Bodyguardku Mantan Pembunuh Bayaran Termahal

Bab 1: Pensiun Damai yang Gagal Total

Pengaturan Membaca

**Bab 1: Pensiun Damai yang Gagal Total**

Menembak kepala gembong mafia Rusia dari jarak dua kilometer di tengah badai salju? Gampang.

Menyusup ke markas militer ilegal di pedalaman Afrika untuk mencuri data enkripsi tanpa ketahuan? Kecil.

Menghindari kejaran agen CIA, MI6, dan Interpol sekaligus? Rutinitas hari Senin yang biasa saja bagi seorang Leo.

Selama hampir sepuluh tahun, Leo dikenal di dunia bawah tanah sebagai *The Specter*—pembunuh bayaran termahal sekaligus paling mematikan yang pernah ada. Tarifnya menggunakan mata uang US Dollar dengan digit yang bikin kalkulator biasa langsung eror. Tapi, setelah bertahun-tahun hidup di antara desingan peluru, bau mesiu, dan tidur dengan satu mata terbuka, Leo akhirnya merasa jenuh. Dia ingin pensiun. Dia ingin hidup normal, tenang, dan menikmati kopi hangat di pagi hari tanpa perlu khawatir ada racun risin di dalamnya.

Makanya, begitu ada tawaran pekerjaan sebagai *personal bodyguard* untuk anak seorang konglomerat terkaya di I****esia dengan bayaran selangit, Leo langsung setuju.

Tugasnya sederhana: menjaga Aruna Wijaya, mahasiswi semester akhir sekaligus pewaris tunggal Wijaya Group.

Dalam bayangan Leo, menjaga seorang gadis kuliahan biasa adalah pekerjaan paling gampang sedunia. Paling banter, dia cuma harus mengantar-jemput Aruna ke kampus, menemaninya belanja di mal mewah, atau menghalau cowok-cowok caper yang mencoba mendekat. Sungguh sebuah masa pensiun yang sangat damai dan sant**.

Namun, Leo langsung sadar bahwa dia salah besar. Hari pertamanya bekerja langsung berubah menjadi bencana yang menguji batas kesabarannya lebih dari saat dia diinterogasi di sel bawah tanah Rusia.

***

Siang itu, matahari Jakarta sedang terik-teriknya. Di daerah Senopati yang terkenal padat dan dipenuhi kafe-kafe *aesthetic*, Leo berdiri bersandar di pintu mobil Mercedes-Benz hitam milik keluarga Wijaya. Dia mengenakan setelan jas hitam tanpa dasi, kemeja putih dengan kancing atas terbuka, dan kacamata hitam. Penampilannya sangat berkelas, kontras dengan ekspresi wajahnya yang datar seperti tripleks.

Pandangan Leo tertuju tajam ke seberang jalan, tepatnya ke arah trotoar di depan sebuah kafe bergaya minimalis Prancis.

Di sana, target yang harus dijaganya—Aruna Wijaya—sedang melakukan aksi konyol yang membuat Leo ingin menepuk jidatnya sendiri berulang kali.

Aruna, gadis berusia dua puluh satu tahun dengan wajah cantik blasteran yang biasanya tampil anggun, saat ini memakai "penyamaran" yang sangat tidak ma**k akal. Dia mengenakan kacamata hitam super besar, topi anyaman pant** lebar yang hampir menutupi seluruh wajahnya, dan sebuah parit *trench coat* cokelat tebal yang sama sekali tidak cocok dengan cuaca Jakarta yang suhunya mencapai 34 derajat Celsius.

"Non Aruna," gumam Leo lewat *earpiece* nirkabel yang terpasang di telinganya. "Saya sarankan Anda kembali ke mobil sekarang. Suhu udara sangat panas, dan penyamaran Anda justru membuat semua orang di jalanan menatap Anda seperti orang aneh."

*"Diem lo, Leo! Jangan berisik di kuping gue!"* suara Aruna terdengar melengking dari seberang *earpiece*. *"Gue lagi menjalankan misi hidup dan mati. Pokoknya gue harus dapet bukti kalau si Randy, pacar—maksud gue mantan pacar gue yang br****** itu—selingkuh!"*

Leo menghela napas panjang. "Anda bisa menyewa detektif swasta untuk ini, Non. Tugas saya adalah menjaga keselamatan Anda, bukan menemani Anda jadi mata-mata amatir."

*"Nggak bisa! Detektif swasta nggak punya dendam pribadi kayak gue! Gue harus lihat dengan mata kepala gue sendiri, biar pas gue lab**k, dia nggak bisa ngeles lagi!"* bisik Aruna dengan nada penuh emosi.

Di dalam kafe yang dibatasi oleh dinding kaca transparan, terlihat seorang cowok klimis dengan kemeja flanel—yang diidentifikasi Leo sebagai Randy—sedang duduk berdua dengan seorang cewek berambut panjang. Mereka berdua tampak sangat mesra, bahkan sesekali Randy menyuapi cewek itu dengan sepotong kue.

Di luar kafe, Aruna yang menyaksikannya langsung mengepalkan tinju. Napasnya memburu. *"Kurang ajar! Berani-beraninya dia nyuapin mak lampir itu pakai sendok yang sama! Dulu waktu sama gue, dia selalu alasan geli kalau suap-suapan!"*

"Non, tenang..."

*"Gue nggak bisa tenang! Gue harus denger mereka ngomong apa!"*

Sebelum Leo sempat mencegahnya, Aruna melangkah maju mendekati pagar pembatas jalan yang terbuat dari besi tempa berwarna hitam. Pagar itu membatasi area trotoar dengan jalur hijau kecil di depan kaca kafe.

Aruna membungkuk, mencoba mengintip dari celah pagar besi yang berbentuk ukiran melingkar estetis. Karena jaraknya masih terlalu jauh untuk mendengar percakapan di dalam, Aruna nekat mema**kkan kepalanya ke dalam salah satu celah pagar besi yang lumayan lebar demi mendapatkan sudut pandang dan pendengaran yang lebih baik.

"Non Aruna, jangan—" peringatan Leo terlambat.

Aruna sudah berhasil mema**kkan kepalanya melewati celah pagar besi itu. Dia tersenyum puas selama beberapa detik karena sekarang posisinya sangat dekat dengan kaca kafe. Namun, kepuasan itu hanya bertahan sekejap.

Setelah Randy dan cewek itu tampak bersiap-siap untuk pergi, Aruna panik dan berniat menarik kembali kepalanya.

*Sret. Dug.*

Kepala Aruna tertahan. Kupingnya tersangkut di besi pembatas.

"Aduh!" pekik Aruna tertahan. Dia mencoba menarik kepalanya lagi dengan sudut yang berbeda, tapi gagal. Topi pant**nya terjatuh ke tanah, menyisakan rambut panjangnya yang kini mulai kusut karena tersangkut di sela-sela besi.

Leo yang mengawasi dari seberang jalan langsung memijat pangkal hidungnya. "Ya Tuhan... cabut saja nyawaku sekarang," gumamnya pelan. Dia, yang dulu pernah lolos dari penjara dengan keamanan maksimum di Siberia, sekarang harus menghadapi situasi paling absurd sepanjang sejarah kariernya.

Dengan langkah tegap namun sant**, Leo menyeberangi jalan raya yang ramai. Dia berjalan mendekati Aruna yang mulai panik dan bergerak-gerak seperti lumba-lumba terdampar di atas trotoar.

"Leo! Leo! Tolongin gue, Leo!" bisik Aruna setengah berteriak saat melihat bodyguard-nya mendekat. Wajahnya yang memerah karena kepanasan kini ditambah merah karena menahan malu. Beberapa orang yang lewat di trotoar mulai melirik ke arah mereka dengan tatapan menahan tawa.

"Apa yang sedang Anda lakukan, Non? Meniru adegan di kartun?" tanya Leo dengan nada suara datar tanpa dosa.

"Jangan bercanda ya, lo! Ini darurat! Kepala gue nyangkut! Buruan tarik gue keluar sebelum Randy keluar dari kafe!" ujar Aruna panik, matanya bergerak liar ke arah pintu kafe yang mulai terbuka.

Randy dan selingkuhannya melangkah keluar dari kafe sambil tertawa manja. Aruna yang menyadari hal itu langsung panik setengah mati. Dia tidak mau ketahuan sedang memata-mat** mantannya dalam kondisi sekonyol ini.

"Leo, cepetan! Tutupin muka gue! Jangan sampai Randy lihat!" perintah Aruna setengah histeris.

Tanpa banyak bicara, Leo melangkah maju, memosisikan tubuh tegapnya yang tinggi besar tepat di depan kepala Aruna yang menyembul dari pagar, menghalangi pandangan Randy dari arah kafe.

Randy yang berjalan melewati trotoar sempat melirik heran ke arah Leo yang berdiri tegak menghadap pagar besi seperti sedang menghormati tiang bendera, tapi dia memilih mengabaikannya dan terus berjalan menggandeng cewek barunya pergi dari sana.

Setelah Randy benar-benar menjauh dan hilang di belokan jalan, Aruna langsung mengembuskan napas lega yang sangat panjang. "Hampir aja reputasi gue hancur lebur jadi remah-remah rengginang. Makasih, Leo. Sekarang, buruan lepasin kepala gue!"

Leo berjongkok di sebelah Aruna, mengamati struktur pagar besi tersebut. Besi pembatas ini c**up tebal dan kokoh. Jarak antar-celah sebenarnya tidak terlalu sempit, tapi karena struktur kepala manusia memiliki bagian rahang dan telinga yang menonjol, begitu ma**k, akan sangat sulit untuk ditarik kembali tanpa teknik yang benar.

"Ini membutuhkan sedikit tekanan fisik," kata Leo menganalisis.

"Maksud lo? Lo mau patahin leher gue?!" pekik Aruna dengan mata membelalak.

"Tentu saja tidak. Saya hanya perlu meregangkan besi ini," jawab Leo tenang.

Leo memegang dua bilah besi pembatas jalan tersebut dengan kedua tangannya. Dia menarik napas dalam-dalam, memusatkan kekuatan ototnya. Bagi orang biasa, besi setebal ini tidak akan bergeming sedikit pun tanpa alat bantu hidrolik. Namun, bagi Leo yang terbiasa berlatih fisik ekstrem, ini hanyalah masalah teknik dan kekuatan murni.

Otot-otot lengan Leo yang tersembunyi di balik jas hitamnya menegang. Perlahan tapi pasti, dengan bunyi derit pelan yang hampir tak terdengar, besi tebal itu mulai melengkung menjauh satu sama lain, memperlebar celah di antara keduanya.

"Sekarang, tarik kepala Anda perlahan ke belakang, Non," perintah Leo dengan suara stabil, meskipun dia sedang menahan beban besi yang sangat berat.

Aruna segera menarik kepalanya ke belakang. *Sret.* Kepalanya berhasil lolos dari cengkeraman besi pembatas jalan tersebut.

"Bebas!" seru Aruna gembira.

Begitu kepala Aruna keluar, Leo langsung melepaskan cengkeramannya. Besi pembatas jalan itu kembali ke posisi semula dengan sedikit penyok yang hampir tidak terlihat jika tidak diperhatikan dengan jeli. Leo berdiri, merapikan kembali jas hitamnya yang sedikit kusut tanpa mengeluarkan setetes keringat pun.

"Anda tidak apa-apa, Non?" tanya Leo formal.

Aruna buru-buru berdiri, menepuk-nepuk debu yang menempel di mantel tebalnya. Dia langsung meraba rambutnya, dan seketika itu juga wajah cantiknya berubah menjadi sangat masam. Rambutnya yang tadi pagi ditata rapi di salon langganannya seharga jutaan rupiah, kini acak-acakan mirip sarang burung karena tersangkut di besi berkarat tadi. Beberapa helai rambutnya bahkan patah.

"Aduh, Leo! Lihat nih rambut gue!" omel Aruna sambil menunjuk rambutnya yang mencuat ke segala arah dengan kesal. "Ini tatanan rambut *blowout* mahal tahu nggak! Sekarang malah hancur gara-gara lo narik besinya nggak bener! Kenapa nggak lo olesin minyak atau apa dulu sih biar licin? Lo sengaja ya mau bikin gue kelihatan kayak gembel di depan umum?!"

Leo mengerjapkan matanya sekali. Dia menatap Aruna dengan tatapan tidak percaya.

Dia baru saja menyelamatkan gadis ini dari rasa malu tingkat internasional di depan umum, menggunakan kekuatan fisiknya yang setara dengan pahlawan super tanpa merusak satu pun tulang di tubuh gadis itu, dan reaksi pertama yang didapatnya adalah... omelan tentang tatanan rambut?

"Non Aruna," kata Leo, suaranya terdengar sangat tenang namun ada nada dingin yang menusuk di dalamnya. "Jika saya tidak merenggangkan besi itu sekarang, Anda mungkin masih terpa**ng di sana sampai dinas pemadam kebakaran datang membawa gergaji mesin untuk memotong besi—dan mungkin sebagian dari rambut mahal Anda."

Aruna mengerucutkan bibirnya, bersedekap dengan angkuh meskipun dia tahu dalam hati kalau omongan Leo ada benarnya. Namun, gengsi seorang Aruna Wijaya jelas terlalu tinggi untuk mengakui kesalahannya sendiri.

"Halah, alasan aja! Intinya rambut gue rusak dan lo harus tanggung jawab!" gerutu Aruna sambil berjalan menghentak-hentakkan kakinya menuju mobil Mercedes-Benz yang terparkir di seberang jalan. "Ayo balik ke mobil! Panas banget di sini, gue bisa kena *sunburn*! Dan habis ini anterin gue ke salon terbaik di Jakarta, lo yang bayar pakai gaji lo!"

Leo berdiri mematung di trotoar selama beberapa detik, menatap punggung Aruna yang berjalan menjauh dengan langkah angkuh.

Di dalam kepalanya, Leo mulai menghitung ulang keputusan hidupnya.

Dulu, saat dikejar oleh sekelompok pembunuh bayaran bersenjata lengkap di hutan Amazon, dia tidak pernah merasa sefrustrasi ini. Menghadapi peluru dan bom terasa jauh lebih rasional daripada menghadapi ego seorang gadis kuliahan yang manja dan tidak tahu terima kasih.

Leo menghela napas panjang, merogoh saku jasnya untuk mengambil kunci mobil, lalu bergumam pelan pada dirinya sendiri:

"Pensiun damai katanya... Si****. Menyesal gue nggak milih tetap di Rusia saja."

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca