Aplikasi Ini Bisa Bikin Cowok Cuek Jatuh Cinta

Bab 3: Misi 1: Senggolan Parfum Wangi Vanila

Pengaturan Membaca

Ponsel Ziva bergetar di atas nakas tepat pukul enam pagi. Dengan mata yang masih setengah terpejam dan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, Ziva meraba-raba permukaan meja kayu itu, lalu menarik ponselnya mendekat.

Satu notifikasi pop-up dengan warna merah muda neon menyala di layar hitamnya.

*Ting!*

**[Heart-Hack: Misi 1 Siap Dimulai!]**

Ziva langsung terduduk tegak. Rasa kantuk yang tadi menggelayuti matanya mendadak hilang entah ke mana. Dia mengucek matanya sekali lagi, memastikan bahwa dia tidak salah lihat.

"Aplikasi si**** ini beneran kerja?" gumam Ziva dengan suara serak khas orang bangun tidur.

Semalam, dalam kondisi patah hati setengah mati dan harga diri yang hancur berkeping-keping setelah ditolak Arkan di taman, Ziva tidak sengaja menemukan aplikasi bernama 'Heart-Hack' di App Store. Deskripsinya terdengar sangat konyol sekaligus menjanjikan: *“Bisa bikin cowok tercuek di dunia berlutut di hadapanmu dalam 30 hari.”* Karena putus asa, Ziva langsung mengunduhnya tanpa pikir panjang.

Ziva mengetuk notifikasi tersebut. Layar ponselnya langsung berubah menampilkan grafis hati yang berdetak, diikuti oleh deretan teks bergaya ka**al.

**[Halo, Ziva Adhisti! Selamat datang di program penaklukan hati Arkan Mahendra. Kita tahu targetmu adalah tipe 'Cowok Kulkas 12 Pintu' yang super cuek. Tapi tenang, robot pun punya kelemahan. Kita mulai dari hal yang paling dasar: memori sensorik.]**

Ziva mengerutkan kening. "Memori sensorik? Apaan tuh?"

Layar ponselnya bergulir otomatis ke bawah.

**[Misi 1: Senggolan Parfum Wangi Vanila.**

**Fakta Ilmiah: Indra penciuman adalah jalur tercepat menuju otak emosional manusia. Cowok cuek biasanya menutup mata dari visual yang terlalu mencolok, tapi mereka gak bisa menutup hidung dari wewangian yang memikat.**

**Instruksi Misi: Gunakan parfum beraroma manis/vanila yang sensual. Cari momen untuk melakukan kontak fisik 'tanpa sengaja' di dekat area mading kampus hari ini. Pastikan jarak kalian c**up dekat sampai dia bisa menghirup aromamu selama minimal 3 detik. Selamat berjuang!]**

Ziva menatap layar ponselnya lama, lalu sedetik kemudian dia mendengus remeh. "Senggolan? Serius? Klasik banget kayak adegan FTV zaman batu!"

Tapi, sedetik kemudian, bayangan wajah ganteng nan dingin milik Arkan melintas di kepalanya. Kata-kata pedas Arkan sore kemarin kembali terngiang: *"Gue gak tertarik sama lo. Mau lo model, mau lo cewek paling populer di kampus, bagi gue lo cuma cewek berisik yang gak tahu sopan santun."*

Ziva mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Lihat aja ya, Arkan. Gue bakal bikin lo tarik semua ucapan kasar lo itu. Dan buat aplikasi ini... oke, mari kita buktiin seberapa ampuh taktik lo!"

***

Dua jam kemudian, Ziva sudah berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Dia sengaja memilih pakaian yang terlihat ka**al tapi tetap modis—sebuah *oversized cardigan* rajut warna krem lembut yang memperlihatkan sedikit bahu kirinya, dipadukan dengan celana jins ketat yang menonjolkan kaki jenjangnya. Rambut cokelat panjangnya sengaja digerai bebas, menyebarkan kesan sant** namun tetap feminin.

Kini tiba bagian paling krusial: parfum.

Ziva membuka laci meja riasnya. Di sana berjejer belasan botol parfum mahal dari berbagai merek terkenal. Jarinya bergerak, lalu berhenti di sebuah botol kaca berbentuk melengkung elegan dengan cairan berwarna keemasan di dalamnya. Itu adalah parfum andalannya untuk acara-acara khusus: *Warm Vanilla Sugar & Amber*. Aromanya sangat manis, hangat, dan memiliki sentuhan sensual yang tidak berlebihan.

*Sret! Sret!*

Ziva menyemprotkan parfum itu di titik-titik nadinya—pergelangan tangan, belakang telinga, ceruk leher, dan sedikit di ujung rambutnya. Seketika, kamarnya dipenuhi oleh aroma manis seperti kue yang baru matang dari oven, dicampur dengan kehangatan madu yang sangat memikat.

"Oke, *perfect*," gumam Ziva sambil mengulas senyum penuh percaya diri di cermin. "Kalau ini gak mempan juga, fiks idung si Arkan mampet."

***

Kampus Fakultas Teknik pagi itu tampak sangat ramai. Mahasiswa berlalu-lalang di sepanjang koridor, beberapa sibuk mengobrol, sementara yang lain berjalan terburu-buru mengejar kelas pagi.

Ziva berjalan dengan langkah sant**, berpura-pura sibuk menatap layar ponselnya, padahal matanya terus bergerak liar mencari keberadaan satu orang. Di sebelahnya, Manda—sahabat karibnya sejak semester satu—terus mengoceh tanpa henti tentang gosip terbaru anak jurusan Akuntansi.

"Sumpah ya, Ziv, lo harus denger ini. Si Riko kemarin ketahuan selingkuh pas lagi tanding basket, terus pacarnya langsung ngelab**k di tengah lapangan! G***, seru banget!" seru Manda heboh.

"Oh ya? Parah banget sih," jawab Ziva seadanya. Fokusnya sama sekali tidak ada di sana.

"Ziv, lo dengerin gue gak sih? Dari tadi mata lo celingukan mulu kayak agen rahasia lagi nyari buronan," protes Manda sambil menyenggol lengan Ziva.

Ziva langsung tersenyum canggung. "Eh, denger kok! Emang parah banget si Riko itu. Tapi bentar ya, Man, gue kebelet ke toilet dulu. Lo duluan aja ke kelas, nanti gue nyusul."

"Yakin? Gak mau gue temenin?"

"Gak usah, Man. Sana gih, ntar lo telat ma**k kelasnya Pak Bambang yang super galak itu," usir Ziva halus.

Setelah Manda berjalan menjauh, Ziva langsung berputar arah menuju koridor utama dekat mading Fakultas Teknik. Tempat itu biasanya menjadi titik kumpul mahasiswa karena mading tersebut berisi info magang dan beasiswa terbaru.

Dan benar saja. Di sana, berdiri seorang cowok jangkung dengan kaus hitam ka**al yang dibalut kemeja flanel kotak-kotak yang tidak dikancingkan. Arkan Mahendra. Cowok itu sedang berdiri tegak di depan mading, memegang beberapa buku tebal dan map dokumen di tangannya. Dia tampak fokus membaca selembar pengumuman yang tertempel di sana, mengabaikan beberapa mahasiswi di sekitarnya yang sesekali mencuri pandang ke arahnya.

Ziva menarik napas dalam-dalam, menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu cepat. *Tenang, Ziva. Ini cuma misi kecil. Lo cuma perlu jalan, senggol dikit, terus biarin parfum lo bekerja.*

Ziva merapikan letak tas selempangnya. Dia mengeluarkan ponselnya lagi, berpura-pura mengetik sesuatu dengan dahi berkerut, seolah-olah dia sedang sangat sibuk dan tidak memperhatikan jalan di depannya.

Langkahnya mulai terarah lurus menuju posisi Arkan berdiri.

*Lima meter...*

*Tiga meter...*

*Dua meter...*

*Tepat sekarang!*

*Bukk!*

Ziva sengaja menab**kkan bahu kirinya ke lengan kanan Arkan dengan tekanan yang c**up kuat, namun tetap terlihat natural seperti orang yang terburu-buru.

"Aduh!" Ziva m****ik pelan.

Efek tab**kan itu membuat map dokumen dan dua buku tebal yang dipegang Arkan langsung terlepas dari tangannya, jatuh berhamburan ke atas lant** ubin koridor yang bersih. Ponsel Ziva sendiri nyaris terjatuh, namun dia berhasil menangkapnya dengan akting yang sangat meyakinkan.

"Eh, ya ampun! Sorry, sorry banget! Gue gak sengaja, sumpah!" kata Ziva dengan nada suara yang dibuat sepanik mungkin. Dia langsung berjongkok untuk memunguti buku-buku yang berserakan.

Arkan menghela napas pendek—helaan napas yang terdengar sangat lelah dan kesal. Cowok itu ikut berjongkok untuk memunguti dokumen-dokumennya yang tersebar.

"Lo lagi, lo lagi," desis Arkan pelan, suaranya terdengar sangat dingin dan datar.

"Sori banget, Arkan. Gue beneran gak sengaja tadi lagi buru-buru bales chat dari dosen," dusta Ziva sambil menyodorkan salah satu buku tebal berjudul *Artificial Intelligence: A Modern Approach* yang baru saja dia ambil.

Saat menyodorkan buku itu, Ziva sengaja memajukan tubuhnya sedikit lebih dekat. Rambut cokelat panjangnya yang wangi terayun lembut, menciptakan embusan angin kecil yang membawa aroma manis vanila hangat langsung ke arah wajah Arkan.

Jarak di antara wajah mereka kini hanya berkisar kurang dari tiga puluh sentimeter.

Gerakan tangan Arkan yang hendak mengambil buku dari tangan Ziva tiba-tiba terhenti di udara.

Ziva menahan napasnya, mengamati ekspresi cowok di depannya dengan saksama.

Aroma manis, hangat, dan sangat feminin dari parfum Ziva langsung menyerbu indra penciuman Arkan. Itu bukan jenis wewangian bunga yang menusuk hidung, melainkan wewangian lembut yang sangat menenangkan, mirip seperti aroma toko kue di hari yang dingin, namun memiliki sentuhan misterius yang memikat.

Untuk sesaat, pupil mata Arkan tampak sedikit melebar. Cowok itu mematung selama beberapa detik. Pandangannya yang semula dingin dan penuh kekesalan, perlahan berubah menjadi agak linglung. Matanya beralih dari buku di tangan Ziva, naik menatap langsung ke dalam manik mata cokelat milik Ziva.

Satu detik...

Dua detik...

Tiga detik...

Keheningan sempat tercipta di antara mereka di tengah bisingnya koridor kampus. Ziva bisa merasakan kehangatan napas Arkan yang menerpa kulit wajahnya. Jantung Ziva berdegup kencang, bukan karena takut misinya gagal, tapi karena tatapan mata Arkan yang begitu tajam seolah-olah sedang menguliti pikirannya.

Namun, sebelum keheningan itu berlangsung lebih lama, Arkan tiba-tiba mengerjapkan matanya. Dia seolah tersadar dari hipnotis singkat yang baru saja dialaminya.

Ekspresi bingung di wajah Arkan langsung berganti dengan kerutan di dahi. Dia dengan cepat menyambar buku dari tangan Ziva, lalu berdiri tegak dengan gerakan kaku.

"Lain kali jalan pakai mata, bukan pakai HP," kata Arkan tajam. Suaranya terdengar sedikit lebih serak dari biasanya, meskipun dia berusaha keras untuk menjaga nadanya tetap datar dan tidak peduli.

Ziva ikut berdiri, menepuk-nepuk lutut celananya yang sedikit kotor karena berjongkok di lant**. Dia memasang wajah super bersalah yang sangat imut. "Iya, maaf ya, Arkan. Gue beneran minta maaf. Sepatu lo gak kotor lagi kan gara-gara gue?"

Arkan tidak menjawab. Dia hanya menatap Ziva sekilas dengan tatapan datar yang sulit diartikan, lalu berbalik dan melangkah pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Langkah kakinya terdengar sedikit lebih cepat dari biasanya, seolah dia sedang berusaha melarikan diri dari sesuatu.

Ziva berdiri diam di koridor, menatap punggung tegap Arkan yang perlahan menghilang di balik belokan koridor menuju ruang lab komputer.

Perlahan, senyum kemenangan terukir di sudut bibir Ziva.

"Dia sempat tertegun. Gue gak salah lihat, dia beneran diem selama tiga detik," bisik Ziva pada dirinya sendiri dengan nada puas.

Ziva buru-buru meraba saku cardigannya dan mengeluarkan ponselnya. Layar ponselnya langsung menyala terang, menampilkan animasi kembang api kecil di atas layar.

*Ting!*

**[Misi 1: Berhasil Selesai!]**

**[Analisis Target: Detak jantung Arkan Mahendra sempat meningkat 15% saat menghirup aroma vanila Anda. Memori sensorik tentang aroma Anda telah sukses tertanam di otaknya. Setiap kali dia mencium wangi vanila mulai hari ini, wajah Anda akan otomatis muncul di kepalanya!]**

**[Skor Kedekatan: +5%]**

**[Misi Berikutnya akan terbuka dalam 24 jam. Bersiaplah untuk serangan kedua, Ziva!]**

Ziva terkekeh pelan sambil mema**kkan kembali ponselnya ke dalam saku. Rasa kesal dan tidak percaya diri yang sempat menderanya semalam kini menguap tak bersisa, digantikan oleh rasa antusias yang meletup-letup di dadanya.

"Ternyata lo gak se-kebal itu ya, Arkan," gumam Ziva sambil mengibaskan rambutnya yang wangi vanila dengan penuh percaya diri. "Baru babak pertama, dan lo udah mulai goyah. Kita lihat seberapa lama lo bisa bertahan jadi kulkas di depan gue."

Dengan langkah ringan dan senyum yang merekah lebar, Ziva berjalan menuju kelasnya, siap untuk menyambut hari-hari berikutnya yang pasti akan jauh lebih menarik.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca