Aku Menikahi Hantu Penunggu Apartemenku

Bab 2: Perang Dingin di Unit 12B

Pengaturan Membaca

**BAB 2: Perang Dingin di Unit 12B**

Napas gue yang berembun malam itu bukan karena AC penemu teknologi inverter termutakhir, melainkan karena sosok cowok yang tiba-tiba muncul dan melayang sant** di depan TV LCD gue.

Cowok itu kelihatan berumur sekitar awal dua puluhan. Kulitnya pucat luar biasa, tapi mukanya—oke, gue harus jujur demi kewarasan estetika gue—ganteng banget. Potongan rambutnya agak berantakan ala-ala *oppa* Korea yang baru bangun tidur, dan dia memakai sweter rajut abu-abu longgar yang kelihatan nyaman. Masalahnya cuma satu: dia agak transparan, dan kakinya sama sekali nggak menyentuh lant** marmer meng***p gue.

"Pergi," katanya. Suaranya berat, dingin, dan langsung bikin merinding sampai ke ginjal.

Gue yang saat itu masih memegang cup mi instan instan langsung berdiri, refleks memasang kuda-kuda defensif menggunakan garpu plastik. "Lo... lo siapa?! Maling, ya?!"

Cowok transparan itu memutar bola matanya malas. "Maling mana yang bisa melayang, bodoh? Gue pemilik unit ini. Dan gue nggak suka ada manusia berisik yang tinggal di sini. Jadi, angkat kaki sekarang sebelum gue seret lo keluar."

"Enak aja!" Emosi gue yang tadinya ciut mendadak naik ke ubun-ubun begitu mendengar kata 'pergi'. "Gue udah bayar lunas buat tiga bulan ke depan! Satu juta lima ratus ribu per bulan! Plus uang agen! Saldo rekening gue sekarang cuma sisa seratus lima puluh ribu rupiah, paham? Kalau gue pergi, gue mau tidur di mana? Di kolong jembatan? Di halte TransJakarta?!"

"Bukan urusan gue."

"Ini urusan gue, S****!" teriak gue frustrasi, melupakan rasa takut yang sempat mampir. "Gue nggak akan pergi dari sini sebelum masa sewa gue habis. Titik! Nggak pakai koma!"

Cowok itu menatap gue datar. "Nama gue Elian. Dan lo bakal nyesel karena udah keras kepala."

Detik berikutnya, sosoknya menghilang begitu saja bersamaan dengan suhu ruangan yang perlahan kembali normal. Malam itu, gue tidur dengan mata terbuka sebelah, memeluk erat tablet grafis gue layaknya tameng pelindung dari serangan gaib.

***

Ternyata, ancaman Elian bukan sekadar gertakan sambal. Sejak malam konfrontasi itu, Unit 12B resmi berubah menjadi medan perang. Perang dingin antara manusia bokek berkepala batu melawan hantu pengangguran yang hobi cari perkara.

Hari pertama perang dimulai saat gue baru saja menyeduh kopi hitam tanpa gula—senjata wajib gue sebelum mulai menggambar komisi klien. Gue meletakkan cangkir keramik kesayangan gue di samping laptop, lalu meregangkan jari-jari tangan.

*Sret.*

Gue mengernyit saat melihat cangkir kopi gue bergeser sendiri sekitar beberapa sentimeter.

"Elian, jangan mulai deh," gumam gue, mencoba tetap tenang.

*Wusss!*

Bukannya berhenti, cangkir itu malah meluncur cepat dan langsung terguling di atas meja kerja gue. Cairan hitam pekat langsung ba****, nyaris mengenai ujung kabel *pen display* mahal gue yang harganya setara dengan biaya makan tiga bulan.

"AN****!" teriak gue histeris. Gue langsung menyambar tablet grafis gue dengan kecepatan cahaya, mengelap sisa-sisa kopi menggunakan kaus yang sedang gue pakai.

Di sudut ruangan, Elian mendadak muncul sambil duduk bersila di udara. Wajahnya tanpa ekspresi, tapi binar matanya kelihatan puas banget. "Ups. Kesenggol angin."

"Kesenggol angin dahi lo peyang!" amuk gue, menunjuknya dengan lap basah. "Gue tahu lo yang ngelakuin! Kalau peralatan kerja gue rusak, lo mau ganti?! Lo punya duit?! Enggak, kan?! Lo cuma hantu miskin harta yang kerjanya numpang di apartemen orang!"

Elian mendengus, lalu menghilang lagi. Tapi perang belum berakhir.

Hari ketiga, penderitaan gue makin menjadi-jadi. Gue lagi kejar *deadline* ilustrasi untuk sebuah novel fantasi yang harus dikirim sebelum jam dua belas malam. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh lima menit. Tinggal sedikit *finishing* di bagian pencahayaan, dan karya gue selesai.

*Klik.*

Lampu kamar mendadak mati. Ruangan seketika gelap gulita.

"Elian! Nyalain nggak?!" teriak gue sambil meraba-raba meja mencari ponsel.

*Klik. Klik. Klik. Klik.*

Bukannya menyala normal, lampu di atas kepala gue malah kedap-kedip cepat mirip lampu disko di kelab malam murahan. Kepala gue langsung pusing, mata gue yang sudah lelah karena menatap layar seharian rasanya mau copot.

"G*** ya lo! Gue bisa juling kalau kayak gini!" seru gue, mulai menangis frustrasi. "Plis lah, El, gue cuma mau cari duit buat makan! Jangan ganggu gue malam ini aja!"

