Aku Menikahi Hantu Penunggu Apartemenku

Bab 5: Hantu Posesif Pelindung Deadline

Pengaturan Membaca

**BAB 5: Hantu Posesif Pelindung Deadline**

Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah kaki gue menapak di aspal jalan raya, danβ€”*JEDUG!*

Dada gue mendadak kayak dihantam palu tak kasat mata. Sakit banget sampai gue refleks megangin dada sambil megap-megap kayak ikan koi kekurangan oksigen. Di saat yang sama, dari arah jendela lant** empat unit apartemen gue, terdengar suara teriakan histeris yang super familier.

*Wushhhh!*

Elian meluncur ke bawah dari jendela kamar gue kayak roket kesasar, lalu mendarat dengan posisi tengkurap yang sama sekali nggak estetik di semak-semak dekat lobi. Jari manis gue berdenyut kencang, menyebarkan rasa hangat yang aneh dari tanda cincin merah semalam.

"Alena g***! Lo mau bunuh gue dua kali, ya?!" teriak Elian sambil bangkit berdiri, membersihkan daun-daun kering dari sweter abu-abunya dengan muka super murka.

Gue cuma bisa melongo. Ternyata, "Aturan Sepuluh Meter" itu beneran nyata. Kami berdua nggak bisa saling menjauh lebih dari sepuluh meter, atau jiwa kami bakal saling tarik-menarik dengan paksa. Imbasnya, aksi belanja ke minimarket lusa kemarin terpaksa diwarnai dengan adegan gue yang jalan kaki ke seberang jalan sambil diikuti sesosok hantu berwajah masam yang melayang pasrah di belakang gue kayak balon helium yang diikat ke pergelangan tangan.

Tapi, penderitaan gue nggak berhenti sampai di situ.

Sekarang, hari Minggu jam sepuluh malam. Kamar apartemen gue udah mirip kapal pecah yang dihantam badai tsunami. Bungkus camilan kosong berserakan di lant**, baju kotor menumpuk di pojokan, dan meja kerja gue dipenuhi kertas sketsa yang diremas-remas sampai berbentuk bola.

Di atas meja, layar pen tablet gue masih menyala, menampilkan draf ilustrasi digital pesanan klien yang belum setengah jalan.

"Gue mau mati aja rasanya. Sumpah, gue nggak kuat," gumam gue sambil menjambak rambut sendiri frustrasi. Air mata gue mulai menetes, membasahi permukaan tablet gambar.

Gue bener-bener lagi di titik terendah minggu ini. Klien gue, seorang pemilik *b**nd* lokal yang rewelnya minta ampun, mendadak minta revisi total untuk seluruh latar belakang gambar ilustrasinya. Dan yang paling bikin g***: *deadline*-nya adalah jam dua belas malam ini! Kalau gue telat semenit aja, kontrak kerja sama kami bakal dibatalkan, dan gue nggak bakal dibayar sepeser pun. Padahal gue butuh uang itu buat bayar sewa apartemen bulan depan.

"Udah jam sepuluh lewat lima belas," bisik gue sambil melirik jam di sudut laptop. Air mata gue makin deras mengalir. Dada gue sesak banget akibat panik yang luar biasa. Tangan gue yang memegang *stylus pen* sampai gemetaran, bikin garis-garis yang gue buat malah jadi makin berantakan.

"Kenapa sih hidup gue gini amat? Capek banget..." tangis gue akhirnya pecah. Gue menenggelamkan wajah di atas lipatan tangan di meja, menangis sesenggukan.

Elian yang sejak tadi malam melayang sant** di dekat langit-langit kamar sambil memperhatikan gue, perlahan-lahan turun. Kakinya mendarat tanpa suara di lant** kayu kamarku. Wajahnya yang biasa kelihatan cuek dan menyebalkan, kini berubah melunak. Ada gurat kecemasan yang samar di sepasang mata gelapnya.

"Hei," panggil Elian pelan. Suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya. "Cengeng amat sih. Baru digituin sama manusia aja udah nangis bombay."

"Lo nggak tahu rasanya jadi manusia hidup!" sahut gue ketus di sela-sela tangisan, tanpa mengangkat wajah. "Gue butuh duit, Elian! Kalau gue nggak selesaiin ini, gue bisa diusir dari sini dan jadi gelandangan! Lo enak udah mati, nggak usah mikirin bayar kosan!"

Elian menghela napas panjang. Dia berdiri tepat di samping kursi kerja gue. "Minggir dulu deh lo."

"Ngapain sih? Jangan ganggu gue, gue lagi stresβ€”"

Sebelum gue sempat protes lebih jauh, tubuh gue tiba-tiba terangkat pelan dari kursi. Bukan karena gue melayang sendiri, tapi karena kekuatan telekinesis Elian yang dengan lembut memindahkan gue untuk duduk di atas ka**r.

Gue mengerjapkan mata yang masih basah oleh air mata, memperhatikan apa yang terjadi selanjutnya.

Elian menggerakkan tangannya di udara kayak seorang dirigen orkestra. Tiba-tiba, sapu di pojok kamar bergerak sendiri, menyapu semua bungkus camilan di lant** dan mema**kkannya ke tempat sampah dengan rapi. Baju-baju kotor yang berserakan langsung terbang ma**k ke dalam keranjang cucian. Dalam waktu kurang dari satu menit, kamar gue yang tadinya mirip TPA mendadak bersih meng***p.

Nggak berhenti di situ, sebuah cangkir bersih di dapur melayang ke dispenser, mengisi dirinya sendiri dengan air panas, lalu meluncur ke arah stoples kopi saset. Sendok teh berputar sendiri, menyeduh kopi susu hangat yang baunya langsung menguar harum di dalam kamar. Cangkir itu melayang pelan dan mendarat dengan selamat di atas meja kerja gue.

Gue melongo sampai rahang gue rasanya mau copot. "L-lo..."

"Minum dulu kopinya. Biar otak lo yang buntu itu bisa jalan lagi," potong Elian ketus, walau matanya nggak menatap gue. Dia sekarang malah duduk di kursi kerja gue, menatap layar laptop dan pen tablet dengan dahi berkerut.

"Tapi gambar gueβ€”"

"Sini, mana yang mau diwarnai? Bagian latar belakangnya kan?" Elian mengambil *stylus pen* yang tergeletak di meja. Anehnya, pena itu nggak jatuh dari tangannya. Dia memutarnya dengan lihai di sela-sela jarinya yang pucat. "Gue emang hantu dari era puluhan tahun lalu, tapi setelah beberapa hari ngelihatin lo kerja, gue paham cara pakai aplikasi gambar ini."

Gue berjalan mendekat dengan ragu, masih memegang cangkir kopi hangat yang dibuatkan olehnya. "Lo serius bisa?"

"Cuma ngeblok warna latar belakang kan? Yang penting rapi dan nggak keluar garis?" Elian melirik gue dengan senyum miring yang menyebalkan tapi entah kenapa kelihatan... tampan. "Perhatikan baik-baik. Ini keahlian hantu berkelas."

Dan mulailah keajaiban itu terjadi. Elian menggerakkan pena dengan kecepatan yang nggak ma**k akal. Bukan cuma tangannya yang bergerak cepat, tapi dia juga menggunakan sedikit kekuatan spiritualnya untuk memanipulasi kuas digital di layar. Bidang-bidang kosong di latar belakang gambar langsung terisi warna dengan kombinasi gradasi yang sangat pas dan estetis. Gue bahkan sampai lupa caranya berkedip.

"G***... lo cepet banget!" seru gue takjub, mendadak melupakan kesedihan gue tadi.

"Makanya, jangan remehin hantu," sahut Elian bangga, dadanya membusung sedikit.

Selama satu jam berikutnya, kami berdua bekerja sama. Gue memberikan arahan warna, dan Elian mengeksekusinya dengan kecepatan supernya. Hubungan kami yang biasanya penuh urat saraf dan adu mulut, malam ini terasa mencair. Ada kehangatan aneh yang menyelimuti kamar ini, mengalahkan hawa dingin yang biasa menguar dari tubuh Elian.

Tepat jam sebelas lewat empat puluh lima menit, gambar itu selesai. Jauh lebih bagus dari draf awal gue.

"Selesai! Tinggal gue kirim!" teriak gue girang. Tanpa sadar, gue langsung memeluk leher Elian dari belakang karena terlalu senang.

Tubuh Elian langsung menegang kaku. Kulitnya sedingin es, tapi entah kenapa wajahnya yang pucat mendadak merona merah di bagian pipi. Dia berdeham pelan, mencoba melepaskan pelukan gue dengan canggung. "Ehem... lepasin. Modus lo ya?"

Gue tersadar dan langsung mundur dengan wajah yang ikut memanas. "Eh, s-sorry! Refleks! Makasih ya, Elian. Lo penyelamat gue malam ini."

Elian memalingkan mukanya, tapi gue bisa melihat senyum tipis di bibirnya. "Sama-sama. Lagian kalau lo stres terus mati, nanti yang nemenin gue di sini siapaβ€”"

*TOK! TOK! TOK!*

Pintu apartemen gue tiba-tiba digedor dengan sangat keras dari luar. Bukan ketukan sopan, melainkan gedoran kasar yang bikin jantung gue hampir copot.

*TOK! TOK! TOK!*

"Alena! Buka pintunya! Gue tahu lo di dalam!" sebuah suara cowok berteriak dari luar koridor.

Senyum di wajah gue langsung lenyap seketika. Tubuh gue mendadak kaku, dan rasa dingin yang berbeda menjalar di punggung gue. Itu suara Raka. Mantan pacar gue yang super *toxic*, manipulatif, dan posesif setengah mati yang baru gue putusin sebulan lalu setelah gue memergoki dia selingkuh dengan sahabat gue sendiri.

"Siapa?" tanya Elian, matanya langsung menyipit tajam. Hawa di dalam kamar mendadak turun beberapa derajat lebih dingin.

"M-mantan gue," bisik gue gemetaran. "Raka."

Sebelum gue sempat mencegahnya, gedoran di pintu makin brutal. "Alena! Buka nggak?! Gue tahu lo sengaja gak bales chat gue! Kita perlu ngomong!"

Gue melangkah mundur dengan panik. "Elian, tolong jangan lakuin apa-apa dulu. Biar gue yang hadapi dia. Dia orangnya nekat."

Gue berjalan ke arah pintu dengan kaki gemetar, lalu membukanya sedikit dengan sisa-sisa keberanian yang gue punya. Raka langsung mendorong pintu itu dengan kasar sampai gue terhuyung ke belakang. Dia ma**k ke dalam apartemen gue tanpa permisi, matanya merah dan napasnya bau alkohol.

"Raka! Kamu ngapain ke sini malam-malam begini? Dan kamu mabuk?!" seru gue marah, mencoba menutupi rasa takut gue.

"Alena, sayang..." Raka mencoba meraih tangan gue, tapi gue langsung menghindar. Wajahnya yang dulunya gue anggap ganteng, sekarang kelihatan begitu memuakkan dengan seringai manipulatifnya. "Aku ke sini mau minta maaf. Kita balikan, ya? Aku nggak bisa hidup tanpa kamu. Cewek kemarin itu nggak ada apa-apanya dibanding kamu."

"Nggak, Raka! Kita udah selesai! Kamu selingkuh, kamu bohongin aku berkali-kali! Sekarang keluar dari apartemen aku!" usir gue sambil menunjuk ke arah pintu luar.

Raka mendengus remeh. Dia melangkah maju, memojokkan gue ke dinding ruang tamu. Tangannya mencengkeram kedua bahu gue dengan sangat keras sampai gue meringis kesakitan. "Jangan jual mahal deh, Alena! Siapa lagi yang mau sama ilustrator miskin kayak kamu kalau bukan aku? Apartemen busuk kayak gini aja masih kamu banggain! Kamu tuh nggak bakal bisa hidup tanpa aku, paham?!"

"Lepas, Raka! Sakit!" jerit gue, mencoba berontak, tapi tenaganya jauh lebih kuat.

Tiba-tiba, lampu gantung di ruang tamu berkedip-kedip dengan sangat cepat. Suasana yang tadinya biasa saja mendadak berubah mencekam. Angin dingin yang sangat pekat berembus entah dari mana, membuat gorden jendela berkibar dengan liar padahal jendela dalam keadaan tertutup rapat.

"Siapa..." sebuah suara berat, dingin, dan penuh gema terdengar dari arah sudut ruangan. "...yang berani nyentuh milik gue?"

Raka langsung menghentikan tindakannya. Dia menoleh ke sekeliling dengan wajah bingung. "Si-siapa itu?! Alena, lo nyembunyiin cowok lain di sini?!"

Gue melirik ke belakang Raka. Di sana, Elian sedang melayang beberapa senti di atas lant**. Kedua matanya yang biasanya berwarna hitam biasa, kini berubah menjadi hitam pekat tanpa bagian putih sama sekali. Aura kemerahan yang tipis tapi mengerikan menyelimuti seluruh tubuhnya. Wajahnya yang ganteng berubah menjadi sangat menyeramkan dengan ekspresi dingin tanpa ampun.

"Elian, jangan..." bisik gue lirih, takut kalau Elian bakal berbuat nekat sampai membunuh orang.

"Oh, jadi lo nyembunyiin cowok di kamar?!" bentak Raka, menyangka gue berbisik pada orang lain. Dia bersiap melayangkan tangan untuk menampar gue.

Tapi sebelum tangan Raka sempat menyentuh pipi gue, tubuhnya mendadak terpental ke belakang sejauh tiga meter, menghantam sofa ruang tamu dengan keras seolah-olah baru saja didorong oleh kekuatan kasat mata yang sangat besar.

*B**AAK!*

"Aduh! Si****, apa-apaan ini?!" teriak Raka kesakitan sambil memegangi punggungnya.

Sebelum dia sempat berdiri, sebuah cangkir kopi yang ada di meja melayang sendiri ke udara. Di depan mata Raka yang melotot ketakutan, cangkir itu terbalik dan menyiramkan seluruh isi kopi hitam panas tepat ke atas kepala dan baju putih mahalnya.

"AAARRGGHH! PANAS! SI****!" Raka menjerit histeris, mencoba mengusap wajahnya yang basah dan lengket.

Lampu apartemen mulai mati total, menyisakan kegelapan pekat. Satu-satunya sumber cahaya hanyalah pendaran merah tipis dari tubuh Elian yang perlahan mendekati Raka. Semua pintu laci dapur mulai terbuka dan tertutup sendiri dengan keras. Piring-piring melayang di udara, berputar-putar di atas kepala Raka seolah siap dilemparkan kapan saja.

*GEBREEG! PLAK! PLAK!*

Beberapa buah buku tebal dari rak buku gue melayang dan memukul kepala Raka bertubi-tubi.

"H-HANTU!!! ADA HANTU!!!" teriak Raka dengan suara melengking kayak lumba-lumba kesurupan. Wajahnya yang tadinya sok jagoan kini berubah pucat pasi, air matanya mulai mengalir karena ketakutan yang luar biasa.

Elian melayang tepat di depan wajah Raka. Meski Raka nggak bisa melihat wujud Elian secara utuh, dia jelas bisa merasakan hawa dingin yang mencekam dan melihat bayangan hitam besar yang mengerikan di dinding yang merepresentasikan sosok Elian.

"Kalau lo berani menginjakkan kaki di sini lagi..." bisik Elian langsung di telinga Raka dengan suara gema yang super menyeramkan, "...gue bakal pastiin lo tidur di dalam peti mati besok pagi."

Raka kencing di celana. Sumpah, gue bisa mencium bau pesing yang mendadak menguar. Tanpa pikir panjang lagi, cowok *red flag* itu langsung merangkak dengan panik ke arah pintu keluar.

*CEKLEK!*

Pintu apartemen terbuka sendiri dengan keras karena kekuatan Elian. Raka langsung bangkit berdiri dan berlari sekencang-kencangnya menyusuri koridor sambil berteriak histeris tanpa alas kaki, meninggalkan salah satu sepatunya yang tertinggal di keset.

*BAM!!!*

Pintu apartemen menutup sendiri dengan bantingan yang sangat keras, lalu terkunci secara otomatis dari dalam.

Lampu apartemen kembali menyala terang. Angin kencang yang tadi berembus mendadak reda. Piring-piring yang melayang di udara mendarat kembali ke rak dapur dengan sangat rapi tanpa ada satu pun yang pecah. Suasana kembali sunyi senyap, seolah kejadian mengerikan barusan hanyalah mimpi di siang bolong.

Elian mendarat kembali di lant**. Perlahan, matanya kembali normal, dan aura mengerikan di tubuhnya lenyap. Dia mengibas-ngibaskan tangannya dengan ekspresi jijik.

"Cih, cowok lemah kayak gitu aja berani sok jagoan," cibir Elian, kembali ke mode menyebalkannya yang biasa. "Bau pesing lagi. Kamar lo harus dipel ulang ini."

Gue masih berdiri terpaku di sudut ruangan, memegangi dada gue yang berdegup kencang. Tapi kali ini, bukan karena takut pada Raka, melainkan karena rasa lega yang luar biasa. Dan... karena melihat bagaimana Elian membela gue tadi.

"Lo... nggak apa-apa?" tanya gue pelan, melangkah mendekatinya.

Elian melirik gue, lalu melipat kedua tangannya di dada. Wajahnya sedikit memaling, mencoba menyembunyikan rona merah yang kembali muncul di telinganya. "Gue yang harusnya nanya gitu ke lo. Dasar manusia lemah. Makanya, kalau cari cowok itu seleranya bagusan dikit kenapa sih? Masa remahan rengginang kayak gitu dipacarin."

Gue nggak bisa menahan senyum gue lagi. Tawa kecil akhirnya lolos dari bibir gue, membuat ketegangan yang tersisa di dalam dada gue menguap sepenuhnya.

"Iya, iya, maaf. Lagian kan itu mantan," sahut gue sambil berjalan mendekat, lalu menepuk pundak dinginnya dengan akrab. "Tapi serius, makasih ya, Elian. Lo bener-bener penyelamat gue malam ini. Dua kali berturut-turut pula."

Elian mendengus, tapi kali ini dia nggak menghindar dari sentuhan gue. Dia menatap tanda cincin merah di jari manis gue, lalu beralih menatap mata gue dengan tatapan yang mendadak terasa hangat.

"Sama-sama. Lagian, lo itu kan... istri gue," bisik Elian pelan dengan suara rendah yang bikin jantung gue mendadak lompat dari tempatnya. "Siapa pun yang berani nyakitin lo, harus berhadapan sama gue dulu."

Gue langsung mematung di tempat dengan pipi yang mendadak terasa terbakar hebat. *G***.* Sejak kapan hantu penunggu apartemen gue ini bisa bertingkah seposesif dan semanis ini?_

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca