**Bab 10: Duet Maut Pengacau Pesta**
Titik merah di layar ponsel Leo berhenti berkedip di area gudang genset yang terletak di lant** paling bawah hotel. Tempat itu sangat kontras dengan kemegahan aula *masquerade ball* di atas. Di sini, udaranya lembap, berbau oli, dan minim cahaya. Sunyi, hanya ada dengung mesin raksasa yang terdengar samar dari kejauhan.
Leo melangkah tanpa suara. Langkah kakinya seringan kucing, nyaris tidak terdengar sama sekali di atas lant** beton yang dingin. Matanya yang tajam langsung menangkap seberkas cahaya dari celah pintu besi yang sedikit terbuka di ujung lorong.
Dari dalam ruangan, terdengar suara tawa yang sangat dikenal Leo. Suara serak khas Om Edwin, paman Aruna yang super serakah dan licik.
"Kamu pikir ayahmu bisa menyelamatkanmu kali ini, Aruna? Harta keluarga kita harusnya jatuh ke tangan yang benar, bukan ke anak manja kayak kamu!" cerocos Om Edwin, terdengar sangat puas.
"Pala lo peyang! Lepasin gue, Om peyot! Gak usah sok keras deh, ntar encoknya kumat nangis!" sahut sebuah suara yang cempreng namun penuh nada menantang.
Leo menghela napas pendek. Dalam kondisi diculik dan diikat di kursi pun, Aruna masih sempat-sempatnya menghujat penculiknya. Gadis itu benar-benar tidak punya rasa takut, atau mungkin tingkat ketularan stresnya sudah mencapai level maksimal.
Leo langsung menendang pintu besi itu hingga terbuka lebar dengan suara dentuman keras. *B**K!*
Semua mata di dalam ruangan langsung tertuju ke arah pintu. Di tengah ruangan, Aruna memang sedang diikat di sebuah kursi kayu tebal. Di belakangnya, berdiri Om Edwin yang langsung pucat pasi. Dan di samping Om Edwin, berdiri seorang pria berbadan tegap, berotot besar, dengan bekas luka melintang di pipi kirinya.
Jack. Mantan tentara bayaran yang sekarang menjadi an**** peliharaan Om Edwin.
"Leo!" seru Aruna. Matanya yang bulat langsung berbinar lega, seolah baru saja melihat pahlawan super berkostum jas hitam mahal datang menyelamatkannya. "Lama banget sih lo! Lumutan nih gue diikat kayak paket COD!"
"Gue bilang juga apa, jangan keluyuran sendiri," balas Leo datar, sama sekali tidak terlihat panik meskipun situasinya sangat tegang.
Om Edwin mundur selangkah, bersembunyi di balik tubuh kekar Jack. "Jack! Habisi dia! Jangan biarkan pengawal si**** ini merusak rencana kita!"
Jack menyeringai sinis. Dia melepas sarung tangan kulitnya dan meremukkan jari-jarinya hingga terdengar bunyi *kretak-kretak* yang mengerikan. "Gue udah lama dengar reputasi lo, Leo. Mantan pembunuh bayaran nomor satu. Tapi kayaknya lo udah makin lembek sejak jadi babu cewek manja ini."
"Banyak bacot. Sini maju," tantang Leo dingin. Dia melepaskan topeng hitamnya, membuangnya ke lant**, lalu memasang kuda-kuda bertarung yang sangat tenang namun mematikan.
Tanpa peringatan, Jack menerjang maju. Tubuhnya yang besar bergerak sangat cepat di luar dugaan. Satu pukulan lurus mengarah ke wajah Leo. Leo dengan cepat memiringkan kepalanya, membiarkan tinju Jack lewat hanya beberapa milimeter dari pipinya, lalu membalas dengan pukulan cepat ke arah rusuk Jack.
*Bugh!*
Jack menggeram kesakitan, tapi dia segera berputar dan melayangkan tendangan memutar yang kuat. Leo menangkis dengan kedua lengannya, namun kekuatan tendangan Jack membuatnya terdorong mundur beberapa langkah.
Pertarungan satu lawan satu itu berlangsung dengan sangat sengit. Keduanya saling bertukar pukulan dan tendangan dengan kecepatan luar biasa. Suara hantaman fisik bergema di dalam gudang yang sempit itu. Jack sangat kuat dan memiliki daya tahan tubuh yang luar biasa, sementara Leo unggul dalam kecepatan dan ketepatan serangan.
"Ayo Leo! Hajar dia! Pukul jidatnya! Colok matanya!" teriak Aruna dari kursinya, bertindak sebagai komentator paling berisik sedunia. "Aduh, kiri, Leo! Kiri! Ah, telat lo! Kan kena pukul kan!"
"Aruna, diam!" bentak Leo di sela-sela menghindari sabetan pisau lipat yang mendadak dikeluarkan oleh Jack.
Jack menyerang dengan memb*** buta, menyabetkan pisaunya ke arah dada Leo. Leo harus fokus penuh untuk menghindari setiap tebasan maut tersebut. Keringat mulai bercucuran di pelipisnya.
Di saat yang sama, Om Edwin melihat kesempatan. Dia perlahan merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah pistol kecil. Dia mengarahkannya ke arah Leo yang sedang sibuk meladeni Jack.
"Leo, awas! Si Om peyot bawa beceng!" teriak Aruna panik.
Aruna tahu dia harus bertindak. Beruntung, ikatan tali di tangannya ternyata agak longgar karena Jack terlalu meremehkan kekuatannya. Dengan sekali hentakan kuat, Aruna berhasil melepaskan tangannya dari ikatan tali. Dia bebas!
Namun, dia tidak punya senjata. Dia melihat sekeliling dengan panik. Tidak ada apa-apa selain debu dan kabel. Tapi kemudian, matanya tertuju pada kakinya sendiri.
*Stiletto merah marun setinggi 12 senti bermerek Christian Louboutin.*
"Maafkan aku, sepatuku sayang. Ini demi kemanusiaan," bisik Aruna dramatis.
Dengan gerakan super cepat, Aruna melepas salah satu sepatu hak tingginya. Dia memegang bagian depan sepatu, membidik dengan mata menyipit bak penembak jitu profesional, lalu melemparkan sepatu berhak runcing itu sekuat tenaga ke arah Jack yang sedang bersiap menusuk Leo dari belakang.
*Kemplang!*
"AAAKHHH!" Jack berteriak kesakitan. Sepatu mahal Aruna mendarat dengan sangat akurat, tepat di tengah-tengah dahi Jack. Ujung hak yang tajam itu sukses membuat dahinya robek dan berdarah. Jack seketika terhuyung-huyung, kehilangan keseimbangannya karena rasa sakit yang luar biasa dan pandangan yang mendadak berkunang-kunang.
Leo tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Begitu Jack lengah, Leo langsung melompat dan melayangkan tendangan lutut *(flying knee)* tepat ke arah rahang Jack.
*PRAK!*
Tubuh kekar Jack langsung ambruk ke lant** seperti pohon tumbang. Dia langsung pingsan seketika dengan mata mendelik ke atas.
"Jack! Bangun, bodoh!" teriak Om Edwin panik. Tangannya gemetar hebat saat dia kembali mengarahkan pistolnya ke arah Leo. "Jangan bergerak, atau gue tembakβ"
Sebelum Om Edwin sempat menarik pelatuk, Aruna yang sudah berte******* kaki sebelah sudah berlari mendekat dengan kecepatan cahaya. Dari dalam tas pesta kecilnya yang untungnya masih dia pegang, Aruna mengeluarkan sebuah botol semprotan kecil berwarna pink menyala.
Itu bukan semprotan merica biasa. Itu adalah ramuan parfum DIY buatan Aruna sendiri: campuran parfum beraroma mawar super pekat, dicampur dengan bubuk cabai rawit ekstrak, dan sedikit minyak esensial cengkeh. Senjata pertahanan diri paling tidak manusiawi yang pernah diciptakan.
"Makan nih, parfum pemikat surga!" teriak Aruna sambil menyemprotkan cairan itu berkali-kali tepat ke wajah Om Edwin dari jarak dekat.
*Crot! Crot! Crot!*
"ARGHHH!!! MATA GUE!!! PANAS!!! I**** KECIL, APA YANG KAMU LAKUKAN?!" Om Edwin langsung menjatuhkan pistolnya dan berlutut di lant**. Dia berteriak histeris, mencakar-cakar wajahnya sendiri yang mendadak terasa seperti dibakar api neraka. Bau mawar bercampur cabai menyengat langsung memenuhi ruangan, membuat siapa saja yang menghirupnya ingin bersin tanpa henti.
Leo sampai harus menutup hidungnya dan mundur beberapa langkah karena bau menyengat tersebut. Dia menatap Om Edwin yang berguling-guling di lant** sambil menangis bombay, lalu menatap Aruna yang berdiri dengan bangga sambil memegang botol parfum pink-nya seperti seorang pahlawan wanita di film aksi.
Satu kaki Aruna memakai sepatu berhak tinggi, sementara kaki satunya lagi hanya memakai kaus kaki tipis. Rambut sanggulnya sudah acak-acakan, dan gaun mahalnya sedikit robek di bagian bawah.
"G***," gumam Leo, benar-benar takjub sekaligus ngeri melihat keliaran gadis di depannya ini. "Lo bener-bener definisi cewek pembawa petaka."
"Heh! Kurang ajar banget ya!" sembur Aruna, sambil berkacak pinggang. "Kalau gak ada gue dan jurus lemparan stiletto maut, lo mungkin udah bolong ketusuk pisau si raksasa itu! Harusnya lo bilang terima kasih, Leo ganteng!"
Leo hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. Sudut bibirnya berkedut, menahan tawa yang hampir saja lolos. "Ya, terima kasih atas bantuan... tidak ortodoks lo."
Tepat saat itu, suara sirine polisi terdengar meraung-raung dari luar area hotel. Rupanya, asisten pribadi ayah Aruna yang menyadari hilangnya Aruna langsung menghubungi pihak berwajib atas instruksi Leo sebelum dia turun ke basement.
Aruna langsung menghela napas lega, tubuhnya mendadak lemas setelah adrenalinnya perlahan turun. Dia hampir saja terjatuh kalau saja tangan kekar Leo tidak dengan sigap menangkap pinggangnya.
Untuk beberapa detik, mereka saling bertatapan dalam jarak yang sangat dekat. Aruna bisa merasakan kehangatan dari tubuh Leo, dan napas Leo yang masih agak memburu menerpa wajahnya. Jantung Aruna mendadak berdegup kencang lagi, dan kali ini bukan karena takut pada penculik, melainkan karena tatapan mata dingin Leo yang entah kenapa terlihat sangat... lembut saat menatapnya.
"Bisa berdiri?" tanya Leo pelan, suaranya terdengar sangat s**** di telinga Aruna.
Aruna berdehem canggung, buru-buru melepaskan pegangan Leo meskipun sebenarnya dia masih agak lemas. "B-bisa kok. Tapi... sepatu gue lecet gak ya yang tadi buat ngelempar? Itu limited edition tahu!"
Leo menepuk dahinya sendiri, merasa menyesal karena sempat berpikir gadis ini bisa terlihat manis walau hanya sedetik.
"Nanti gue beliin yang baru. Sepuluh pasang kalau lo mau," sahut Leo malas sambil berjalan memungut stiletto merah marun milik Aruna yang tergeletak di dekat kepala Jack. Dia menyerahkannya pada Aruna.
Aruna tersenyum lebar sampai matanya menyipit manis. "Janji ya? Awas lo kalau bohong! Gue semprot pakai parfum cabe ini biar lo tahu rasa!"
"Terserah lo, Aruna. Terserah lo," gumam Leo pasrah, sementara di dalam hatinya, dia tahu hidupnya tidak akan pernah membosankan lagi sejak menjadi bodyguard gadis sekacau ini.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!