Aplikasi Ini Bisa Bikin Cowok Cuek Jatuh Cinta

Bab 5: Mulai Ma**k Radar Si Jenius

Pengaturan Membaca

Bab 5: Mulai Ma**k Radar Si Jenius

Pagi itu, koridor lant** tiga Gedung C Fakultas Ekonomi dan Bisnis masih tergolong sepi. Ziva berjalan dengan langkah setengah diseret, sesekali menguap lebar tanpa berniat menutup mulutnya. Efek begadang menyelesaikan laporan praktikum semalam benar-benar membuat jiwanya serasa tertinggal di ka**r.

Namun, rasa kantuknya langsung menguap begitu ponsel di saku celana jinsnya bergetar heboh.

*Ting!*

Sebuah notifikasi dengan logo hati berwarna merah muda neon muncul di layar kunci. Ziva buru-buru menggeser layar, membuka aplikasi *Heart-Hack* yang akhir-akhir ini sukses menjungkirbalikkan hidupnya yang tenang.

**[Heart-Hack: Misi 2 Berhasil!]**

**[Selamat! Akting 'Damsel in Distress' kamu di aula kemarin sukses memicu insting pelindung target. Arkan Mahendra terbukti tidak sebeku yang kamu kira!]**

**[Tingkat ketertarikan Arkan Mahendra naik: +15%]**

**[Total Ketertarikan: 25%]**

**[Analisis Sistem: Selamat, Ziva! Kamu resmi ma**k ke dalam radar memori jangka pendek Arkan. Dia mulai menyadari keberadaanmu sebagai 'gadis beraroma vanila yang merepotkan'. Jangan biarkan radar ini meredup!]**

Ziva hampir saja m****ik kesenangan di koridor sepi itu. "Yes! Dua puluh lima persen!" bisiknya girang sambil mengepalkan tangan ke udara. "Ternyata taktik pura-pura keberatan bawa kardus spanduk kemarin manjur juga. Emang dasar cowok, mau sejenius apa pun, kalau dikasih liat muka memelas cewek langsung luluh juga."

Ziva tersenyum lebar. Keberhasilan ini membuatnya semakin termotivasi untuk menaklukkan "kulkas dua belas pintu" kesayangan jurusan Akuntansi itu.

***

Sementara itu, di sudut lain perpustakaan pusat, Arkan Mahendra sedang menatap layar iPad-nya dengan kening berkerut. Bukan karena jurnal ilmiah tentang *behavioral economics* yang sedang dibacanya sulit dipahamiβ€”hal seperti itu sangat mudah bagi otak jeniusnya.

Arkan sedang terganggu oleh pikirannya sendiri.

Sudah tiga hari ini, fokusnya sering kali terdistraksi oleh satu hal yang sama. Lebih tepatnya, oleh satu orang yang sama.

*Ziva.*

Arkan mengingat nama gadis itu setelah tidak sengaja mendengar teman-teman divisinya memanggil namanya saat persiapan Dies Natalis kemarin. Gadis itu... aneh. Sangat aneh.

Pertama, insiden parfum vanila di koridor yang sukses membuat hidung sensitif Arkan gatal selama seharian, tapi anehnya wangi manis itu malah menempel di ingatannya. Kedua, kemarin sore di aula. Gadis itu tiba-tiba saja muncul di dekatnya, mencoba menurunkan gulungan spanduk besar sendirian dengan tubuh mungilnya yang bahkan tidak sampai ke ujung bawah tangga lipat.

Arkan masih ingat bagaimana Ziva menatapnya kemarin. Matanya yang bulat berkedip lambat, bibirnya sedikit mengerucut, dan suaranya mendadak berubah menjadi sangat lembutβ€”hampir terdengar seperti anak kucing yang meminta makanβ€”saat meminta bantuan Arkan untuk memegangi tangga.

Arkan yang biasanya acuh tak acuh pada sekitar, entah kenapa malah mengulurkan tangan untuk membantu. Dan setelah spanduk itu terpasang, Ziva tersenyum sangat lebar hingga matanya menyipit, meninggalkan Arkan yang mematung dengan perasaan aneh yang menggelitik di dadanya.

"Dia sengaja, atau emang dasarnya ceroboh sih?" gumam Arkan pelan, menutup iPad-nya dengan helaan napas berat. Cowok itu memijit pangkal hidungnya. Kehadiran Ziva yang tiba-tiba sering muncul di sekitarnya mulai terasa seperti anomali dalam sistem hidupnya yang teratur. Dan bagi seorang Arkan, anomali adalah sesuatu yang harus segera diselidiki... atau dihindari.

***

Siang harinya, Auditorium Mini lant** dua dipadati oleh mahasiswa dari dua jurusan berbeda. Hari ini adalah jadwal kelas gabungan untuk mata kuliah Pengantar Bisnis Internasional. Suasana kelas sangat bising karena kapasitas ruangan yang hampir penuh.

Ziva berdiri di ambang pintu, matanya bergerak lincah menyapu barisan kursi tribun yang melandai ke bawah. Ia mencari satu sosok yang sangat familier.

*Nah, dapet!* batin Ziva girang.

Arkan duduk di barisan ketiga dari belakang, dekat jendela besar yang menghadap langsung ke arah taman fakultas. Seperti biasa, cowok itu tampak menyendiri, sibuk dengan dunianya sendiri sambil mendengarkan sesuatu lewat *earphone* kabel putih yang menyumpal telinganya. Kursi di sebelah kiri dan kanannya sengaja dikosongkan oleh mahasiswa lain. Maklum, aura dingin Arkan yang terkesan 'jangan-ganggu-gue' sering kali membuat orang-orang segan untuk duduk terlalu dekat.

Tapi bagi Ziva, itu adalah tempat parkir VIP gratis yang harus segera ia tempati.

Dengan langkah ka**al namun penuh determinasi, Ziva berjalan melewati barisan kursi dan langsung menyelusup ma**k ke baris tempat Arkan duduk. Tanpa permisi, ia meletakkan tas ransel kanvasnya di kursi kosong tepat di sebelah kanan Arkan.

*Sret.*

Suara gesekan tas itu membuat Arkan menoleh. Kedua mata elangnya menyipit begitu mendapati siapa yang kini sedang tersenyum manis ke arahnya.

"Hai, Arkan! Gabung kelas ya? Boleh duduk di sini, kan?" tanya Ziva dengan nada suara yang sengaja dibuat ceria dan seramah mungkin.

Arkan tidak menjawab. Ia hanya menatap Ziva datar selama tiga detik, lalu perlahan melepas sebelah *earphone*-nya. "Terserah," jawabnya singkat, padat, dan sangat dingin. Setelah itu, ia kembali memalingkan wajah ke arah jendela.

Ziva tidak ambil pusing dengan respons super hemat kata itu. Ia justru tersenyum kemenangan dalam hati. *Satu poin buat gue karena berhasil duduk di samping sang target,* batinnya bangga.

Tak lama kemudian, dosen pengampu ma**k. Pak Bambang, dosen killer paruh baya yang terkenal gemar menunjuk mahasiswa secara random, langsung memulai kelas dengan memproyeksikan salindia materi yang sangat padat ke layar putih di depan kelas.

"Catat poin-poin penting yang tidak ada di salindia. Ini akan keluar di kuis minggu depan," ujar Pak Bambang dengan suara tegas yang langsung membuat seisi kelas tegang.

Ziva buru-buru membuka buku catatan pastelnya. Ia merogoh tasnya untuk mengambil alat tulis. Namun, begitu tangannya meraba-raba ke dalam tas, ia tersadar kalau ia lupa membawa kotak pensilnya yang biasa. Di dalam tasnya hanya ada satu pulpen yang terselip di kantong depan.

Pulpen itu adalah pulpen karakter berbentuk wortel raksasa dengan hiasan kelinci merah muda yang bisa bergoyang di ujung atasnya. Sebuah pulpen murah meriah yang ia beli di toko aksesori depan kosan karena bentuknya yang lucu.

Ziva menghela napas. "Ya sudahlah, yang penting bisa buat nulis," gumamnya pelan.

Ziva mulai menekan tombol pulpen itu.

*Klek.*

Ujung pulpennya tidak keluar. Ziva mencoba menekannya lagi dengan lebih keras.

*Klek! Klek!*

Tetap tidak keluar. Tintanya sepertinya macet di dalam. Ziva mulai panik karena Pak Bambang sudah mulai menjelaskan poin-poin krusial dengan sangat cepat. Gadis itu mulai melakukan ritual klasik mahasiswa saat pulpennya macet: mengocok-ngocok pulpen itu dengan brutal.

*Wusss! Wusss! Wusss!*

Kelinci merah muda di ujung pulpen wortel itu bergoyang-goyang dengan sangat heboh, menciptakan gerakan absurd yang sangat mencolok di sebelah Arkan.

Arkan yang sedang fokus mencatat di iPad-nya menggunakan *stylus pen* mulai melirik dari sudut matanya. Ia melihat bagaimana Ziva dengan wajah frustrasi sedang mengocok pulpen mainan itu seolah sedang mengocok susu kocok.

Gagal dengan cara dikocok, Ziva beralih ke cara kedua. Ia mencoret-coret kertas kosong di bukunya dengan penuh tenaga untuk memancing tinta keluar.

*Sret! Sret! Sret! Sret!*

Suara gesekan kertas yang kasar itu mulai terdengar berisik di tengah heningnya penjelasan Pak Bambang. Belum menyerah, Ziva kemudian mendekatkan ujung pulpen itu ke mulutnya dan mulai meniup-niupnya dengan pipi menggembung penuh udara.

*Hufff... hufff...*

Napas hangat Ziva terdengar samar. Setelah ditiup, ia kembali menekan tombol pulpen itu berkali-kali.

*Klek! Klek! Klek! Klek!*

"Aduh, ayolah... jangan macet sekarang," bisik Ziva frustrasi, tidak menyadari kalau seluruh rangkaian tingkah absurdnya sejak tadi telah terekam jelas di indra penglihatan Arkan.

Arkan memejamkan matanya sejenak. Rahangnya mengeras. Konsentrasinya benar-benar buyar akibat suara gesekan, tiupan, dan bunyi *klek-klek* konstan dari pulpen wortel konyol di sebelahnya. Gadis ini benar-benar definisi dari kata 'perusak ketenangan'.

Dengan helaan napas panjang yang terdengar sangat berat, Arkan akhirnya tidak tahan lagi.

Tanpa mengalihkan pandangannya dari papan tulis di depan, tangan kiri Arkan bergerak membuka ritsleting tempat pensil hitam polosnya yang sangat minimalis. Dari dalam sana, jemari panjangnya mengambil sebuah pulpen gel hitam merek Jepang yang terkenal sangat lancar dan mahal.

*Sret.*

Dengan satu gerakan mulus dan tegas, Arkan menggeser pulpen hitam elegan itu ke atas buku catatan Ziva, tepat di atas coretan-coretan abstrak hasil frustrasi gadis itu.

Ziva seketika menghentikan aksinya meniup pulpen wortel. Ia mengerjap, menatap pulpen hitam mahal yang tiba-tiba mendarat di bukunya, lalu perlahan menoleh ke samping kanan.

Arkan masih menatap lurus ke depan, menopang dagunya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya memegang *stylus*. Profil samping wajah cowok itu terlihat sangat sempurna dengan hidung mancung dan garis rahang yang tegas.

"Berisik," gumam Arkan sangat pelan, hampir seperti bisikan. Suara bass-nya yang berat terdengar sangat s**** di telinga Ziva, meskipun kata yang diucapkannya bernada ketus.

Ziva terpaku. Jantungnya tiba-tiba melakukan lompatan ekstrem.

*Dug! Dug! Dug!*

Rasanya seperti ada kembang api yang meledak di dalam dadanya. Sentuhan dingin dari pulpen yang baru saja digeser Arkan seolah menghantarkan aliran listrik kecil yang membuat bulu kuduknya meremang. Ziva menatap pulpen itu, lalu kembali menatap Arkan yang pura-pura sibuk mencatat, padahal Ziva bisa melihat dengan sangat jelas kalau ujung telinga Arkan perlahan-lahan berubah warna menjadi kemerahan.

*Dia... salting?* batin Ziva dengan mata membelalak tak percaya. Si jenius berhati es ini baru saja meminjamkannya pulpen dengan cara yang sangat... romantis ala drama Korea?

Ziva menahan senyumnya yang hampir meluap. Ia mengambil pulpen hitam pemberian Arkan dengan perlahan, merasakan sisa kehangatan tangan Arkan yang masih tertinggal di permukaan pulpen tersebut.

"Makasih ya, Arkan," bisik Ziva dengan suara yang sangat lembut, kali ini benar-benar tulus tanpa perlu akting dari aplikasi.

Arkan tidak membalas ucapan itu. Ia hanya mendeham sangat pelan, hampir tidak terdengar, dan semakin memalingkan wajahnya sedikit ke arah yang berlawanan dari Ziva. Namun, gerakan tangannya yang menulis di iPad terlihat sedikit tidak seimbang dari biasanya.

Di bawah meja, ponsel Ziva kembali bergetar pelan. Dengan gerakan sembunyi-sembunyi, Ziva melirik layar ponsel yang menyala di pangkuannya.

**[Heart-Hack: Bonus Poin!]**

**[Target merasa gemas sekaligus terganggu oleh tingkah absurdmu. Tingkat ketertarikan naik lagi: +5%]**

**[Total Ketertarikan: 30%]**

**[Catatan Sistem: Kerja bagus! Dia tidak hanya menyadari kehadiranmu sekarang, tapi dia juga mulai peduli dengan apa yang kamu lakukan. Terus buat dia gemas!]**

Ziva menggigit bibir bawahnya, menahan tawa dan rasa baper yang meletup-letup di dadanya. Ia mulai menulis materi kuliah menggunakan pulpen hitam milik Arkan. Tintanya mengalir sangat mulus di atas kertas, sehalus perasaan manis yang mulai tumbuh di sudut hati Ziva siang itu.

Sambil menulis, Ziva melirik tipis ke arah cowok di sebelahnya. *Kulkas dua belas pintu ini... ternyata punya sisi hangat yang bikin candu,* batin Ziva dengan senyum yang tidak bisa hilang dari wajahnya.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca