**Bab 9: Penyelamatan Paling Random Abad Ini**
"Gue gak aneh," Aruna berdehem keras, berusaha menormalkan detak jantungnya yang mendadak berdegup kencang bak musik disko. Dia buru-buru memalingkan muka, pura-pura sibuk merapikan tas pesta kecilnya yang bertabur payet berkilau. "Lo... lumayanlah. Gak memalukan buat digandeng. Dah, buruan jalan! Kita udah telat hampir setengah jam!"
Leo hanya mendengus pelan, tapi sudut bibirnya sempat tertarik sedikit membentuk senyuman tipis yang sangat samar. Sangat tipis sampai-sampai Aruna tidak akan pernah menyadarinya.
Setengah jam kemudian, mereka sudah berada di tengah kemegahan aula hotel bintang lima tempat *masquerade ball* berlangsung. Lampu kristal raksasa menggantung di langit-langit, memancarkan cahaya keemasan yang mewah. Alunan musik klasik mengalun lembut, berbaur dengan denting gelas sampanye dan gelak tawa para tamu elit yang semuanya mengenakan topeng misterius.
Aruna, dengan gaun satin merah marun dan topeng senada, tampak sangat anggun. Di sampingnya, Leo berdiri tegap dengan topeng hitam sederhana yang menutup area sekitar matanya. Meski tertutup topeng, aura dingin dan tajam dari mantan pembunuh bayaran termahal itu tidak bisa disembunyikan. Matanya terus bergerak waspada, memindai setiap sudut ruangan, setiap pelayan yang lewat, hingga ke arah balkon.
"Leo, sant** dikit bisa gak sih? Muka lo kayak mau ngajak perang satu aula," bisik Aruna sambil tersenyum manis ke arah seorang kolega bisnis ayahnya yang baru saja menyapa.
"Gue mencium bau gak beres dari tadi," gumam Leo tanpa menggerakkan bibirnya terlalu banyak. "Ada sekitar lima orang dengan gestur mencurigakan di dekat pilar sebelah barat. Dan mereka terus ngeliatin lo."
"Halah, palingan cowok-cowok yang minder mau ngajak gue dansa," canda Aruna percaya diri. "Gue mau ke toilet bentar. Lo tunggu di sini, jangan ke mana-mana."
"Gue anter sampai depan koridor toilet."
"Gak usah, posesif amat! Toilet cewek cuma di belokan itu, rame orang juga. Aman, Leo ganteng," ucap Aruna sant** sebelum melenggang pergi dengan langkah anggun.
Namun, intuisi seorang Leo hampir tidak pernah salah.
Sepuluh menit berlalu, dan Aruna belum juga kembali. Leo mulai tidak tenang. Dia segera berjalan cepat menuju koridor toilet wanita. Sepi. Dia nekat menerobos ma**k setelah mengetuk pelan, hanya untuk menemukan toilet itu kosong melompong.
Seketika, insting membunuhnya menyala merah. Mata Leo menangkap sesuatu yang berkilau di lant** dekat pintu darurat yang sedikit terbuka. Itu topeng merah marun milik Aruna. Di sebelahnya, ada sebuah saputangan kecil yang berbau tajam obat bius jenis kloroform berkekuatan tinggi.
"Sial," umpat Leo rendah. Suaranya terdengar sangat dingin, mampu membuat siapa pun yang mendengarnya merinding ketakutan.
Leo segera meraba saku jasnya, mengeluarkan sebuah alat pelacak mini berbentuk pin yang sebelumnya sempat dia selipkan di tas pesta Aruna tanpa sepengetahuan gadis itu. Layar kecil di tangannya berkedip-kedip merah, menunjukkan titik koordinat yang bergerak turun dengan cepat.
"Ruang bawah tanah," desis Leo.
Tanpa membuang waktu, Leo melepaskan topeng hitamnya dan membuangnya ke tempat sampah. Wajah tampannya kini mengeras, dipenuhi ekspresi dingin yang mematikan. Dia melonggarkan dasi kupu-kupunya, membuka kancing teratas kemejanya, lalu bergerak dengan kecepatan dan kesenyapan yang tidak ma**k akal untuk ukuran manusia biasa.
Dia melewati tangga darurat, melompati beberapa anak tangga sekaligus tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Begitu tiba di koridor ruang bawah tanah yang remang-remang dan dingin, Leo langsung bersembunyi di balik pilar beton.
Di ujung koridor, ada sebuah pintu besi tebal yang dijaga oleh dua orang berbadan kekar dengan setelan jas hitam. Dari cara mereka berdiri, Leo tahu mereka adalah anak buah Jack—rival bisnis kotor ayah Aruna yang sudah lama mengincarnya.
Leo menarik napas dalam-dalam. Otak taktisnya langsung bekerja merumuskan strategi militer tingkat tinggi.
*Target: Dua penjaga bersenjata di luar, kemungkinan ada tiga atau empat lagi di dalam beserta Jack. Sandera berada di dalam, kemungkinan tidak sadarkan diri atau terikat di kursi.*
*Rencana A: Lumpuhkan dua penjaga luar dalam waktu tiga detik tanpa suara. Jebol pintu. Gunakan flashbang mini untuk membutakan lawan di dalam. Amankan sandera. Eksekusi mati semua ancaman.*
Leo meraba pergelangan tangannya, memastikan pisau lipat taktis tersembunyinya siap digunakan. Dia bergerak secepat bayangan.
*Satu...*
Leo muncul di belakang penjaga pertama, memiting lehernya hingga terdengar bunyi *krak* pelan, lalu menjatuhkannya ke lant** sebelum sempat bersuara.
*Dua...*
Penjaga kedua berbalik dengan panik, tapi tinju mentah Leo sudah bersarang telak di ulu hatinya, disusul satu pukulan keras di rahang yang langsung membuatnya pingsan seketika.
*Tiga.*
Leo mengambil pistol berperedam suara dari pinggang salah satu penjaga yang pingsan. Dia berdiri di depan pintu besi, memfokuskan seluruh energinya. Detak jantungnya stabil, napasnya teratur. Ini adalah momen hidup dan mati. Dia harus menyelamatkan Aruna, apa pun taruhannya. Gadis berisik itu tidak boleh terluka seujung kuku pun.
Dengan satu tendangan super kuat yang dilapisi teknik bela diri militer, Leo menghantam engsel pintu besi itu hingga jebol dan terbuka lebar dengan suara dentuman keras.
"Jangan bergerak! Angkat tangan atau kepala lo—"
Leo menerobos ma**k dengan pistol terarah lurus ke depan, matanya menyalang tajam siap menembak siapa saja yang berani menyentuh Aruna.
Namun, kata-kata Leo langsung tersangkut di tenggorokan. Matanya berkedip beberapa kali. Jarinya yang tadinya sudah siap menarik pelatuk mendadak kaku.
Pemandangan di dalam ruangan itu benar-benar di luar nalar. Jauh dari kata tragis atau menegangkan.
Tidak ada adegan penyiksaan. Tidak ada Aruna yang terikat di kursi sambil menangis ketakutan.
Sebaliknya, Aruna sedang duduk dengan sant** di atas meja kayu besar, menyilangkan kakinya yang jenjang dengan anggun. Di tangannya, dia memegang segepok kertas berwarna-warni yang sangat tebal.
Sementara itu, empat orang penjaga berbadan besar—yang seharusnya bertugas menyandera Aruna—kini sedang berlutut di lant** membentuk setengah lingkaran di depan Aruna. Wajah mereka tidak terlihat sangar sama sekali, melainkan penuh harap dengan mata berbinar-binar.
"Ayo, Mas-Mas sekalian! Jangan loyo dong! Ini voucher belanja MAP senilai lima juta rupiah, gak pakai minimal pembelanjaan! Bisa buat beliin istri kalian tas baru, atau buat Mas yang di pojok itu beli sepatu roda buat anaknya. Tapi syaratnya apa?" Aruna mengacungkan kertas itu ke udara seperti seorang juru lelang profesional.
"Baku hantam sampai pingsan, Mbak!" seru salah satu penjaga yang berbadan paling besar dengan semangat membara.
"Pinter! Nah, sekarang, siapa yang bisa nge-smackdown temen di sebelahnya sampai bener-bener gak bisa bangun dalam hitungan sepuluh, dapet bonus tambahan voucher menginap di hotel bintang lima gratis selama tiga hari dua malam!" seru Aruna memprovokasi dengan nada suara yang sangat ceria, mirip presenter kuis televisi swasta.
"Woy! Jangan curang lo, Joko! Itu voucher punya gue!" teriak penjaga yang satunya, langsung menerjang temannya sendiri.
"Enak aja! Gue yang dari tadi dengerin curhatan Mbak Aruna, gue yang berhak dapet!" balas penjaga bernama Joko, tidak mau kalah dan langsung membalas dengan pukulan mentah ke wajah temannya.
Dalam sekejap, ruangan bawah tanah itu berubah menjadi arena gulat bebas yang sangat ricuh. Dua penjaga lainnya bahkan sudah saling cakar dan jambak di sudut ruangan demi memperebutkan selembar voucher belanja kosmetik gratis yang sempat terlempar ke lant**.
Leo berdiri mematung di ambang pintu yang rusak. Pistolnya masih terarah ke depan, tapi perlahan-lahan tangannya turun ke samping tubuhnya. Kepalanya mendadak terasa pening luar biasa. Rasanya seperti ada *system error* atau *blue screen* di dalam otaknya yang biasanya selalu bekerja dengan logika taktis yang dingin.
"Aruna..." panggil Leo dengan suara datar, hampir berbisik karena terlalu syok.
Aruna menoleh ke arah pintu. Begitu melihat Leo yang berdiri di sana dengan jas yang sedikit berantakan dan ekspresi wajah yang sangat linglung, wajah cantik gadis itu langsung berbinar gembira.
"Eh, Leo! Akhirnya lo dateng juga!" Aruna melambaikan tangannya dengan sant**, seolah-olah mereka baru saja tidak sengaja bertemu di kantin kampus, bukan di ruang penyekapan bawah tanah. "G*** ya, lo lama banget gedor pintunya. Gue hampir aja kehabisan stok voucher nih."
Leo melangkah ma**k, melewati dua penjaga yang masih berguling-guling di lant** sambil saling gigit lengan demi voucher diskon belanja bulanan di Transmart.
"Apa... apa-apaan ini?" tanya Leo, menunjuk kekacauan di depannya dengan ujung pistolnya yang sudah tidak bertenaga.
"Oh, ini?" Aruna terkekeh, menepuk-nepuk tumpukan kertas di tangannya. "Tadi tuh si Jack-Jack itu nyuruh anak buahnya bius gue. Tapi dosisnya receh banget, cuma bikin gue pusing dikit terus bangun lagi semenit kemudian. Terus pas gue bangun, gue tanyain kan, mereka digaji berapa sama si Jack buat nyulik gue. Ternyata cuma UMR, Leo! Bayangin, kerja taruhan nyawa tapi gajinya UMR! Kan kasihan."
Leo memijit pelipisnya yang mulai berdenyut senut-senut. "Jadi... lo menyuap mereka?"
"Ya iyalah! Logika aja, mending kerja sama penjahat dapetnya UMR dipotong pajak, atau dapet voucher belanja puluhan juta dari mal milik keluarga gue gratis tanpa syarat? Ya mereka jelas milih voucher dong! Mas-Mas yang pake jaket kulit itu bahkan tadi curhat kalau istrinya lagi ngidam pengen beli tas Coach tapi gak kesampaian. Makanya dia semangat banget pas gue kasih voucher diskon delapan puluh persen," jelas Aruna panjang lebar dengan wajah tanpa dosa.
Salah satu penjaga yang sudah babak belur dan berdarah di hidungnya tiba-tiba merangkak mendekati kaki Aruna, mengabaikan keberadaan Leo yang merupakan mantan pembunuh bayaran paling ditakuti di dunia hitam.
"Mbak... Mbak Aruna... saya udah berhasil bikin pingsan si badut ini. Voucher menginap di hotelnya... boleh saya ambil?" tanya penjaga itu dengan napas terengah-engah, matanya menatap penuh harap pada kertas di tangan Aruna.
Aruna tersenyum manis, lalu memberikan selembar voucher hotel berkilau itu. "Nih, buat Mas Joko yang tangguh! Selamat ya, jangan lupa ajak istrinya liburan biar gak stres!"
"Makasih banyak, Mbak Aruna! Mbak beneran malaikat! Semoga langgeng ya sama pacarnya yang serem ini!" seru Joko dengan mata berkaca-kaca karena terharu, lalu dia langsung tiarap di lant** untuk menikmati kemenangannya.
Leo hanya bisa menatap pemandangan itu dengan mulut sedikit terbuka. Selama bertahun-tahun menjalani misi penyelamatan sandera di berbagai belahan dunia—mulai dari menyelamatkan anak konglomerat di hutan Amazon hingga membebaskan sandera politik di gedung pencakar langit Rusia—dia belum pernah, sama sekali belum pernah, melihat taktik penyelamatan sekonyol ini.
Semua rencana militer taktisnya, analisis sudut tembak, dan perhitungan denyut nadi korban mendadak terasa sangat tidak berguna di hadapan kekuatan kapitalisme dan voucher belanja gratis milik Aruna.
"Ayo balik, Leo. Di sini bau keringat bapak-bapak, gue gak suka," ucap Aruna sant**, melompat turun dari meja kayu. Dia merapikan gaunnya yang sedikit kusut, lalu dengan sant**nya menggandeng lengan Leo yang masih mematung seperti patung pancoran.
Leo menghela napas panjang, sangat panjang, hingga bahunya yang tegap itu merosot turun. Dia mema**kkan kembali pistolnya ke dalam balik jas mewah seharga ratusan juta rupiah yang kini terasa sangat sia-sia dia kenakan.
"Lo bener-bener cewek paling random yang pernah gue temuin seumur hidup gue," gumam Leo, akhirnya menyerah dan membiarkan dirinya dituntun keluar oleh Aruna.
"Hehehe, tapi lo suka kan?" goda Aruna sambil mengedipkan satu matanya yang indah di balik topengnya yang kini sudah terpasang kembali dengan miring.
"Nggak," jawab Leo cepat dan ketus.
"Boong banget. Tadi muka lo panik banget pas nyariin gue, ngaku lo!"
"Itu karena tugas profesional, Aruna."
"Halah, profesional kok mukanya sampai pucat gitu. Ngaku aja sih, Leo!"
Suara bising perdebatan kedua orang itu perlahan-lahan menjauh dari ruang bawah tanah, meninggalkan empat penjaga berbadan kekar yang kini sedang asyik saling berbagi voucher belanja dengan damai di lant** yang kotor, melupakan sepenuhnya perintah bos mereka untuk menyandera sang pewaris tunggal.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!