Bodyguardku Mantan Pembunuh Bayaran Termahal

Bab 5: Drift Cantik dan Maskara yang Luntur

Pengaturan Membaca

**Bab 5: Drift Cantik dan Maskara yang Luntur**

"Leo, lo bisa gak sih kalau nyetir itu agak sant** dikit? Ini mobil sport, ya, bukan odong-odong pasar malam! Kepala gue pusing tujuh keliling nih!"

Aruna bersungut-sungut di kursi penumpang sebelah kemudi. Tangannya sibuk memegang cermin kecil berlapis emas, sementara tangan kirinya memegang *cushion* mahal bermerek Dior. Jalan tol lingkar luar siang itu lumayan lengang, tapi cara Leo mengemudikan sedan sport Porsche Panamera miliknya benar-benar membuat lambung Aruna serasa diaduk-aduk.

Leo, yang duduk di balik kemudi dengan kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya, sama sekali tidak menoleh. Matanya terus bergerak aktif, menatap kaca spion tengah, lalu spion kiri dan kanan secara bergantian. Wajahnya datar tanpa ekspresi, seolah keluhan Aruna hanya dianggap sebagai angin lalu.

"Kita diikuti," ucap Leo pendek. Suaranya berat, tenang, tapi sarat akan kewaspadaan.

Aruna langsung menurunkan cerminnya. "Hah? Diikuti siapa lagi? Jangan bercanda deh, Leo. Gak lucu!"

"Lihat ke belakang," sahut Leo dingin. "Tiga SUV hitam di belakang kita. Sejak kita keluar dari gerbang tol tadi, mereka gak pernah ganti jalur dan terus jaga jarak yang sama."

Aruna menoleh ke belakang. Benar saja. Tiga mobil Toyota Fortuner hitam dengan kaca super gelap berkendara sejajar, membentuk formasi setengah lingkaran di belakang mereka. Jantung Aruna tiba-tiba berdegup kencang. Bayang-bayang kejadian kemarin, saat dia hampir diculik oleh preman-preman suruhan pamannya, kembali berputar di kepalanya.

"L-Leo... itu siapa? Orang-orangnya Om Edwin lagi?" tanya Aruna, suaranya mulai bergetar. Rasa panik mulai merayap di dadanya.

"Bukan," jawab Leo singkat. Tangannya bergerak cepat memindahkan tuas transmisi ke mode *Sport Plus*. Deru mesin Porsche itu langsung berubah, menghasilkan suara raungan yang lebih garang dan siap melesat kapan saja. "Ini levelnya beda. Ini pa**kan elite. Dan mereka gak main-main."

Belum sempat Aruna mencerna ucapan Leo, salah satu kaca samping SUV hitam di belakang mereka terbuka. Seorang pria bertopeng hitam menjulurkan setengah badannya keluar jendela, memegang sebuah senapan serbu otomatis.

*RATATATATATATA!*

"AAAKKKHHHH!!!" Aruna langsung menjerit histeris, refleks merunduk dan menutupi kepalanya dengan kedua tangan.

Suara peluru yang menghantam bagian belakang Porsche terdengar nyaring. Untungnya, mobil mewah milik Aruna ini sudah dimodifikasi oleh Leo dengan lapisan antipeluru standar militer pada bodi dan kacanya. Meski begitu, dentuman keras itu tetap saja membuat jantung serasa mau copot.

"Pegangan," perintah Leo datar.

"PEGANGAN GIMANA? GUE MAU MATI INI, LEO!" teriak Aruna histeris, air matanya mulai menggenang di pelupuk mata.

Leo tidak membalas. Dia langsung menginjak pedal gas sedalam-dalamnya. Porsche Panamera itu melesat bak peluru perak, membelah jalan tol dengan kecepatan di atas 180 km/jam. Tiga SUV di belakang mereka tidak mau kalah. Mereka menggeram keras, ikut memacu kecepatan dan terus memberondong mobil Leo dengan tembakan beruntun.

"A****, a****, a****! Sumpah gue belum mau mati! Gue belum nonton konser coldplay tahun depan, Leo! Gue juga belum nikah!" Aruna terus meracau panik di bawah dasbor.

Leo tetap fokus. Di depannya, ada sebuah tikungan tajam menuju jalur keluar tol. Kecepatan mereka saat ini terlalu tinggi untuk berbelok secara normal. Jika orang biasa yang menyetir, mobil itu pasti akan terguling atau menghantam pembatas jalan hingga hancur.

Namun, Leo bukanlah orang biasa.

Tepat sebelum tikungan, Leo menarik rem tangan dengan sentakan cepat, memutar kemudi ke kanan dengan sudut ekstrem, lalu langsung menginjak pedal gas lagi.

*SCREEEECHHHH!*

Ban mobil berdecit keras, menimbulkan kepulan asap putih yang tebal di aspal tol. Porsche itu meluncur menyamping dalam sudut kemiringan yang sangat sempurna. Sebuah *drift* cantik yang sangat presisi, melewati tikungan tajam itu tanpa kehilangan momentum kecepatan sama sekali.

"KYAAAAAAA!!! LEO, G*** LU YAAA!!!" teriak Aruna sekencang-kencangnya. Tubuhnya terombang-ambing ke kiri dan ke kanan, tertahan oleh sabuk pengaman yang untungnya terpasang dengan kuat.

Di belakang mereka, salah satu SUV musuh mencoba meniru gerakan tersebut, namun gagal total karena momentum yang terlalu besar. Mobil SUV itu kehilangan kendali, menghantam pembatas jalan tol dengan keras hingga terguling beberapa kali dan meledak di tengah jalan, menghalangi jalur dua SUV lainnya untuk sementara.

Leo melirik spion tengahnya sekilas. "Satu tumbang."

"Tumbang-tumbang gundulmu! Jantung gue yang mau tumbang ini!" Aruna menegakkan tubuhnya dengan napas terengah-engah. Keringat dingin mengucur deras dari dahinya, membasahi wajahnya yang tertutup *makeup* tebal.

Aruna menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Dia mencoba mengusap wajahnya yang terasa basah dan gerah. Tapi saat tangannya menyentuh area mata, dia merasakan ada sesuatu yang basah dan lengket.

Aruna segera mengambil cermin kecilnya lagi dengan tangan gemetar. Dan begitu dia melihat pantulan wajahnya di cermin...

"OH MY GOD!!! TIDAAAAKKKK!!!"

Jeritan Aruna kali ini jauh lebih melengking dan penuh penderitaan daripada saat mereka ditembaki peluru tadi. Leo sampai refleks mengernyitkan dahi, telinganya berdenging mendengar lengkingan lumba-lumba dari sebelah kirinya.

"Kenapa? Lu kena tembak?" tanya Leo, suaranya sedikit panik untuk pertama kalinya. Dia melirik tubuh Aruna dengan cepat, mencari-cari apakah ada darah yang mengalir.

"Lebih parah dari kena tembak, Leo! Lihat nih! Maskara gue luntur!" Aruna histeris, menunjuk-nunjuk matanya yang kini dikelilingi lingkaran hitam pekat seperti panda akibat keringat yang melunturkan riasannya. "Ini maskara Chanel, Leo! Harganya satu juta lebih! Katanya *waterproof*, tapi kenapa kena keringat dingin dikit langsung luntur kayak aspal basah begini?! Muka gue hancur! Gue kayak s**** beneran sekarang!"

Leo terdiam. Dia benar-benar kehabisan kata-kata.

Di belakang mereka, dua SUV musuh yang tersisa baru saja berhasil melewati rintangan mobil yang terbakar dan kini kembali mengejar mereka dengan kecepatan penuh. Desingan peluru kembali terdengar, beberapa di antaranya berhasil memecahkan kaca spion samping kiri Porsche.

Dan kliennya, anak konglomerat manja ini, justru menangisi maskara satu juta rupiah yang luntur?

"Aruna," panggil Leo dengan helaan napas berat, mencoba menahan emosinya yang mulai diuji oleh tingkat keabsurdan gadis di sampingnya. "Kita lagi dikejar pembunuh bayaran bersenjata lengkap. Bisa tolong fokus ke keselamatan nyawa lu dulu, baru mikirin maskara?"

"Gak bisa, Leo! Bagi cewek, penampilan itu nomor satu! Kalau gue mati sekarang, terus jenazah gue difoto wartawan dengan muka kayak panda begini, apa kata teman-teman arisan sosialita gue nanti?! Gue gak mau mati dalam kondisi gak estetik!" Aruna mengomel panjang lebar sambil sibuk mencari tisu basah di dalam tas Hermes miliknya yang berharga ratusan juta.

Leo hanya bisa mengelus dada sabar. Dia bersumpah, jika dia masih aktif di dunia hitam, dia lebih memilih berhadapan dengan satu batalion tentara bayaran daripada harus menjaga satu gadis manja seperti Aruna selama satu jam lagi.

Tiba-tiba, mata Leo menangkap sesuatu di spion tengah. Salah satu penumpang di SUV belakang kini merayap keluar dari *sunroof*. Di pundaknya, bertengger sebuah tabung peluncur roketβ€”RPG (Rocket Propelled Grenade).

"Sial," umpat Leo pelan. "Mereka bawa mainan berat."

"Mainan apa? Mainan anak-anak?" tanya Aruna polos, masih sibuk mengelap sisa maskara di bawah matanya dengan tisu basah.

"Merunduk!" teriak Leo dengan nada yang sangat tegas dan tidak menerima bantahan.

*SREEEET! BOOOMMMM!*

Sebuah roket meluncur cepat, meledak tepat di aspal jalan beberapa meter di samping kiri mobil mereka. Ledakan dahsyat itu membuat mobil Porsche milik Aruna sempat melayang beberapa senti dari tanah sebelum akhirnya mendarat kembali dengan guncangan yang luar biasa keras. Serpihan aspal dan api menyembur ke mana-mana.

"KYAAAA!!! APAAN ITU TADI?!" Aruna berteriak histeris, tisunya terbang entah ke mana. Dia kembali meringkuk di bawah dasbor, menutup telinganya erat-erat.

"Roket," jawab Leo singkat. Tangannya bekerja ekstra keras memutar kemudi dengan kecepatan tinggi, melakukan manuver zig-zag ekstrem untuk menghindari roket kedua yang tampaknya sedang dipersiapkan oleh musuh.

"G***! INI JALAN TOL JAKARTA APA MEDAN PERANG SIH?!" Aruna menangis histeris. "Leo, lakuin sesuatu kek! Tembak balik! Lu kan bodyguard termahal! Masa cuma bisa nyetir doang?!"

"Gue gak bisa nembak sambil nyetir dengan kecepatan dua ratus kilometer per jam di tikungan, Aruna. Kecuali lu mau megang setir ini," sahut Leo tenang, meski peluh mulai membasahi pelipisnya.

"Gak mau! Gue gak bisa nyetir mobil manual, apalagi dalam kondisi perang begini!"

"Makanya, diam dan pegangan!"

Leo melihat rambu jalan di depan. Ada jalur keluar menuju kawasan industri yang penuh dengan gudang-gudang besar dan kont**ner. Jalur itu sempit dan banyak kelokan tajam. Itu adalah medan yang sempurna untuknya.

Leo menginjak rem mendadak, membuat mobil di belakang mereka hampir menab**k bagian belakang Porsche. Sebelum musuh sempat bereaksi, Leo kembali melakukan *drift* ekstrem berputar 180 derajat, langsung meluncur ma**k ke jalur keluar kawasan industri dengan kecepatan penuh.

SUV musuh mencoba berbelok mengejar, tetapi karena bodi mobil mereka yang besar dan berat, mereka kesulitan bermanuver di jalanan sempit yang penuh dengan truk kont**ner yang sedang parkir.

Leo terus memacu mobilnya, meliuk-liuk di antara tumpukan kont**ner raksasa seperti ular yang lincah. Dia mengarahkan Porsche-nya ke dalam salah satu lorong sempit di antara dua gudang tua yang tampak sepi. Begitu berhasil ma**k ke dalam lorong yang gelap dan terlindung itu, Leo langsung mematikan mesin dan seluruh lampu mobil.

Suasana seketika menjadi sunyi senyap. Hanya terdengar deru napas Aruna yang memburu dan detak jantung mereka yang berdegup kencang.

Dari luar lorong, terdengar suara raungan mesin dua SUV musuh yang melintas dengan kecepatan tinggi, tampaknya melewatkan tempat persembunyian mereka dan terus melaju ke arah depan. Suara itu perlahan-lahan menjauh dan akhirnya menghilang.

Mereka aman. Untuk sementara.

Leo mengembuskan napas panjang. Dia melepas kacamata hitamnya, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Kita lolos," ucapnya pelan.

Aruna masih meringkuk di bawah dasbor selama beberapa detik sebelum akhirnya berani memunculkan kepalanya perlahan-lahan. Matanya yang sembap melirik ke kiri dan ke kanan.

"B-Beneran udah aman?" tanya Aruna berbisik.

"Iya. Mereka udah lewat," jawab Leo.

Aruna langsung mengembuskan napas lega yang sangat panjang. Dia menegakkan tubuhnya, lalu buru-buru mengambil tasnya lagi untuk mencari cermin. Begitu melihat wajahnya di cermin, dia langsung mendesah dramatis.

"Sumpah, muka gue bener-bener kayak hantu penunggu tol," keluh Aruna sedih, menatap noda hitam yang kini melingkari matanya dengan sempurna. "Leo, awas ya kalau kita pulang nanti, lo harus gantiin maskara Chanel gue yang rusak ini!"

Leo menatap Aruna datar, lalu menggelengkan kepalanya perlahan dengan senyum tipis yang hampir tak terlihat di sudut bibirnya.

"Gue baru aja nyelamatin nyawa lu dari roket, Aruna," kata Leo dingin sambil kembali menyalakan mesin mobil dengan perlahan. "Dan yang lu pikirin cuma kosmetik seharga satu juta?"

"Satu juta dua ratus lima puluh ribu, Leo! Jangan dikurang-kurangin!" koreksi Aruna dengan nada tersinggung.

Leo hanya bisa menghela napas panjang untuk kesekian kalinya hari itu. Tugasnya menjaga Aruna ternyata jauh lebih berat dari yang dia bayangkanβ€”bukan karena musuh-musuhnya yang berbahaya, tapi karena tingkat keg***an gadis manja yang ada di sampingnya ini.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca