Bab 7: Sinyal Cemburu yang Tidak Biasa
"Cekrek!"
"Nah, cakep banget! Tahan bentar, Ziv. Kepalanya agak miringin ke kanan dikit... ya, sip! Tahan senyumnya... satu, dua, tiga!"
Suara rana kamera Amel terdengar bertubi-tubi di bawah rindangnya pohon flamboyan di area taman depan Gedung Rektorat. Siang itu, cuaca kampus c**up terik, tapi angin sepoi-sepoi sesekali lewat, menerbangkan ujung rambut Ziva yang sengaja dicatok bergelombang longgar.
Hari ini, Ziva terpaksa memenuhi janji mautnya pada Amel, sahabat satu jurusannya yang juga aktif di UKM Fotografi. Amel memohon-mohon agar Ziva mau menjadi model portofolio bertema *"Campus Ca**al Look"*. Ziva yang awalnya malas, akhirnya luluh juga setelah diiming-imingi traktiran *matcha latte* selama seminggu penuh.
Ziva mengenakan *off-shoulder top* berwarna putih gading yang mengekspos tulang selangkangnya dengan indah, dipadukan dengan celana jins kulot berpinggang tinggi. Dandanan tipisnya membuat wajah Ziva terlihat sangat segar dan manis alami.
"G***, Ziv, lo kalau dandan begini mirip banget sama *influencer* Korea tahu gak," puji Amel heboh sambil sibuk melihat-lihat hasil jepretannya di layar DSLR. "Gue yakin portofolio gue kali ini dapet nilai A plus dari senior."
Ziva tertawa kecil sambil mengipasi lehernya yang mulai berkeringat dengan telapak tangan. "Lebay lo, Mel. Ini udah selesai belum? Panas banget, nih. Gue pengen cepet-cepet ngadem di kantin."
"Bentar, satu spot lagi di tangga dekat taman situ, ya? Cahayanya lagi bagus banget, *golden hour*-nya dapet," pinta Amel dengan muka memelas.
Ziva menghela napas pasrah. "Yaudah, buruan ya."
Ziva kemudian berjalan menuju tangga semen yang dikelilingi tanaman hias. Dia duduk di salah satu anak tangga, berpose sant** dengan menopang dagunya menggunakan sebelah tangan, memberikan senyuman terbaiknya ke arah kamera Amel.
Namun, ketenangan mereka tidak bertahan lama.
Dari arah koridor Fakultas Teknik yang terletak tidak jauh dari taman, terdengar suara tawa keras berisik. Sekelompok mahasiswa—sekitar empat orang cowok dengan jaket himpunan yang disampirkan di bahu—berjalan ke arah mereka. Dari penampilan dan gaya bicaranya, jelas sekali mereka tipe-tipe cowok yang suka nongkrong di kantin sampai larut malam sambil main kartu.
Begitu melihat Ziva yang sedang berpose, langkah kaki keempat cowok itu langsung melambat. Pandangan mereka tertuju lurus pada Ziva dengan tatapan yang membuat Ziva seketika merasa tidak nyaman.
"Wih, ada bidadari nyasar di rektorat nih, Bro," celetuk salah satu cowok berambut ikal dengan senyum menggoda.
"Iya, a****. Seger banget siang-siang gini lihat yang bening," timpal temannya yang memakai topi hitam terbalik.
Ziva berusaha mengabaikan mereka. Dia mengalihkan pandangannya kembali ke kamera Amel, mencoba tetap profesional. Namun, fokus Amel juga mulai terganggu. Wajah sahabatnya itu tampak agak tegang melihat rombongan cowok tersebut malah berjalan mendekati area tangga.
"Hai, cantik. Foto-foto buat apa sih? Serius amat," tanya cowok berambut ikal yang sekarang sudah berdiri hanya berjarak dua meter dari Ziva.
"Bagi nomor WhatsApp-nya dong. Nanti kalau butuh model lagi, kita siap kok jadi propertinya. Iya nggak, Cuy?" sahut cowok bertopi hitam, memancing tawa riuh dari teman-temannya yang lain.
"Maaf, Kak. Kita lagi ada sesi foto resmi buat tugas kampus. Tolong jangan diganggu ya," ujar Amel berusaha berani, meski suaranya agak bergetar.
Bukannya mundur, cowok-cowok itu malah tertawa meremehkan.
"Yaelah, galak amat temennya. Kita kan cuma mau kenalan. Nggak boleh, ya?" Cowok berambut ikal itu melangkah setapak lagi ke arah Ziva. Dia menunduk, mencoba menyejajarkan wajahnya dengan Ziva yang masih duduk di tangga. "Nama lo siapa, Dek? Jurusan apa?"
Ziva meremas ujung bajunya sendiri. Jantungnya mulai berdegup kencang karena merasa terintimidasi. Tatapan cowok di depannya ini terasa sangat tidak sopan, mengarah pada bahunya yang terbuka. Ziva refleks menarik kardigan rajut tipis yang semula sengaja diturunkan setengah, berusaha menutupi kulitnya yang terekspos.
"Gak usah malu-malu gitu dong. Sombong banget sih," kata cowok berambut ikal itu lagi, tangannya mulai terulur, tampak berniat menyentuh puncak kepala Ziva. "Cuma nanya nama doang kok—"
"Jangan sentuh dia."
Sebuah suara dingin, berat, dan tanpa ekspresi tiba-tiba memotong kalimat cowok itu.
Ziva tersentak. Dia sangat mengenali suara itu. Suara yang biasanya selalu terdengar malas dan datar, namun kali ini terdengar begitu tajam seperti pisau es.
Ziva mendongak cepat. Di ujung anak tangga teratas, berdirilah Arkan. Cowok itu mengenakan kemeja flanel hitam-merah yang tidak dikancingkan, memperlihatkan kaus hitam polos di dalamnya. Di tangannya terdapat beberapa map dokumen. Tatapan matanya yang biasanya redup dan acuh tak acuh, kini menyorot tajam dan sangat dingin, lurus mengarah pada cowok berambut ikal yang tadi mencoba menyentuh Ziva.
Suasana di taman rektorat mendadak senyap. Angin terasa berhenti berembus.
Cowok berambut ikal itu menurunkan tangannya, lalu berbalik menatap Arkan dengan kening berkerut. "Siapa lo? Gak usah ikut campur deh."
Arkan tidak membalas ucapan itu. Dia melangkah turun melewati anak tangga dengan sant**, namun setiap langkahnya memancarkan aura mengintimidasi yang sangat kuat. Begitu sampai di depan Ziva, Arkan langsung berdiri menghalangi tubuh gadis itu sepenuhnya dari pandangan keempat cowok tadi. Punggung lebar Arkan kini menjadi tameng pelindung bagi Ziva.
"Gue bilang, jangan sentuh dia," ulang Arkan sekali lagi, suaranya kini lebih pelan, namun justru terdengar jauh lebih berbahaya.
"Lah, emangnya lo siapanya dia? Pacarnya? Gak usah belagu lo!" tantang salah satu teman cowok berambut ikal itu, mencoba memprovokasi.
Arkan tidak meladeni provokasi murahan itu. Alih-alih berdebat, tanpa diduga, Arkan membalikkan badannya menghadap Ziva. Sebelum Ziva sempat mencerna apa yang terjadi, jemari tangan Arkan yang hangat dan besar langsung menggenggam pergelangan tangan Ziva dengan erat. Genggaman yang begitu protektif, seolah takut Ziva akan direbut atau menghilang jika dilepaskan.
"Ikut gue," ucap Arkan pendek.
Ziva terkesiap, matanya membelalak lebar menatap tangannya yang berada dalam cengkeraman Arkan.
Arkan langsung menarik Ziva pergi dari sana, mengabaikan seruan tidak terima dari gerombolan cowok Teknik di belakang mereka. Amel yang melihat kejadian itu hanya bisa melongo dengan mulut terbuka lebar, melupakan kamera mahal yang masih tergantung di lehernya.
"Ziv! Nanti gue *chat* ya!" teriak Amel setengah berbisik, menyadari kalau situasi ini tidak boleh ia ganggu.
Arkan berjalan dengan langkah lebar-lebar, membuat Ziva terpaksa setengah berlari untuk mengimbangi langkah kaki cowok jangkung itu. Genggaman tangan Arkan di pergelangan tangannya terasa begitu hangat, kokoh, dan... tidak mau dilepaskan. Ziva bisa merasakan detak jantungnya sendiri berpacu g***-g***an, jauh lebih cepat daripada saat dia digoda oleh cowok-cowok tadi.
Arkan membawa Ziva menyusuri jalan setapak di belakang perpustakaan pusat yang rindang dan sepi dari lalu lalang mahasiswa. Begitu sampai di bawah pohon beringin besar yang teduh, barulah Arkan menghentikan langkahnya.
Dia melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan tangan Ziva.
Ziva refleks memegang pergelangan tangannya yang terasa hangat bekas sentuhan Arkan. Dia mengatur napasnya yang agak terengah-engah, lalu menatap punggung Arkan yang masih membelakanginya. Bahu cowok itu tampak naik turun, seolah sedang menahan emosi yang meluap-luap.
"Arkan..." panggil Ziva pelan, hampir berupa bisikan. "Lo... kenapa?"
Arkan membalikkan badannya perlahan. Wajahnya yang biasanya tenang tanpa ekspresi kini tampak tegang. Rahangnya mengeras, dan tatapan matanya yang gelap mengunci pandangan Ziva. Ada binar aneh di dalam matanya yang belum pernah Ziva lihat sebelumnya.
Kemarahan? Kekhawatiran? Atau... sesuatu yang lain?
Arkan memandangi Ziva dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapannya tertuju c**up lama pada bahu Ziva yang terbuka lebar karena potongan baju *off-shoulder*-nya. Garis wajah Arkan semakin mengetat melihat hal itu.
"Lain kali kalau foto, pakai baju yang bener," ujar Arkan dengan nada suara yang terdengar sangat dingin, hampir seperti mengomeli anak kecil.
Ziva mengerjapkan matanya, bingung sekaligus tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Hah? Baju gue? Baju gue biasa aja kok, ini kan emang lagi tren—"
"Gak biasa," potong Arkan cepat, suaranya naik satu oktav. "Baju kayak gitu sengaja biar dilihat orang?"
Ziva tertegun. Dia menatap Arkan lekat-lekat, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh cowok di depannya ini. Mengapa si "kulkas dua belas pintu" yang biasanya tidak peduli pada dunia sekitar, tiba-tiba peduli pada pakaian yang ia kenakan? Bahkan sampai terlihat sekesal ini?
"Arkan, lo kenapa sih? Kok jadi marah-marah gini?" tanya Ziva, mencoba menuntut penjelasan. "Lagian tadi kan Amel cuma minta tolong buat portofolio fotonya. Gak ada hubungannya sama baju—"
"Dan jangan senyum-senyum kayak tadi ke sembarang orang," potong Arkan lagi, kali ini dengan nada yang terdengar lebih pelan, namun ada penekanan yang sangat jelas di setiap katanya. Dia memalingkan wajahnya ke samping, enggan menatap mata Ziva langsung. "Mereka itu gak bener."
Ziva terpaku. Detik berikutnya, sudut bibir Ziva perlahan tertarik membentuk senyuman tipis. Rasa kesal karena diomeli tiba-tiba menguap begitu saja, digantikan oleh rasa hangat yang menggelitik di dalam dadanya.
Tunggu sebentar.
Sikap protektif ini... cara bicara yang ketus tapi menyiratkan kekhawatiran... dan tatapan tidak suka saat melihat cowok lain mendekatinya...
*Apakah Arkan... cemburu?*
Ziva hampir saja tertawa saking tidak percaya dengan analisis pikirannya sendiri. Arkan? Cemburu? Cowok paling cuek se-Fakultas Ekonomi yang biasanya menganggap perempuan seperti angin lalu?
Tiba-tiba, ponsel di dalam tas selempang kecil Ziva bergetar panjang. Sebuah getaran familiar yang sangat ia kenal.
Ziva buru-buru merogoh tasnya dan mengeluarkan ponselnya. Layarnya menyala terang, menampilkan notifikasi dari aplikasi *Heart-Hack* dengan logo hati merah muda yang berkedip-kedip heboh.
*Ting!*
**[Heart-Hack: Detak Jantung Target Terdeteksi Sangat Tinggi!]**
**[Analisis Status Target: Cemburu / Protektif (Level 2 - Tinggi)]**
*Detak jantung target saat ini mencapai 120 bpm. Target merasakan ketidaknyamanan emosional yang intens akibat kehadiran pihak ketiga di sekitar Anda. Rasa ingin melindungi berada di tingkat maksimal.*
**[Progres Ketertarikan: +10% (Total: 45%)]**
*Catatan: Kerja bagus! Es batu mulai mencair dan menunjukkan retakan pertamanya. Gunakan momen ini untuk memperkuat posisimu!*
Mata Ziva membelalak lebar membaca tulisan di layar ponselnya. Dadanya bergemuruh hebat. Rasanya seperti ada ribuan kembang api yang meledak di dalam kepalanya.
Aplikasi ini... beneran bekerja! G***, ini bukan mimpi!
Ziva perlahan menurunkan ponselnya, lalu menatap Arkan kembali. Cowok itu masih berdiri di sana, pura-pura sibuk merapikan map dokumen di tangannya untuk menghindari kontak mata. Namun, Ziva yang kini sangat jeli bisa melihat dengan jelas kalau daun telinga Arkan perlahan-lahan memerah padam.
Ziva menahan senyumnya kuat-kuat. Jiwa usilnya seketika meronta-ronta melihat pemandangan langka ini.
Dia melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga dia bisa mencium aroma parfum maskulin Arkan yang segar bercampur aroma kayu.
"Arkan," panggil Ziva dengan nada suara yang sengaja dibuat selembut mungkin, mendongak menatap wajah tampan cowok itu yang kini tampak semakin salah tingkah.
"Apa?" jawab Arkan singkat, masih enggan menoleh.
"Lo... cemburu ya?"
Pertanyaan blak-blakan Ziva membuat gerakan tangan Arkan yang sedang merapikan kertas seketika terhenti. Tubuh cowok itu menegang sempurna. Dia menoleh lambat-lambat, menatap Ziva dengan mata membelalak, seolah-olah Ziva baru saja menuduhnya melakukan kejahatan internasional.
"Nggak," jawab Arkan cepat, terlalu cepat bahkan untuk ukuran orang yang sedang membela diri.
"Masa?" Ziva memiringkan kepalanya, memasang wajah polos yang dibuat-buat. "Tapi muka lo merah banget tuh. Telinga lo juga. Terus... tadi ngapain pakai tarik-tarik tangan gue segala kalau gak cemburu? Kan bisa tinggal panggil aja."
Arkan menelan ludah. Untuk pertama kalinya, Ziva melihat seorang Arkan yang selalu tenang dan terkontrol kehilangan kata-kata. Cowok itu membuang muka ke arah lain, tangan kanannya naik untuk mengusap tengkuknya dengan canggung.
"Gue... cuma gak suka lihat anak Teknik bikin ribut di wilayah Rektorat. Bikin berisik," kilah Arkan dengan alasan yang sangat tidak ma**k akal.
Ziva tidak bisa lagi menahan tawa ringannya. "Oh ya? Cuma karena berisik? Berarti kalau yang godain gue tadi anak Fakultas Ekonomi, lo bakal diemin aja?"
Arkan langsung menatap Ziva kembali, matanya menyipit tajam. "Ziva."
"Iya, Arkan?" sahut Ziva dengan nada riang, sama sekali tidak takut dengan tatapan tajam itu.
Arkan mengembuskan napas panjang lewat hidung, tampak frustrasi karena tidak bisa memenangkan perdebatan ini. Dia melangkah mundur satu langkah, berusaha menciptakan jarak aman dari Ziva yang tiba-tiba terasa sangat mengintimidasi dirinya dengan senyum manis itu.
"Terserah lo," gumam Arkan ketus. Dia berbalik, bersiap untuk pergi meninggalkan Ziva.
Namun, baru melangkah dua kali, Arkan menghentikan langkahnya tanpa berbalik. "Pakai kardigan lo dengan bener. Di luar anginnya kencang. Nanti lo sakit."
Setelah mengucapkan kalimat yang terdengar sangat canggung namun manis itu, Arkan mempercepat langkah kakinya, berjalan setengah terburu-buru meninggalkan area belakang perpustakaan.
Ziva berdiri mematung di tempatnya. Dia menunduk melihat kardigannya, lalu menarik kedua ujung rajutan tersebut hingga menutupi seluruh bahunya yang terbuka. Senyum di wajahnya tidak memudar sedikit pun. Malahan, dadanya kini dipenuhi oleh perasaan hangat yang luar biasa meletup-letup.
Ziva memeluk ponselnya di dada, menatap punggung Arkan yang perlahan menghilang di balik belokan koridor.
"Arkan, Arkan... sedingin-dinginnya lo, ternyata lo bisa cemburu juga ya," gumam Ziva dengan mata berbinar senang.
Hari ini, Ziva tahu satu hal pasti. Tembok pertahanan Arkan yang terkenal sekokoh beton itu, perlahan tapi pasti, mulai runtuh karena dirinya. Dan itu semua berkat aplikasi ajaib di genggamannya.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!