Aku Menikahi Hantu Penunggu Apartemenku

Bab 3: Ritual Salah Alamat

Pengaturan Membaca

**BAB 3: Ritual Salah Alamat**

Gue berhasil menyelamatkan tablet grafis kesayangan gue dengan gerakan akrobatik yang hampir membuat pinggang gue encok. Tapi kopi hitam gue? Sukses memba****i meja kerja, merembes ke tumpukan kertas sketsa, dan menetes tragis ke lant** marmer.

Sementara itu, pelaku utamanya—si hantu sweter abu-abu bernama Elian—cuma melayang sant** di dekat langit-langit sambil melipat tangan di dada. Mukanya yang ganteng tapi menyebalkan itu sama sekali nggak menunjukkan rasa bersalah. Dia malah tersenyum tipis. Senyum meremehkan yang bikin gue kepengin melempar dia pakai tabung gas melon.

"Gue udah bilang, angkat kaki dari sini," kata Elian enteng, suaranya menggema dingin di kepala gue.

"Gue nggak akan pergi!" teriak gue sambil sibuk mengelap meja pakai tisu seadanya. "Ini perang, Elian. Dan gue nggak bakal kalah sama s**** gabut kayak lo!"

Tapi jujur, setelah tiga hari berturut-turut diteror—mulai dari keran kamar mandi yang tiba-tiba menyala sendiri tengah malam, suhu kamar yang mendadak drop sampai minus sepuluh derajat sampai gue harus pakai jaket tebal berlapis-lapis, hingga Wi-Fi yang sengaja diputus tiap kali gue mau mengirim hasil kerjaan ke klien—pertahanan gue mulai goyah. Gue stres berat. Kantung mata gue sudah hitam mirip panda yang kurang gizi.

Gue butuh solusi cepat. Dan solusi itu datang dalam bentuk sebuah buku tua bersampul kulit hitam tebal yang gue temukan di laci paling bawah lemari dapur, tersembunyi di balik tumpukan panci bekas pemilik apartemen sebelumnya.

Buku itu berdebu, baunya mirip kertas tua yang kelamaan disimpan di gudang basah. Lembarannya berwarna kekuningan, dipenuhi tulisan tangan dengan tinta merah pudar dan beberapa gambar simbol aneh yang mirip lingkaran pentagram, tapi agak beda. Di bagian atas salah satu halaman yang sudah terlipat ujungnya, ada judul yang ditulis dengan huruf latin yang agak susah dibaca: *Ritual Pengikat dan Penyelaras Dua Dimensi*.

Otak gue yang sudah korsleting karena kurang tidur langsung membuat kesimpulan sepihak.

*Pengikat dan Penyelaras?* Oh, ini pasti ritual buat bikin kesepakatan damai sama hantu! Atau minimal, mantra pengusir s**** lokal biar dia nggak bisa mengganggu area hidup gue lagi. Di bawahnya ada instruksi yang kelihatan gampang banget di mata gue yang sudah telanjur nekat.

"Oke, mari kita coba," gumam gue malam itu, tepat pukul sebelas lewat empat puluh lima menit.

Gue membersihkan area tengah ruang tamu. Meja kopi gue geser ke sudut. Di atas lant** marmer yang dingin, gue menyusun lima buah lilin aromaterapi aroma lavender—karena cuma itu lilin yang gue punya di apartemen. Setidaknya kalau ritualnya gagal, ruangan gue bakal wangi floral, bukan bau kemenyan yang bikin merinding.

Gue duduk bersila di tengah-tengah lingkaran lilin. Buku kuno itu gue buka lebar-lebar di depan gue.

"Lo lagi ngapain sih? Sekte sesat?"

Suara dingin Elian tiba-tiba terdengar. Cowok itu muncul begitu saja, melayang malas dengan posisi telungkup di udara, sekitar satu meter dari kepala gue. Dia menatap lilin-lilin gue dengan alis berkerut heran.

"Diem lo, S****. Jangan ganggu konsentrasi gue," sahut gue tanpa menoleh. Gue sibuk menyiapkan jarum pentul yang baru saja gue sterilkan pakai korek api.

"Ngapain bawa-menerbangkan jarum segala? Lo mau santet gue? Telat, gue udah mati," ejek Elian, lalu tertawa kecil. Suara tawanya sebenarnya renyah, tapi di telinga gue terdengar seperti ejekan langsung dari neraka.

"Gue mau bikin lo diam selamanya," balas gue ketus.

Tepat pukul dua belas malam, jam dinding gue berbunyi sekali. Suasana apartemen mendadak sunyi senyap, bahkan suara bising jalanan Jakarta di luar sana seolah-olah diredam oleh dinding tebal tak kasat mata.

Gue menarik napas dalam-dalam. Sesuai instruksi di buku, gue mulai membacakan mantra yang tertulis di sana. Bahasanya aneh, mirip perpaduan bahasa Jawa kuno dan Sanskerta yang diucapkan dengan lidah keseleo.

"*Sang hyang penguasa pembatas netra... pengikat jiwa yang tak kasat mata... dengan ini kupersembahkan janji sehidup semati...*" Gue agak mengernyit membaca baris terakhir itu. Kok ada kata 'sehidup semati'-nya? Ah, paling cuma kiasan kuno biar hantunya nggak berani macam-macam lagi sama manusia hidup. Iya, pasti begitu.

Gue melanjutkan bacaan dengan suara gemetar tapi penuh keyakinan. Di bagian akhir, instruksinya mengharuskan adanya 'segel fisik'.

Gue menelan ludah. Dengan mata setengah terpejam karena ngeri, gue menusuk ujung jari telunjuk kiri gue dengan jarum pentul.

"Aduh! Sumpah, perih banget!" keluh gue spontan.

Satu tetes darah segar berwarna merah terang keluar dari ujung jari gue. Tanpa membuang waktu, gue langsung meneteskan darah itu tepat di atas simbol lingkaran ganda yang ada di halaman buku.

Detik itu juga, hal aneh langsung terjadi.

Api di lima lilin lavender gue yang tadinya berwarna kuning kemerahan, mendadak berubah warna menjadi emas terang. Suhu ruangan yang biasanya dingin mendadak hangat, bahkan cenderung panas.

"Alena? Lo ngelakuin apa?!" Suara Elian yang tadinya sant** berubah panik.

Gue mendongak dan terkejut setengah mati. Buku tua di depan gue memancarkan cahaya keemasan yang luar biasa silau. Cahaya itu berputar-putar seperti badai kecil, sebelum akhirnya melesat membentuk dua utas rant** cahaya keemasan yang tipis tapi kelihatan sangat kokoh.

Satu rant** meluncur cepat, langsung melingkari pergelangan tangan kiri gue.

"Aw! Hangat!" pekik gue, mencoba mengibaskan tangan, tapi rant** itu menempel erat seperti gelang.

Satu rant** lainnya melesat ke atas, mengarah langsung ke pergelangan tangan kanan Elian yang sedang melayang.

"Si****! Singkirkan mainan ini dari gue!" teriak Elian. Dia mencoba menghindar dengan menembus tembok, tapi rant** emas itu seolah memiliki pelacak otomatis. Rant** itu mengejarnya, lalu melingkari pergelangan tangan Elian dengan erat.

Begitu kedua pergelangan tangan kami terikat oleh rant** cahaya tersebut, terdengar suara dentingan lonceng yang sangat nyaring di dalam kepala gue. Cahaya keemasan itu perlahan meredup, menyusut, lalu meresap ma**k ke dalam kulit kami, menyisakan sebuah tanda samar berwarna kemerahan berbentuk lingkaran ganda di pergelangan tangan masing-masing.

Hening.

Gue megap-megap mencari oksigen, sementara Elian mendarat darurat di lant** dengan kedua kaki te******* yang—tunggu dulu.

Gue mengerjapkan mata berkali-kali. Kaki Elian menapak di lant**. Benar-benar menapak. Dia nggak melayang lagi.

"Lo... lo ngelakuin apa ke gue, hah?!" bentak Elian. Wajahnya yang pucat kini tampak memerah karena marah. Dia berjalan mendekati gue. Langkah kakinya terdengar jelas di lant**.

*Deg.*

Kenapa langkah kakinya kedengaran? Biasanya kan dia bergerak tanpa suara sama sekali seperti asap ditiup angin.

Gue yang masih terduduk di lant** langsung menyambar buku tua itu, buru-buru membalik halamannya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya baru saja terjadi. Di halaman paling belakang yang tadinya kosong, tiba-tiba muncul tulisan tangan baru dengan tinta emas yang berkilau.

Gue membaca tulisan itu dalam hati, lalu membacanya sekali lagi dengan suara bergetar karena syok setengah mati.

"Kontrak... Pernikahan Gaib Kuno. Pengikatan jiwa antara manusia hidup dan arwah penasaran yang menempati ruang yang sama. Dengan segel darah dan mantra pembatas, kedua belah pihak kini resmi terikat sebagai... suami dan istri di dua dunia."

Mata gue hampir melompat keluar dari kelopaknya. "S-suami istri?!" teriak gue histeris.

"Apa?!" Elian langsung merebut buku itu dari tangan gue.

Tunggu. Dia merebut buku itu. Tangannya yang pucat memegang sampul kulit buku, dan buku itu tidak menembus tangannya.

Elian membaca tulisan itu dengan cepat. Matanya yang tajam melebar, memancarkan ekspresi tidak percaya sekaligus ngeri yang luar biasa. "Lo... lo g***, ya?! Lo menikahi gue?!"

"Gue nggak tahu! Gue pikir ini mantra pengusir s**** atau ritual damai biasa! Siapa yang tahu kalau ini buku nikah gaib?!" bela gue, ikut panik dan langsung berdiri.

"Gue nggak mau nikah sama manusia aneh kayak lo! Batalkan sekarang! Gimana cara batalinnya?!" Elian mencengkeram bahu gue, menggoyang-goyangkannya dengan frustrasi.

Tapi detik berikutnya, kami berdua sama-sama membeku.

Gue menunduk, menatap bahu gue yang dicengkeram erat oleh tangan Elian. Kulit tangannya terasa agak dingin, tapi padat. Gue bisa merasakan tekanan jari-jarinya di bahu gue. Ini bukan sentuhan angin dingin yang biasa dia tiupkan ke gue. Ini sentuhan fisik yang nyata.

Gue perlahan mengangkat tangan kanan gue, lalu dengan ragu menempelkan telapak tangan gue ke dada Elian.

*Deg. Deg. Deg.*

Ada detak jantung lambat di sana. Dada di balik sweter rajut abu-abu itu terasa padat, bidang, dan nyata. Elian juga menatap tangan gue yang menempel di dadanya dengan ekspresi syok yang sama.

"Lo... lo nggak transparan lagi," bisik gue, menatap wajahnya dari jarak dekat. Ternyata, dia jauh lebih tinggi dari yang gue kira. Aroma tubuhnya yang misterius—seperti wangi hujan berbaur dengan kayu pinus—langsung memenuhi indra penciuman gue.

"Gue... gue bisa menyentuh lo," gumam Elian heran. Dia melepaskan cengkeramannya di bahu gue, lalu menatap telapak tangannya sendiri dengan takjub. Dia mencoba menyentuh meja kopi di dekatnya, dan tangannya tidak menembus meja itu lagi. Dia benar-benar terasa padat seperti manusia biasa.

Gue buru-buru melihat kembali ke buku yang kini tergeletak di lant**. Di bawah tulisan kontrak tadi, ada catatan kaki kecil yang baru muncul:

*Efek samping pengikatan: Arwah akan mendapatkan wujud fisik yang padat dan dapat disentuh oleh pasangannya, serta dapat berinteraksi dengan dunia manusia selama berada dalam radius dekat dengan pasangannya. Hubungan ini hanya bisa diputus oleh kematian sang manusia, atau jika salah satu pihak mengkhianati janji suci.*

"Mampus gue," gumam gue lemas, langsung terduduk kembali di lant** marmer yang dingin.

Gue bukan cuma gagal mengusir hantu menyebalkan ini dari apartemen gue. Tapi sekarang, gue resmi jadi istri dari hantu penunggu unit 12B. Dan yang paling parah? Dia sekarang bisa menyentuh gue secara fisik.

Elian menatap gue dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara kesal, bingung, dan pasrah yang luar biasa.

"Alena," panggil Elian, suaranya terdengar jauh lebih berat sekarang karena terdengar langsung lewat udara, bukan lagi menggema di kepala gue. "Lo benar-benar pembawa sial terbesar dalam hidup—ralat, dalam kematian gue."

Gue cuma bisa menutup wajah gue dengan kedua tangan, meratapi nasib sial gue yang tingkat dewa ini. Selamat tinggal hidup tenang, selamat datang kehidupan rumah tangga gaib yang absurd.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca