Aplikasi Ini Bisa Bikin Cowok Cuek Jatuh Cinta

Bab 4: Misi 2: Pura-Pura Lemah Lembut

Pengaturan Membaca

*Ting!*

Suara notifikasi yang kini sangat akrab di telinga Ziva terdengar nyaring di tengah hiruk-pikuk kantin fakultas yang ramai. Ziva yang sedang menyedot es teh manisnya hampir tersedak. Dengan gerakan cepat, ia meletakkan gelas plastik itu dan langsung menyambar ponselnya yang tergeletak di atas meja kayu.

Satu pesan baru dari aplikasi *Heart-Hack* terpampang nyata di layarnya.

**[Heart-Hack: Misi 2 Aktif!]**

**[Nama Misi: Damsel in Distress (Pura-Pura Lemah Lembut)]**

**[Fakta Psikologis: Secuek-cueknya cowok, mereka punya yang namanya 'Hero Instinct' alias insting pelindung. Cowok bakal ngerasa harga dirinya naik 100% saat mereka ngerasa dibutuhin sama cewek. Targetmu, Arkan, emang tipe cowok dingin yang kelihatan gak peduli. Tapi secara biologis, dia tetep cowok. Tunjukkan sisi rapuhmu!]**

**[Instruksi Misi: Cari momen di mana kamu kelihatan kesusahan setengah mati, lalu minta bantuan Arkan dengan cara yang manis dan menggemaskan. Jangan pakai gaya galak atau bossy kamu yang biasanya. Ingat: Suara diturunkan satu oktav, tatapan mata memelas, dan tunjukkan kalau kamu bener-bener butuh pertolongan dia sekarang juga. Selamat berjuang!]**

Ziva melongo membaca instruksi itu. Ia refleks memijit pelipisnya yang mendadak terasa pening.

"Damsel in distress? Pura-pura lemah lembut?" gumam Ziva pelan, hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja dibacanya. "Helehhh, yang bener aja! Gue ini cewek mandiri yang biasa angkat galon aqua sendiri ke lant** dua kosan tanpa bantuan bapak kos! Sekarang gue harus akting jadi cewek letoy yang butuh diselametin?"

Tapi, ingatan tentang kesuksesan Misi 1 kemarin langsung melintas di benaknya. Aroma vanila yang sempat membuat Arkan membeku selama beberapa detik kemarin adalah bukti nyata kalau aplikasi aneh ini tidak sepenuhnya membual. Strategi mereka, meski terdengar klise, ternyata bekerja pada cowok sebeku Arkan.

Ziva mengembuskan napas panjang. "Oke. Demi bikin si kulkas dua belas pintu itu berlutut, gue bakal lakuin. Anggap aja ini latihan akting buat ma**k klub teater kampus."

***

Kesempatan itu datang lebih cepat dari yang Ziva bayangkan.

Sore harinya, aula serbaguna kampus tampak sangat sibuk. H-3 menjelang acara Dies Natalis Fakultas Ekonomi dan Bisnis membuat semua panitia bekerja ekstra keras. Ziva, yang ma**k dalam divisi dekorasi, sibuk mondar-mandir memastikan semua bahan hiasan sudah siap.

Di ujung aula, Ziva melihat sosok yang dicarinya sejak tadi. Arkan Mahendra.

Cowok itu sedang berdiri di dekat tangga lipat besi, membantu anak-anak divisi perlengkapan merapikan kabel-kabel proyektor dan menata barisan kursi. Sore ini Arkan hanya mengenakan kaus polos berwarna hitam dengan lengan yang digulung sedikit ke atas, memperlihatkan urat-urat tangan yang menonjol tegas di kulitnya yang bersih. Rambut hitamnya agak berantakan terkena keringat tipis di dahinya, tapi justru hal itu malah membuat tingkat ketampanannya naik berkali-kali lipat.

*Ganteng banget, si****,* batin Ziva, menahan napas sejenak demi menormalkan detak jantungnya yang mendadak berantakan.

Ziva segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat. *Fokus, Ziva! Jangan salting duluan sebelum perang dimulai.*

Ziva langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling aula, mencari "senjata" yang pas untuk melancarkan misinya. Matanya kemudian tertambat pada sebuah kardus besar di pojok ruangan. Di dalamnya berisi tumpukan kertas karton tebal, tumpukan buku panduan acara yang tebal, beberapa gulung spanduk, tirai beludru merah yang c**up berat, serta perlengkapan dekorasi lainnya.

"Nah, ini dia," gumam Ziva dengan senyum licik yang terukir di sudut bibirnya.

Ziva mendekati kardus itu. Ia sempat mencoba mengangkatnya sedikit untuk mengukur beratnya. *A****, ini mah emang beneran berat! Gak perlu akting juga muka gue bakal auto-menderita,* keluhnya dalam hati.

Tapi ini justru sempurna.

Sebelum mengangkat kardus itu, Ziva sengaja merapikan penampilannya. Ia melonggarkan kuncir rambut kudanya, membiarkan beberapa helai rambut membingkai wajahnya dengan kesan berantakan yang estetis. Ia juga sengaja menarik sedikit kerah kaus *oversized* yang dipakainya agar memperlihatkan tulang selangkangnya yang proporsional.

Setelah memastikan semuanya tampak "sempurna untuk dikasihani", Ziva mengambil napas dalam-dalam.

*Action!*

Ziva membungkuk, lalu mengangkat kardus besar itu dengan kedua tangannya. Otot-otot lengannya langsung menegang. Ia sengaja membuat langkah kakinya goyah dan tidak stabil saat berjalan melewati area tempat Arkan sedang bekerja.

"Aduh..." Ziva mendesah pelan, mengerucutkan bibirnya sambil memasang ekspresi paling menderita sedunia. "Berat banget sih ini... kok gak ada yang bantuin gue..."

Jaraknya dengan Arkan kini hanya tinggal beberapa meter lagi. Ziva sengaja memperlambat langkahnya tepat di depan cowok itu. Kakinya sengaja diseret, seolah-olah ia bisa ambruk kapan saja di bawah beban kardus tebal tersebut.

"Uh... dikit lagi... aduh..." Ziva terus bergumam dengan suara yang sengaja diperlembut, terdengar seperti anak kucing yang kehilangan induknya.

Arkan yang awalnya sedang fokus mengikat kabel, mendengar suara berisik itu. Ia menolehkan kepalanya perlahan.

Ziva menyadari kalau Arkan sedang menatapnya. Ini saatnya!

Tepat saat langkah mereka sejajar, Ziva berpura-pura kehilangan keseimbangan. Kakinya sengaja tersandung angin, membuat kardus di pelukannya miring berbahaya. Beberapa gulungan kertas karton di bagian atas kardus bahkan sengaja ia jatuhkan ke lant** untuk menambah efek dramatis.

"Eh! Copot, copot!" Ziva m****ik kecil dengan nada suara yang sengaja ditinggikan satu oktav agar terdengar imut. Ia langsung berjongkok di lant** dengan cepat, memegangi lututnya seolah-olah ia baru saja terluka parah.

Ziva menengadah, menatap langsung ke arah mata tajam milik Arkan yang kini sedang berdiri tepat di hadapannya sambil bersedekap dada. Ziva memasang *puppy-dog eyes* andalannyaβ€”mata yang melebar, sedikit berkaca-kaca, dengan bibir bawah yang sedikit dimajukan.

"Arkan..." panggil Ziva dengan suara yang sangat lembut, hampir berbisik. "Aduh... maaf banget. Aku... aku gak kuat bawa kardus ini sendirian. Tangan aku rasanya lemes banget dari tadi pagi."

Arkan tidak langsung merespons. Cowok itu hanya menatap Ziva datar dari atas ke bawah. Tatapannya begitu dingin, seolah-olah sedang mengobservasi seekor makhluk asing yang mendarat di depannya. Sunyi merayap di antara mereka selama beberapa detik yang terasa seperti satu abad bagi Ziva.

*Duh, kok dia diem aja sih? Apa akting gue kurang meyakinkan? Masa gue harus nangis darah dulu di sini baru dia mau bantuin?* Ziva mulai panik di dalam hatinya.

Ziva kembali mencoba peruntungannya. Ia mengelus lengannya sendiri dengan wajah meringis kecil. "Sumpah, ini berat banget... Aku bingung harus bawa ini ke panggung sana gimana caranya. Boleh... boleh minta tolong gak?" pinta Ziva dengan nada suara paling manis yang pernah ia keluarkan seumur hidupnya.

Arkan mengembuskan napas panjang. Ia menghela napas dengan sangat lambat, terdengar sangat malas sekaligus pasrah. Cowok itu memijit pangkal hidungnya sejenak, lalu melangkah mendekati Ziva.

Ziva menahan napasnya.

Arkan membungkuk di depan Ziva. Alih-alih membantu Ziva berdiri terlebih dahulu seperti adegan-adegan romantis di drama Korea, Arkan justru langsung meraih kedua sisi kardus besar itu. Dengan gerakan yang sangat sant** dan sekali tarikan napas saja, Arkan merebut kardus itu dari dekapan Ziva. Otot lengannya yang kokoh terlihat mengeras saat ia mengangkat kardus berat itu seolah-olah kardus itu hanya berisi tumpukan kapas kosong.

Ziva mendongak, terpana melihat betapa mudahnya Arkan mengangkat beban yang hampir membuat pinggangnya patah tadi.

Arkan berdiri tegak kembali dengan kardus di tangannya. Ia menatap Ziva yang masih terduduk di lant** dengan tatapan malasnya yang khas.

"Gak usah sok kuat kalau emang gak bisa," ucap Arkan pendek. Suaranya terdengar berat, dingin, tapi entah kenapa terdengar sangat s**** di telinga Ziva.

Ziva mengerjapkan matanya beberapa kali, berpura-pura terkejut sekaligus sangat berterima kasih. Ia segera bangkit berdiri dan menepuk-nepuk celananya yang sedikit berdebu.

"Eh? Arkan... kamu beneran mau bantuin aku?" tanya Ziva dengan nada yang dibuat seceria mungkin, lengkap dengan binar mata yang bersemangat.

Arkan tidak menjawab pertanyaan retoris itu. Ia malah membalikkan badannya membelakangi Ziva. "Mau ditaruh di mana?" tanyanya datar tanpa menoleh sedikit pun.

"Di dekat panggung utama! Yang ada meja dekorasi di sebelah kiri," jawab Ziva cepat sambil setengah berlari kecil menyusul langkah lebar Arkan.

Saat berjalan di belakang punggung lebar Arkan, Ziva tidak bisa menahan dirinya lagi. Senyum kemenangan yang sangat lebar langsung merekah di wajah cantiknya. Ia mengepalkan kedua tangannya ke udara dalam gerakan seleb**si tanpa suara.

*YES! BERHASIL! A****, INI APLIKASI EMANG BENERAN SAKTI MANDRAGUNA!* teriak Ziva histeris di dalam kepalanya.

Ziva memperhatikan punggung tegap Arkan yang berjalan mantap di depannya membawakan barang bawaannya. Meskipun cowok itu terlihat sangat terpaksa dan tidak ramah sama sekali, tapi fakta bahwa dia mau merebut kardus itu dan membantunya adalah sebuah kemajuan yang luar biasa pesat.

"Arkan, makasih banyak yaaa," ujar Ziva dengan suara yang riang saat mereka sampai di dekat panggung. "Kalau gak ada kamu, mungkin aku udah pingsan di jalan tadi karena keberatan."

Arkan meletakkan kardus besar itu di atas meja dekorasi dengan bunyi debuman pelan. Ia kemudian berdiri tegak, merapikan kembali kausnya yang sedikit kusut, lalu menatap Ziva datar.

"Lain kali, kalau gak kuat, panggil anak perlengkapan cowok yang lain. Jangan maksain diri sendiri terus bikin susah orang lain di jalan," ucap Arkan dingin, pedas, namun ada nada protektif terselubung di dalamnya yang membuat jantung Ziva kembali berdegub kencang.

Sebelum Ziva sempat membalas ucapannya dengan kalimat manis lainnya, Arkan sudah berbalik dan berjalan pergi begitu saja, mema**kkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dengan gaya super cuek.

Ziva berdiri diam di tempatnya, menatap punggung Arkan yang semakin menjauh dengan senyum simpul yang tidak bisa hilang dari wajahnya. Ia segera merogoh kantong celananya dan mengeluarkan ponselnya.

Benar saja, sebuah notifikasi pop-up baru muncul dengan kembang api digital yang meriah di layarnya.

**[MISI 2: BERHASIL!]**

**[Selamat, Ziva Adhisti! Kamu berhasil memicu 'Hero Instinct' Arkan Mahendra. Tingkat ketertarikan target meningkat 15%! Pertahankan performamu. Bersiaplah untuk Misi 3 yang akan jauh lebih menantang!]**

Ziva memeluk ponselnya erat-erat ke dadanya sambil terkikik geli sendiri seperti orang g*** di pojokan aula.

"Arkan, Arkan... lo pikir lo bisa terus-terusan jadi kulkas?" gumam Ziva dengan mata berbinar penuh tekad. "Bentar lagi, gue pastiin salju di dalam hati lo itu bakal mencair total gara-gara gue!"

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca