Cara Bertahan Hidup di Kamp Militer Terlarang

Bab 1: Selamat Datang di Kamp 99

Pengaturan Membaca

**BAB 1: Selamat Datang di Kamp 99**

Kepala gua rasanya mau pecah.

Bunyi bising dari baling-baling helikopter yang berputar kencang langsung menyengat telinga begitu kesadaran gua perlahan kembali. Bau avtur yang menyengat bercampur dengan aroma anyir darah membuat perut gua mual setengah mati. Gua mencoba bergerak, tapi rasa sakit yang luar biasa langsung menjalar dari tulang rusuk hingga ke punggung.

"Ugh..." gua mengerang pelan, berusaha membuka mata yang terasa sangat berat karena bengkak.

Pandangan gua buram, tapi gua bisa melihat lant** besi helikopter yang kotor dan berkarat tepat di depan wajah gua. Tangan gua terikat erat ke belakang dengan *cable tie* plastik yang tebal, sangat kencang sampai-sampai pergelangan tangan gua mati rasa.

Gua mencoba mengingat apa yang terjadi.

Si****. Adrian Wijaya.

Cowok br****** itu, pewaris tunggal Wijaya Group yang merupakan saingan bisnis utama keluarga gua, sudah merancang semua ini dengan sangat rapi. Gua dijebak. Ka**s kepemilikan narkoba skala besar, pembunuhan berencana yang sama sekali gak gua lakukan, semuanya diarahkan ke gua. Dan puncaknya, alih-alih ma**k ke penjara biasa, gua malah diculik di tengah malam saat pemindahan tahanan.

"Oi! Bangun lo, sampah!"

*BUKK!*

Satu tendangan keras mendarat tepat di perut gua. Tubuh gua yang kurus ini langsung terseret beberapa sentimeter di atas lant** helikopter yang dingin. Rasa sakitnya luar biasa sampai gua gak bisa berteriak, hanya bisa megap-megap mencari oksigen seperti ikan yang kehabisan air.

Gua mendongak. Di atas gua, berdiri seorang pria berbadan tegap dengan seragam militer loreng tanpa emblem. Wajahnya keras, dihiasi bekas luka panjang dari pelipis hingga ke rahang. Di tangannya ada sebuah senapan laras panjang yang siap ditembakkan kapan saja.

"Gak usah manja. Sebentar lagi kita sampai di rumah baru lo," kata tentara itu sambil menyeringai sadis. Dia berjalan ke arah pintu helikopter yang terbuka, memperlihatkan pemandangan di luar.

Gua memaksa diri untuk duduk bersandar pada dinding helikopter, lalu ikut melihat ke luar pintu. Jantung gua langsung berdegup dua kali lipat lebih cepat.

Di bawah sana, di tengah-as tengah samudra luas yang entah ada di mana, berdiri sebuah pulau terpencil. Pulau itu dikelilingi tebing-tebing batu yang curam dan ombak besar yang saling hantam. Di bagian tengah pulau, terdapat sebuah kompleks bangunan raksasa yang dikelilingi oleh kawat berduri berlapis-lapis. Menara pengawas dengan senapan mesin berat berdiri tegak di setiap sudutnya.

Tempat ini gak ada di peta dunia mana pun. Ini adalah Kamp 99. Tempat pembuangan paling mematikan bagi orang-orang yang sengaja 'dilenyapkan' dari dunia luar.

*B**AK!*

Helikopter mendarat dengan guncangan keras di sebuah lapangan tanah merah yang luas. Debu-debu beterbangan, mengaburkan pandangan.

"Turun! Cepetan turun, ba*****!" teriak tentara tadi sambil memotong ikatan di tangan gua dengan pisau sangkur, lalu tanpa perasaan menendang punggung gua hingga gua tersungkur jatuh dari helikopter, langsung menghantam tanah merah yang keras dan berdebu.

"Aakh!" gua meringis, memegangi bahu gua yang mungkin bergeser.

Gua melirik ke sekitar. Ternyata bukan cuma gua yang diturunkan. Ada sekitar tiga puluh orang lainnya yang bernasib sama. Sebagian besar dari mereka berbadan kekar, penuh tato, dengan wajah-wajah kriminal yang biasa gua lihat di berita kriminal televisi. Mereka semua kelihatan bingung sekaligus ketakutan.

"Semuanya berbaris! Cepet!"

Suara teriakan menggelegar dari arah depan. Beberapa orang instruktur militer berseragam hitam-hitam berjalan mendekat. Di tangan mereka masing-masing memegang tongkat pemukul listrik dan cambuk berduri.

Kami semua dipaksa berbaris berjejer di tengah lapangan di bawah terik matahari yang sangat menyengat kulit. Rasa haus mulai menyerang tenggorokan gua yang kering seperti padang pasir.

Seorang pria paruh baya dengan tubuh tegap seperti monster melangkah maju ke depan barisan. Dia mengenakan kacamata hitam, dengan lencana berlambang tengkorak di kerah seragamnya. Aura pembunuh yang memancar dari dirinya membuat semua orang langsung bungkam.

"Nama gua Instruktur Marko," suaranya berat dan dingin, bergema di seluruh lapangan. "Dan selamat datang di Kamp 99. Tempat di mana status sosial, uang, dan nama besar kalian di dunia luar gak ada harganya sama sekali."

Marko berjalan perlahan di depan barisan kami, menatap kami satu per satu seperti serigala yang sedang memilih mangsa.

"Di sini, kalian bukan lagi manusia. Kalian cuma tumpukan daging yang menunggu giliran untuk mati," lanjut Marko, tersenyum sinis. "Aturan di kamp ini sangat sederhana. Yang kuat bertahan hidup, yang lemah jadi pupuk tanah. Tidak ada hukum, tidak ada hak asasi manusia. Hanya ada satu aturan: patuhi perintah, atau kepala kalian pecah."

Tiba-tiba, seorang pria bertubuh kekar dan berkepala plontos di ujung barisan berteriak kesal. "Heh! Gua gak peduli tempat apa ini! Bokap gua itu jenderal! Lo lepasin gua sekarang, atau gua rat**n tempat iniβ€”"

*BANG!*

Suara tembakan yang sangat keras memotong kalimat pria itu.

Gua tersentak kaget. Di depan mata kepala gua sendiri, pria berkepala plontos itu langsung ambruk ke tanah dengan lubang peluru tepat di dahinya. Darah segar mengalir deras, membasahi tanah merah di bawahnya. Tubuhnya kejang beberapa detik sebelum akhirnya benar-benar kaku.

"Berisik," kata Marko sant** sambil meniup ujung laras pistolnya yang masih berasap. Dia bahkan gak berkedip sama sekali setelah mencabut satu nyawa. "Ada lagi yang mau pamer jabatan bokapnya?"

Suasana langsung hening mencekam. Beberapa orang di sebelah gua mulai gemetaran, bahkan ada yang mengompol di celana karena saking takutnya. Gua menelan ludah dengan susah payah. G***. Tempat ini benar-benar g***. Nyawa manusia di sini lebih murah dari sebutir peluru.

"Bagus," Marko mengangguk puas melihat reaksi ketakutan kami. "Sekarang, karena ini hari pertama kalian, gua punya hadiah sambutan."

Marko menjentikkan jarinya. Dua orang penjaga menyeret sebuah peti kayu besar ke tengah lapangan dan membukanya. Di dalam peti itu, terdapat tumpukan roti keras dan beberapa botol air mineral. Jumlahnya sangat sedikit, bahkan gak sampai setengah dari jumlah kami yang ada di sini.

"Itu adalah jatah makanan dan minuman kalian untuk hari ini. Tapi, sayangnya jumlahnya gak c**up buat kalian semua," seringai Marko melebar, kelihatan sangat sadis. "Siapa cepat, dia dapat. Yang gak dapat? Silakan kelaparan sampai besok. Oh ya, satu lagi... kalian boleh melakukan apa saja untuk mendapatkan makanan itu. Apa saja."

Begitu kata "apa saja" diucapkan, suasana langsung berubah drastis.

Napas orang-orang di sekitar gua mulai memburu. Insting hewani mereka langsung keluar. Begitu Marko memberi isyarat dengan tangannya, kekacauan langsung pecah seketika.

"Minggir lo, ba*****! Makanan itu punya gua!"

"Aakh! Jangan pukul gua!"

"Mati lo! Mati!"

Tiga puluh orang itu langsung saling hantam, saling pukul, dan saling injak demi memperebutkan sepotong roti keras dan sebotol air. Seorang pria bertubuh raksasa langsung memiting leher orang di depannya sampai terdengar bunyi krek yang mengerikan. Di sudut lain, dua orang saling cakar dan menggigit layaknya binatang buas hanya untuk memperebutkan satu botol air mineral yang sudah pecah.

Gua berdiri mematung beberapa meter dari kerumunan itu. Jantung gua berdegup kencang.

Gua melirik ke tubuh gua sendiri. Tinggi gua cuma 175 cm, kurus, tanpa otot, dan sama sekali gak punya keahlian bela diri. Di dunia luar, gua cuma mahasiswa biasa yang menghabiskan waktu di depan laptop dan buku-buku teori bisnis. Kalau gua nekat ikut ma**k ke dalam kerumunan g*** itu untuk memperebutkan makanan, gua yakin 100% tubuh gua bakal berakhir jadi pajangan di tanah ini dalam waktu kurang dari tiga menit.

Fisik gua lemah. Gua tahu itu.

Tapi gua masih punya otak. Dan di tempat seperti ini, otot tanpa otak cuma bakal berakhir jadi umpan peluru.

Gua menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantung gua yang mengg***. Gua harus berpikir jernih. Gua harus mengamati sekitar.

Mata gua mulai bergerak cepat, memindai seluruh area lapangan dengan teliti.

Pertama, para penjaga. Ada delapan penjaga yang berjaga di sekitar lapangan dengan senjata lengkap. Tapi, perhatian mereka semua sedang tertuju pada perkelahian brutal di tengah lapangan. Mereka bahkan tertawa-tawa sambil sesekali bertaruh siapa yang akan mati duluan.

Kedua, pola gerakan mereka. Penjaga di menara pengas sebelah barat setiap tiga menit sekali akan mengalihkan pandangannya ke arah gerbang luar untuk memeriksa laporan radio. Ada *blind spot* atau sudut mati selebar dua meter di dekat tumpukan kont**ner karat di sebelah kiri lapangan. Area itu tidak terjangkau oleh lampu sorot menara maupun pandangan penjaga di lapangan karena terhalang oleh helikopter yang baru saja mendarat.

Ketiga, lingkungan. Di belakang tumpukan kont**ner itu, ada sebuah celah kecil yang mengarah ke bagian belakang barak. Tempat itu kotor, penuh dengan tumpukan kayu bekas dan seng karatan, tapi sangat sunyi. Gak ada satu pun penjaga yang berdiri di sana karena mereka menganggap tidak ada tahanan yang c**up bodoh untuk kabur ke arah tebing curam di belakang barak.

*BUM!*

Seorang tahanan bertubuh gempal terlempar ke arah dekat kaki gua dengan wajah yang sudah hancur bersimbah darah. Dia mengerang kesakitan, berusaha menggapai kaki gua.

Gua mundur selangkah, menahan mual. Gua gak boleh terlibat.

Saat semua orang sedang sibuk saling bunuh di tengah lapangan, dan perhatian para penjaga sepenuhnya teralihkan oleh tontonan gratis yang brutal itu, gua mulai bergerak.

Dengan langkah pelan dan tubuh yang agak membungkuk untuk meminimalkan siluet gua, gua berjalan memutari helikopter. Gua memanfaatkan badan helikopter yang besar sebagai pelindung dari pandangan Instruktur Marko.

Satu langkah... dua langkah...

Gua terus memantau pergerakan penjaga di menara barat. Begitu dia berbalik untuk memeriksa radionyaβ€”seperti pola tiga menit yang sudah gua amati tadiβ€”gua langsung berlari secepat yang gua bisa menuju ke balik tumpukan kont**ner berkarat.

*Sret!*

Gua berhasil ma**k ke dalam celah di antara kont**ner. Tubuh gua yang kurus ini ternyata punya keuntungan tersendiri; gua bisa menyelip ke celah sempit yang gak akan bisa dilewati oleh orang-orang berbadan kekar di luar sana.

Napas gua terengah-engah begitu gua sampai di bagian belakang barak yang sunyi. Bau tanah basah dan karat tercium kuat. Di sini sangat gelap, tertutup oleh bayangan kont**ner besar dan tumpukan kayu.

Gua menyandarkan punggung gua ke dinding kont**ner yang dingin, lalu perlahan merosot hingga terduduk di tanah. Tubuh gua gemetaran parah. Adrenalin gua terpompa maksimal.

Gua melirik ke arah lapangan dari celah kont**ner. Di sana, pertempuran memperebutkan makanan sudah selesai. Hanya tersisa sekitar lima belas orang yang berhasil berdiri dengan tubuh penuh luka, memegang makanan mereka dengan rakus. Sisanya terkapar di tanah, entah pingsan atau sudah mati.

Gua gak dapat makanan atau minuman sama sekali hari ini. Perut gua terasa sangat perih dan tenggorokan gua seperti terbakar.

Tapi setidaknya, gua masih hidup.

Gua mengepalkan tangan gua yang kotor terkena tanah merah. Tatapan mata gua berubah menjadi dingin saat menatap langit malam pulau terpencil ini yang mulai menggelap.

*Adrian Wijaya... lo pikir dengan ngebuang gua ke neraka ini, gua bakal langsung mati mengenaskan?*

*Lo salah besar.*

Gua bakal bertahan hidup di tempat ini. Gua bakal pelajari semua celah, semua aturan, dan semua kelemahan di kamp militer terlarang ini. Dan begitu gua berhasil keluar dari tempat ini hidup-hidup... gua sendiri yang bakal menyeret lo ma**k ke dalam neraka yang sesungguhnya.

"Selamat datang di Kamp 99," bisik gua pada diri sendiri, sambil tersenyum tipis di tengah kegelapan. "Mari kita mulai permainannya."

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca