Si****. Si****. Si****!
Ziva melempar bantal guling bergambar kelinci miliknya ke arah pintu kamar dengan sekuat tenaga. Bunyi *bukk* yang dihasilkan sama sekali tidak mengurangi rasa kesal yang sudah menumpuk di dadanya sejak sore tadi.
"Bisa-bisanya dia sekasar itu? Gue ini Ziva Adhisti! Model katalog yang kalau senyum sedikit aja bisa bikin cowok-cowok se-Instagram jantungan!" teriak Ziva frustrasi pada langit-langit kamarnya yang dicat warna lavender.
Ziva berguling ke kanan, lalu ke kiri, meratapi nasibnya yang baru saja ditolak mentah-mentah oleh Arkan Mahendra untuk kesekian kalinya. Kejadian sore tadi di area taman Fakultas Teknik benar-benar merusak harga dirinya yang setinggi langit.
Bayangan kejadian itu berputar kembali di kepalanya seperti kaset rusak. Sore itu, Arkan sedang duduk menyendiri di bangku taman dengan laptop di pangkuannya dan *AirPods* yang terpasang manis di telinga. Ziva yang sudah berdandan maksimal—meski tetap mempertahankan gaya sant** khasnya—mendekat dengan segelas *matcha latte* dingin berukuran besar di tangannya.
*"Arkan!" sapa Ziva super ceria, langsung duduk di sebelah cowok itu tanpa permisi.*
*Arkan bahkan tidak melirik. Jemarinya masih menari lincah di atas keyboard laptop.*
*"Nih, gue beliin matcha latte kesukaan lo. Gue denger dari anak-anak IT, lo kalau lagi coding sukanya minum yang manis-manis," kata Ziva sambil menyodorkan cup plastik itu tepat di depan wajah Arkan, menghalangi pandangannya ke layar laptop.*
*Gerakan tangan Arkan terhenti. Cowok itu perlahan melepas satu AirPods-nya, menoleh lambat-lambat dengan tatapan mata elangnya yang super dingin. Tatapan yang sukses membuat bulu kuduk Ziva meremang, tapi juga membuat jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.*
*"Singkirin," ucap Arkan pendek, suaranya berat dan datar.*
*"Eh? Tapi ini enak banget lho, Kan. Manisnya pas, kayak gue—"*
*"Gue bilang singkirin, Ziva. Lo ganggu." Arkan menepis pelan tangan Ziva yang memegang cup minuman tersebut. Sialnya, tepisan itu membuat cup matcha yang belum sempat dibuka itu jatuh ke tanah dan pecah, mengotori sepatu putih bersih milik Arkan.*
*Suasana langsung hening seketika. Ziva membeku. Beberapa mahasiswa yang lewat sempat menoleh ke arah mereka.*
*Arkan menghela napas panjang, menatap sepatunya yang kotor dengan pandangan luar biasa muak. Dia lalu menatap Ziva, lurus-lurus. "Bisa nggak, lo berhenti bertingkah konyol di depan gue? Gue nggak tertarik sama lo. Mau lo model, mau lo cewek paling populer di kampus, bagi gue lo cuma cewek berisik yang nggak tahu sopan santun. Jangan pernah muncul di depan gue lagi."*
*Setelah mengucapkan kalimat tajam yang rasanya lebih menyakitkan daripada tertusuk duri kaktus itu, Arkan membereskan laptopnya, berdiri, dan melenggang pergi begitu saja tanpa menoleh lagi.*
"Aaaakh! Cowok kulkas si****! Robot tanpa perasaan!" Ziva berteriak histeris, menutupi wajahnya dengan bantal. Matanya terasa panas karena menahan tangis, tapi rasa kesalnya jauh lebih mendominasi.
Ziva meraih ponselnya yang tergeletak di atas ka**r. Dia membuka aplikasi WhatsApp dan langsung mengirim pesan rentetan kepada Rara.
**Ziva:** *Ra!!! Gue benci banget sama Arkan! Gue mau santet dia aja rasanya!!!*
**Ziva:** *Masa matcha latte gue dibuang? Terus dia ngat**n gue cewek berisik yang nggak tahu sopan santun! Si**** banget kan?!*
Tidak butuh waktu lama bagi Rara untuk membalas.
**Rara:** *Kan udah gue bilang, Ziv. Arkan itu levelnya beda. Dia bukan tipe cowok yang bakal klepek-klepek cuma karena lo cantik atau populer. Pawang ular aja belum tentu bisa jinakin dia, apalagi lo yang modal nekat doang.*
**Rara:** *Udah lah, mending lo cari cowok lain. Kak Elvan anak senat kemaren nanyain nomor lo ke gue tuh. Kurang ganteng apa coba dia?*
Ziva mendengus.
**Ziva:** *Gak mau! Pokoknya harus Arkan! Cuma dia yang berani nolak gue, dan itu bikin gue makin penasaran!*
**Rara:** *Serah lo deh, Ziv. Capek gue dibilanginnya. Dah ah, gue mau tidur. Besok kelas pagi.*
Ziva melempar ponselnya ke samping tubuhnya. Kamar kosannya kini terasa sangat sunyi, hanya menyisakan suara dengungan AC. Jarum jam di dinding sudah menunjukkan pukul satu malam. Ziva merasa lelah, tapi matanya sama sekali enggan terpejam. Dadanya masih sesak oleh rasa penasaran dan ego yang terluka.
Dengan malas, Ziva kembali meraih ponselnya. Dia mulai melakukan *scrolling* tanpa arah di media sosial. Instagram, TikTok, Twitter, semuanya dia buka demi mengalihkan pikirannya dari wajah menyebalkan Arkan.
Saat sedang asyik menelusuri video-video random di TikTok, tiba-tiba layar ponselnya mendadak hitam selama beberapa detik.
"Eh, kenapa nih? Nge-lag ya?" gumam Ziva sambil mengetuk-ngetuk layar ponselnya.
Sesaat kemudian, layar ponselnya kembali menyala, menampilkan sebuah pop-up iklan dengan desain yang sangat tidak biasa. Alih-alih iklan estetik atau iklan game perang yang biasa lewat, iklan ini memiliki tema futuristik dengan perpaduan warna neon pink dan hitam pekat. Di bagian tengahnya, ada logo berbentuk hati yang retak namun disatukan oleh sirkuit kabel digital.
Di atas logo itu, tertulis sebuah kalimat dengan font tebal yang langsung menarik perhatian Ziva:
**"COWOK IMPIAN LO SEDINGIN ES BATU? BIKIN DIA BERTEKUK LUTUT DALAM 30 HARI."**
Di bawah kalimat tersebut, ada sub-teks yang berbunyi:
*Unduh 'Heart-Hack' (Beta Version) sekarang. Aplikasi asisten romansa berbasis AI tercanggih yang dirancang khusus untuk menaklukkan target paling mustahil sekalipun. Garansi 100% berhasil, atau target Anda akan mengabaikan Anda selamanya.*
Ziva mengerutkan keningnya. "Heart-Hack? Aplikasi apaan nih? Clickbait banget," gumamnya sinis. "Zaman sekarang masih ada aja aplikasi penipu kayak gini. Pasti ujung-ujungnya minta langganan premium berbayar, atau malah malware yang mau nge-hack m-banking gue."
Ziva mencoba mencari tombol 'X' untuk menutup iklan tersebut, tapi anehnya, tidak ada tombol silang di sudut mana pun. Hanya ada satu tombol besar berwarna neon pink di bagian bawah layar yang bertuliskan: **UNDUH SEKARANG (GRATIS)**.
"Lah, kok nggak bisa di-close? HP gue beneran kena virus ya?" Ziva mulai panik. Dia menekan tombol home berulang kali, tapi ponselnya seolah terkunci pada tampilan iklan tersebut.
Karena merasa kesal dan setengah mengantuk, Ziva akhirnya menekan tombol pink tersebut secara asal, berharap setelah itu layarnya bisa kembali normal.
Begitu tombol ditekan, sebuah bilah loading muncul di layar. Proses unduhannya berjalan dengan kecepatan yang tidak ma**k akal. Hanya dalam waktu tiga detik, bilah tersebut sudah menunjukkan angka 100%.
*Instalasi Selesai.*
Ponsel Ziva bergetar sekali, lalu layar utamanya kembali normal. Di antara deretan aplikasi di ponselnya, kini muncul sebuah ikon baru berlogo hati sirkuit neon pink dengan nama 'Heart-Hack'.
"Seriusan langsung ke-install? Padahal gue belum ma**kin password App Store," gumam Ziva heran. Rasa penasarannya mulai terusik. Sisi impulsifnya yang sering kali membawa masalah kini kembali mengambil alih. "Ah, bodo deh. Coba kita lihat seberapa menipu aplikasi ini."
Ziva mengetuk ikon 'Heart-Hack'.
Layar ponselnya seketika meredup, lalu beralih menampilkan visualisasi sirkuit digital yang bergerak dinamis, diiringi efek suara *whoosh* yang futuristik. Di tengah layar, muncul sebuah kolom teks yang bersih dan elegan.
**[Selamat Datang di Heart-Hack (Beta Version).]**
**[Silakan ma**kkan nama Anda untuk memulai proses sinkronisasi.]**
Ziva mengetik namanya dengan cepat: *Ziva Adhisti*.
**[User terverifikasi: Ziva Adhisti. Memulai konfigurasi target.]**
**[Silakan ma**kkan data target Anda secara det**l.]**
Layar berganti, menampilkan beberapa kolom kosong yang harus diisi. Ziva tersenyum geli. Dia merasa seperti sedang memainkan game simulator kencan yang biasa dimainkan anak-anak sekolah.
"Oke, mari kita uji seberapa hebat AI lo," tantang Ziva pada ponselnya. Dia mulai mengisi kolom-kolom tersebut satu per satu dengan antusias.
*Nama Target: Arkan Mahendra*
*Usia: 21 Tahun*
*Jurusan/Fakultas: Teknik Informatika / Fakultas Teknik*
*Hubungan Saat Ini: Orang asing yang saling membenci (lebih tepatnya, dia benci gue)*
Di bagian bawah, ada kolom khusus dengan pilihan ganda bertuliskan: *Tipe Kepribadian Target*.
Pilihannya c**up beragam, mulai dari *The Golden Retriever (Ceria & Setia)*, *The Bad Boy (Pemberontak)*, *The Green Flag (Sempurna & Lembut)*, hingga pilihan terakhir yang langsung membuat Ziva menjentikkan jarinya: *The Ice Prince / Kulkas 10 Pintu (Dingin, Kaku, dan Tidak Tersentuh)*.
Ziva tanpa ragu memilih opsi *The Ice Prince*.
**[Data tersimpan. Melakukan pemindaian algoritma psikologis target...]**
Ponsel Ziva mendadak terasa sedikit hangat di genggamannya. Di layar, muncul grafik-grafik rumit yang berputar cepat, seolah-olah aplikasi tersebut benar-benar sedang mencari informasi tentang Arkan di seluruh jaringan internet.
Ziva menahan napasnya, tiba-tiba merasa sedikit tegang. "Lama banget. Palingan juga error setelah ini," batinnya mencoba realistis.
Namun, dugaannya salah. Detik berikutnya, sebuah bunyi dentingan halus terdengar dari ponselnya.
*Ding!*
**[Analisis Selesai.]**
**[Target Terkunci: Arkan Mahendra.]**
**[Tingkat Kesulitan Menaklukkan Target: SSS (Hampir Mustahil). Peluang keberhasilan Anda saat ini tanpa Heart-Hack: 0.1%]**
"Si****! Nol koma satu persen?!" Ziva m****ik tidak terima. "Ngehina banget nih aplikasi! Gue nggak se-hopeless itu ya!"
Teks di layar kembali berjalan secara otomatis, mengabaikan protes dari Ziva.
**[Jangan khawatir, User Ziva. Heart-Hack dirancang khusus untuk membalikkan keadaan. Untuk mencairkan gunung es seperti Arkan Mahendra, Anda tidak bisa menggunakan metode pendekatan biasa. Anda harus menciptakan anomali dalam hidupnya yang super teratur.]**
**[Sistem telah menyusun rencana taktis 30 hari. Setiap hari, Anda akan diberikan satu misi wajib. Kegagalan dalam menjalankan misi atau menolak misi akan berakibat pada pengurangan poin reputasi romansa Anda, yang akan membuat target semakin menjauh.]**
**[Misi Hari ke-1 telah siap.]**
Ziva menelan ludah. Rasa kantuknya kini benar-benar sudah hilang sepenuhnya. Dia menatap layar ponselnya dengan mata melebar, menunggu teks selanjutnya yang akan muncul.
**[Misi 1: Anomali Pagi Hari.]**
**[Det**l Misi: Besok pagi pukul 08.45 WIB, temui Arkan Mahendra di koridor utama Gedung Fakultas Teknik saat dia sedang berjalan menuju kelasnya memakai AirPods. Ambil salah satu AirPods langsung dari telinganya tanpa permisi, pasang di telinga Anda sendiri, lalu nyanyikan bagian reff dari lagu 'Sial' milik Mahalini dengan suara lantang tepat di depan wajahnya selama minimal 10 detik.]**
**[Batas Waktu: Sebelum pukul 09.00 WIB.]**
**[Hadiah Misi: Membuka kunci 'Ketertarikan Awal' (Arkan akan mulai memikirkan Anda selama minimal 3 jam setelah kejadian).]**
**[Hukuman Kegagalan: Target akan memblokir nomor WhatsApp Anda secara permanen.]**
Membaca det**l misi tersebut, rahang Ziva rasanya mau copot. Matanya melotot hampir keluar dari kelopaknya.
"G***! INI MAH BUKAN MISI CINTA! INI MISI BUNUH DIRI!" teriak Ziva histeris sambil melempar ponselnya ke atas ka**r seolah benda itu baru saja berubah menjadi bom waktu.
Mengambil *AirPods* Arkan secara paksa? Menyanyi lagu dangdut atau pop galau tepat di depan mukanya di koridor ramai Fakultas Teknik? Yang benar saja! Arkan yang biasanya diam saja bisa berubah jadi pembunuh berdarah dingin kalau ketenangannya diusik secara brutal seperti itu. Apalagi setelah kejadian matcha latte sore tadi.
"Nggak, nggak, nggak. Ini aplikasi g***. Gue mau uninstall sekarang juga!"
Ziva buru-buru mengambil kembali ponselnya dan menekan ikon Heart-Hack lama-lama untuk menghapusnya. Namun, tidak ada pilihan 'Hapus Aplikasi' yang muncul. Layar ponselnya justru menampilkan peringatan dengan warna merah menyala:
**[PERINGATAN: Aplikasi ini tidak dapat dihapus sebelum masa kontrak 30 hari selesai atau jika Anda memilih menyerah (yang akan mengakibatkan target membenci Anda selamanya). Pilihan ada di tangan Anda, User Ziva.]**
Ziva terduduk lemas di tepi ka**rnya. Dia menatap layar ponselnya yang kini menampilkan penghitung waktu mundur menuju batas akhir misi besok pagi.
*07:44:12*
*07:44:11*
Ziva memegangi kepalanya yang mulai terasa pening. Dia tahu dirinya absurd, dia tahu dia sering bertingkah konyol di kampus. Tapi misi ini... misi ini benar-benar berada di luar batas kewarasan manusia biasa.
"Gue... gue beneran harus ngelakuin ini besok?" gumam Ziva dengan suara bergetar, menatap nanar angka-angka yang terus berjalan mundur di layarnya.
Malam itu, di tengah kesunyian kamarnya, Ziva Adhisti menyadari satu hal: hidupnya yang tenang—atau setidaknya, hidupnya yang penuh dengan pemujaan dari para pengikut media sosialnya—baru saja bergeser ke jalur yang sangat, sangat kacau. Dan semua itu dimulai dari sebuah unduhan iseng di tengah malam.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!