Bodyguardku Mantan Pembunuh Bayaran Termahal

Bab 2: Teflon, Peluru, dan Diskon Bulanan

Pengaturan Membaca

**Bab 2: Teflon, Peluru, dan Diskon Bulanan**

Bagi seorang Leo, supermarket mewah di kawasan Jakarta Selatan seharusnya menjadi tempat paling aman di dunia. Tempat ini dipenuhi aroma roti panggang premium, musik jazz instrumental yang mengalun lembut dari pelantang suara, dan ibu-ibu sosialita yang sibuk memilih keju organik impor.

Sangat jauh dari medan perang berlumpur atau gang-gang gelap di Eropa Timur yang biasa Leo lalui.

Tapi entah kenapa, berdiri di samping Aruna Wijaya yang sedang mendorong troli belanjaan terasa sepuluh kali lebih menegangkan dibanding dikepung sepuluh agen KGB bersenjata lengkap.

"Leo, buruan ih! Jalannya jangan kayak robot gitu dong. Sant** aja kali, kita kan mau belanja, bukan mau upacara bendera," cerocos Aruna tanpa menoleh ke belakang.

Gadis itu sudah melepas *trench coat* gerahnya dan kini tampil sant** dengan *oversized sweater* rajut berwarna pastel dan celana jins pendek. Rambut panjangnya dicepol asal-asalan, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai wajah cantiknya. Sangat menggemaskan, kalau saja mulutnya bisa diam lebih dari lima menit.

Leo, yang berjalan tegap dengan setelan jas hitam andalannya, hanya menghela napas pelan. Matanya terus bergerak waspada, memindai setiap sudut supermarket. "Saya di sini untuk menjaga keselamatan Anda, Non Aruna. Bukan untuk sant**."

"Aduh, panggil Aruna aja. Kan udah dibilang berulang kali," gerutu Aruna sambil berbelok ke lorong peralatan rumah tangga. Tiba-tiba, langkahnya terhenti. Matanya yang bulat langsung berbinar-binar cerah, seolah baru saja menemukan harta karun terpendam. "Demi apa?! Leo, lihat ini!"

Leo otomatis memasang posisi siaga, tangannya hampir saja menyelinap ke balik jas untuk meraih pistol semi-otomatisnya. "Ada apa? Di mana ancamannya?"

"Itu! Diskon bulanan!" Aruna menunjuk sebuah rak besar yang dipenuhi tumpukan wajan teflon berwarna merah menyala. Di atasnya, terpampang tulisan besar: *DISKON 70% + CASHBACK 10% KHUSUS HARI INI!*

Leo mengerjapkan matanya. Dia menatap papan diskon, lalu menatap Aruna dengan ekspresi tidak percaya. "Non... maksud saya, Aruna. Anda adalah putri tunggal dari pemilik Wijaya Group. Kekayaan ayah Anda c**up untuk membeli pabrik teflon ini beserta seluruh cabangnya di Asia Tenggara. Kenapa Anda harus seheboh itu melihat diskon?"

Aruna mendengus, menatap Leo dengan pandangan meremehkan. "Leo, Leo. Kamu itu pinter, ganteng, tapi sayang agak lemot ya. Ini bukan soal punya duit atau enggak. Ini soal *kepuasan batin*! Sensasi berburu barang diskon itu rasanya kayak menang lotre tahu gak? Nih, pegang dulu!"

Tanpa permisi, Aruna mengambil salah satu wajan teflon berdiameter tiga puluh sentimeter dari rak dan menjejalkannya ke tangan Leo. Teflon premium buatan Jerman itu terasa c**up berat dan kokoh di genggaman Leo.

"Pegang yang erat. Jangan sampai diambil ibu-ibu lain. Aku mau cari sereal dulu di lorong sebelah," perintah Aruna, lalu melenggang pergi dengan langkah riang.

Leo menatap wajan teflon di tangan kanannya, lalu menatap keranjang belanjaan di tangan kirinya. Dia, *The Specter*, pembunuh bayaran legendaris yang ditakuti di lima benua, sekarang berdiri di tengah supermarket mewah sambil memeluk teflon diskonan. Kalau mantan rekan-rekannya di dunia bawah tanah melihat ini, reputasinya pasti hancur lebur seketika.

Sambil menahan malu, Leo mengikuti Aruna ke lorong sereal. Di sana, Aruna sedang berjinjit, berusaha meraih sebuah kotak sereal impor berwarna ungu cerah di rak paling atas.

"Sini, biar saya ambilkan," ujar Leo, melangkah mendekat dan dengan mudah mengambil kotak sereal tersebut berkat tinggi badannya yang menjulang hampir 190 sentimeter.

"Nah, gitu dong. Berguna juga tinggi badan kamu," sahut Aruna sambil nyengir, merebut kotak sereal itu dari tangan Leo. "Ini dia! *Choco Frosted Flakes Limited Edition* rasa Cocoa-Berry. Ini sereal paling langka di jagat raya, Leo. Cuma diimpor sebulan sekali dan selalu habis dalam waktu lima menit. Beruntung banget aku hari ini!"

Leo melirik tabel nutrisi di belakang kotak sereal tersebut. Dahinya langsung mengernyit. "Kandungan gulanya terlalu tinggi. Ini hampir delapan puluh persen hanya pemanis buatan. Tidak baik untuk fokus belajar dan kesehatan jantung Anda."

Aruna memutar bola matanya malas. "Idih, cerewet banget sih. Kamu ini bodyguard apa dokter spesialis gizi, sih? Ini sereal penenang jiwa tahu! Kalau aku stres ngerjain skripsi, cuma sereal ini yang bisa menyelamatkan kesehatan mental aku."

"Tapiβ€”"

Sebelum Leo sempat menyelesaikan kalimatnya, insting pembunuh bayarannya yang sudah terlatih selama belasan tahun tiba-tiba menjeritkan alarm bahaya.

*Bulu kuduknya berdiri.*

Suasana supermarket yang tadinya bising oleh obrolan pengunjung mendadak terasa senyap di telinga Leo. Sensor spasialnya menangkap sesuatu yang tidak beres dari arah luar gedung. Melalui dinding kaca besar supermarket yang menghadap langsung ke jalan raya dan gedung perkantoran di seberangnya, Leo melihat sebuah pantulan cahaya kecil yang sangat tipis.

*Refleksi lensa teleskopik.*

*Sniper!*

Semua itu terjadi dalam waktu kurang dari satu detik. Otak Leo langsung memproses lintasan peluru yang diperkirakan akan menembus kaca tebal supermarket dan langsung mengarah tepat ke dada Aruna.

Tidak ada waktu untuk menarik Aruna jatuh ke lant**. Jarak peluru terlalu cepat. Tidak ada waktu juga untuk menarik senjatanya sendiri.

Menggunakan refleks dewa yang membuatnya bertahan hidup di ratusan misi mustahil, Leo mengayunkan tangan kanannya yang memegang wajan teflon diskonan tadi dengan kecepatan ekstrem.

*PRANG!!!*

Kaca tebal supermarket pecah berantakan.

Detik berikutnya, sebuah dentingan logam yang sangat nyaring bergema di lorong sereal.

*TANG!!!*

Peluru kaliber .338 Lapua Magnum yang dirancang untuk menembus rompi antipeluru militer, menghantam tepat di bagian tengah wajan teflon yang dipegang Leo. Benturan keras itu menimbulkan percikan api kecil. Hebatnya, teflon premium buatan Jerman itu tidak bolong, melainkan hanya penyok parah di bagian tengahnya, berhasil meredam dan membelokkan arah peluru.

Namun, pecahan peluru yang terbelah dan gelombang kejut dari benturan tersebut melesat ke samping, tepat ke arah kotak sereal yang sedang dipeluk erat oleh Aruna.

*SPLAT!!!*

Kotak karton sereal ungu itu hancur berkeping-keping. Ratusan serpihan sereal cokelat berbentuk bulat dan bubuk kakao manis meledak di udara, menyembur seperti konfeti dan mengotori seluruh wajah serta baju rajut pastel Aruna.

"Tiarap!" teriak Leo.

Dengan satu gerakan cepat, Leo menjatuhkan wajan teflonnya, lalu menerkam Aruna dan mendekap tubuh gadis itu erat-erat di lant**, menggunakan tubuh kekar dan jas hitamnya sebagai perisai manusia. Dia bersiap menghadapi tembakan kedua. Tangannya kini sudah memegang pistol Glock-19 yang dilengkapi peredam suara dari balik jasnya.

Pengunjung supermarket mulai berteriak histeris. Alarm gedung berbunyi nyaring. Kekacauan massal terjadi dalam sekejap.

Leo terus mengawasi jendela luar dengan tatapan tajam bagai elang, menganalisis posisi penembak runduk di gedung seberang. "Target tampaknya sudah kabur setelah tembakan pertama meleset," gumam Leo dingin melalui *earpiece*-nya, melaporkan situasi pada tim taktis cadangan yang bersiaga di luar.

Dia kemudian menunduk, menatap Aruna yang masih berada di bawah dekapannya. Leo khawatir gadis itu akan syok, menangis histeris, atau bahkan pingsan karena trauma hampir kehilangan nyawa.

"Aruna? Anda baik-baik saja? Ada yang terluka?" tanya Leo dengan nada suara yang sedikit melunak, mencoba menenangkannya.

Aruna diam membeku. Matanya terbelalak lebar. Wajahnya yang tercoreng bubuk cokelat sereal tampak sangat pucat. Tubuhnya gemetar hebat.

"A-Aruna?" Leo mulai panik. Apakah ada serpihan peluru yang mengenai organ vital gadis ini tanpa dia sadari? "Bertahanlah, saya akan segera membawa Anda ke rumah sakitβ€”"

"Serealku..." bisik Aruna dengan suara bergetar.

Leo mengernyitkan dahi. "Apa?"

"SEREAL LMTD EDITION AKUUUUU!!! YA AMPUN, LEOOOO!!!"

Tiba-tiba, Aruna bangkit berdiri dengan histeris, mengabaikan peringatan keselamatan dari Leo. Gadis itu menatap nanar ke arah lant** yang kini dipenuhi bubuk cokelat campur serpihan sereal yang hancur lebur. Dia berlutut, mencoba mengumpulkan sisa-sisa sereal yang masih utuh dengan tangan gemetar.

"Ini cuma restock setahun sekali! Aku antre dari jam lima pagi di website kemarin buat dapet voucher belinya! Dan sekarang... sekarang sereal aku jadi debu?!" Aruna berteriak frustrasi, matanya berkaca-kaca menahan tangis. Dia menunjuk ke arah jendela kaca yang pecah dengan wajah merah padam karena marah. "Siapa sih yang nembak?! Kurang kerjaan banget! Kalau mau tawuran jangan di supermarket dong! Bilangin sama yang nembak, aku tantang dia duel sekarang juga! Gantiin sereal aku!"

Leo terpaku di tempatnya berdiri. Dia perlahan menurunkan pistolnya dan mema**kkannya kembali ke dalam sarung senjata di balik jas.

Dia menatap bergantian antara kaca jendela yang pecah, teflon penyok di lant** yang baru saja menyelamatkan nyawa mereka, dan majikannya yang sekarang sedang menangis dramatis meratapi nasib sereal cokelat yang hancur.

Tidak ada rasa takut sama sekali di mata Aruna. Gadis itu tidak peduli bahwa sedetik yang lalu, kepalanya hampir saja berlubang diterjang peluru sniper profesional. Dia hanya peduli pada sereal Cocoa-Berry miliknya.

Leo memijat pelipisnya yang mendadak terasa sangat berdenyut nyeri.

Selama sepuluh tahun menjadi pembunuh bayaran, Leo telah menghadapi berbagai macam situasi ekstrem. Dia pernah disiksa, dikhianati, dan dikepung pa**kan khusus. Tapi tidak ada satu pun dari kejadian itu yang berhasil membuat mentalnya terguncang.

Hari ini, di lorong sereal sebuah supermarket mewah di Jakarta, Leo akhirnya menyadari satu hal yang mutlak.

Menjaga Aruna Wijaya jauh lebih berbahaya bagi kesehatan mental dan kewarasannya dibanding menjalankan misi bunuh diri mana pun di dunia ini.

"Aruna," panggil Leo dengan suara lelah, sambil membungkuk untuk memungut wajan teflon yang sudah penyok berbentuk lingkaran peluru. "Kita harus pergi sekarang sebelum polisi datang."

"Gak mau! Sebelum pihak supermarket ganti rugi serealku!" bantah Aruna keras kepala, masih berusaha menyapu sisa sereal dengan tisu instan.

Leo memejamkan matanya erat-erat, menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Dia kemudian meraih pergelangan tangan Aruna, menarik gadis itu berdiri, dan setengah menyeretnya pergi dari lorong sereal yang kini sudah mirip zona perang mini.

"Lepasin, Leo! Serealku! Teflon diskonnya juga jangan lupa dibawa! Itu teflon sakti, bisa nahan peluru! Leo!" teriak Aruna sepanjang jalan keluar.

Leo mengabaikan semua teriakan itu. Satu-satunya hal yang ada di pikirannya saat ini adalah: *Apakah masih ada waktu untuk membatalkan kontrak kerja ini?*

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca