**BAB 6: Masa Lalu Elian yang Hilang**
Udah tiga mangkok mi instan cup rasa soto ayam yang ludes ma**k ke perut gue sejak pagi.
Setelah drama revisi maut semalem yang hampir bikin gue g***, akhirnya tugas ilustrasi digital itu kelar tepat jam 11.59 malam. Kurang satu menit sebelum *deadline*! Begitu drafnya terkirim, gue langsung ambruk di lant** kayak kain pel basah. Beruntung klien rewel gue itu langsung mentransfer sisa pembayaran subuh tadi. Rasanya lega banget, seolah-olah batu sebesar Gunung Merapi baru aja diangkat dari dada gue.
Sekarang, hari Senin sore yang tenang. Angin sepoi-sepoi ma**k lewat jendela apartemen gue yang sengaja dibuka lebar. Di sudut kamar, Elian lagi melayang dengan posisi terbalikβkepala di bawah, kaki di atasβsambil menatap gue yang lagi asyik menyeruput kuah mi instan terakhir.
"Lo kalau makan kayak kesurupan ya, Len. Padahal yang hantu di sini tuh gue," celetuk Elian dengan wajah lempeng tanpa berdosa.
Gue hampir aja tersedak kuah mi yang asin dan pedas ini. Gue buru-buru meraih segelas air putih di atas meja, meminumnya sampai tandas, lalu melempar tatapan maut ke arah cowok transparan itu.
"Bodo amat! Sumpah ya, El, setelah kerja rodi semalem, kapasitas otak gue langsung turun drastis. Gue butuh a**pan MSG biar bisa mikir lagi," balas gue sambil meletakkan cup kosong ke tempat sampah di dekat meja kerja.
Gue bersandar di kursi kerja, memutar-mutar kursi itu malas sambil memperhatikan Elian. Cowok itu sekarang udah kembali ke posisi normal, duduk melayang beberapa sentimeter di atas ka**r gue. Dia memakai sweter abu-abu rajut yang kelihatan pas banget di badannya yang jangkung. Potongan rambutnya yang agak berantakan ala *curt**n haircut* cowok-cowok Korea bikin dia kelihatan... ya, gue harus jujur, dia emang ganteng banget. Kulitnya pucat, tapi struktur wajahnya tegas.
Mendadak, rasa penasaran yang sejak kemarin gue pendam rasanya udah nggak bisa ditahan lagi. Gue mencondongkan tubuh ke depan, menatapnya lurus-lurus.
"Heh, El. Gue boleh nanya sesuatu nggak?"
Elian mengangkat sebelah alisnya. "Tergantung. Kalau lo mau nanya ukuran sepatu gue pas masih hidup, gue udah lupa."
"Bukan itu, ih! Gue serius," kata gue dengan nada yang mulai pelan. "Kenapa... lo bisa jadi hantu penunggu apartemen ini?"
Elian terdiam. Dia nggak langsung menjawab, cuma menatap lurus ke arah jendela luar yang mulai memperlihatkan semburat warna oranye senja.
"Maksud gue," lanjut gue, mencoba merangkai kata-kata sesant** mungkin biar nggak menyinggung perasaannya. "Lo kan masih muda banget. Terus lo juga... ya, lumayan ganteng lah (dikit doang tapinya). Kok bisa lo gentayangan di apartemen peninggalan zaman kolonial semi-modern yang rada suram ini? Emang lo mati kenapa? Terus, nggak ada keluarga lo yang nyariin?"
Seketika itu juga, suasana di kamar gue yang tadinya sant** mendadak berubah jadi agak dingin. Hembusan angin dari jendela tiba-tiba terasa lebih menusuk kulit.
Elian perlahan menurunkan tubuhnya sampai kakinya menapak tanpa suara di atas lant** kayu kamar gue. Dia berjalan mendekat, lalu duduk bersila di lant**, tepat di hadapan kursi gue. Wajahnya yang biasa dipenuhi senyum menyebalkan dan kejahilan, sekarang kelihatan sangat datar. Dan sunyi.
"Gue... nggak tahu, Len," bisik Elian pelan.
"Hah? Nggak tahu gimana? Masa lo lupa lo mati karena apa?" tanya gue bingung.
"Gue amnesia," jawab Elian singkat. Dia menatap kedua telapak tangannya sendiri yang sedikit transparan. "Gue nggak inget sebagian besar det**l kehidupan gue pas masih hidup. Gue cuma inget nama pangg***n gue, Elian. Gue juga inget kalau gue meninggal sekitar lima tahun yang lalu, tepatnya tahun 2019. Pas gue 'bangun', gue udah ada di unit apartemen ini. Gue nggak bisa keluar dari pintu depan, nggak bisa pergi jauh-jauh, sampai akhirnya lo datang dan cincin merah aneh ini ngiket kita berdua."
Gue merinding mendengar penjelasannya. Ternyata di balik sifatnya yang posesif dan menyebalkan, cowok ini menyimpan kekosongan yang besar di kepalanya.
"Sama sekali nggak inget apa-apa? Bahkan nama belakang lo? Atau alamat rumah lo?" tanya gue lagi, kini dengan nada empati yang tulus.
Elian menggeleng perlahan. "Nggak. Memori gue kayak kepingan puzzle yang hancur berantakan. Tapi..." Elian menjeda kalimatnya. Dia memejamkan mata, seolah-olah sedang mencoba menggali ingatan dari sudut tergelap di kepalanya.
"Tapi apa?" desak gue penasaran.
"Gue cuma inget rasa sakitnya," bisik Elian. Suaranya terdengar sangat berat, jauh beda dari nada usilnya yang biasa gue dengar. "Sakit banget, Len. Dada gue rasanya kayak terbakar hebat, paru-paru gue kayak menyusut sampai gue nggak bisa napas sama sekali. Dan dingin... dingin banget sampai rasanya menusuk ke dalam tulang."
Gue menelan ludah dengan susah payah. Mendengar deskripsi kematiannya bikin tenggorokan gue mendadak kering.
"Terus... nggak ada hal lain yang lo inget sebelum semuanya gelap?"
Elian membuka matanya kembali. Kali ini, tatapan matanya terlihat tajam dan dipenuhi amarah yang terpendam. "Ada satu. Sebelum pandangan gue bener-bener hitam, gue inget sebuah wajah. Cowok. Dia berdiri di depan gue, natap gue dengan senyuman yang... dingin banget. Senyuman kemenangan. Namanya Adrian. Dia saudara tiri gue."
"Adrian?" gue mengulang nama itu.
Otak detektif *cyber* gue mendadak langsung aktif. Sebagai cewek Gen Z yang hobi *stalking* akun mantan pacar sampai ke akar-akarnya, urusan mencari informasi di internet adalah keahlian utama gue. Ini adalah saat yang tepat untuk menggunakan kemampuan investigasi tingkat tinggi gue.
Gue langsung menyambar laptop yang masih menyala di atas meja belajar. "Bentar, El. Lo bilang nama lo Elian, kan? Dan lo punya saudara tiri namanya Adrian. Kejadiannya tahun 2019. Coba kita lacak."
"Lo mau ngapain?" Elian melongokkan kepalanya dari balik bahu gue, membuat tengkuk gue mendadak merinding karena hawa dingin yang menguar dari tubuhnya.
"Mencari jati diri lo yang hilang, wahai hantu ganteng," sahut gue sambil membuka tab baru di Google.
Gue mengetikkan beberapa kata kunci secara acak di kolom pencarian: *Elian Adrian meninggal 2019*.
Hasilnya nihil. Kebanyakan hanya berita kecelakaan umum atau artikel obituari acak yang nggak ada hubungannya dengan mereka berdua.
"Coba lo inget-inget lagi. Nama belakang lo siapa? Masa cuma Elian doang? Elian Wijaya? Elian Pratama? Elian Nugroho?" tanya gue sambil terus menatap layar.
Elian mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk, gaya khasnya kalau lagi mikir keras. "Hmm... nama belakang gue... kayaknya ada hubungannya sama sesuatu yang besar. Apa ya? At... Atma... Atmadja! Kayaknya Elian Atmadja."
Jari-jari gue langsung bergerak cepat mengetik nama tersebut: *Elian Atmadja meninggal 2019*.
*Klik.*
Begitu gue menekan tombol *enter*, layar laptop gue langsung dipenuhi oleh puluhan artikel berita dari berbagai portal media nasional terkemuka. Tanggal terbitnya rata-rata berkisar di bulan November 2019.
Gue menahan napas. Mulut gue refleks menganga lebar.
"G***..." gumam gue pelan.
"Kenapa? Ketemu?" Elian melayang lebih dekat, wajahnya kini sejajar dengan layar laptop gue.
"El, lo... lo bukan sembarang hantu bokek ternyata!" gue menunjuk layar laptop dengan jari yang sedikit gemetar. "Lo lihat ini."
Di layar terpampang sebuah foto formal seorang cowok muda yang mengenakan setelan jas hitam *custom-made* yang sangat mewah. Rambutnya tertata rapi, wajahnya bersih, dan auranya kelihatan sangat berkelas. Itu adalah wajah Elian. Sangat mirip dengan hantu yang sekarang ada di samping gue, bedanya versi di foto terlihat jauh lebih hidup, segar, dan... sangat kaya raya.
Judul berita utama di layar berbunyi:
**"TRAGEDI TOL CIPULARANG: PEWARIS TUNGGAL ATMADJA GROUP, ELIAN ATMADJA (21), TEWAS SEKETIKA DALAM KECELAKAAN MOBIL."**
Gue membaca artikel tersebut dengan cepat dengan mata yang membelalak. "Di sini tertulis, lo adalah putra tunggal dan pewaris tunggal dari pemilik Atmadja Group, salah satu gurita bisnis terbesar di I****esia yang bergerak di bidang properti dan jaringan perhotelan mewah. Lo dilaporkan tewas setelah mobil sport Porsche yang lo kendarai lepas kendali dan menab**k pembatas jalan di Tol Cipularang KM 97 sampai meledak dan terbakar habis. Jenazah lo bahkan dikabarkan sulit diidentifikasi karena kondisi kecelakaan yang sangat parah."
Gue memutar kursi, menatap Elian dengan pandangan tak percaya. "Lo anak konglomerat, El! Pantesan gaya lo sok borjuis banget meskipun udah jadi hantu. Dan apartemen ini... oh, pantesan! Apartemen ini kan salah satu aset lama milik Atmadja Group yang terbengkalai. Ternyata ini punya keluarga lo!"
Namun, reaksi Elian di luar dugaan gue.
Dia sama sekali nggak kelihatan senang atau takjub mengetahui bahwa dia adalah mantan anak orang terkaya. Wajah hantunya justru makin pucat. Dia menatap foto bangkai mobil sport yang ringsek terbakar di layar laptop gue dengan tatapan kosong.
Keningnya berkerut sangat dalam. Dia mencengkeram kepalanya sendiri seolah-olah kepalanya mendadak didera rasa sakit yang luar biasa.
"Nggak," gumam Elian dengan suara lirih dan bergetar. "Ini salah."
"Salah gimana? Ini foto lo, kan? Namanya juga Elian Atmadja. Tanggal kejadiannya juga lima tahun lalu, pas lo umur 21 tahun," kata gue heran.
Elian menggelengkan kepalanya dengan kuat. Aura di sekelilingnya mendadak berubah drastis menjadi sangat dingin, sampai-sampai napas gue mulai mengembun di udara kamar. Lampu bohlam di langit-langit kamar gue mulai berkedip-kedip tidak stabil, menciptakan bayangan-bayangan aneh yang menari di dinding.
"Foto itu emang foto gue. Tapi... gue nggak mati di jalan raya, Len," ujar Elian, matanya yang biasa jenaka kini memancarkan ketakutan dan kebingungan yang sangat nyata. "Rasa sakit yang gue inget... itu bukan karena benturan keras kecelakaan mobil. Gue nggak inget ada suara ban berdecit, atau benturan besi, atau ledakan."
"Terus?" gue merinding, merapatkan jaket yang gue pakai.
"Gue inget sebuah ruangan yang gelap. Sunyi. Dan gue inget rasa haus yang luar biasa, seolah-olah seluruh tenggorokan dan organ dalam gue disiram air keras. Gue megap-megap di lant**, gak bisa minta tolong," ujar Elian dengan suara yang tercekat, seolah dia sedang merasakan kembali rasa sakit itu saat ini juga. "Dan sebelum gue bener-bener kehilangan kesadaran, Adrian berdiri di depan gue. Dia megang gelas kosong sambil tersenyum dingin ke arah gue yang lagi sekarat."
Hening sejenak menyelimuti kamar apartemen kami yang mendadak terasa mencekam. Bulu kuduk di sekujur tubuh gue langsung berdiri tegak.
"Maksud lo... lo nggak mati karena kecelakaan? Tapi... lo diracun?" bisik gue ngeri.
"Gue yakin seratus persen, gue nggak mati di Tol Cipularang," jawab Elian, dadanya naik turun dengan cepat seolah dia masih membutuhkan oksigen untuk bertahan hidup. "Seseorang... sengaja memalsukan kematian gue dengan kecelakaan itu."
Gue kembali menatap layar laptop dengan tangan gemetar. Rasa penasaran gue kini berubah menjadi rasa ngeri yang mendalam. Gue buru-buru mengetikkan nama lain di kolom pencarian Google: *Adrian Atmadja*.
Hanya butuh waktu satu detik untuk Google menampilkan hasilnya.
Sebuah artikel berita bisnis teranyar muncul di paling atas, lengkap dengan foto seorang pria berusia akhir dua puluh tahunan yang mengenakan setelan jas desainer ternama. Wajahnya tegas, dengan senyum ramah yang terlihat sangat profesional di depan kamera saat sedang melakukan pemotongan pita peresmian proyek gedung pencakar langit baru.
Judul berita itu berbunyi:
**"KEMUDI BARU ATMADJA GROUP: ADRIAN ATMADJA SUKSES BAWA PERUSAHAAN EKSPANSI KE PASAR INTERNASIONAL."**
Gue menunjuk foto pria tersebut dengan jari yang gemetar. "El... apa ini orangnya?"
Elian mendekatkan wajahnya ke layar laptop. Begitu matanya menangkap sosok pria di foto itu, rahangnya langsung mengeras. Matanya yang gelap memancarkan kebencian yang begitu pekat, membuat suhu di kamar gue turun drastis layaknya di dalam lemari es.
"Iya," desis Elian. Suaranya terdengar sangat dingin dan tajam, bergema di setiap sudut kamar. "Itu Adrian. Kakak tiri gue yang langsung mengambil alih semua kekayaan dan posisi gue setelah gue 'mati'."
Gue menelan ludah dengan susah payah, mematikan layar laptop karena terlalu takut melihat foto tersebut lebih lama.
Ternyata, pernikahan gaib yang mengikat gue dengan hantu menyebalkan ini bukan sekadar kesi**** biasa. Gue baru saja terseret ma**k ke dalam pusaran konspirasi pembunuhan berdarah dingin dari salah satu keluarga paling berkuasa di negeri ini. Dan hantu yang sekarang sedang menatap gue dengan penuh kemarahan ini... adalah korban utamanya.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!