**Bab 1: Pesona Ziva vs. Cowok Kulkas 10 Pintu**
Bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Nusantara, Ziva Adhisti adalah sebuah anomali. Gadis berusia dua puluh tahun itu ibarat koin logam yang punya dua sisi super ekstrem.
Sisi pertama adalah Ziva versi kampus. Di area akademis ini, Ziva terkenal sebagai mahasiswi paling absurd, hobi bertingkah kocak, dan sama sekali tidak punya urat malu. Dia adalah tipe cewek yang bisa-bisanya datang ke kelas pagi dengan sandal jepit bergambar karakter kartun, rambut dicepol asal-asalan pakai pensil, dan membawa bekal nasi goreng dengan aroma bawang yang semerbak. Di kelas, hobinya adalah melontarkan pertanyaan-pertanyaan ajaib yang bikin dosen mengelus dada, atau tertawa paling keras saat ada temannya yang salah presentasi.
"Ziv, lo hari ini lupa minum obat atau gimana? Itu kaus kaki lo kenapa beda sebelah? Yang kanan garis-garis pink, yang kiri gambar spongebob," celetuk Rara, sahabat karib Ziva sejak semester satu, sembari menunjuk kaki Ziva yang bertengger di bawah meja kafetaria.
Ziva melirik kakinya sant**, lalu menyuap batagornya dengan garpu. "Ini namanya seni, Ra. Konsepnya ketidakseimbangan yang estetis. Lo mana paham fashion kelas atas."
Rara hanya memutar bola matanya jengah. "Fashion kelas atas mbahmu!"
Tapi, di situlah letak keajaibannya. Begitu kaki Ziva melangkah keluar dari gerbang kampus dan ma**k ke studio foto, Ziva bertransformasi total menjadi sisi keduanya: seorang model katalog populer yang punya daya tarik sensual alami.
Di depan kamera, Ziva adalah dewi. Tatapan matanya yang sayu namun tajam, bibirnya yang sedikit terbuka, dan cara dia menggerakkan tubuhnya selalu berhasil membuat pakaian apa pun yang dia kenakan terlihat sepuluh kali lebih mahal dan menggoda. Di Instagram, akun @ziva.adhst memiliki ratusan ribu pengikut. Kolom komentarnya penuh dengan pujian, mulai dari yang menyebutnya *’goddess’*, *’visual masterclass’*, sampai cowok-cowok yang rela antre demi mendapatkan balasan darinya.
Namun, pesona mematikan seorang Ziva Adhisti yang bisa meluluhkan hati ribuan *followers*-nya di media sosial itu mendadak tidak berguna sama sekali ketika berhadapan dengan satu nama: Arkan Mahendra.
Arkan adalah mahasiswa Teknik Informatika semester lima. Cowok itu jenius, tampan dengan rahang tegas yang maskulin, mata elang yang dingin, dan rambut hitam yang selalu sedikit berantakan. Tapi, masalahnya satu: Arkan adalah perwujudan nyata dari kulkas sepuluh pintu. Dingin, kaku, beku, dan hampir mustahil untuk ditembus.
Arkan tidak peduli pada sekitar. Dia jarang bicara, selalu memakai *hoodie* gelap, dan hampir selalu terlihat mengenakan *AirPods* di telinganya ke mana pun dia pergi. Bagi Arkan, dunia ini hanya terdiri dari dirinya, baris-baris kode pemrograman, dan laptopnya.
Dan sialnya, Ziva jatuh cinta setengah mati pada cowok kulkas itu.
"Ziv, lo beneran mau nyoba lagi hari ini?" tanya Rara dengan nada sangsi saat mereka berdua berjalan menyusuri koridor utama gedung kuliah bersama.
Ziva menghentikan langkahnya, lalu mengeluarkan cermin kecil dari dalam tas tas rajutnya. Dia merapikan anak rambutnya yang berantakan, lalu memulas bibirnya dengan *lip tint* berwarna merah ceri yang segar.
"Tentu saja," jawab Ziva penuh percaya diri. "Kemarin-kemarin kan gue majunya pakai taktik absurd. Hari ini, gue bakal pakai taktik 'Pesona Ziva sang Model Katalog'. Dijamin, iman si kulkas sepuluh pintu itu bakal goyah."
Rara menghela napas panjang. "Gue sih cuma bisa berdoa semoga mental lo gak makin rontok ya, Ziv. Ingat, Arkan itu bukan cowok biasa. Dia itu spesies langka yang hatinya kayaknya terbuat dari batu es kutub utara."
"Tenang, Ra. Es batu kalau kena panasnya pesona gue juga bakal meleleh jadi air," sahut Ziva sembari mengedipkan sebelah matanya genit.
Tepat saat itu, koridor yang tadinya bising oleh obrolan mahasiswa mendadak agak menyepi. Dari ujung koridor, sosok yang dinanti-nanti muncul. Arkan berjalan dengan langkah sant** namun tegas. Seperti biasa, dia mengenakan *hoodie* hitam dengan lengan yang digulung hingga siku, memperlihatkan lengan kokohnya. Sebuah tas ransel tersampir di satu bahunya, dan kedua tangannya dima**kkan ke dalam saku *hoodie*. Dan tentu saja, sepasang *AirPods* putih terpasang manis di telinganya.
Ketampanan Arkan memang tidak main-main. Meskipun dia memasang wajah datar tanpa ekspresi, beberapa mahasiswi yang berpapasan dengannya tetap saja mencuri pandang dan saling berbisik heboh.
Ziva menarik napas dalam-dalam. Dia menegakkan bahunya, membusungkan dadanya sedikit, dan mengubah cara berjalannya. Tidak ada lagi Ziva yang berjalan diseret seperti bebek. Sekarang yang ada adalah Ziva si model papan atas yang sedang melenggang di atas *catwalk*. Tatapan matanya berubah sayu namun intens, persis seperti posenya saat mempromosikan produk parfum mewah.
"Perhatikan dan pelajari, Rara," bisik Ziva sebelum melangkah maju, memotong jalur berjalan Arkan.
Arkan yang sedang fokus menatap lurus ke depan terpaksa memperlambat langkahnya saat menyadari ada seseorang yang berdiri tepat di hadapannya, menghalangi jalan. Dia menghentikan langkah sekitar satu meter di depan Ziva.
Ziva melemparkan senyum terbaiknya. Senyuman yang biasanya bisa membuat fotografer profesional langsung menekan tombol *shutter* berkali-kali tanpa henti.
"Hai, Arkan," sapa Ziva dengan nada suara yang dibuat selembut dan semanis mungkin. Dia sengaja memiringkan kepalanya sedikit, membiarkan rambut panjangnya jatuh di satu sisi bahunya yang terekspos karena potongan kardigannya yang agak longgar.
Arkan tidak merespons. Dia hanya menatap Ziva dengan mata elangnya yang dingin. Tidak ada binar ketertarikan, tidak ada keterkejutan, bahkan tidak ada kerutan di dahinya. Wajahnya sedatar papan tulis baru.
Ziva tidak menyerah. Dia melangkah satu senti lebih dekat, menatap langsung ke dalam mata cokelat gelap milik Arkan. "Kebetulan banget kita ketemu di sini. Kamu mau ke perpustakaan pusat, ya? Bareng yuk? Aku juga kebetulan mau ke sana buat nyari referensi tugas."
Ziva sengaja menekankan kata "kebetulan" dengan nada manja yang menggemaskan. Beberapa mahasiswa yang berada di koridor mulai memperlambat langkah mereka, menyadari drama segar yang sedang tersaji di depan mata. Mereka semua tahu siapa Ziva, dan mereka semua tahu seberapa dinginnya Arkan.
Arkan masih diam. Dia menatap Ziva dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menilai yang sangat singkat, lalu kembali menatap mata Ziva.
Satu detik.
Dua detik.
Ziva mulai merasa salah tingkah, tapi dia tetap mempertahankan senyum menawannya. Di dalam hatinya, dia sudah menjerit-jerit berharap Arkan setidaknya akan melepas salah satu *AirPods*-nya dan menjawab sapaannya.
Namun, harapan tinggal harapan.
Arkan bahkan tidak menyentuh telinganya untuk mematikan musik. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, tanpa perubahan ekspresi sedikit pun di wajah tampannya, Arkan hanya menggeser langkahnya ke kanan, melewati Ziva begitu saja seolah gadis itu hanyalah tiang gantungan baju yang kebetulan menghalangi jalannya.
Angin dingin seolah berembus melewati tengkuk Ziva saat tubuh tinggi Arkan melewatinya tanpa ragu. Langkah kaki Arkan terdengar menjauh, konstan dan tidak memedulikan eksistensi Ziva sama sekali.
Ziva membeku di tempatnya. Senyum menawannya langsung luntur seketika, menyisakan mulut yang sedikit menganga karena syok.
Keheningan sesaat di koridor itu langsung pecah oleh suara tawa yang tertahan, yang kemudian berubah menjadi cemoohan terang-terangan.
"Pfft! Hahaha! G***, kasihan banget si model katalog!"
Suara cempreng itu terdengar sangat familier. Ziva menoleh dan mendapati Selin—musuh bebuyutannya di kampus—sedang berdiri bersama gengnya tidak jauh dari sana. Selin menutup mulutnya dengan tangan, tapi matanya memancarkan kepuasan yang luar biasa.
"Duh, Ziv... lagian lo pede banget sih?" ejek Selin dengan nada meremehkan sembari melangkah mendekat. "Lo pikir dengan modal muka yang sering muncul di katalog baju diskonan itu bisa bikin Arkan melirik lo? Arkan itu levelnya beda, Sayang. Dia gak bakal mempan sama taktik murahan kayak gitu. Makanya, sadar diri dong!"
Teman-teman Selin langsung tertawa mendukung ucapan pemimpin mereka. Beberapa mahasiswa lain yang menonton kejadian itu juga berbisik-bisik sambil tersenyum geli.
Wajah Ziva memerah padam. Bukan karena malu didekati Selin, tapi karena pengabaian telak yang baru saja dilakukan Arkan padanya di depan umum. Rasanya harga dirinya sebagai model yang dipuja-puji banyak orang runtuh seketika dalam waktu tiga detik saja.
Rara dengan cepat menghampiri Ziva dan menarik lengan sahabatnya itu. "Selin, bisa diam gak lo? Gak usah ikut campur!" semprot Rara galak, lalu menatap Ziva dengan khawatir. "Ziv, yuk pergi dari sini."
Ziva tidak menjawab. Dia mengepalkan kedua tangannya erat-insang. Matanya menatap punggung Arkan yang kini sudah mulai menjauh di ujung koridor, tampak acuh tak acuh dengan kekacauan yang baru saja dia tinggalkan.
*Si**** lo, Arkan Mahendra!* teriak Ziva dalam hatinya dengan penuh dendam sekaligus rasa penasaran yang semakin membuncah.
*Gue bersumpah, demi semua koleksi kaus kaki spongebob gue, gue bakal bikin lo bertekuk lutut dan memohon-mohon perhatian dari gue! Lihat aja nanti!*
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!