Bab 7: Jebakan Manis Berkedok Undangan
Sinar matahari pagi menerobos ma**k lewat celah-celah ventilasi rumah aman yang berdebu. Aruna menggeliat, merasakan seluruh badannya pegal-pegal karena semalaman tidur dengan posisi meringkuk di sofa busa yang sempit. Begitu membuka mata, bau mi instan rasa soto langsung menusuk indra penciumannya.
Dia menoleh dan mendapati Leo sudah duduk tenang di kursi kayu single, sedang menyesap kopi hitam dari cangkir seng yang agak somplak di bagian pinggirnya. Cowok itu sudah rapi dengan kaus hitam polos dan celana kargo andalannya. Wajahnya kelihatan segar seolah dia baru saja tidur delapan jam di hotel bintang lima, padahal Aruna tahu Leo hampir tidak memejamkan mata semalaman untuk berjaga.
"Pagi, Tuan Putri. Gimana rasanya tidur di hotel bintang minus lima?" sindir Leo dengan nada datar tanpa dosa.
Aruna mendengus sebal, lalu duduk sambil memijat lehernya yang kaku. "Sakit semua, Leo! Sumpah, punggung gue berasa mau patah. Kulit gue juga kayaknya udah mulai gatel-gatel nih. Pokoknya hari ini lo harus cariin gue tempat yang lebih manusiawi!"
Leo tidak menyahut. Dia hanya meletakkan cangkir kopinya, lalu meraih sebuah amplop hitam tebal berukuran besar yang tergeletak di atas meja kayu. Amplop itu terlihat sangat kontras dengan meja kayu yang kusam. Di bagian depannya, tertulis nama Aruna dengan tinta emas yang berkilau mewah, lengkap dengan segel lilin merah berlogo burung merak—lambang dari yayasan keluarga besar Aruna.
"Ini apa?" tanya Aruna, matanya langsung berbinar melihat sesuatu yang terlihat mahal di ruangan kumuh itu.
"Ada kurir misterius yang naruh ini di kotak pos depan sekitar jam lima pagi tadi," jawab Leo, matanya menyipit penuh selidik. "Gue udah periksa. Gak ada bahan peledak, gas beracun, atau pelacak aktif di dalamnya. Ini cuma kertas."
Aruna langsung menyambar amplop itu dan merobek segel lilinnya dengan tidak sabaran. Dia mengeluarkan selembar kartu undangan beludru hitam dengan pinggiran emas yang sangat elegan.
*“You are cordially invited to The Grand Masquerade Ball of Aruna Foundation.”*
Di bawahnya tertera tanggal malam ini, lokasi di salah satu hotel bintang lima paling mewah di Jakarta Pusat, dan sebuah catatan kaki yang ditulis dengan tulisan tangan rapi:
*“Untuk keponakanku tersayang, Aruna. Mari kita sudahi semua kesalahpahaman ini. Paman ingin kita bicara secara kekeluargaan tentang pembagian warisan Papa kamu di acara malam ini. Datanglah, mari kita berdamai.” — Om Edwin.*
Aruna membaca catatan itu dengan napas yang tertahan. Detak jantungnya tiba-tiba berpacu cepat. "Om Edwin... dia ngajak gue damai? Dia mau bahas warisan Papa?"
Leo mendengus dingin, tawa sarkas terdengar samar dari bibirnya. "Dan lo percaya? Aruna, bangun. Ini namanya jebakan instan. Murahan banget taktiknya."
"Tapi Leo, ini acara resmi yayasan keluarga gue! Bakal banyak media, kolega bisnis Papa, dan pejabat-pejabat penting yang datang. Om Edwin gak mungkin berani ngelakuin hal nekat di depan ratusan pasang mata. Reputasinya taruhannya!" Aruna mencoba membela opininya, matanya menatap Leo dengan penuh harap.
"Lo terlalu naif," potong Leo cepat, suaranya mendalam dan dingin. "Acara pesta topeng. *Masquerade ball*. Semua orang pakai topeng, Aruna. Di tempat seramai itu, dengan wajah-wajah yang tertutup, pembunuh bayaran bisa dengan mudah menyelinap. Mereka bisa menyuntikkan racun tanpa suara, menusuk lo di tengah kerumunan dansa, atau bahkan menculik lo lewat pintu belakang tanpa ada yang sadar. Begitu lo tumbang, mereka tinggal berbaur lagi dengan tamu lain dan hilang. Itu skenario klasik."
Penjelasan Leo yang sangat det**l dan terdengar profesional itu sempat membuat nyali Aruna menciut. Dia membayangkan dirinya terkapar di lant** dansa dengan gaun berlumuran darah. Tapi, rasa keras kepala dan harga dirinya yang setinggi langit langsung mengambil alih.
"Gue gak peduli!" Aruna berdiri dari sofa, menatap Leo dengan berani. "Gue capek ngumpet di sini kayak tikus got! Ini hak gue, Leo. Warisan Papa itu punya gue, bukan punya paman parasit itu. Kalau gue gak dateng, dia bakal mikir dia udah menang dan gue ketakutan. Gue mau konfrontasi dia langsung di depan semua orang biar dia tahu kalau gue gak selemah yang dia pikir!"
Leo ikut berdiri. Postur tubuhnya yang tinggi tegap langsung mengintimidasi Aruna, tapi gadis itu tetap menolak untuk mundur.
"Dan satu lagi," tambah Aruna dengan nada yang tiba-tiba berubah agak centil tapi serius. "Gue udah beli gaun *limited edition* dari desainer Prancis sebulan yang lalu khusus buat acara tahunan yayasan ini. Harganya setara satu mobil LCGC baru, Leo! Masa cuma dipajang di lemari apartemen? Gue harus pakai gaun itu malam ini dan tampil paling bersinar!"
Leo memijat pangkal hidungnya, merasa kepalanya mendadak pening menghadapi logika ajaib cewek di depannya ini. "Nyawa lo lagi di ujung tanduk, dan lo masih mikirin *outfit*?"
"Fashion adalah bagian dari pertahanan diri, Leo! Kalau gue kelihatan kuyu dan ketakutan, si Edwin itu bakal makin di atas angin. Gue harus kelihatan mandiri, kaya raya, dan gak tersentuh!" Aruna berkacak pinggang, menatap Leo dengan mata bulatnya yang berbinar penuh tekad.
Leo menatap Aruna lurus-lurus. Di balik sikap manjanya yang menyebalkan, Leo bisa melihat ada keberanian yang murni di mata gadis itu. Aruna benar-benar terluka karena dikhianati oleh pamannya sendiri, dan dia ingin menuntut keadilan. Sebagai mantan pembunuh bayaran yang sudah melihat ribuan jenis manusia, Leo tahu kalau dia melarang Aruna sekarang, gadis itu pasti akan nekat pergi sendiri secara diam-diam. Dan itu akan jauh lebih berbahaya.
Setelah keheningan yang c**up lama, Leo akhirnya menghela napas panjang tanda menyerah.
"Oke. Kita pergi," ucap Leo final.
Aruna langsung melompat kegirangan. "Serius?! Yes! Lo emang bodyguard terbaik sepanjang masa, Leo! Gue mau—"
"Tapi dengan syarat," potong Leo, menunjuk wajah Aruna dengan jarinya yang kokoh. Nada suaranya berubah menjadi sangat dingin dan tegas, membuat Aruna otomatis mengunci mulutnya. "Lo harus patuh sama semua instruksi keselamatan dari gue. Gak ada bantahan, gak ada nego. Sekali lo melanggar, gue bakal seret lo pulang hari itu juga, peduli s**** lo mau nangis atau teriak."
Aruna menelan ludah, lalu mengangguk cepat. "Oke, oke. Apa syaratnya?"
"Pertama, gue bakal pasang *micro-earpiece* di kuping lo. Alat ini gak bakal kelihatan karena ketutup rambut lo, tapi lo bisa denger suara gue kapan aja. Kedua, lo bakal pakai alat pelacak GPS super kecil yang bakal gue selipin di balik topeng atau perhiasan lo. Ketiga, lo gak boleh makan atau minum apa pun yang disediakan di pesta itu, kecuali air putih dalam kemasan botol yang segelnya lo buka sendiri di depan gue," jelas Leo tanpa jeda.
"Gak boleh minum sampanye? Tapi kan—"
"Aruna," potong Leo dengan tatapan mata yang tajam seperti elang.
"Iya, iya! Gak minum apa-apa. Terus apa lagi?"
"Keempat, kalau situasi memburuk dan gue bilang 'Kode Merah' lewat *earpiece*, lo harus langsung drop apa pun yang lo pegang, jangan panik, dan jalan cepat ke arah pintu keluar darurat terdekat yang udah gue tentuin. Gue bakal langsung jemput lo di sana." Leo mendekat satu langkah, membuat jarak di antara mereka terkikis. "Dan yang paling penting... jangan pernah lepas dari jangkauan pandangan mata gue. Paham?"
Aruna menatap mata hitam pekat milik Leo. Ada rasa aman yang aneh menjalar di dadanya saat menatap mata itu. Di tengah badai ancaman pembunuhan yang sedang dihadapinya, Leo adalah satu-satunya jangkar yang membuatnya tetap waras.
"Paham, Leo," bisik Aruna pelan, hampir tidak terdengar.
***
Malam harinya, persiapan pun dimulai. Dengan koneksi dan kemampuan taktisnya, Leo berhasil mengambil gaun mewah Aruna dari apartemennya yang sudah dijaga ketat tanpa menimbulkan kecurigaan sedikit pun.
Saat Aruna keluar dari kamar mandi darurat di *safe house* setelah selesai bersiap-siap, Leo yang sedang memeriksa senjata apinya di meja makan langsung tertegun. Gerakan tangannya terhenti seketika.
Aruna mengenakan gaun malam berwarna biru dongker gelap dengan taburan payet berkilau yang tampak seperti langit malam bertabur bintang. Gaun itu pas melekat di tubuhnya yang ramping, mengekspos bahunya yang indah. Rambut panjangnya ditata bergelombang elegan ke satu sisi, menyisakan ruang untuk menyembunyikan *earpiece* kecil di telinga kirinya. Di tangannya, dia memegang sebuah topeng beludru hitam dengan hiasan bulu-bulu halus sewarna gaunnya.
Gadis itu terlihat... sangat luar biasa cantik. Sangat jauh berbeda dengan Aruna yang biasanya merengek karena debu atau mi instan pedas.
"Gimana?" tanya Aruna, berputar pelan memamerkan gaunnya dengan senyum lebar. "Gue kelihatan kayak mangsa yang empuk, atau ratu yang siap menguasai takhta?"
Leo berdeham, cepat-cepat mengalihkan pandangannya dan kembali memasang magasin senjatanya ke dalam holster di balik jasnya. "Biasa aja. Jangan banyak gerak, nanti payetnya copot."
"Ih, lo mah gak ada estetikanya banget jadi cowok!" gerutu Aruna, memajukan bibirnya sebal.
Namun, kekesalan Aruna langsung menguap begitu dia melihat penampilan Leo. Cowok itu kini sudah mengenakan setelan tuksedo hitam yang pas di badannya yang atletis, lengkap dengan kemeja putih bersih dan dasi kupu-kupu. Rambut hitamnya yang biasanya berantakan kini disisir rapi ke belakang dengan *pomade*, menonjolkan rahangnya yang tegas dan tajam. Sebuah topeng kulit hitam sederhana bertengger di dekat sakunya.
Aruna mengerutkan keningnya, menatap Leo dari atas sampai bawah dengan mata tak berkedip. "G***... lo beneran Leo bodyguard gue yang mukanya kayak kanebo kering itu?"
"Kenapa? Ada yang salah sama baju gue?" tanya Leo datar sambil merapikan lengan jasnya.
"Gak... cuma... lo kelihatan kayak aktor film aksi yang mau dapet piala Oscar, tahu gak?" Aruna berbisik kagum, pipinya tanpa sadar merona merah. "Kalau lo gak jadi pembunuh bayaran dulu, lo pasti udah laku keras jadi model majalah *fashion*."
Leo tidak menanggapi pujian itu. Dia melangkah mendekati Aruna, lalu memasangkan sebuah pin bros kecil berbentuk mawar perak di bagian dada gaun Aruna. Jarinya yang kasar sempat bersentuhan dengan kulit leher Aruna, mengirimkan sengatan listrik halus yang membuat jantung gadis itu berdebar tidak karuan.
"Ini GPS pelacaknya. Udah aktif," ucap Leo dengan suara rendahnya yang berat. Dia menatap mata Aruna dari jarak yang sangat dekat. "Ingat semua aturan gue tadi siang, Aruna. Malam ini, kita ma**k ke kandang singa. Satu langkah salah, taruhannya nyawa."
Aruna menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan debaran jantungnya yang mendadak jadi sangat cepat karena kedekatan mereka. Dia mengangguk mantap.
"Gue siap, Leo. Ayo kita kasih pelajaran buat paman gue."
Leo tersenyum tipis—sebuah senyuman yang sangat langka yang membuat ketampanannya naik berkali-kali lipat. Dia memakai topeng hitamnya, lalu membukakan pintu untuk Aruna.
"Silakan, Tuan Putri."
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!