Bab 8: Glow Up yang Bikin Salah Fokus
"Gue gak mau pake baju penguin kayak gini, Aruna. Gak ada dalam sejarahnya seorang profesional kayak gue musti dandan kayak pelayan restoran bintang lima."
Suara berat Leo terdengar sangat frustrasi dari balik pintu kamar mandi.
Aruna, yang sedang duduk di depan meja rias sambil merapikan lipstik merah cerinya, langsung memutar bola mata jengkel. Dia meletakkan lipstiknya dengan sedikit hentakan, lalu berdiri dan berkacak pinggang menghadap ke arah pintu kayu yang masih tertutup rapat itu.
"Heh, denger ya, Bapak Bodyguard yang Terhormat!" sahut Aruna setengah berteriak. "Ini tuh *masquerade ball*! Acara formal kelas atas. Semua tamu yang dateng itu kolega bisnis Papa, pejabat, sama sosialita. Kalo lo nekat dateng pake kaos oblong hitam sama celana kargo andalan lo yang udah becek itu, yang ada kita langsung didepak sama sekuriti di gerbang depan!"
"Gue bisa nyamar jadi kru dekorasi atau pelayan pembawa sampanye. Lebih gampang mantau situasi," balas Leo dari dalam, masih bersikeras.
"Nggak ada nyamar-nyamar jadi pelayan! Lo itu partner kondangan gue malam ini. Titik gak pake koma!" Aruna mengetukkan ujung sepatunya ke lant** dengan gemas. "Cepetan keluar! Gue udah bela-belain nyuruh kurir butik langganan gue buat nganterin jas itu dengan ukuran yang pas lewat jalur belakang. Jangan sampai usaha gue sia-sia!"
Keheningan sempat merayap selama beberapa detik. Aruna hampir saja menggedor pintu itu lagi sebelum akhirnya terdengar bunyi klik dari arah slot kunci.
Pintu kamar mandi perlahan terbuka.
Aruna sudah menyiapkan rentetan omelan di ujung lidahnya untuk menyemprot cowok itu kalau dia masih menawar. Namun, begitu sosok Leo melangkah keluar dan berdiri sepenuhnya di bawah pendar lampu kamar yang terang, kata-kata Aruna mendadak lenyap. Tenggorokannya mendadak kering, dan matanya melebar sempurna.
*Oh, demi apa pun... ini beneran Leo?* batin Aruna menjerit histeris.
Cowok di depannya saat ini sama sekali tidak terlihat seperti Leo si cuek, galak, dan berantakan yang biasanya hobi menyeruput mi instan dari cangkir seng somplak.
Leo mengenakan setelan *tuxedo* hitam berbahan premium yang membungkus tubuh atletisnya dengan sangat sempurna. Potongan jas itu menonjolkan bahunya yang lebar dan tegap, serta pinggangnya yang ramping. Kemeja putih bersih di baliknya tampak kontras dengan kulitnya yang sedikit kecokelatan. Rambut hitamnya yang biasa berantakan menutupi dahi kini telah disisir rapi ke belakang dengan sedikit sentuhan *pomade*, menampilkan dahi bersih dan garis rahangnya yang tegas serta tajam seperti pahatan patung marmer.
Aura mematikan yang biasanya terasa dingin dan menyeramkan kini berubah menjadi aura karismatik yang sangat mahal dan elegan. Dia kelihatan seperti miliarder muda berdarah dingin yang siap membeli seluruh gedung ini beserta isinya.
Leo berdehem canggung, membetulkan letak lengan jasnya yang terasa agak kaku. "Kenapa lo ngeliatin gue kayak gitu? Aneh, kan? Gue bilang juga apa. Ini terlalu sempit di bagian bahu."
Aruna masih mematung. Butuh waktu sekitar lima detik penuh baginya hanya untuk berkedip dan mengatupkan mulutnya yang sempat sedikit menganga.
"Aruna?" panggil Leo, alis tebalnya bertaut heran melihat reaksi kliennya.
"E-eh? Enggak! Siapa juga yang ngeliatin lo!" Aruna langsung memalingkan wajah, mendadak salah tingkah setengah mati. Pipinya terasa panas secara tiba-tiba. Dia berpura-pura sibuk merapikan gaunnya sendiri. "B-biasa aja tuh. Tapi... ya, lumayanlah. Setidaknya lo gak bakal bikin gue malu-malu banget nanti di depan kamera wartawan."
"Biasa aja tapi muka lo merah kayak kepiting rebus," gumam Leo datar, tapi ada kilatan geli yang samar di matanya.
"Ini namanya *blush on*, Leo! Make up! Lo gak tahu seni kecantikan ya, dasar cowok purba!" semprot Aruna dengan suara yang sengaja ditinggikan untuk menutupi detak jantungnya yang mendadak berdegup dua kali lebih cepat.
Kini giliran Leo yang terdiam. Sejak keluar dari kamar mandi tadi, fokusnya memang langsung terarah pada setelan jas menyebalkan yang dipakainya. Namun sekarang, setelah kepalanya sedikit lebih tenang, matanya perlahan turun dan beralih sepenuhnya pada sosok gadis di hadapannya.
Dan sedetik kemudian, giliran Leo yang kehilangan kata-kata.
Malam ini, Aruna mengenakan gaun malam berbahan sutra satin berwarna hijau zamrud (*emerald green*) yang sangat anggun. Gaun itu memiliki potongan *off-shoulder* yang mengekspos bahu indahnya yang putih mulus serta tulang selangka yang tegas. Bagian bawah gaun itu menjunt** indah hingga ke lant** dengan belahan tinggi di paha kiri, memamerkan kaki jenjangnya setiap kali dia melangkah. Rambut panjangnya yang biasa digelung asal kini ditata bergelombang lembut, jatuh dengan indah di satu sisi bahunya.
Wajah Aruna yang biasanya polos tanpa riasan kini tampak begitu menawan dengan riasan natural tapi berkelas. Matanya yang bulat terlihat lebih tajam dan hidup, sementara bibirnya yang dipoles lipstik merah ceri tampak begitu penuh dan mengundang.
Leo menatap Aruna tanpa berkedip. Untuk pertama kalinya sejak dia mengenal gadis ini, dia menyadari satu hal yang selama ini luput dari perhatiannya karena terlalu sibuk mengawasi ancaman bahaya.
Aruna sangat cantik. Sangat, sangat cantik hingga membuat dadanya terasa sedikit sesak.
"Leo? Kenapa gantian lo yang bengong?" Aruna mengerutkan kening, merasa agak risi tapi juga penasaran dengan tatapan intens cowok itu. "Jelek, ya? Make up gue ketebelan?"
Leo berdehem berat, mengalihkan pandangannya ke arah dinding selama sedetik sebelum kembali menatap Aruna dengan ekspresi wajahnya yang kembali datarβmeskipun telinganya perlahan mulai memerah di balik rambutnya.
"Gak jelek," jawab Leo singkat. "Cuma... lo malam ini kelihatan kayak orang yang berbeda. Gak berisik kayak biasanya."
"Heh! Maksud lo gue biasanya kayak toa masjid, gitu?!" Aruna mendengus kesal, tapi dalam hati ada rasa lega dan senang yang membuncah mendengar pujian tersirat dari mulut cowok sekaku Leo.
"Gue cuma ngomong fakta," sahut Leo sant**. Dia kemudian berjalan mendekati meja rias, mengambil dasi kupu-kupu hitam yang tergeletak di sana. Dia membolak-balik benda kecil itu dengan kening berkerut. "Ini masangnya gimana? Kenapa ribet banget?"
"Sini, biar gue pasangin," ujar Aruna refleks.
Dia melangkah mendekati Leo. Namun, begitu dia berdiri tepat di depan cowok itu, Aruna baru menyadari betapa dekatnya jarak mereka sekarang. Tinggi tubuh Leo yang hampir mencapai 185 sentimeter membuat Aruna yang mengenakan sepatu hak tinggi sekalipun tetap harus sedikit mendongak.
Aroma maskulin perpaduan antara kayu cendana, mint, dan wangi khas sabun mandi maskulin langsung menyeruak ma**k ke indra penciuman Aruna. Itu bukan wangi parfum mahal yang biasa dipakai cowok-cowok borjuis di sekelilingnya, tapi aroma alami tubuh Leo yang terasa begitu menenangkan sekaligus mengintimidasi di saat yang bersamaan.
"Nunduk dikit, Leo. Gue gak nyampe," perintah Aruna dengan suara yang mendadak agak serak.
Leo tidak membantah. Dia sedikit menurunkan kepalanya, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Aruna. Jarak di antara mereka kini terkikis habis, menyisakan jarak kurang dari dua puluh senti.
Tangan Aruna yang sedikit gemetar mulai melingkarkan dasi kupu-kupu itu ke kerah kemeja Leo. Dia berusaha sekuat tenaga untuk fokus pada simpul dasi, tapi pandangan matanya terus-menerus terdistraksi oleh bibir tipis Leo yang berada tepat di depan matanya, lalu naik ke hidung mancungnya, dan berakhir pada sepasang mata elang yang tajam yang saat ini ternyata juga sedang menatapnya lekat-lekat tanpa jeda.
Detak jantung Aruna berdentum sangat keras di dalam dadanya. Dia yakin, dalam jarak sedekat ini, Leo pasti bisa mendengar suara detak jantungnya yang memalukan ini.
"Aruna," panggil Leo dengan suara rendah yang terdengar seperti bisikan di telinga gadis itu.
"Y-ya?" Aruna menjawab terbata-bata, tangannya masih sibuk merapikan simpul dasi yang sebenarnya sudah rapi sejak tadi.
"Lo gemetaran."
"Si-siapa yang gemetaran! Ini karena AC kamar lo dingin banget tahu!" kilah Aruna cepat, mukanya kini sudah merah padam sepenuhnya.
"Gue gak nyalain AC," balas Leo dengan seringai tipis yang sangat jarang dia tunjukkan. Seringai yang terlihat begitu s**** hingga membuat lutut Aruna mendadak terasa lemas.
"Ah, berisik lo! Udah selesai nih!" Aruna dengan sengaja menarik dasi itu sedikit terlalu kencang untuk menutupi rasa malunya.
"Uhuk!" Leo terbatuk kecil, refleks memegang lehernya. "Lo mau bunuh gue sebelum kita sampai ke lokasi pesta?"
"Biarin! Lagian lo nyebelin banget!" Aruna langsung melangkah mundur dua langkah, berusaha menciptakan jarak aman agar paru-parunya bisa kembali menghirup oksigen dengan normal. Dia mengipasi wajahnya sendiri dengan tangan. "Panas banget sih di sini."
Leo hanya menggelengkan kepala melihat tingkah salah tingkah gadis itu. Namun, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ada sebuah perasaan asing yang hangat yang perlahan mulai tumbuh. Perasaan hangat yang sudah bertahun-tahun tidak pernah dia rasakan sejak dia memutuskan untuk hidup di dunia malam yang dingin dan penuh darah sebagai pembunuh bayaran.
Leo berjalan ke arah tempat tidur, mengambil dua buah topeng setengah wajah bergaya Venesia yang diletakkan di sana. Topeng untuk Aruna berwarna hijau zamrud dengan hiasan bulu merak kecil di sudutnya, sementara topeng untuk dirinya sendiri berwarna hitam polos yang misterius.
Dia menyerahkan topeng hijau itu kepada Aruna.
"Pakai ini," kata Leo, suaranya kini kembali berubah menjadi serius dan profesional. "Begitu kita melangkah keluar dari pintu ini, permainan dimulai. Jangan pernah lepas dari jangkauan pandangan gue, Aruna. Di sana nanti, kita gak tahu siapa kawan dan siapa lawan."
Aruna menatap topeng di tangannya, lalu menatap Leo. Ketegangan yang sempat mencair karena momen romantis tadi kini kembali mengental. Aruna tahu, di balik kemewahan pesta topeng yang akan mereka datangi malam ini, ada bahaya besar yang sedang mengint** nyawanya. Paman Edwin bukanlah orang yang bisa diremehkan.
Aruna mengangguk pelan. Dia mengenakan topengnya, mengikat tali hitamnya di belakang kepala. Di balik topeng itu, matanya memancarkan tekad yang kuat.
"Gue tahu," jawab Aruna mantap. "Gue gak takut, selama lo ada di samping gue."
Leo menatap Aruna selama beberapa saat, lalu dia sendiri mengenakan topeng hitamnya. Sosoknya kini tampak semakin misterius dan berbahaya. Dia mengulurkan siku tangannya ke arah Aruna.
"Ayo berangkat, Tuan Putri. Mari kita lihat kejutan apa yang sudah disiapkan paman kesayangan lo itu di medan tempur."
Aruna tersenyum tipis, lalu menyambut uluran tangan Leo dan menyandarkan lengannya di siku kokoh cowok itu. Mereka berdua melangkah keluar dari ruangan, siap menghadapi badai yang sudah menanti di depan mata.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!