Bodyguardku Mantan Pembunuh Bayaran Termahal

Bab 3: Rating Bintang Lima untuk Baku Hantam

Pengaturan Membaca

**Bab 3: Rating Bintang Lima untuk Baku Hantam**

Perjalanan pulang dari supermarket mewah itu seharusnya berlangsung tenang. Di kursi belakang mobil Mercedes-Benz hitam yang dikemudikan Leo, tumpukan kantong belanjaan tertata rapi. Mulai dari sereal impor, buah-buahan organik, hingga wajan teflon diskon tujuh puluh persen yang tadi sempat didekap Leo seperti memegang senjata pusaka.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.

Saat mobil berbelok ke arah jalan pintas yang agak sepi—sebuah kawasan perumahan elite yang kanan-kirinya masih dibatasi tembok-tembok tinggi dan pepohonan rindang—sebuah mobil van abu-abu metalik mendadak melesat dari arah berlawanan. Van itu memotong jalan dengan kasar, lalu berhenti melintang di depan mobil mereka.

*Ckiiiiiiiit!*

Leo menginjak pedal rem dengan presisi tinggi. Mobil berhenti hanya beberapa sentimeter dari bemper van tersebut. Tubuh Aruna sempat terdorong ke depan, namun tertahan oleh sabuk pengaman.

"Aduh! Astaga, Leo! Untung dahi berharga aku gak jedot dasbor!" keluh Aruna sambil memegangi kepalanya, meski sebenarnya dia sama sekali tidak terluka.

Belum sempat Leo menjawab, sebuah mobil SUV hitam lain muncul dari arah belakang dan langsung memblokir jalan keluar mereka. Mereka terjebak di tengah-tengah.

Dari dalam van abu-abu, pintu geser terbuka kasar. Lima orang pria berbadan kekar dengan jaket kulit hitam, celana jins robek-robek, dan masker penutup wajah setengah tiang turun satu per satu. Di tangan mereka, ada yang membawa balok kayu, pipa besi, bahkan ada yang memegang rant** motor.

Leo mengembuskan napas perlahan. Matanya yang tajam langsung memindai situasi melalui kaca depan dan kaca spion. *Lima orang di depan. Tiga orang di belakang. Amatir. Postur tubuh berantakan, cara memegang senjata terlalu kaku.* Bagi mantan pembunuh bayaran termahal di Eropa Timur, gerombolan ini tidak lebih dari sekumpulan lalat yang mengganggu waktu tidurnya.

"Aruna," suara Leo terdengar sangat tenang, hampir seperti robot. "Tetap di dalam mobil. Kunci semua pintu dari dalam. Jangan keluar apa pun yang terjadi."

Aruna, yang awalnya mau marah-marah karena popcorn karamelnya hampir tumpah, langsung menjengitkan kepalanya ke depan. Matanya yang bulat berbinar cerah melihat pemandangan di luar. Bukannya takut atau panik seperti cewek-cewek di film horor, dia malah terlihat sangat... bersemangat.

"Wah, g***! Ini beneran ada adegan hadang-hadangan?!" seru Aruna, wajahnya hampir menempel ke kaca jendela samping. "Leo, mereka itu penjahat beneran? Atau kru kamera tersembunyi? Kok mirip banget sama figuran sinetron azab, sih?"

Leo memijat pelipisnya yang mulai terasa pening. "Ini nyata, Aruna. Mereka sengaja dikirim seseorang untuk mengincar Anda. Tolong, patuhi instruksi saya."

"Oke, oke! Sant** aja kali. Aku gak bakal keluar, kok. Di luar panas, entar *skincare* mahal aku sia-sia," sahut Aruna sant**. Gadis itu malah membetulkan posisi duduknya, bersandar nyaman di kursi kulit yang empuk, lalu meraba-raba kantong belanjaan di sampingnya. Dia mengeluarkan sebungkus popcorn karamel yang tadi sempat dia beli di area kasir.

Leo menggelengkan kepala heran. Dia membuka pintu kemudi, melangkah keluar, lalu menutup pintu mobil dengan bunyi klik yang solid. Begitu kakinya menapak di aspal, aura hangat dan penurut yang biasa dia tunjukkan di depan Aruna langsung menguap tanpa bekas. Yang tersisa hanyalah tatapan sedingin es milik seorang predator puncak.

Leo merapikan kerah jas hitamnya, berjalan beberapa langkah ke depan, lalu berdiri tegak dengan kedua tangan dima**kkan ke dalam saku celana.

"Heh, Bocah! Mana bos lo?!" teriak salah satu preman yang kepalanya botak licin, sambil memukulkan pipa besi ke telapak tangannya sendiri. "Serahin cewek di dalam mobil itu kalau lo masih sayang nyawa!"

Leo tidak menjawab. Dia hanya melirik jam tangan Rolex-nya. *Pukul empat sore lewat lima belas menit. Kalau lewat dari jam lima, jalanan utama menuju apartemen Aruna akan macet total.*

"Saya beri waktu sepuluh detik untuk kalian ma**k kembali ke dalam mobil dan pergi," kata Leo, suaranya datar namun memiliki penekanan yang membuat bulu kuduk merinding. "Satu... dua..."

"Halah! Belagu banget nih sopir! Sikat, Guys!" teriak si Botak.

Dua preman pertama langsung menerjang maju. Salah satunya mengayunkan balok kayu ke arah kepala Leo.

Di dalam mobil, Aruna buru-buru menurunkan kaca jendela samping sekitar lima sentimeter—c**up untuk menyalurkan suaranya ke luar, sekaligus agar dia bisa mendengar suara baku hantam dengan lebih jelas. Dia mema**kkan segenggam popcorn ke dalam mulutnya, mengunyahnya dengan ritme lambat, lalu mulai menonton dengan mata berbinar.

"Ayo, Leo! Tunjukkan pesonamu!" sorak Aruna dari dalam mobil, suaranya terdengar agak bindeng karena mulutnya penuh makanan.

Leo tidak terpengaruh oleh sorakan absurd majikannya. Begitu balok kayu itu hampir mengenai wajahnya, Leo sedikit memiringkan kepalanya ke kiri—gerakan minimalis yang sangat presisi. Balok kayu itu hanya menerpa angin kosong. Di saat yang sama, tangan kanan Leo melesat keluar dari saku celana, mencengkeram pergelangan tangan si penyerang, lalu memutarnya ke belakang dengan sekali sentakan cepat.

*KRAK!*

"AAAGHH!" Preman pertama langsung jatuh berlutut, memegangi lengannya yang dislokasi.

"Waduh! G***, cepat banget!" komentar Aruna dari dalam mobil, tangannya sibuk mengunyah popcorn. "Tapi bentar... gerakannya terlalu simpel, Leo! Kurang dramatis! Harusnya tadi ada efek *slow motion* pas kamu menghindar! Aku kasih nilai 6.5 buat pembukaannya!"

Leo yang mendengar komentar itu dari jarak dekat hanya bisa menghela napas dalam hati. Dia memutar tubuhnya tepat waktu untuk menghindari sabetan rant** motor dari preman kedua. Dengan gerakan refleks yang luar biasa, Leo menangkap ujung rant** tersebut, menariknya dengan kuat hingga tubuh si preman terseret ke depan, lalu menyambut wajah preman itu dengan satu hantaman lutut yang keras.

*BUM!*

Preman kedua langsung tumbang ke aspal dengan hidung berdarah, langsung pingsan di tempat.

"Oke, yang itu lumayan!" teriak Aruna lagi, kini tubuhnya sudah condong ke arah jendela. "Hantaman lututnya estetik! Mirip adegan di film-film aksi Hollywood. Tapi sayang, jas kamu jadi agak berdebu tuh di bagian lututnya. Aku potong satu poin karena merusak estetika *fashion*. Jadi 7.5!"

Dua preman lain yang melihat dua temannya tumbang dalam hitungan detik mulai merasa ngeri. Namun, karena terlanjur dibayar mahal, mereka berteriak histeris dan menyerang Leo bersamaan dari arah kiri dan kanan.

Leo tetap tenang. Kakinya bergeser selangkah ke belakang. Dia menangkap pukulan pipa besi dari preman ketiga dengan telapak tangan kosong—membuat preman itu membelalak kaget karena telapak tangan Leo sekeras baja—lalu menggunakan momentum itu untuk menendang dada preman keempat yang baru saja mau mendekat.

Tendangan berputar Leo mendarat telak di dada preman keempat, membuatnya melayang sejauh dua meter dan mendarat keras di atas kap mesin mobil van mereka sendiri hingga penyok.

*B**AAKK!*

"GOKIL!" Aruna bertepuk tangan heboh di dalam mobil, bahkan sampai menjatuhkan beberapa butir popcorn ke karpet mobil. "Itu nendangnya pakai teknik apa, Leo?! Keren banget! *Angle*-nya pas banget dari kaca depan aku! Itu dapet 9.0! Tapi tunggu... mobil van-nya kasihan banget sampai penyok gitu. Pemilik aslinya pasti menangis di pojokan."

Leo mengabaikan penilaian juri dadakan tersebut. Dia memutar pergelangan tangan preman ketiga yang masih memegang pipa besi, merebut pipa tersebut dengan mudah, lalu memukulkannya ke bagian belakang lutut si preman hingga dia jatuh berlutut. Satu ketukan ringan di tengkuk membuat preman ketiga langsung jatuh pingsan di samping ban mobil.

Kini tersisa si Botak, sang pemimpin kelompok. Pria itu gemetaran melihat seluruh anak buahnya tumbang dalam waktu kurang dari satu menit tanpa bisa memberikan satu pun pukulan balasan yang berarti pada pemuda berjas rapi di depannya.

"Lo... lo sebenarnya siapa, sih?!" tanya si Botak dengan suara bergetar, melangkah mundur perlahan hingga punggungnya membentur pintu mobil van.

Leo tidak menjawab. Dia hanya melangkah maju perlahan. Setiap langkah kaki pantofelnya yang berbunyi ketukan pelan di aspal terasa seperti lonceng kematian bagi si Botak.

"Jangan mendekat! Gue punya..." Si Botak mencoba meraba bagian belakang pinggangnya, berniat mengambil pisau lipat.

Namun, sebelum tangannya sempat menyentuh senjata, Leo sudah berada di depannya dalam sekejap mata. Tangan Leo bergerak seperti kilat, mencengkeram leher si Botak dan mengangkat tubuh pria berbobot delapan puluh kilogram itu dengan satu tangan hingga kakinya menggantung di udara.

Wajah si Botak langsung membiru karena kekurangan oksigen. Matanya membelalak ketakutan saat melihat tatapan mata Leo yang sangat dingin—tatapan tanpa emosi yang hanya dimiliki oleh seseorang yang sudah biasa mencabut nyawa manusia.

Di dalam mobil, Aruna mendadak terdiam. Popcorn di tangannya tertahan di udara. Dia menatap profil samping wajah Leo yang terlihat sangat tegas, rahangnya yang mengeras, dan aura berbahaya yang menguar kuat dari tubuh bodyguard-nya itu. Entah kenapa, ada desiran aneh di dadanya. *G***... dingin banget. Tapi... kok ganteng banget ya pas lagi mode serius gini?* batin Aruna, pipinya mendadak terasa sedikit hangat.

Namun, Aruna segera menggelengkan kepala, mengusir pikiran aneh itu. Dia kembali ke mode juri kompetisi bakatnya.

"Leo! Jangan dicekik sampai mati dong! Nanti kita repot berurusan sama polisi! Aku gak mau ya jadwal belanja bulanan aku keganggu gara-gara kamu ma**k penjara!" teriak Aruna dari celah jendela.

Mendengar suara Aruna, kesadaran Leo seperti ditarik kembali ke dunia nyata. Aura membunuhnya langsung meredup. Dia melirik Aruna sekilas melalui sudut matanya, lalu kembali menatap si Botak yang sudah hampir pingsan.

"Siapa yang mengirim kalian?" tanya Leo dengan suara rendah yang hanya bisa didengar oleh si Botak.

"Ka... Kevin... Kevin Wijaya..." bisik si Botak dengan sisa-sisa napasnya.

Mendengar nama itu, mata Leo menyipit sejenak. Kevin Wijaya. Sepupu Aruna yang terkenal serakah dan selalu mengincar posisi pewaris utama di Wijaya Group. Ternyata pria itu sudah mulai berani bergerak secara terang-terangan.

Leo melepaskan cengkeramannya. Si Botak langsung jatuh merosot ke aspal, terbatuk-batuk hebat sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya.

"Bawa teman-temanmu dan pergi dari sini sekarang juga," kata Leo dingin. "Jika aku melihat wajah kalian lagi di sekitar Aruna, aku pastikan kalian tidak akan pernah bisa berjalan lagi seumur hidup."

Tanpa perlu diperintah dua kali, si Botak dengan sisa-sisa tenaganya langsung menyeret teman-temannya yang masih setengah sadar ma**k ke dalam van. Mobil van dan SUV hitam di belakang mereka langsung mundur dengan tergesa-gesa, lalu memutar balik dan melesat pergi meninggalkan kepulan asap tipis di jalanan sepi itu.

Leo mengembuskan napas panjang. Dia merapikan kembali jasnya yang sedikit berantakan, membersihkan debu fiktif di bahunya, lalu berjalan kembali ke arah pintu kemudi mobil.

Begitu dia membuka pintu dan ma**k ke dalam mobil, hawa sejuk dari AC langsung menyambutnya. Di kursi belakang, Aruna sudah menyilangkan kakinya dengan sant**, menatap Leo dengan senyum lebar yang sangat mencurigakan.

"Bagaimana, Non Aruna? Anda tidak apa-apa?" tanya Leo sambil menatap Aruna dari kaca spion tengah.

Aruna meletakkan bungkus popcorn yang sudah kosong di sampingnya, lalu menepuk-nepuk tangannya yang terkena bumbu karamel.

"Secara keseluruhan... aku kasih rating bintang empat!" ujar Aruna dengan nada riang, menirukan gaya juri ajang pencarian bakat di televisi.

Leo menaikkan sebelah alisnya. "Bintang empat? Dari lima?"

"Iya, dong!" Aruna memajukan tubuhnya, bertumpu pada sandaran kursi depan sehingga wajahnya kini berada sangat dekat dengan bahu Leo. Aroma parfum vanila lembut milik Aruna langsung memenuhi indra penciuman Leo, membuat pria itu sedikit menegang.

"Kenapa tidak bintang lima?" tanya Leo, mencoba mempertahankan nada suara profesionalnya yang datar.

Aruna mengerucutkan bibirnya, menatap Leo dengan pandangan menilai dari atas ke bawah. "Pertama, gerakan kamu tadi kurang estetik buat difoto. Harusnya pas kamu nendang orang yang sampai melayang itu, kamu pose dulu bentar biar aku bisa ambil foto *aesthetic* buat dipajang di *feed* Instagram. Kan lumayan buat nambah *followers*."

Leo menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai tingkat kesabarannya yang kini sedang diuji di batas maksimal. "Saya sedang bertarung demi keselamatan Anda, Aruna. Bukan sedang melakukan sesi pemotretan majalah *fashion*."

"Ya tahu, sih. Tapi kan estetika itu nomor satu, Leo!" bela Aruna keras kepala. "Terus alasan kedua, kamu tadi gak senyum sama sekali pas mukul orang. Mukanya datar banget kayak tembok rumah sakit. Kan aku udah bilang berulang kali, *keep smiling*! Biar *vibes*-nya kayak *oppa-oppa* Korea di drama aksi yang lagi melindungi pacarnya dengan penuh cinta. Kalau mukamu serem gitu, yang ada penjahatnya mati ketakutan duluan sebelum kamu pukul."

Leo memejamkan matanya sejenak. Dia merasa mematikan bom waktu dengan sisa waktu tiga detik di masa lalunya masih jauh lebih mudah dipahami daripada jalan pikiran gadis di belakangnya ini.

"Dan yang terakhir," lanjut Aruna, nadanya mendadak melunak, bahkan ada sedikit nada geli di suaranya. "Kancing jas kamu lepas satu tuh di bagian bawah. Jadi nilainya aku potong. Tapi ya sudahlah... karena kamu udah berhasil melindungi teflon diskonan aku dengan selamat tanpa ada c**** sedikit pun, aku tambahin setengah bintang deh. Jadi rating kamu sore ini adalah empat setengah bintang! Selamat, Leo!"

Aruna bertepuk tangan sendiri dengan riang, lalu kembali bersandar di kursi belakang sambil bersenandung kecil, seolah kejadian baku hantam yang baru saja terjadi di depan matanya hanyalah pertunjukan sirkus gratisan sore hari.

Leo menatap kancing jasnya yang memang terlepas satu—mungkin akibat gerakan refleksnya saat menghindari rant** motor tadi. Dia menggelengkan kepala pelan, namun tanpa sadar, sebuah senyum tipis yang sangat samar terukir di sudut bibirnya. Senyum yang bahkan tidak pernah dia tunjukkan selama bertahun-tahun hidup di dunia bawah tanah yang kelam.

"Terima kasih atas penilaiannya, Non Aruna," kata Leo lembut, lalu mulai menyalakan mesin mobil. "Sekarang, kita harus segera pulang sebelum juri saya ini kelaparan dan memberikan rating bintang satu untuk pelayanan saya."

"Nah, gitu dong! Pinter!" sahut Aruna sambil tertawa renyah. "Buruan jalan, Leo! Aku udah gak sabar mau coba masak pakai teflon baru kita!"

Mobil Mercedes-Benz hitam itu pun kembali melaju membelah jalanan Jakarta, meninggalkan sisa-sisa ketegangan di belakang mereka, digantikan oleh tawa kecil Aruna yang entah sejak kapan, mulai terdengar seperti melodi yang menyenangkan di telinga sang mantan pembunuh bayaran termahal itu.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca