**Bab 4: Konspirasi Om Edwin dan Musuh Masa Lalu**
Gelas kristal berisi wiski mahal itu melayang di udara sebelum akhirnya hancur berkeping-keping setelah dihantamkan ke dinding marmer. Cairan amber beralkohol itu menetes lambat, mengotori wallpaper dinding sutra yang harganya setara motor matic keluaran terbaru.
"Si****! Go****! Gak berguna!"
Edwin Pradipta—pria paruh baya dengan setelan jas desainer yang tampak kusut—berteriak frustrasi. Napasnya memburu, wajahnya yang biasanya dipenuhi senyum palsu khas sosialita kini merah padam karena murka. Di atas meja kerjanya yang luas, sebuah tablet memperlihatkan rekaman video amatir berdurasi pendek. Rekaman itu menunjukkan lima orang berbadan kekar yang dikirimnya untuk menghadang mobil Aruna, kini terkapar tidak berdaya di aspal jalan pintas yang sepi. Mereka semua tumbang hanya dalam waktu kurang dari tiga menit.
"Gue udah bayar kalian mahal-mahal, tapi ngatasin satu bodyguard aja gak becus! Dasar sampah!" Edwin memaki layar tablet itu seolah orang-orang di dalamnya bisa mendengar.
Edwin adalah paman kandung Aruna. Di depan media dan keluarga besar, dia selalu berakting sebagai paman yang penyayang, sosok pengganti ayah bagi Aruna setelah kakak laki-lakinya—ayah Aruna—meninggal dunia. Namun di balik topeng hangat itu, Edwin adalah pria yang rakus. Dia terlilit utang judi kasino di Macau dan investasinya di beberapa proyek bodong macet total. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan dirinya dari kebangkrutan—dan dari ancaman para lintah darat—adalah dengan menguasai seluruh harta warisan Pradipta Group yang secara sah jatuh ke tangan Aruna begitu gadis itu menginjak usia dua puluh satu tahun.
Tinggal beberapa bulan lagi sebelum hari ulang tahun Aruna. Edwin harus bergerak cepat. Aruna harus lenyap, atau setidaknya dibuat tidak berdaya sehingga hak a**h dan pengelolaan seluruh aset jatuh ke tangannya.
"Gue udah bilang dari awal, Edwin. Ngirim preman pasar kayak gitu buat ngadepin dia itu sama aja kayak lu nyodorin leher ke pisau jagal."
Sebuah suara berat, dingin, dan sarat akan nada ejekan terdengar dari sudut ruangan yang remang-remang.
Edwin menoleh dengan gusar. Di sana, duduk di atas sofa kulit hitam, seorang pria dengan jaket kulit hitam dan celana kargo sedang asyik memainkan sebilah pisau lipat taktis. Pisau itu berputar dengan sangat cepat di sela-sela jarinya yang panjang, berkilat setiap kali terkena pantulan cahaya lampu gantung.
Pria itu bernama Jack. Penampilannya sangat ka**al, khas cowok-cowok bad boy perkotaan, lengkap dengan anting hitam di telinga kiri dan potongan rambut *undercut* yang rapi. Namun, siapa pun yang menatap matanya akan langsung merinding. Mata Jack dingin, kosong, dan tidak memiliki emisi emosi layaknya manusia normal. Dia adalah predator.
"Gue gak tau kalau bocah yang disewa Aruna itu sekuat itu, Jack!" bela Edwin, suaranya agak bergetar. Dia memang kejam, tapi berhadapan langsung dengan orang seperti Jack tetap membuatnya merasa terintimidasi. "Gue cuma tahu dia itu bodyguard baru yang direkrut lewat agensi biasa. Gimana bisa satu orang numbangin lima orang bersenjata tanpa luka sama sekali?!"
Jack terkekeh pelan. Suara kekehannya terdengar sangat menyebalkan di telinga Edwin. Dia melompat berdiri, berjalan perlahan mendekati meja kerja Edwin dengan langkah yang nyaris tanpa suara, mirip seekor macan tutul yang sedang mengint** mangsa.
"Agensi biasa? Lu emang bener-bener buta soal dunia luar ya, Om?" Jack meletakkan pisau lipatnya di atas meja Edwin dengan ketukan keras. "Bodyguard yang lu sebut 'bocah' itu punya nama sandi 'The Ghost' di Eropa Timur. Dia itu Leonidas. Mantan pembunuh bayaran nomor satu dengan tarif paling mahal di organisasi tempat gue bernaung dulu. Dia itu legenda yang tiba-tiba hilang dua tahun lalu setelah mutusin buat 'pensiun'."
Edwin terbelalak. Jantungnya berdegup kencang. "Pembunuh bayaran? Maksud lu... pembunuh bayaran profesional?!"
"Iya, Edwin yang pintar," ujar Jack sinis. "Dia bisa bunuh targetnya tanpa meninggalkan jejak setetes pun. Polisi bakal mengira itu serangan jantung atau kecelakaan biasa. Dan sekarang, monster kayak gitu malah jadi an**** penjaga keponakan kesayangan lu. Jadi, lu masih heran kenapa lima kroco lu tadi langsung ma**k UGD?"
Edwin mendadak merasa lehernya kering. Dia meraih botol wiski yang tersisa, menuangkannya ke gelas baru dengan tangan yang gemetar, lalu meneggaknya dalam sekali tenggak. "Kalau gitu... kalau gitu gimana? Kalau dia sekuat itu, rencana kita bisa gagal total! Aruna gak boleh tetap hidup, Jack! Kalau dia sampai tahu gue yang ada di balik semua ini, gue bakal habis!"
Jack menatap Edwin dengan pandangan meremehkan. Baginya, pria tua di depannya ini hanyalah sekantung daging penuh keserakahan yang tidak punya nyali. Jika bukan karena uang komisi yang sangat besar dan satu alasan pribadi lainnya, Jack tidak akan sudi bekerja sama dengan Edwin.
"Sant** aja kali. Gak usah panik kayak emak-emak kehilangan dompet," kata Jack sambil tersenyum miring, memperlihatkan deretan giginya yang putih rapi namun tampak mengerikan. "Justru ini kabar bagus buat gue. Sangat, sangat bagus."
Edwin mengerutkan dahi, bingung. "Kabar bagus? Apanya yang bagus?"
Jack mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga urat-urat di lengannya menonjol. Di balik lengan jaket kulitnya, ada bekas luka bakar panjang yang melintang dari pergelangan tangan hingga sikunya—sebuah suvenir yang diberikan oleh Leo dalam pertarungan terakhir mereka di Praha, beberapa tahun lalu. Pertarungan yang membuat Jack hampir mati dan kehilangan reputasinya sebagai pembunuh bayaran terbaik kedua. Dia selalu berada di bawah bayang-bayang Leo. Selamanya dicap sebagai yang 'nomor dua'.
Dendam itu sudah berkarat di dalam dada Jack, dan sekarang, takdir justru mempertemukan mereka kembali di Jakarta.
"Gue punya urusan pribadi yang belum selesai sama Leonidas," bisik Jack, matanya berkilat penuh kebencian sekaligus gairah berburu yang meluap-luap. "Dua tahun gue nyari dia ke seluruh penjuru dunia, gak nyangka dia malah nyasar di sini, jadi babu cewek manja anak kuliahan. Ini kesempatan emas buat gue untuk buktiin siapa yang sebenarnya paling hebat di antara kita berdua."
Edwin mulai menangkap arah pembicaraan Jack. Harapan baru mulai tumbuh di wajahnya yang cemas. "Jadi... lu bakal beresin dia?"
"Tentu saja," jawab Jack sant**. Dia mengambil pisaunya kembali dan melipatnya dengan bunyi *klik* yang tajam. "Tapi ada syaratnya."
"Apa? Uang? Gue bakal tambah komisinya sepuluh persen dari kesepakatan awal kalau lu berhasil!" kata Edwin cepat, matanya berbinar serakah.
Jack menggelengkan kepalanya perlahan, membuat Edwin mengernyit heran.
"Gue gak butuh tambahan recehan dari lu, Edwin. Duit yang lu janjikan di awal udah lebih dari c**up buat gue pensiun mewah di Karibia," ujar Jack. Dia mendekatkan wajahnya ke Edwin, membuat aura membunuh di sekitarnya terasa sangat pekat hingga Edwin menahan napas. "Syarat gue cuma satu. Jangan ada yang menyentuh Leo dan Aruna selain gue dan anak buah pilihan gue sendiri. Jangan kirim preman-preman gak jelas lagi yang cuma bikin Leo curiga. Biar gue yang eksekusi mereka berdua dengan cara gue sendiri."
"Kenapa harus lu sendiri?" tanya Edwin heran. "Kenapa gak sewa penembak jitu aja dari jauh? Lebih aman dan cepat, kan?"
Jack tertawa sinis, menepuk bahu Edwin dengan c**up keras hingga pria tua itu agak meringis. "Lu gak bakal paham seni dalam pekerjaan ini, Om. Membunuh Leonidas itu harus dilakukan secara personal. Gue mau lihat wajah putus asanya sebelum gue tusuk jantungnya. Dan buat cewek itu... Aruna..." Jack menjeda kalimatnya, senyumnya semakin lebar dan licik. "Gue bakal bikin dia jadi umpan terbaik untuk memancing jiwa monster Leo keluar lagi. Setelah Leo hancur, keponakan lu itu bakal menyusul dengan mudah."
Edwin menelan ludah. Kengerian sempat melintas di benaknya membayangkan nasib keponakannya, namun bayangan tentang tumpukan uang warisan dan kekuasaan di Pradipta Group dengan cepat menghapus rasa bersalahnya. Bagi Edwin, tidak ada ruang untuk empati.
"Oke. Deal," kata Edwin akhirnya, mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Jack. "Gue serahkan semuanya sama lu. Tapi ingat, Jack, waktu kita gak banyak. Begitu Aruna berulang tahun, pengacara keluarga bakal langsung memproses penyerahan asetnya."
Jack menatap tangan Edwin yang terulur dengan pandangan malas, lalu tanpa menjabatnya, dia berbalik badan dan melangkah menuju pintu keluar penthouse mewah tersebut.
"Gak usah khawatir. Nikmati aja wiski mahal lu itu selagi bisa," ucap Jack tanpa menoleh kembali. "Permainan baru aja dimulai. Dan kali ini, sang legenda gak bakal punya kesempatan buat selamat."
Pintu penthouse tertutup rapat dengan dentuman pelan, meninggalkan Edwin sendirian di ruangan yang kini terasa lebih dingin dari sebelumnya. Edwin kembali menatap layar tabletnya, menatap foto profil Aruna yang sedang tersenyum ceria di salah satu artikel berita kampus.
"Maafin Om, Aruna," gumam Edwin dengan senyum dingin yang menghiasi wajahnya. "Tapi dunia ini terlalu keras buat cewek manja kayak kamu. Harta itu bakal lebih berguna di tangan Om."
Sementara itu, di luar gedung pencakar langit, hujan mulai turun membasahi jalanan Jakarta yang macet. Jack berdiri di lobi, mengenakan helm full-face hitamnya sebelum naik ke atas motor sport besar miliknya yang berwarna hitam legam. Di balik kaca helmnya yang gelap, matanya menatap tajam ke arah jalanan, membayangkan pertemuan kembali dengan rival bebuyutannya.
*Leonidas... mari kita lihat seberapa tumpul insting membunuhmu setelah dua tahun jadi penga**h anak kaya,* batin Jack sebelum menyalakan mesin motornya yang langsung menderu keras, membelah malam yang pekat.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!