**BAB 4: Aturan Sepuluh Meter**
Gue terbangun pagi ini dengan perasaan aneh di sekujur tubuh, kayak ada aliran listrik statis yang menggelitik kulit gue. Di jari manis tangan kiri gue, ada bekas kemerahan melingkar mirip tato temporer berbentuk cincin dengan ukiran aneh yang samar. Pas gue cek ke cermin, tanda itu nggak bisa dihapus bahkan setelah gue gosok pakai sabun cuci piring sampai kulit gue perih.
G***. Ritual semalam bener-bener nggak beres. Niatnya mau damai atau ngusir s****, gue malah kayak habis tanda tangan kontrak mati sama hantu penunggu apartemen ini.
"Lo ngapain sih pagi-pagi udah heboh sendiri?"
Suara cowok yang super familier—dan super menyebalkan—terdengar dari arah ruang tamu. Gue menoleh dan menemukan Elian lagi melayang sant** dengan posisi telentang di udara, mirip orang lagi rebahan di ka**r busa tak kasat mata. Dia masih pakai sweter abu-abu andalannya. Wajahnya yang kelewat ganteng untuk ukuran s**** itu kelihatan segar bugar, kontras banget sama muka gue yang mirip zombi kurang a**pan kafein.
"Gara-gara ritual aneh lo semalam, jari gue jadi begini!" seru gue sambil mengacungkan jari manis gue ke arahnya.
Elian cuma melirik sekilas, lalu menguap malas. "Bukan salah gue. Lo yang sotoy main bakar-bakar lilin aroma terapi sambil baca mantra yang lo sendiri nggak paham artinya. Lagian, gue juga ngerasa aneh. Tapi ya sudahlah, gue mau tidur lagi."
"S**** kok pelor!" umpat gue kesal.
Perut gue tiba-tiba berbunyi nyaring, menyuarakan protes karena sejak kemarin cuma diisi air putih dan sisa biskuit alot. Kulkas gue kosong melompong. Stok mi instan habis, kopi sas**** pun lenyap tanpa sisa. Gue harus ke minimarket di bawah gedung apartemen sekarang juga kalau nggak mau mati konyol karena kelaparan.
Gue menyambar dompet, ponsel, dan sebuah *tote bag* kanvas.
"Gue mau ke bawah, beli makan. Lo jangan berani-berani ngacak-ngacak kamar gue pas gue pergi!" ancam gue sambil menunjuk hidung Elian.
"Terserah. Pergi aja yang jauh, kalau bisa nggak usah balik lagi," sahut Elian enteng tanpa membuka matanya.
Gue mendengus, membuka pintu unit apartemen nomor 404, lalu melangkah keluar. Koridor lant** empat sepi seperti biasa. Gue berjalan menuju lift, memencet tombol turun, dan ma**k ke dalam kotak besi itu dengan perasaan lega. Akhirnya, gue bisa bebas sebentar dari tatapan mengintimidasi si hantu sweter abu-abu.
Lift berdenting lembut begitu sampai di lant** dasar. Pintu terbuka, menampilkan lobi apartemen yang c**up luas dengan lant** marmer meng***p. Gue melangkah keluar dengan riang, membayangkan kehangatan segelas kopi susu hangat dan sebungkus roti isi cokelat yang sebentar lagi bakal memanjakan lidah gue.
Gue berjalan melewati pintu kaca otomatis lobi, melangkah ke area parkir luar yang langsung berbatasan dengan jalan raya. Minimarket berlogo merah-biru itu terletak tepat di seberang jalan, hanya berjarak sekitar lima puluh meter dari gerbang apartemen.
Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah kaki gue menapak di aspal luar gerbang.
*DEG.*
Tiba-tiba, dada gue rasanya seperti dihantam oleh batu besar segede gaban. Napas gue langsung tercekat di tenggorokan. Udara di sekitar gue mendadak hilang, bikin paru-paru gue menjerit kesakitan karena kekurangan oksigen. Pandangan gue mengabur, dan lutut gue mendadak lemas sampai gue terpaksa bertumpu pada tiang listrik terdekat agar tidak tersungkur ke aspal.
"Uhukk... uhukk...!" Gue terbatuk-batuk histeris, tangan gue mencengkeram dada kiri yang rasanya nyeri luar biasa, seperti ditarik paksa oleh seutas tali tak kasat mata yang sangat kuat. Rasanya perih, sesak, dan menyiksa banget.
*Gue kenapa? Apa gue kena serangan jantung mendadak?!*
*WUUUSH!*
Sebelum gue sempat pingsan, sebuah pusaran angin dingin mendadak berembus kencang di sebelah gue. Dan dalam sekejap mata, sosok Elian muncul. Wajahnya yang biasanya tenang dan menyebalkan kini kelihatan panik luar biasa. Dia megap-megap seperti ikan yang kehabisan air, tangannya juga mencengkeram dadanya sendiri.
Begitu Elian berdiri tepat di samping gue, rasa sakit yang menghimpit dada gue perlahan-lahan menguap. Napas gue kembali normal, meskipun jantung gue masih berdegup kencang karena syok.
"Lo... lo ngapain di sini?!" tanya gue dengan suara serak, masih memegangi dada gue yang naik-turun.
"Lo pikir... gue mau ke sini?!" bentak Elian, napasnya juga masih tersengal-sengal. Wajah pucatnya kelihatan makin putih mirip kertas HVS. "Dada gue rasanya kayak mau meledak! Ada kekuatan aneh yang narik gue paksa keluar dari apartemen sampai gue keseret ke sini!"
Gue mengerutkan kening. Otak gue yang mulai berfungsi kembali mencoba mencerna situasi ini. Gue menatap Elian, lalu menatap pintu gerbang apartemen yang berjarak sekitar sepuluh meter di belakang kami.
"Tunggu..." gumam gue. "Jangan-jangan..."
"Jangan-jangan apa?" tanya Elian ketus.
"Kita coba tes sesuatu," kata gue. "Lo diam di sini. Gue mau jalan ke arah minimarket lagi."
"Jangan g*** ya! Gue nggak mau kesakitan lagi!" protes Elian.
Tapi gue nggak memedulikan protesnya. Gue mulai melangkah perlahan menjauhi Elian.
Satu meter... aman.
Tiga meter... masih aman.
Lima meter... dada gue mulai terasa agak berat.
Delapan meter... napas gue mulai pendek-pendek.
Begitu kaki gue melangkah ke meter kesepuluh, rasa sakit yang sama kembali menghantam. Dada gue sesak setengah mati, dan di saat yang sama, Elian yang berdiri di belakang langsung mengerang kesakitan sambil memegangi dadanya.
"Alena! Berhenti, bodoh!" teriak Elian dengan suara tertahan.
Gue buru-buru mundur tiga langkah mendekati dia. Dan seketika, rasa sakit itu hilang lagi.
Gue terbelalak. Elian juga menatap gue dengan pandangan tidak percaya. Kami berdua terdiam selama beberapa detik, mencoba mencerna kenyataan pahit yang baru saja tersaji di depan mata kami.
"Ritual semalam..." bisik gue dengan ngeri. "Itu bukan ritual pengusir s**** atau perdamaian biasa."
"Itu ritual pengikat," sambung Elian, suaranya terdengar frustrasi luar biasa. Dia menjambak rambutnya sendiri dengan kedua tangan. "Kita berdua bener-bener terikat sekarang. Dan jarak maksimal kita..."
"Sepuluh meter," potong gue dengan lemas. "Kita nggak bisa berjauhan lebih dari sepuluh meter, atau fisik gue bakal kesakitan setengah mati, dan energi lo juga bakal terkuras sampai lo kesakitan."
"G***! Ini bener-bener g***!" Elian mulai mondar-mandir di udara dengan panik. "Gue ini hantu! Gue harusnya bebas melayang ke mana aja di apartemen itu! Kenapa sekarang gue malah jadi kayak an**** peliharaan yang diikat tali kekang sama lo?!"
"Lo pikir gue senang?!" balas gue sengit, nggak mau kalah. "Gue juga nggak sudi kemana-mana harus ditempelin s**** menyebalkan kayak lo! Tapi masalahnya, gue laper! Gue butuh makan!"
"Ya udah, beli makan sana! Tapi gue harus ikut?" tanya Elian dengan wajah horor.
"Ya iyalah! Kalau lo nggak ikut, gue bisa mati di tengah jalan karena sesak napas!" ketus gue. "Ayo! Jangan manja!"
Dengan berat hati dan gerutuan yang tiada henti, Elian akhirnya terpaksa mengekor di belakang gue. Untungnya, Elian ini dalam mode tidak kasat mata bagi manusia biasa. Jadi, orang-orang di sekitar jalanan cuma melihat gue berjalan sendirian.
Tapi masalahnya, kebiasaan gue yang suka berantem sama dia bikin situasi jadi super canggung.
"Bisa nggak sih lo jalannya agak cepetan? Lemah banget jadi manusia," cibir Elian yang melayang sant** di sebelah kanan gue.
"Mulut lo bisa diam nggak? Gue lagi jalan kaki, bukan melayang kayak lo! Capek tahu!" semprot gue tanpa sadar.
Seketika itu juga, seorang ibu-ibu yang lagi menyapu halaman rumahnya di pinggir jalan langsung berhenti dan menatap gue dengan pandangan ngeri sekaligus kasihan. Gue langsung tersadar, buru-buru merogoh saku dan menempelkan ponsel ke telinga gue, pura-pura lagi teleponan.
"Ah... iya, Ma! Ini Alena lagi jalan ke minimarket. Hehe, biasa, lagi kesel sama temen kerja yang mukanya mirip s****," ucap gue keras-keras sambil melirik tajam ke arah Elian.
Elian cuma mendengus dan melipat tangan di dada. "Sangat tidak kreatif."
Kami akhirnya sampai di dalam minimarket yang ber-AC dingin. Begitu pintu kaca terbuka, gue langsung menuju ke rak makanan instan. Elian terus mengekor di belakang gue, melayang rendah agar kepalanya tidak menab**k lampu neon di langit-langit toko.
"Lo beneran mau makan sampah itu lagi?" tanya Elian saat gue mengambil dua bungkus mi instan rasa soto.
"Ini bukan sampah, ini makanan para dewa di tanggal tua," sahut gue setengah berbisik sambil pura-pura sibuk membaca label nutrisi di belakang kemasan agar tidak kelihatan g*** oleh pengunjung lain.
"Kandungan natriumnya tinggi banget. Pantesan otak lo agak gesrek," komentar Elian tanpa beban.
Gue mengembuskan napas panjang, mencoba menahan diri agar tidak melempar botol kecap di dekat gue ke arah wajah gantengnya yang minta ditampol itu. Gue bergeser ke rak minuman, mengambil sekotak susu dan sebungkus kopi bubuk.
"Gue mau kopi yang itu," tunjuk Elian ke arah botol kopi dingin yang harganya lumayan mahal di dalam kulkas showcase.
"Lo kan hantu! Nggak bisa minum!" bisik gue ketus.
"Gue bisa ngerasain aromanya kalau lo buka tutupnya. Buruan beliin, atau gue bakal bikin lampu minimarket ini kedap-kedip biar semua orang ketakutan," ancam Elian dengan senyum licik yang bener-bener bikin gue pengin meremas wajahnya.
"Si**** lo," umpat gue, terpaksa mengambil botol kopi itu dan mema**kkannya ke keranjang belanjaan.
Saat gue mengantre di kasir, cobaan yang sebenarnya baru dimulai. Perut gue tiba-tiba mules. Efek belum makan ditambah stres tingkat dewa membuat asam lambung gue naik, dan sekarang gue bener-bener butuh ke toilet.
"Aduh, mampus," gumam gue sambil memegangi perut.
"Kenapa lagi lo? Muka lo makin mirip kertas semen," ejek Elian.
"Gue... gue kebelet pipis," bisik gue dengan panik.
"Ya tinggal ke toilet lah. Apa susahnya?" sahut Elian acuh tak acuh.
Gue menatap Elian dengan pandangan super serius. "Elian. Aturan sepuluh meter."
Elian terdiam. Wajahnya yang semula meledek langsung berubah kaku. Dia menatap gue, lalu menatap ke arah lorong toilet yang ada di sudut belakang minimarket.
"Nggak. Nggak mau. Nggak akan pernah!" tolak Elian mentah-mentah sambil mundur beberapa langkah di udara.
"Aduh! Jangan menjauh, dada gue mulai sakit nih!" ringis gue sambil menahan perut sekaligus dada gue yang mulai terasa sesak.
"Alena, lo g*** ya?! Gue ini cowok! Biarpun gue udah mati dan sekarang jadi hantu, gue tetap punya harga diri! Gue nggak sudi ma**k ke toilet cewek!" teriak Elian dengan wajah yang mendadak bersemu merah karena malu sekaligus kesal.
"Terus lo mau gue ngompol di sini?!" balas gue, sudah tidak peduli lagi dengan tatapan heran mas-mas kasir yang sekarang sedang memperhatikan gue yang lagi bisik-bisik histeris ke arah rak cokelat kosong. "Lo tinggal ma**k, terus merem! Balik badan lo menghadap tembok! Gampang kan?!"
"Gak! Pokoknya gak!"
"Elian, buruan atau gue bakal bener-bener pingsan di sini dan lo bakal ikut kesakitan karena jarak kita makin jauh!" ancam gue setengah mati menahan mules dan sesak dada.
Dengan wajah yang bener-bener frustrasi dan penuh dendam, Elian akhirnya pasrah saat gue menariknya (atau lebih tepatnya, dia terpaksa mengikuti langkah cepat gue) menuju toilet di bagian belakang minimarket.
Gue langsung mengunci pintu toilet begitu kami berdua ma**k ke dalam kubikel yang sempit itu.
"Balik badan lo! Sekarang!" perintah gue dengan galak.
Elian langsung berbalik membelakangi gue, menghadap ke arah dinding keramik toilet dengan mata yang tertutup rapat-rapat menggunakan kedua tangannya. Punggung tegapnya kelihatan tegang banget.
"Gue bersumpah, ini adalah momen paling memalukan sepanjang sejarah eksistensi gue, baik pas hidup maupun pas udah mati," gerutu Elian dengan suara tertahan.
"Berisik! Tutup telinga lo juga!" seru gue sambil buru-buru menyelesaikan urusan pangg***n alam ini.
Suasana di dalam toilet sempit itu bener-bener dipenuhi aura kecanggungan tingkat internasional. Gue bisa mendengar Elian yang terus-menerus merapal gumaman tidak jelas, mungkin dia lagi baca doa-doa versi hantu agar jiwanya tidak ternoda karena situasi absurd ini.
Setelah selesai dan merapikan pakaian, gue mencuci tangan di wastafel kecil di dalam toilet.
"Udah selesai. Lo boleh buka mata sekarang," kata gue.
Elian perlahan menurunkan tangannya dan berbalik. Wajahnya bener-bener merah padam sampai ke telinga. Dia menatap gue dengan pandangan permusuhan yang sangat amat kentara.
"Mulai detik ini, gue benci sama lo, Alena," desis Elian tajam.
"Sama, gue juga benci sama lo," balas gue sant** sambil mengeringkan tangan pakai tisu. "Tapi mau gimana lagi? Nasib kita udah keikat kayak tali sepatu begini. Jadi, mending lo biasakan diri mulai sekarang."
Gue membuka pintu toilet dan berjalan kembali ke meja kasir untuk membayar belanjaan. Elian mengekor di belakang dengan langkah gont** di udara, kelihatan seperti hantu yang baru saja kehilangan gairah hidupnya.
Sambil membawa kantong plastik belanjaan, kami berdua berjalan pulang menuju apartemen. Angin pagi berembus lembut, menerpa wajah gue yang sekarang terasa jauh lebih tenang setelah urusan perut dan toilet selesai.
Gue melirik ke samping. Elian masih diam membisu, menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.
"Hei," panggil gue pelan.
"Apa?" sahutnya ketus tanpa menoleh.
"Soal yang tadi... *sorry* ya. Dan... makasih udah nggak kabur," ucap gue tulus.
Elian terdiam sesaat. Sudut bibirnya tampak berkedut, menahan senyum tipis yang hampir saja terukir sebelum dia buru-buru memasang kembali wajah datarnya yang menyebalkan.
"Gue nggak kabur karena dada gue juga bakal sakit, bodoh. Bukan karena gue peduli sama lo," sahutnya dingin.
Gue cuma terkekeh pelan. Ternyata, hidup berdampingan dengan hantu penunggu apartemen ini bakal jauh lebih merepotkan—dan mungkin, jauh lebih ramai—dari yang pernah gue bayangkan sebelumnya. Satu hal yang pasti: hidup gue setelah ini nggak akan pernah berjalan normal lagi selama aturan sepuluh meter ini masih berlaku.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!