercucuran sepanjang proses transaksi, bahkan langsung menyerahkan kunci malam itu juga tanpa minta uang jaminan.

"Pokoknya, Mbak Alena kalau dengar atau lihat apa-apa... abaikan saja, ya? Anggap saja bonus," kata si bapak agen dengan senyum maksa, lalu kabur begitu saja setelah menerima transferan gue.

Saat itu, otak gue yang udah buntu karena bokek setengah mati cuma mikir satu hal: *Pers**** sama bonus. Yang penting gue punya tempat berteduh yang layak dan estetik buat latar belakang live streaming TikTok.*

***

Malam pertama di unit 1208.

Gue meregangkan otot-otot leher yang kaku setelah selesai menata beberapa kardus berisi buku gambar, tablet grafis, dan tumpukan baju. Jam dinding berbentuk kucing di sudut ruangan menunjukkan pukul sebelas malam. Keadaan di luar sangat tenang, hanya lamat-lamat terdengar deru klakson dari jalan raya jauh di bawah sana.

"G***, ini sih namanya jackpot!" gumam gue puas sambil mengedarkan pandangan.

Lant** marmer yang berkilau, sofa abu-abu empuk, dapur mini yang bersih, dan sebuah tempat tidur *queen size* dengan seprai putih bersih yang kelihatan sangat mengundang. Gue menyeduh secangkir mi instan cup, lalu duduk di lant** dekat jendela besar yang langsung menyajikan pemandangan lampu-lampu kota Jakarta yang berkilauan.

Gue menyeruput kuah mi instan dengan khidmat. Nikmat tiada tara.

Namun, kenikmatan itu cuma bertahan sampai suapan ketiga.

*Wusss.*

Tiba-tiba, bulu kuduk di tengkuk gue berdiri tegak. Sebuah embusan angin dingin yang sangat pekat menyapu leher belakang gue. Gue refleks bergidik dan mengusap leher.

"Perasaan AC-nya cuma gue set di suhu dua puluh empat derajat," gumam gue heran.

Gue menoleh ke arah unit AC yang terpasang di dinding. Lampu indikatornya menyala normal. Tapi anehnya, suhu di dalam ruangan mendadak drop drastis. Rasanya seperti gue mendadak dipindahkan ke dalam freezer kulkas dua pintu. Dinginnya menusuk sampai ke tulang.

Gue mencoba mengembuskan napas lewat mulut.

*Deg.*

Napas gue mengeluarkan embun putih tipis. Persis kayak adegan di film-film yang latarnya lagi musim dingin di luar negeri.

"Oke, Alena. Tenang. Ini pasti cuma anomali cuaca. Atau mungkin AC-nya emang terlalu bagus karena ini apartemen mewah," gumam gue menenangkan diri sendiri. Suara gue terdengar bergetar, memecah keheningan kamar yang mendadak terasa mencekam.

Gue memutuskan untuk berdiri, berniat mematikan AC. Tapi baru saja kaki gue melangkah satu senti, lampu gantung di atas kepala gue mulai berkedip-kedip.

*Klik. Klik. Klik.*

Suasana temaram berganti gelap, lalu terang lagi, berulang-ulang dengan ritme yang cepat. Jantung gue mulai berdegup kencang seperti habis lari maraton. Rasa takut yang nyata mulai merayapi isi kepala gue.

Dan teror sebenarnya baru saja dimulai.

*Sret...*

Gue membelalakkan mata. Cangkir mi instan yang tadi gue taruh di atas meja kopi, tiba-tiba bergeser sendiri sejauh beberapa sentimeter. Bukan cuma itu, gelas plastik kosong di dekatnya perlahan-lahan... terangkat ke udara.

Melayang.

Gue membeku di tempat. Mulut gue menganga lebar, pengen teriak tapi tenggorokan rasanya tersumbat batu tak kasat mata. Mata gue mengikuti arah gelas plastik itu yang melayang setinggi dada gue, sebelum akhirnya...

*PRANG!*

Gelas itu dilempar dengan keras ke arah dinding hingga hancur berkeping-keping.

"A-apaan tuh..." bisik gue dengan suara bergetar hebat. Air mata ketakutan mulai menggenang di pelupuk mata.

*B**k! B**k! B**k!*

Pintu-pintu kabinet dapur di belakang gue mulai terbuka dan tertutup sendiri dengan keras, menimbulkan suara dentuman yang m****akkan telinga. Buku-buku gambar gue yang ada di dalam kardus mendadak terbang keluar, lembarannya mengibas cepat seolah ditiup angin badai tak kasat mata.

Gue langsung merosot ke lant**, memeluk lutut erat-erat sambil memejamkan mata rapat-rapat. "Tolong... siapa pun tolong... gue cuma mau numpang tidur... gue belum bayar utang..." racau gue histeris.

"Berisik."

Sebuah suara bariton yang dingin, datar, dan sangat dekat terdengar di telinga gue.

Seketika itu juga, semua kegaduhan di dalam ruangan langsung berhenti total. Sunyi senyap. Hanya menyisakan suara detak jantung gue yang mengg***.

Gue memberanikan diri untuk membuka mata sedikit. Perlahan, gue mendongakkan kepala.

Di depan jendela besar, tepat di tengah kepulan embun dingin yang entah datang dari mana, berdiri sesosok cowok.

Gue mengerjap beberapa kali, mengira gue lagi berhalusinasi saking takutnya. Tapi sosok itu nyata. Sangat nyata.

Dia adalah seorang cowok bertubuh jangkung, mengenakan kaus polos hitam longgar dan celana jins senada. Kulitnya putih pucat, hampir seperti porselen tanpa celah. Garis rahangnya tegas, hidungnya mancung sempurna, dan rambut hitamnya sedikit acak-acakan membingkai wajahnya yang... jujur, ganteng banget. Tipe-tipe cowok yang biasanya cuma ada di komik webtoon atau jadi visualisasi visual fiksi remaja di Wattpad.

Tapi ada satu hal yang bikin gue sadar kalau dia bukan manusia biasa.

Tubuhnya sedikit semi-transparan, memancarkan pendaran cahaya kebiruan yang tipis di sekelilingnya. Dan yang paling parah, ujung kakinya sama sekali nggak menyentuh lant** marmer apartemen gue. Dia melayang sekitar sepuluh sentimeter di udara.

Cowok itu menatap gue dengan sepasang mata kelam yang dingin, tajam, dan... sangat menyebalkan. Dia melipat kedua tangannya di dada sambil menatap gue seolah gue adalah seonggok sampah yang mengotori pemandangan indahnya.

"Si... siapa lo?" tanya gue terbata-bata, merayap mundur sampai punggung gue membentur kaki sofa.

Cowok itu mendengus pelan. "Harusnya gue yang nanya gitu. Lo siapa? Berani-beraninya ma**k ke tempat gue, bikin kotor, dan berisik pula."

Hah? Tempat dia?

"I-ini... ini apartemen sewaan gue! Gue udah bayar lunas tiga bulan ke depan!" bela gue dengan sisa-sisa keberanian yang gue kumpulkan. Suara gue masih bergetar, tapi rasa kesal karena privasi gue diusik mulai menyaingi rasa takut gue.

Cowok itu melayang mendekat. Gerakannya sangat mulus, seolah dia sedang berselancar di udara. Embusan hawa es yang menyert** pergerakannya bikin gue menggigil sampai gigi gue bergemeletuk.

Dia membungkuk, menyejajarkan wajah tampannya yang pucat dengan wajah gue. Jarak kami cuma terpaut beberapa puluh senti. Dekat banget sampai gue bisa melihat betapa bulu matanya sangat lentik. Tapi anehnya, gue sama sekali nggak bisa merasakan embusan napas dari hidungnya. Tentu saja, dia kan hantu!

"Gue nggak peduli lo bayar berapa atau ke siapa," ucap cowok itu dengan nada ketus yang bikin tensi gue naik seketika. "Apartemen ini punya gue. Dan gue nggak suka berbagi tempat dengan manusia berisik kayak lo."

"Tapi gue bayar pake uang asli! Bukan daun!" balas gue, refleks berteriak. "Gue nggak punya tempat tinggal lain! Duit gue udah habis buat sewa tempat ini!"

Cowok itu menaikkan sebelah alisnya yang tebal. Tatapannya terlihat sangat meremehkan. "Itu bukan urusan gue. Masalah finansial lo bukan tanggung jawab gue."

Gue melotot. Wah, ini s**** songongnya kelewatan ya! Gak ada sopan-sopannya sama orang hidup yang lagi berjuang demi menyambung nyawa.

"Lagian, lo itu hantu kan?! Hantu ngapain butuh apartemen mewah?! Lo kan bisa tinggal di pohon beringin, kuburan, atau rumah kosong yang lebih serem! Kenapa harus di unit seharga satu koma lima juta per bulan ini?!" cerocos gue tanpa saringan. Rasa takut gue entah menguap ke mana, digantikan oleh rasa frustrasi yang mendalam karena membayangkan nasib gue kalau harus jadi gelandangan besok pagi.

Cowok hantu itu menghela napas panjang, kelihatan sangat jengah menghadapi omelan gue. Dia memijat pangkal hidungnya, bertingkah seolah dialah korban yang paling menderita di sini.

"Dengar ya, Manusia," kata cowok itu dengan penekanan di setiap kata. "Nama gue Elian. Dan sebelum gue mati dan terjebak di unit ini, tempat ini dibeli pakai uang hasil kerja keras gue sendiri. Jadi secara hukum dunia maupun akhirat, ini tetap tempat gue."

"Hukum akhirat mana ada sertifikat tanah!" sela gue asal.

Elian melotot, matanya mendadak berubah agak kemerahan membuat nyali gue menciut lagi dalam sekejap. Oke, jangan bikin s**** marah kalau nggak mau berakhir jadi pajangan dinding.

"Gue nggak mau tahu," kata Elian dingin, suaranya terdengar menggema dan berat, membuat kaca jendela di belakangnya sedikit bergetar. "Kemasin semua barang-barang lo sekarang juga. Angkat kaki dari apartemen gue malam ini. Kalau dalam waktu sepuluh menit lo masih ada di sini..."

Dia sengaja menggantung kalimatnya, lalu tersenyum tipisβ€”sebuah senyuman dingin yang langsung membuat darah gue berdesir ngeri.

"...gue nggak menjamin lo bisa keluar dari sini dalam keadaan bernapas."

Ancaman itu jelas bukan main-main. Udara di sekitar kami mendadak terasa makin menyesakkan, seolah oksigen di dalam ruangan ditarik paksa keluar.

Gue menelan ludah dengan susah payah, menatap wajah ganteng tapi mematikan milik Elian, lalu melirik tumpukan kardus barang-barang gue yang berserakan di lant**.

*Si****,* batin gue meratapi nasib. *Diskonan apartemen ini bener-bener berujung horor!*

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca