**BAB 7: Ancaman Penggusuran**
Pagi itu, gue terbangun bukan karena alarm HP yang bunyinya mirip sirine pemadam kebakaran, melainkan karena suara ribut-ribut dari arah koridor luar.
Gue mengucek mata, menguap lebar-lebar, dan meraba-raba ka**r buat nyari ponsel. Begitu layar menyala, jam baru menunjukkan pukul delapan pagi. Tapi yang bikin gue kaget, ada sekitar 99+ notifikasi dari grup WhatsApp warga Apartemen Kencana Puri.
Grup yang biasanya cuma berisi ibu-ibu komplek jualan daster atau bapak-bapak yang hobi nge-share video lucu bapak-bapak, pagi ini rusuh banget. Isinya ketikan panik dengan huruf kapital semua.
**Bu Retno Unit 3B:** *INI BENERAN??? KITA MAU DIUSIR???*
**Pak Bambang Unit 4A:** *Tadi saya lihat ada orang-orang pakai helm proyek sama jas rapi di lobi. Mereka nempel selebaran!*
**Mbak Desi Unit 2C:** *Gak bisa gitu dong! Saya baru bayar sewa buat setahun penuh!*
Gue langsung terduduk tegak. Rasa kantuk gue hilang seketika, digantikan oleh rasa heran yang luar biasa.
"Ada apa sih, Len? Pagi-pagi muka lo udah kayak ditekuk jemuran basah begitu."
Sebuah suara familier yang rada serak khas bangun tidur terdengar dari atas. Gue mendongak dan mendapati Elian lagi melayang sant** di dekat langit-langit kamar, posisi tiduran miring sambil menyangga kepalanya dengan satu tangan. Cowok hantu itu kelihatan sant** banget, kontras banget sama gue yang udah mulai ketar-ketir.
"El, turun dulu deh. Ini darurat," kata gue dengan nada serius.
Elian mengerutkan kening. Mengikuti instruksi gue, dia meluncur turun dengan anggun, lalu mendarat tanpa suara di sebelah gue yang masih duduk di tepi ka**r. "Darurat apa? Klien lo minta revisi lagi? Atau stok mi instan lo habis?"
"Bukan, b***! Ini lebih parah dari revisi klien!" Gue menyodorkan layar HP gue tepat ke depan wajahnya yang pucat tapi ganteng itu. "Lihat nih. Grup apartemen lagi demo online. Katanya gedung ini mau digusur."
Seketika itu juga, raut wajah Elian berubah. Sant** yang tadinya mendominasi ekspresinya langsung luntur, digantikan oleh ketegangan yang belum pernah gue lihat sebelumnya. Matanya yang hitam pekat melebar menatap layar ponsel gue.
"Coba lo baca selebarannya, Len. Ada di grup nggak?" tanya Elian, suaranya tiba-tiba kedengaran agak bergetar.
Gue buru-buru men-scroll grup WA ke atas, mencari gambar selebaran yang tadi didebatkan warga. Begitu ketemu, gue langsung mengunduh gambar itu dan men-zoom bagian teksnya yang paling tebal.
"Pemberitahuan Pengosongan Gedung," gue membacanya dengan lantang. "Dalam rangka revitalisasi kawasan bisnis, gedung Apartemen Kencana Puri akan dialihfungsikan menjadi kompleks kondominium mewah. Seluruh penghuni diharapkan mengosongkan unit paling lambat tiga puluh hari sejak surat ini diterbitkan. Proyek ini sepenuhnya di bawah kepemilikan dan pengawasan... PT Mahakarya Nusantara."
Gue menghentikan bacaan gue. Nama perusahaan itu rasanya nggak asing. Tapi yang bikin gue lebih kaget adalah nama direktur utama yang tertera di bagian paling bawah surat, lengkap dengan tanda tangan digitalnya.
"Adrian Mahendra," bisik gue lirih.
*DEG.*
Gue menoleh ke arah Elian. Dan apa yang gue lihat sukses bikin jantung gue hampir copot.
Elian nggak cuma kelihatan kaget—dia kelihatan ketakutan setengah mati. Tubuh transparannya mendadak bergetar hebat. Dan yang paling mengerikan, ujung-ujung jarinya mulai kelihatan memudar, seolah-olah dia adalah gambar hologram yang baterainya hampir habis dan mulai *nge-glitch*.
"El? El, lo kenapa?!" seru gue panik. Gue refleks mengulurkan tangan mau memegang bahunya, tapi tangan gue tentu aja cuma menembus udara kosong yang dingin. "El, jawab gue! Kenapa lo jadi kayak gini?!"
"Adrian..." Elian bergumam, suaranya terdengar jauh dan bergema aneh. Dia memegangi kepalanya sendiri dengan kedua tangan. "Dia... dia saudara tiri gue, Len."
"Hah?! Serius?!" Gue m****ik kaget. Kepala gue mendadak pusing memproses plot twist yang mendadak ini. "Maksud lo, direktur developer raksasa yang mau meruntuhkan apartemen ini adalah saudara tiri lo?"
"Iya," jawab Elian lemah. Dia perlahan duduk di lant**, bersandar pada dinding ka**r. Tubuhnya masih terus berkedip-kedip tipis. "Gue... gue mulai ingat sekarang. Adrian. Dia yang selalu pengen menguasai semua aset keluarga setelah bokap gue meninggal. Apartemen tua ini... sebenarnya ini peninggalan dari mendiang ibu kandung gue. Adrian benci banget sama tempat ini karena dia nggak punya hak atas tanahnya. Tapi sekarang... kenapa dia bisa megang proyek ini?"
"Tapi, El, kenapa tubuh lo jadi kayak gini? Kok lo memudar?!" tanya gue, mengabaikan dulu soal silsilah keluarganya yang rumit. Fokus gue sekarang adalah melihat wujud Elian yang makin lama makin transparan.
Elian menatap kedua tangannya sendiri dengan tatapan nanar. "Energi gue... jiwa gue terikat kuat sama unit apartemen ini, Len. Di sinilah tempat terakhir gue sebelum gue... mati. Di unit ini juga ada barang-barang pribadi gue yang masih tersisa di balik dinding atau lant**, yang jadi jangkar spiritual gue di dunia ini."
Elian menatap gue dengan mata yang memancarkan keputusasaan yang mendalam. "Kalau gedung ini dihancurkan... kalau unit ini diratakan dengan tanah sebelum urusan duniawi gue kelar... jangkar gue akan hancur. Dan gue... jiwa gue bakal lenyap selamanya. Gue nggak akan bisa pergi ke akhirat. Gue bakal terhapus dari eksistensi, Len. Benar-benar hilang seolah-olah gue nggak pernah ada."
Mendengar penjelasan Elian, rasanya kayak ada air es yang mendadak diguyur ke sekujur tubuh gue. Dingin dan bikin kaku.
Lenyap? Lenyap selamanya?
Padahal gue baru aja mulai terbiasa dengan kehadiran cowok menyebalkan tapi usil ini di hidup gue. Baru kemarin dia nemenin gue begadang ngerjain revisi sambil ngomel-ngomel gak jelas. Baru kemarin dia bikin gue ketawa dengan kelakuan konyolnya yang suka melayang terbalik. Gue nggak bisa ngebayangin kalau tiba-tiba dia hilang gitu aja dari dunia ini—bukan karena dia udah tenang di alam sana, tapi karena jiwanya hancur dipaksa lenyap.
"Gak. Gak boleh," kata gue tegas. Rasa panik gue perlahan berubah menjadi kemarahan yang membakar dada. "Gue nggak akan membiarkan hal itu terjadi."
Elian mendongak, menatap gue terkejut. "Len, lo nggak paham. Adrian itu orangnya kejam dan punya kekuasaan tak terbatas. Dia punya banyak uang, pengacara hebat, dan koneksi di mana-mana. Kita cuma... lo cuma mahasiswi akhir yang merangkap ilustrator lepas, dan gue cuma hantu yang bahkan nggak bisa megang gagang pintu!"
"Gue emang cuma orang biasa, El. Tapi gue bukan orang yang bakal diam aja melihat temannya—atau hantu penunggu apartemennya—dihancurin gitu aja!" Gue berdiri tegak, mengepalkan kedua tangan gue erat-erat. "Apartemen ini juga rumah gue sekarang. Tempat ini satu-satunya tempat murah yang nyaman yang bisa gue temuin setelah sekian lama terlunta-lunta. Dan yang paling penting... gue udah janji mau bantu lo mengungkap misteri kematian lo, kan?"
Gue mencondongkan tubuh, menatap Elian lurus-lurus ke dalam matanya yang mulai kembali stabil, seolah keteguhan gue memberikan sedikit energi tambahan buat dia.
"Gue yakin kematian lo ada hubungannya sama Adrian. Penggusuran yang tiba-tiba ini pasti cara dia buat menghilangkan barang bukti atau apa pun yang lo sebut 'jangkar' itu. Kita punya waktu tiga puluh hari. Kita harus cari tahu apa yang sebenarnya terjadi sama lo, dan kita harus cari cara buat menghentikan Adrian."
Elian tertegun. Untuk beberapa detik, keheningan menyelimuti kamar kami. Hanya ada suara bising sayup-sayup dari luar gedung yang masih memperdebatkan soal penggusuran.
Perlahan, sebuah senyuman tipis—senyuman tulus yang belum pernah gue lihat sebelumnya di wajahnya—muncul di bibir Elian. Efek memudar di tubuhnya perlahan berhenti, dan wujudnya kembali sejelas sebelumnya.
"Lo beneran nekat ya, Len," gumam Elian, nadanya terdengar campur aduk antara heran dan kagum. "Gue pikir lo bakal langsung kemas-kemas barang dan ninggalin gue sendirian di sini."
"Heh, enak aja! Enak di lo, susah di gue!" balas gue sambil berkacak pinggang, mencoba mencairkan suasana yang sempat tegang. "Lagian, kalau lo lenyap, siapa lagi yang bakal gue suruh-suruh buat nakut-nakutin klien rewel gue? Nggak ada kan?"
Elian terkekeh pelan. "Dasar matre."
"Biarin. Yang penting sekarang kita harus gerak cepat." Gue berjalan ke meja belajar, mengambil sebuah buku catatan kosong dan pulpen. "Pertama, kita harus bikin daftar rencana. El, coba lo ingat-ingat lagi. Hari terakhir sebelum lo meninggal... apa yang lo lakuin? Dan kira-kira di bagian mana dari unit apartemen ini lo menyembunyikan atau meninggalkan barang berharga lo?"
Elian melayang mendekati meja, melipat tangannya di dada sambil mengetuk-ngetuk dagunya, berpikir keras.
"Seingat gue... hari itu hujan deras banget," Elian mulai bercerita, matanya menerawang. "Gue baru balik dari kantor bokap setelah berantem hebat sama Adrian soal pembagian warisan dan hak kepemilikan apartemen ini. Adrian bilang, dia bakal ngelakuin apa aja buat dapetin tempat ini. Terus gue balik ke sini, kepala gue pusing banget. Gue minum segelas air hangat yang... anehnya rasanya agak pahit. Setelah itu, pandangan gue buram. Gue jatuh di lant**... dan tahu-tahu saat gue bangun, gue udah ngeliat tubuh gue sendiri digotong keluar oleh petugas medis."
Gue merinding mendengarnya. "Pahit? Air hangat yang rasanya pahit? El, lo diracun!"
"Gue juga mikir gitu sekarang," kata Elian dengan raut wajah dingin. "Dan soal jangkar gue... di apartemen ini, di balik salah satu dinding tebal di ruang tengah, gue pernah bikin b**nkas rahasia. Di dalam sana ada surat wasiat asli dari bokap gue yang menyatakan kalau seluruh area Apartemen Kencana Puri ini jatuh ke tangan gue sepenuhnya, bukan Adrian. Kalau kita bisa nemuin surat itu, penggusuran ini ilegal secara hukum. Adrian nggak punya hak untuk merobohkan gedung ini."
"Serius?! B**nkas di balik dinding?!" Mata gue langsung berbinar-binar. "Oke, ini petunjuk emas! Di sebelah mana dindingnya?"
Sebelum Elian sempat menjawab, mendadak terdengar suara ketukan pintu yang sangat keras dan tidak sabaran dari luar unit apartemen gue.
*DOK! DOK! DOK!*
"Permisi! Penghuni Unit 4B! Harap buka pintunya!" sebuah suara berat pria berteriak dari balik pintu.
Gue dan Elian saling berpandangan. Jantung gue mendadak berdegup kencang lagi. Baru aja rencana mau disusun, tantangan pertama tampaknya sudah langsung datang mengetuk pintu rumah kami.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!