Lampu mendadak menyala terang benderang. Di atas kulkas, Elian duduk sambil memutar-mutar gantungan kunci berbentuk kucing milik gue di jarinya. "Gue nggak peduli. Keluar dari sini, Alena."

"Nggak! Mau!" tantang gue, air mata frustrasi mengalir di pipi gue. Gue langsung menyimpan pekerjaan gue secara kilat sebelum dia sempat mematikan listrik lagi.

Puncaknya adalah hari kelima. Gue baru saja pulang dari minimarket bawah setelah membeli sebungkus onigiri promo dan sebotol teh manis dingin. Begitu gue membuka pintu unit 12B, mulut gue langsung menganga lebar. Onigiri di tangan gue nyaris jatuh ke lant**.

Kamar gue hancur lebur.

Semua isi lemari baju gue berserakan di lant**. Buku-buku gambar gue robek sebagian dan tersebar seperti daun kering ditiup angin. Bahkan ka**r gue sudah bergeser miring, dengan sprei yang robek di bagian sudutnya.

"ELIAN!!!"

Gue berteriak sekencang-kencangnya sampai tenggorokan gue terasa perih. Dada gue naik turun menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Fisik gue capek, mental gue diperas habis-habisan selama lima hari ini. Lingkaran hitam di bawah mata gue sudah mirip panda yang kurang gizi.

Gue membanting pintu apartemen, lalu berjalan ke tengah ruangan yang berantakan itu. "Keluar lo, S**** br******! Keluar!"

Nggak ada jawaban. Suasana hening, hanya ada embusan angin dingin yang lewat di pipi gue, seolah-olah mengejek penderitaan gue.

"Oke. Lo mau main kasar, kan?" gumam gue dengan gigi gemeretak. "Gue nggak bakalan pergi dari sini. Tapi gue juga nggak bakalan biarin lo tenang."

Gue sadar, berantem fisik atau adu mulut dengan hantu telekinesis kayak Elian itu percuma. Gue nggak bisa menyentuhnya, sementara dia bisa melempar barang apa saja ke kepala gue kalau dia mau. Satu-satunya cara untuk menang adalah mencari tahu kelemahannya. Pasti ada alasan kenapa dia tertahan di unit ini. Dan pasti ada cara untuk menundukkannya.

Gue mulai bergerak. Dengan amarah yang membakar semangat, gue membongkar seluruh sudut apartemen ini. Gue mulai dari lemari dapur, memeriksa kolong kompor, mengecek bagian bawah wastafel, sampai membongkar tumpukan kardus bekas di balkon. Nihil. Semuanya cuma barang-barang standar apartemen sewaan.

Gue kembali ke area kamar tidur. Pandangan gue jatuh pada sebuah meja rias bergaya klasik yang terletak di sudut ruangan. Meja rias itu adalah satu-satunya furnitur yang berbeda dari konsep minimalis modern di unit ini. Warnanya cokelat gelap, kayunya tebal dan berat, lengkap dengan cermin oval besar yang kacanya agak buram di bagian pinggir.

Gue melangkah mendekat. Gue tarik laci pertamanya. Kosong, cuma ada beberapa helai tisu kering. Gue tarik laci kedua, juga kosong.

Gue mengetuk-ngetuk bagian dalam laci itu. *Tok, tok.*

Suaranya terdengar agak aneh. Ada bunyi gema kosong yang menandakan kalau laci ini nggak sesederhana kelihatannya. Gue meraba bagian bawah laci kedua, dan jari gue tidak sengaja menyentuh sebuah tonjolan kayu kecil di sudut dalam.

*Klik.*

Gue tersentak. Sebuah kompartemen rahasia yang tadinya tersembunyi di balik dinding laci mendadak bergeser keluar sekitar beberapa sentimeter.

Dengan jantung yang berdegup kencang, gue menarik kompartemen rahasia itu sepenuhnya. Di dalamnya, tertutup debu tipis, terletak sebuah buku kuno berukuran sedang. Sampulnya terbuat dari kulit berwarna cokelat tua yang sudah mengelupas di beberapa bagian.

Gue mengambil buku itu dengan hati-hati. Begitu jemari gue menyentuh kulit buku tersebut, rasa dingin yang sangat pekat menjalar ke seluruh tubuh gue—jauh lebih dingin daripada saat Elian muncul.

Gue mengusap debu di sampulnya, menampilkan ukiran tulisan aneh yang melingkar di bagian tengah. Tulisannya bukan huruf Latin, melainkan simbol-simbol kuno berlekuk tajam yang kelihatan asing sekaligus mistis.

"Apaan nih...?" gumam gue pelan.

"Jangan sentuh buku itu!"

Gue tersentak kaget mendengarkan teriakan panik yang belum pernah gue dengar sebelumnya. Gue menoleh cepat dan menemukan Elian berdiri—bukan melayang—hanya satu meter di samping gue. Wajah pucatnya kini kelihatan sangat cemas, bahkan ada semacam ketakutan yang tersirat di matanya yang biasanya menatap gue dengan pandangan meremehkan.

Gue menatap buku di tangan gue, lalu beralih menatap Elian yang kelihatan salah tingkah. Sebuah senyum kemenangan perlahan mengembang di bibir gue yang kering.

"Oh," gumam gue penuh arti, memeluk buku kuno itu erat-erat ke dada gue. "Jadi... ini kelemahan lo, ya?"

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca