Hanya butuh waktu kurang dari tiga detik bagi Leo untuk menyelesaikan apa yang sudah dia mulai.
Saat tinju raksasa Jack melayang ke arah wajahnya, Leo tidak mundur. Dia justru melangkah maju, memiringkan kepalanya se-milimeter ke kiri, lalu dengan gerakan secepat kilat menangkap pergelangan tangan Jack.
*KRETEK!*
"AAAKHHH!" Jack mengerang keras saat Leo memutar pergelangan tangannya ke arah yang berlawanan dengan sendi.
Sebelum Jack sempat membalas dengan tangan kirinya, Leo sudah menyarangkan satu tendangan lutut yang telak ke ulu hati pria berotot itu. Tubuh kekar Jack langsung tertekuk. Tanpa belas kasihan, Leo memutar tubuhnya, melepaskan tendangan memutar tepat di pelipis Jack.
*BUM!*
Tubuh Jack yang tadinya tampak tidak terkalahkan itu langsung tumbang ke lant** semen yang dingin, tidak bergerak lagi. Pingsan sekali pukul. Reputasi Jack sebagai mantan tentara bayaran elit langsung hancur lebur dalam hitungan detik di tangan sang mantan pembunuh bayaran nomor satu.
"A****! *Savage* banget, Leo! Kasih paham lah!" teriak Aruna girang, sampai-sampai kursi tempat dia diikat bergoyang-goyang. "Makanya, Om peyot! Jangan sok keras! Sewa bodyguard kok yang KW!"
Om Edwin gemetaran hebat. Wajahnya yang tadi merah padam karena amarah kini berubah pucat pasi seperti mayat. Dia mencoba meraba saku jasnya, berniat mengambil pistol, tapi Leo sudah lebih dulu menendang tangan Om Edwin hingga terdengar bunyi patah tulang yang renyah.
"Aduh! Tanganku! Dasar ke*****!" jerit Om Edwin sambil memegangi tangannya yang lunglai.
Pada saat yang sama, pintu besi gudang kembali terbuka kasar. Kali ini, puluhan polisi bersenjata lengkap ma**k dipimpin oleh asisten pribadi ayah Aruna.
"Jangan bergerak! Angkat tangan!" teriak para polisi.
Om Edwin langsung berlutut dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Polisi dengan cepat memborgolnya, sementara tim medis segera mengurus Jack yang masih tidak sadarkan diri.
Leo berjalan sant** ke arah Aruna. Dia berlutut di depan gadis itu, lalu dengan cekatan memotong tali tambang yang mengikat tubuh Aruna menggunakan pisau lipat kecil yang selalu dia bawa.
Begitu talinya terlepas, Aruna tidak langsung berdiri. Dia malah memajukan wajahnya, menatap Leo dengan mata bulatnya yang berbinar-binar. "G***, lo keren banget tadi. *Damage*-nya gak ngotak, Leo. Gue hampir aja mau pingsan karena terpesona."
Leo hanya memutar bola matanya malas, meski dalam hati ada sedikit rasa hangat yang menjalar. "Bisa berdiri gak? Kalau bisa, buruan. Tempat ini bau oli, gue gak suka."
"Dih, gak ada manis-manisnya banget jadi cowok. Tolongin kek, gendong kek!" gerutu Aruna, walau akhirnya dia berdiri sendiri sambil membersihkan debu di gaunnya yang mahal.
***
Satu minggu setelah kejadian menegangkan di gudang bawah tanah itu, keadaan benar-benar berubah total.
Berita tentang penangkapan Edwin Adijaya karena ka**s percobaan penculikan, pemerasan, dan penggelapan dana perusahaan langsung menjadi *trending topic* nomor satu di seluruh media nasional. Reputasi Om Edwin hancur lebur, dan dia dipastikan akan mendekam di penjara dalam waktu yang sangat lama. Di sisi lain, Jack dideportasi dan dilarang ma**k ke negara ini lagi, reputasinya di dunia bawah tanah tamat seketika.
Dengan begitu, posisi Aruna sebagai pewaris tunggal seluruh kekayaan dan perusahaan keluarga Adijaya kini sepenuhnya aman. Tidak ada lagi ancaman, tidak ada lagi teror, dan tidak ada lagi musuh dalam selimut.
Sore itu, di dalam penthouse mewah milik Aruna, suasana terasa sangat tenang. Matahari senja ma**k melalui jendela kaca besar, menyinari Aruna yang sedang asyik memakan keripik kentang di sofa sambil menonton drama Korea.
Leo berjalan mendekat. Dia tidak lagi memakai setelan jas hitamnya yang kaku. Sore ini, dia hanya memakai kaus hitam polos dan celana jins, tampak sangat sant** namun tetap terlihat sangat tampan. Di tangannya, ada sebuah amplop cokelat tebal.
"Aruna," panggil Leo datar.
Aruna menoleh, mulutnya masih mengunyah. "Hah? Kenapa, Le? Sini duduk, seru nih dramanya. Si cowoknya lagi dituduh selingkuh, padahal mah cuma bantuin nenek-nenek nyeb**ng."
Leo tidak duduk. Dia meletakkan amplop cokelat itu di atas meja kopi di depan Aruna.
Aruna mengerutkan keningnya. Dia meletakkan bungkus keripik kentangnya, lalu menatap amplop itu dengan perasaan tidak enak. "Apaan nih? Surat cinta? Duh, Leo, kalau mau nembak jangan pakai amplop ginian dong, formal amat kayak mau lamar kerja."
"Itu surat pengunduran diri gue. Dan laporan pertanggungjawaban tugas terakhir gue," kata Leo tenang.
Gerakan tangan Aruna yang hendak meraih gelas jus langsung terhenti. Dia mendongak, menatap Leo dengan tatapan tidak percaya. "Maksud lo apa?"
"Tugas gue udah selesai, Aruna. Om Edwin udah dipenjara. Musuh-musuh lo udah gak ada. Posisi lo sebagai pewaris aman seratus persen. Lo gak butuh pengawal pribadi lagi," jelas Leo dengan nada suara yang sangat tenang, seolah dia sedang membicarakan cuaca. "Gue mau pamit."
"Pamit? Mau ke mana lo?!" suara Aruna mulai meninggi, ada nada panik yang tidak bisa dia sembunyikan.
"Gue mau cari pekerjaan lain. Yang lebih tenang. Mungkin buka kedai kopi di kota kecil, atau bertani. Pokoknya hidup normal tanpa harus megang senjata lagi. Hidup yang membosankan," jawab Leo. Senyum tipis, sangat tipis, muncul di bibirnya. Itu adalah impiannya sejak memutuskan berhenti menjadi pembunuh bayaran.
Aruna langsung berdiri dari sofa. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi dia menolak untuk terlihat lemah. Dia menatap Leo dengan tatapan galak andalannya. "Gak bisa! Enak aja lo mau pergi gitu aja! Lo pikir setelah semua yang kita lewati, lo bisa *ghosting* gue?"
"Ini bukan *ghosting*, Aruna. Ini profesional kerja. Kontrak gue sama bokap lo emang cuma sampai masalah ini selesai."
"Gue gak peduli sama kontrak bokap!" terawat Aruna egois. "Gue gak setuju lo pergi! Siapa yang bakal dengerin gue ngoceh tiap hari? Siapa yang bakal ngebela gue kalau ada yang jahat? Siapa yang bakal nemenin gue beli seblak malam-malam?"
"Lo bisa sewa bodyguard baru. Yang lebih profesional, yang gak punya masa lalu kelam kayak gue," balas Leo lembut, mencoba memberi pengertian.
"Gak mau! Gue cuma mau lo!" teriak Aruna, air matanya akhirnya menetes juga. "Lo jahat banget sih, Leo. Lo udah bikin gue ketergantungan sama lo, terus sekarang lo mau pensiun dan ninggalin gue?"
Leo terdiam. Melihat air mata Aruna membuat dadanya terasa sesakβsebuah perasaan asing yang tidak pernah dia rasakan selama puluhan tahun menjadi mesin pembunuh yang dingin.
Aruna tiba-tiba menghapus air matanya dengan kasar. Dia berbalik, berjalan cepat ke arah kamarnya, lalu kembali beberapa menit kemudian dengan membawa selembar kertas yang baru saja dia cetak dari printer kamarnya.
*B**K!*
Aruna membanting kertas itu ke atas meja, tepat di atas amplop cokelat milik Leo.
"Baca!" perintah Aruna ketus, sambil melipat kedua tangannya di dada.
Leo menaikkan sebelah alisnya. Dia mengambil kertas itu dan mulai membaca baris demi baris. Detik berikutnya, mata Leo melebar, sesuatu yang sangat jarang terjadi pada seorang mantan pembunuh bayaran berdarah dingin.
Di bagian atas kertas itu tertulis dengan huruf kapital tebal:
**KONTRAK KERJA SEUMUR HIDUP TANPA BATAS**
Leo membaca poin-poin di dalamnya dengan dahi berkerut:
*1. Pihak Pertama (Aruna Adijaya) mempekerjakan Pihak Kedua (Leo) sebagai Bodyguard Pribadi, Driver, Food Taster, Pawang Emosi, sekaligus PACAR SEUMUR HIDUP.*
*2. Pihak Kedua dilarang keras mengundurkan diri, resign, kabur, atau menghilang tanpa izin tertulis dari Pihak Pertama sampai maut memisahkan.*
*3. Pihak Kedua wajib menemani Pihak Pertama kapan pun dan di mana pun, terma**k saat gabut, sedih, maupun senang.*
*4. GAJI: Tidak Terbatas. Pihak Kedua berhak memegang Black Card milik Pihak Pertama dan menggunakannya sesuka hati.*
Leo hampir saja tersedak air liurnya sendiri saat membaca poin terakhir. Dia menatap Aruna yang sekarang sedang menatapnya dengan dagu terangkat menantang, meski pipinya merona merah jambu.
"Aruna... apa-apaan ini?" tanya Leo, suaranya sedikit bergetar karena menahan tawa. "Pawang emosi? Pacar seumur hidup? Sejak kapan ada kontrak kerja kayak gini?"
"Sejak detik ini! Gue yang bikin aturannya, jadi terserah gue!" sahut Aruna ketus, walau matanya melirik ke arah lain karena salah tingkah. "Gaji lo gak terbatas, Leo. Lo mau beli kedai kopi? Gue beliin sama ruko-rukonya sekalian. Lo mau hidup tenang? Gue bisa sewa pulau pribadi buat kita berdua. Tapi syaratnya satu: lo gak boleh jauh-jauh dari gue."
Leo menatap kertas itu lagi, lalu menatap gadis keras kepala di depannya. Gadis yang super manja, cerewet, hobi belanja, tapi juga memiliki keberanian yang luar biasa. Gadis yang tanpa dia sadari telah mencuri seluruh perhatiannya selama beberapa bulan terakhir ini.
"Gue ini mantan pembunuh bayaran, Aruna. Hidup gue penuh bahaya. Kalau lo tetap sama gue, hidup lo gak akan pernah tenang lagi," kata Leo lirih, mencoba mengingatkan untuk terakhir kalinya.
Aruna melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Dia menatap langsung ke dalam mata hitam Leo yang dalam. "Emangnya kapan hidup gue pernah tenang sejak ketemu lo? Tapi gue gak peduli. Hidup tenang itu membosankan, Leo. Gue mau hidup yang penuh petualangan, dan gue maunya cuma sama lo."
Hening sesaat menyelimuti penthouse mewah itu.
Perlahan, sebuah senyuman pasrah terukir di wajah tampan Leo. Senyuman yang sangat tulus, yang membuat ketampanannya naik berlipat-lipat ganda. Dia menyadari satu hal: dia sudah kalah. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Leo sangat menikmati kekalahannya.
"Gak ada opsi buat negosiasi?" tanya Leo main-main.
"Gak ada! Tanda tangan sekarang atau gue nangis sekencang-kencangnya biar tetangga sebelah mikir lo ngapa-ngapain gue!" ancam Aruna dengan mata membelalak lucu.
Leo terkekeh pelan. Dia mengambil pulpen dari saku kaus hitamnya, lalu membubuhkan tanda tangannya di atas kertas kontrak "g***" tersebut.
Begitu melihat tanda tangan Leo, wajah Aruna langsung berubah cerah seketika. Dia melompat kegirangan dan tanpa aba-aba langsung menghambur ke pelukan Leo, memeluk leher pria itu dengan erat.
"Yesss! Lo resmi jadi milik gue seumur hidup, Leo!" seru Aruna senang.
Leo tertegun sejenak sebelum akhirnya melingkarkan lengannya di pinggang ramping Aruna, mendekap gadis itu dengan erat. Dia menghirup aroma manis rambut Aruna yang menenangkan.
Benar kata Aruna, hidupnya mungkin tidak akan pernah tenang lagi. Gadis ini adalah definisi dari kekacauan yang manis. Tapi saat ini, mendekap Aruna di dalam pelukannya, Leo tahu bahwa ini adalah petualangan terbaik dalam hidupnya yang tidak akan pernah mau dia lewatkan.
"Oke, Pacar," bisik Leo lembut di telinga Aruna, membuat wajah gadis itu langsung merah padam seperti kepiting rebus. "Mulai sekarang, tugas gue adalah jagain lo selamanya."
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!