Bab 6: Misi 3: Tatapan Mata 5 Detik di Perpustakaan
Ziva baru saja melangkah keluar dari kelas Pengantar Akuntansi dengan kepala yang terasa hampir pecah. Rumus-rumus debit-kredit rasanya masih berputar-putar di dalam kepalanya bagaikan gangsing. Namun, rasa pening itu mendadak hilang tanpa bekas begitu ponsel di saku kardigan rajutnya bergetar panjang.
Satu getaran khusus yang sangat ia kenal akhir-akhir ini.
Ziva buru-buru menepi ke dekat jendela koridor yang agak sepi, lalu merogoh ponselnya. Benar saja, logo hati berwarna merah muda neon menyala terang di layarnya.
*Ting!*
**[Heart-Hack: Misi Baru Telah Terbuka!]**
**[Misi 3: Tatapan Mata 5 Detik]**
*Deskripsi Misi: Kontak mata adalah jembatan paling intim sebelum kata-kata diucapkan. Cari target di area yang tenang dan minim distraksi. Lakukan kontak mata secara intens selama minimal 5 detik tanpa terputus. Ingat, jangan berkedip atau memalingkan wajah sebelum hitungan mundur selesai!*
**[Tingkat Kesulitan: Sedang]**
**[Hadiah Misi: +15% Tingkat Ketertarikan & Membuka Fitur 'Analisis Detak Jantung Target']**
Ziva langsung menelan ludah. "Lima detik? Menatap si kulkas dua belas pintu selama lima detik?!" bisiknya histeris, nyaris membuat beberapa mahasiswa yang lewat menoleh heran ke arahnya.
Ziva cepat-cepat menutup mulutnya dengan telapak tangan. Menatap Arkan selama satu detik saja saat tidak sengaja berpapasan sudah c**up membuat jantungnya mau copot, apalagi lima detik penuh di tempat sepi? Dan yang paling parah, dia tidak boleh memalingkan wajah! Ini bukan lagi misi PDKT, ini sudah seperti uji nyali tingkat tinggi.
Tapi, begitu melihat imbalan kenaikan persenan dan fitur baru yang menggiurkan, jiwa kompetitif Ziva langsung meronta-ronta.
"Oke, Ziva. Demi mencairkan es batu berjalan itu, lo pasti bisa. Lagian, cuma lima detik. Satu, dua, tiga, empat, lima. Gampang!" gumamnya menyemangati diri sendiri, meski tangannya sedikit gemetar saat mengetik tombol *Accept* di layar aplikasi.
Langkah pertama: mencari keberadaan target.
Berkat info dari salah satu temannya yang sesama panitia Dies Natalis, Ziva tahu kalau hari ini Arkan tidak ada kelas siang. Dan menurut kebiasaan cowok super genius itu, jika tidak ada kelas, tempat persembunyian terbaiknya adalah perpustakaan pusat lant** tigaβarea referensi yang biasanya sepi pengunjung karena hanya berisi buku-buku tebal nan membosankan.
Dengan langkah mantap yang dipaksakan, Ziva berjalan menuju gedung perpustakaan pusat.
Begitu mendorong pintu kaca besar perpustakaan, embusan angin AC yang dingin langsung menyambut kulitnya. Suasana di dalam sangat tenang, hanya terdengar sayup-sayup ketukan jemari pada kibor laptop dan gemerisik lembaran kertas dibalik. Ziva berjalan mengendap-endap naik ke lant** tiga, melewati rak-rak buku kayu berukuran raksasa yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit.
Bau kertas tua dan aroma kayu khas perpustakaan menenangkan sarafnya yang tegang. Ziva mengedarkan pandangan, menyusuri deretan meja panjang di sudut ruangan.
Ketemu.
Arkan sedang duduk di sana, di dekat jendela besar yang memperlihatkan pemandangan taman kampus di bawahnya. Sore itu, sinar matahari yang mulai menguning menerobos ma**k melalui celah tirai, jatuh tepat di separuh wajah cowok itu, memberikan siluet yang luar biasa estetik bagaikan adegan di drama Korea.
Arkan mengenakan kaus hitam polos dengan lengan yang digulung hingga siku, menampilkan lengan bawahnya yang kokoh dengan urat-urat yang samar terlihat saat tangannya bergerak di atas kibor laptop. Di telinganya terpasang sepasang *airpods* putih. Matanya yang tajam di balik kacamata berbingkai tipis tampak sangat fokus menatap baris-baris kode pemrograman di layar laptopnya.
"Ganteng banget, sih, herannya. Tapi sayang, juteknya minta ampun," batin Ziva, mendadak merasa minder.
Ziva menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, lalu meyakinkan dirinya sendiri. Dia merapikan rambut panjangnya yang sengaja digerai, memastikan wangi parfum vanilanya masih tercium lembut, lalu melangkah mendekati meja Arkan.
Dengan gerakan sehalus mungkin agar tidak menimbulkan suara berisik, Ziva menarik kursi kayu tepat di hadapan Arkan, hanya terhalang oleh meja lebar yang memisahkan mereka.
Arkan sama sekali tidak bergeming. Dia masih sangat fokus pada laptopnya, jemarinya menari dengan ritme cepat di atas kibor.
Ziva meletakkan buku catatan dan sebuah pulpen di atas meja sebagai formalitas agar tidak terlihat terlalu mencurigakan. Setelah itu, dia menopang dagunya dengan kedua tangan, memposisikan dirinya sedemikian rupa agar wajahnya sejajar dengan Arkan jika cowok itu mendongak nanti.
Sekarang, yang perlu dia lakukan adalah membuat Arkan menatapnya.
Ziva sengaja mengetuk-ngetukan ujung pulpennya ke meja. *Tok... tok... tok...*
Tidak ada respons. Arkan masih asyik dengan dunianya sendiri.
Ziva menghela napas. Dia lalu berdeham sedikit keras. "Ehem."
Masih tidak ada reaksi. *Airpods* itu sepertinya benar-benar menyaring seluruh suara dari dunia luar.
Ziva mulai sedikit kesal. Dia akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk pelan ujung laptop Arkan dengan jarinya.
*Ketuk.*
Gerakan jari-jari Arkan di atas kibor langsung terhenti. Detik itu juga, jantung Ziva rasanya seperti melompat dari tempatnya.
Arkan perlahan melepaskan sebelah *airpods*-nya, lalu mendongakkan kepala. Matanya yang gelap dan tajam langsung tertuju tepat pada bola mata Ziva.
*Ting!*
Sebuah getaran halus terasa di pergelangan tangan Ziva yang memakai *smartwatch*. Aplikasi *Heart-Hack* otomatis mendeteksi kontak mata dan memulai hitungan mundur di layarnya.
*5...*
Pada detik pertama, Ziva merasa seluruh pasokan oksigen di sekitarnya mendadak menguap. Tatapan Arkan yang biasanya dingin dan acuh tak acuh, kini terasa begitu menusuk, seolah-olah cowok itu sedang membaca seluruh isi pikiran konyolnya. Ziva bersumpah, mata cowok itu sangat indah, tapi juga sangat mengintimidasi.
*4...*
Di detik kedua, Arkan tidak mengalihkan pandangannya sama sekali. Kening cowok itu sedikit berkerut, seolah sedang menganalisis mengapa gadis beraroma vanila yang beberapa hari lalu merepotkannya ini tiba-tiba duduk di depannya dan menatapnya tanpa berkedip. Jarak mereka yang hanya terpisah meja lebar membuat Ziva bisa melihat pantulan dirinya sendiri di manik mata hitam Arkan.
*3...*
Detik ketiga, ketegangan di antara mereka semakin menjadi-jadi. Suasana perpustakaan yang sepi membuat keheningan ini terasa begitu pekat dan intim. Ziva bisa merasakan darahnya berdesir hebat. Dadanya bergemuruh kencang, sampai-sampai dia takut Arkan bisa mendengar detak jantungnya yang berdentum seperti drum konser.
Alih-alih memalingkan muka seperti biasanya saat merasa risi, Arkan justru menatap Ziva lebih dalam. Tatapannya berubah, tidak lagi sedingin es, melainkan ada kilatan rasa ingin tahu yang intens di sana. Ujung bibir Arkan sedikit berkedut, hampir membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat samar, membuat pertahanan Ziva runtuh seketika.
*2...*
Detik keempat adalah siksaan terbesar bagi Ziva. Pipinya mulai terasa sangat panas, dan dia yakin wajahnya kini sudah semerah tomat matang. Matanya terasa perih karena menahan diri untuk tidak berkedip, tapi dia tidak boleh kalah sekarang. Dia harus bertahan satu detik lagi! Ziva meremas ujung kardigannya erat-erat di bawah meja untuk menyalurkan rasa gugupnya yang luar biasa.
*1...*
Detik kelima. Tepat ketika angka satu berubah menjadi nol, sebuah getaran lembut kembali terasa di pergelangan tangan Ziva, menandakan misi telah selesai dengan sukses.
Namun, alih-alih langsung memalingkan wajah untuk menyelamatkan harga dirinya yang sudah di ujung tanduk, Ziva justru terpaku selama satu detik tambahan. Dia benar-benar terhipnotis oleh tatapan Arkan yang begitu mengunci pergerakannya.
Arkan akhirnya memecah keheningan terlebih dahulu. Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, melipat kedua tangannya di depan dada, lalu menatap Ziva dengan sebelah alis yang terangkat.
"Ngapain?" tanya Arkan. Suaranya yang berat dan sedikit serak khas orang yang seharian tidak berbicara terdengar sangat jelas di telinga Ziva.
Ziva langsung gelagapan. Dia buru-buru menegakkan tubuhnya, memutuskan kontak mata yang hampir membuatnya mati berdiri itu, lalu memandang ke sembarang arah asal tidak ke arah Arkan.
"Hah? Oh... itu... enggak ada apa-apa," jawab Ziva dengan suara yang sedikit melengking karena gugup. Dia merutuki suaranya sendiri yang terdengar sangat tidak meyakinkan.
"Ngapain lo ngeliatin gue kayak gitu?" tanya Arkan lagi. Nada suaranya datar, tapi ada sedikit nada geli yang terselip di sana. "Hampir setengah menit lo nggak kedip. Mau ngajak tanding adu mata?"
"Eng-enggak! Siapa juga yang ngajak adu mata," elak Ziva cepat-cepat. Dia berpura-pura sibuk membuka buku catatannya yang sebenarnya masih kosong melompong. "Gue... gue cuma lagi mikir rumus akuntansi tadi. Kebetulan aja pandangan gue lurus ke depan, terus ada muka lo di situ. Jadi... ya, kebetulan aja!"
Arkan mengamati wajah Ziva yang merah padam dengan tatapan menyelidik. Dia kemudian melirik ke sekeliling perpustakaan lant** tiga yang sangat sepi. Hanya ada mereka berdua di sudut itu.
"Kebetulan?" Arkan mengulang kata itu dengan nada sangsi. "Meja di perpustakaan ini ada puluhan yang kosong. Kenapa lo harus duduk tepat di depan gue kalau cuma mau mikirin rumus?"
Skakmat. Ziva langsung kehilangan kata-kata. Otaknya yang biasanya cepat mencari alasan mendadak mogok bekerja jika dihadapkan dengan tatapan tajam Arkan.
"Itu... karena di sini AC-nya paling pas! Iya, di sudut sana terlalu dingin, kalau di sana terlalu dekat sama tangga, berisik. Di sini yang paling oke buat belajar," jawab Ziva asal-asalan, sambil membolak-balik halaman buku catatannya dengan gerakan acak agar terlihat sibuk.
Arkan tidak langsung menyahut. Dia hanya menatap gadis di depannya itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Sudut bibirnya kembali tertarik membentuk senyum tipisβkali ini lebih jelas terlihat dibanding sebelumnya.
"Oh, ya?" gumam Arkan pelan. "Gue kira lo mau minta bantuan buat megangin tangga lagi."
Mendengar sindiran halus itu, wajah Ziva semakin terasa terbakar. Dia tahu Arkan sedang menyindir kejadian di aula kemarin. Ternyata cowok kulkas ini bisa bercanda juga, meskipun jenis candaannya agak menyebalkan.
"Ih, apa sih! Yang kemarin itu kan darurat," gerutu Ziva pelan, mengerucutkan bibirnya tanpa sadar.
Arkan tidak membalas lagi. Dia kembali memasang sebelah *airpods*-nya ke telinga, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke layar laptop. Namun, sebelum dia mulai mengetik lagi, dia sempat melirik Ziva sekilas.
"Belajar yang bener. Jangan cuma ngelamun sambil ngeliatin orang," ucap Arkan pelan, namun c**up jelas untuk membuat jantung Ziva kembali melakukan maraton.
Ziva hanya bisa mendengus pelan untuk menyembunyikan rasa salah tingkahnya yang luar biasa. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap buku catatannya sambil memegangi dadanya yang masih berdegup kencang.
Di bawah meja, ponsel Ziva kembali bergetar. Dia buru-buru membukanya dengan gerakan cepat, menutupi layar ponselnya agar tidak terlihat oleh Arkan.
*Ting!*
**[Heart-Hack: Misi 3 SUKSES BESAR!]**
**[Selamat! Kontak mata 5 detik (plus bonus 2 detik ekstra karena kamu salting) berhasil diselesaikan dengan sempurna!]**
**[Analisis Sistem: Kontak mata intens tadi berhasil memicu lonjakan hormon dopamin pada target. Arkan Mahendra mulai merasa tertarik dan penasaran dengan motif di balik tindakanmu. Dia tidak lagi menganggapmu sebagai 'gangguan luar', melainkan sebagai 'distraksi yang menarik'.]**
**[Tingkat ketertarikan Arkan Mahendra naik: +15%]**
**[Total Ketertarikan: 40%]**
**[Selamat! Fitur baru 'Analisis Detak Jantung Target' kini telah aktif!]**
Ziva menatap layar ponselnya dengan mata berbinar-binar. Rasa panas di pipinya perlahan tergantikan oleh rasa puas yang luar biasa. Empat puluh persen! Angka itu terus naik dengan cepat, melebihi ekspektasinya sendiri.
Ziva melirik sedikit dari balik buku catatannya ke arah Arkan yang kini sudah kembali fokus pada barisan kode pemrograman di layarnya. Namun, kali ini, Ziva melihat ada yang berbeda dari ekspresi wajah cowok itu. Garis wajahnya tampak sedikit lebih rileks, tidak sekaku saat pertama kali Ziva duduk di sana tadi.
Perlahan, Ziva tersenyum kecil. Ternyata, mencairkan es batu di dalam diri Arkan Mahendra tidak sesulit yang dia bayangkan. Aplikasi ini benar-benar bekerja, dan Ziva tidak sabar untuk menantikan misi selanjutnya.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!