"G***, ini tempat apaan, Leo? Lo mau jual ginjal gue di sini, ya?"
Aruna menatap ngeri sekelilingnya. Mereka baru saja tiba di sebuah rumah kecil berlant** satu di daerah pinggiran kota yang sepi, jauh dari hiruk-pikuk Jakarta. Rumah itu tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan bambu. Cat dindingnya yang berwarna abu-abu sudah mulai mengelupas di beberapa sudut, dan sofa ruang tamunya hanya berupa sofa busa tua berwarna cokelat beludru yang agak berdebu.
Sangat jauh berbeda dengan penthouses mewah milik Aruna yang berlant** marmer Italia dan beraroma terapi lavender mahal.
Leo menutup pintu kayu di belakang mereka, lalu menguncinya rapat-rapat. Dia menggeser sebuah lemari kayu sedang untuk mengganjal pintu tersebut. Wajahnya masih sekaku biasanya, datar tanpa dosa.
"Ini namanya *safe house*," jawab Leo sant** sambil melempar kunci mobil ke atas meja kayu. "Aman dari pelacak GPS, aman dari jangkauan satelit, dan yang paling penting, orang-orang paman lo gak bakal kepikiran buat nyari lo di tempat kumuh kayak gini."
"Tapi ini kotor banget, Leo! Debunya tebel banget, bisa bikin kulit gue yang habis *treatment* puluhan juta ini langsung bruntusan!" Aruna menghentakkan kakinya kesal. Dia meletakkan tas jinjing Hermes-nya dengan sangat hati-hati di atas meja, seolah takut tas seharga ratusan juta itu ketularan miskin.
"Pilih bruntusan atau mati ditembak?" tanya Leo dingin, menatap Aruna datar dari balik bola mata hitamnya yang tajam.
Aruna langsung bungkam. Dia mengerucutkan bibirnya kesal, memilih untuk duduk di ujung sofa dengan sangat amat canggung. Kakinya ditekuk rapat, enggan menyentuh lant** ubin yang dingin. Sisa ketakutan dari aksi kejar-kejaran menegangkan di jalan tol tadi sebenarnya masih membekas di dadanya, membuat jantungnya sesekali masih berdegup kencang. Tapi, rasa gengsi sebagai anak konglomerat nomor satu seolah menolak untuk terlihat lemah di depan bodyguard-nya ini.
*Pet!*
Tiba-tiba, seluruh ruangan menjadi gelap gulita. Kegelapan pekat langsung menelan rumah kecil itu.
"AAAKKHH! LEO!" Aruna menjerit histeris. Refleks, dia langsung melompat dari sofa dan menubruk tubuh tinggi tegap Leo yang berdiri tidak jauh darinya. Kedua tangannya mencengkeram erat jaket bomber hitam yang dikenakan cowok itu. Napasnya memburu, panik setengah mati. "Leo, mati lampu! Ada apa? Apa musuh mutus aliran listriknya? Kita mau diserang?!"
Leo menghela napas panjang. Dia tidak mendorong Aruna menjauh, membiarkan gadis itu bersandar erat di dadanya yang bidang. "Tenang. Ini cuma mati lampu biasa. Daerah pinggiran kayak gini emang sering giliran padam."
"Sumpah? Lo gak bohong, kan?" tanya Aruna dengan suara mencicit, mendongak dalam kegelapan meski dia tidak bisa melihat wajah Leo dengan jelas. Dia bisa mencium aroma maskulin bercampur wangi sabun mint yang menguar dari tubuh Leo. Wangi yang entah kenapa langsung membuat detak jantungnya yang tadinya liar karena panik, perlahan mulai berirama normal.
"Gak bohong. Lepas dulu, gue mau ambil lilin."
Dengan enggan, Aruna melepaskan cengkeramannya. Leo bergerak dalam gelap dengan sangat lihai, seolah dia sudah hafal setiap sudut rumah ini di luar kepala. Beberapa saat kemudian, terdengar suara gesekan korek api, dan sebuah cahaya kuning lembut mulai berpendar dari sebatang lilin yang diletakkan di atas piring kecil di meja ruang tamu.
Cahaya temaram itu membuat suasana ruangan yang tadinya menyeramkan berubah menjadi sedikit hangat. Dan... agak intim.
*Kruuukkk...*
Sebuah suara nyaring memecah keheningan malam. Aruna langsung menutup perutnya dengan kedua tangan, wajahnya memerah padam karena malu. Dia belum makan apa pun sejak siang karena sibuk dikejar-kejar penjahat.
Leo menaikkan sebelah alisnya. "Laper?"
"Dikit," aku Aruna malu-malu, mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Gak ada makanan mewah di sini. Cuma ada ini," kata Leo sambil berjalan ke arah dapur kecil di sudut ruangan. Dia kembali beberapa menit kemudian membawa dua mangkuk plastik berwarna hijau dan dua pasang sumpit kayu. Uap panas mengepul dari mangkuk tersebut, membawa aroma gurih micin yang sangat menggoda iman.
"Mi instan?" Aruna mengernyitkan dahi. "Gue gak pernah makan ginian. Kata dokter gizi gue, ini gak sehat buat metabolisme tubuh."
"Mau makan atau kelaparan sampai besok pagi?" Leo meletakkan salah satu mangkuk di depan Aruna, lalu duduk bersila di lant** ubin yang dingin, bersandar pada sofa. Dia mulai memakan mi instannya dengan tenang.
Aruna menelan ludah. Aroma mi instan kuah rasa soto itu benar-benar menyiksa cacing-cacing di perutnya. Akhirnya, setelah perang batin yang c**up sengit, Aruna menyerah. Dia turun dari sofa, ikut duduk bersila di lant** di sebelah Leoβpersis seperti anak kosan yang sedang menghemat uang saku.
Dia mengambil sumpit, meniup mi yang masih mengepul, lalu mema**kkannya ke dalam mulut.
Mata Aruna langsung membelalak. "Sumpah... kok enak banget?!" pekiknya heboh, langsung melahap suapan kedua dengan tidak anggun sama sekali. "Ini mi instan apa? Kok rasanya beda sama makanan katering sehat gue yang harganya jutaan?"
Leo hampir saja mendengus geli melihat tingkah Aruna, tapi dia berhasil menahannya. "Itu namanya MSG. Makanan rakyat jelata emang selalu lebih enak."
Mereka berdua makan dalam diam untuk beberapa saat, hanya ditemani suara rintik hujan yang mulai turun di luar rumah dan suara gesekan sumpit. Suasana malam itu mendadak terasa begitu damai, kontras dengan beberapa jam lalu saat peluru hampir saja menembus kepala mereka.
"Leo," panggil Aruna pelan setelah mangkuk mi instannya kosong melompong. Dia meluruskan kakinya, menatap nyala lilin yang bergoyang ditiup angin malam dari celah jendela.
"Hmm?"
"Lo... sebenernya siapa sih?" Aruna menoleh, menatap profil samping wajah Leo yang tampak begitu tegas dan misterius di bawah temaram cahaya lilin. "Maksud gue, tadi lo bilang mereka itu pa**kan elite. Dan cara lo nyetir, cara lo tetap tenang di bawah hujan peluru... lo bukan bodyguard biasa yang disewa dari agensi keamanan, kan?"
Leo menghentikan gerakannya. Dia meletakkan mangkuk kosongnya, lalu menyandarkan kepalanya ke dinding. Matanya menatap langit-langit rumah yang gelap.
"Gue mantan pembunuh bayaran," jawab Leo sant**, seolah dia baru saja mengatakan kalau dia adalah mantan pegawai minimarket. "Yang termahal di organisasi gue yang dulu."
Aruna terkesiap. Napasnya tertahan di tenggorokan. Meskipun dia sudah menduga ada yang tidak beres dengan latar belakang Leo, mendengar pengakuan itu secara langsung tetap saja membuatnya merinding. "Pembunuh... bayaran?"
"Ya. Dari umur lima belas tahun, gue udah diajarin cara megang pisau dan senjata api. Gue gak punya pilihan," kata Leo, suaranya terdengar sangat datar, namun ada nada dingin yang sangat dalam di sana. "Gue yatim piatu. Dijual ke sebuah organisasi hitam di Eropa Timur. Di sana, kalau lo gak bunuh orang, lo yang dibunuh. Dunia gue dulu cuma warna merah darah dan hitam malam. Gak ada warna lain."
Aruna menatap Leo dengan pandangan yang kini berubah. Rasa takutnya perlahan menguap, digantikan oleh rasa empati yang mendalam. Dia bisa melihat luka yang tak kasat mata di balik mata hitam Leo yang selalu terlihat dingin dan tak tersentuh.
"Pasti... capek banget ya hidup kayak gitu?" tanya Aruna lirih, suaranya terdengar sangat lembut.
Leo agak terkejut mendengar respons Aruna. Biasanya, orang yang tahu masa lalunya akan langsung menjauh ketakutan atau memandangnya seperti monster. Tapi gadis manja di sebelahnya ini justru menatapnya dengan binar mata yang penuh rasa simpati yang tulus.
"Capek," jawab Leo pendek, sudut bibirnya sedikit terangkatβhampir menyerupai senyuman tipis yang sangat langka. "Makanya gue berhenti. Gue pengen hidup tenang. Tapi ternyata, masa lalu itu kayak bayangan. Makin lo lari ke tempat terang, dia makin jelas kelihatan."
Aruna menghela napas panjang, lalu memeluk lututnya sendiri. "Kita mirip ya, Leo."
"Mirip dari mana? Lo kaya raya, punya segalanya," sahut Leo heran.
"Gue kaya, tapi gue kesepian," ucap Aruna, suaranya mendadak terdengar sangat rapuh. Ada air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya yang indah, memantulkan cahaya lilin. "Semua orang deketin gue cuma karena uang bokap gue. Temen-temen sekolah gue, cowok-cowok yang ngedeketin gue, semuanya palsu. Dan sekarang, setelah bokap nyokap meninggal... paman gue sendiri, satu-satunya keluarga yang tersisa, malah pengen bunuh gue demi warisan."
Aruna menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya di balik lutut. Bahunya mulai bergetar pelan karena tangis yang ditahannya sejak siang akhirnya pecah juga.
"Gue gak punya siapa-siapa lagi, Leo. Sumpah, rasanya capek banget harus pura-pura kuat dan sombong di depan semua orang, padahal aslinya gue ketakutan setengah mati setiap malam."
Leo terdiam. Dia menatap gadis di sampingnya yang kini terlihat begitu kecil dan rapuh. Hilang sudah sosok Aruna yang menyebalkan, manja, dan hobi marah-marah. Yang ada di depannya sekarang hanyalah seorang gadis remaja biasa yang sedang terluka dan membutuhkan perlindungan.
Perlahan, Leo mengulurkan tangannya. Dengan gerakan yang sangat canggungβkarena dia tidak terbiasa menenangkan orangβLeo menepuk-nepuk bahu Aruna pelan.
"Lo punya gue," ucap Leo pelan, namun terdengar sangat tegas dan meyakinkan.
Aruna menghentikan tangisnya. Dia mendongak, menatap Leo dengan mata yang basah dan hidung yang memerah. "Hah?"
"Maksud gue, selagi kontrak kerja gue masih jalan, gue bakal pastiin gak ada satu peluru pun yang bisa nyentuh lo," lanjut Leo, buru-buru mengalihkan pandangannya karena merasa agak salah tingkah ditatap sedekat itu oleh Aruna. "Tugas gue adalah mastiin lo tetep hidup."
Mendengar itu, sebuah senyuman tipis akhirnya terukir di bibir Aruna. Rasa hangat yang asing tiba-tiba menjalar di dadanya, membuat jantungnya berdegup dengan cara yang sangat berbeda dari saat dia dikejar penjahat tadi. Ini adalah detakan yang menyenangkan.
"Janji ya, jangan tinggalin gue?" tanya Aruna, sambil mengulurkan jari kelingkingnya yang lentik ke hadapan Leo.
Leo menatap jari kelingking mungil itu dengan heran. "Apaan nih? Kayak anak TK."
"Ih, cepetan kelingkingan! Ini namanya janji suci!" paksa Aruna, kembali ke mode manjanya yang biasa.
Leo menghela napas pasrah. Dia mengulurkan jari kelingkingnya yang kasar dan penuh bekas luka, lalu menautkannya dengan jari kelingking Aruna yang halus. Sentuhan fisik yang singkat itu mengirimkan sengatan listrik halus yang membuat keduanya sempat tertegun selama beberapa detik, saling menatap dalam diam di bawah temaram cahaya lilin yang mulai meredup.
Malam itu, di sebuah rumah kecil yang dingin dan berdebu, di atas lant** ubin yang sederhana, dua jiwa yang sama-sama kesepian dan terluka itu perlahan-lahan mulai menemukan kehangatan yang baru. Sebuah gencatan senjata di antara perbedaan kasta mereka, yang dipersatukan oleh semangkuk mi instan tengah malam.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!