Napas gua rasanya kayak mau putus. Setiap kali gua melangkah, rasa nyeri yang luar biasa menjalar dari perut sampai ke dada—efek pukulan mentah si Boris ba****** itu bener-bener gak main-main. Tapi gua gak punya waktu buat mengeluh. Di tengah kepulan asap putih yang tebal dan bau belerang yang menyengat, Kenji terus menarik lengan jaket gua, menuntun gua menerobos lorong-lorong sempit sektor interogasi yang sekarang dipenuhi warna merah berkedip dari lampu darurat.
"Dikit lagi, Al. Tahan!" bisik Kenji setengah terengah-engah.
Nama gua Rayan. Tapi di kamp militer terkutuk ini, beberapa orang terdekat gua—terma**k Kenji—lebih suka manggil gua Al, singkatan dari Alrayan. Nama yang terasa terlalu normal untuk tempat se-abnormal ini.
Kami terus berlari, mengabaikan suara sepatu bot para penjaga yang mulai terdengar bersahut-sahutan di kejauhan, disusul gonggongan an**** pelacak yang bikin bulu kuduk gua merinding. Kenji membawa gua belok ke kanan, menuruni tangga besi yang curam, lalu menyelinap ke dalam sebuah ruangan utilitas bawah tanah yang berdebu.
Begitu pintu besi tebal di belakang kami tertutup dengan bunyi *KLANK* yang berat, gua langsung ambruk ke lant** semen yang dingin. Gua bersandar di dinding, memegangi perut gua yang masih kerasa melilit.
"Lu oke?" Kenji berlutut di depan gua, wajahnya kelihatan pucat pasi di bawah temaram lampu darurat. Kacamata bulatnya agak bergeser, buru-buru dia benerin dengan tangan yang gemetar.
"Keliatannya gimana? Gua berasa abis ditab**k truk tronton," jawab gua sambil meringis, mencoba mengatur napas yang masih tersengal-sengal. "Tapi... *thanks*, Ken. Kalau gak ada lu, kepala gua mungkin udah pecah di tangan Boris."
Kenji cuma mengangguk pelan, tapi ekspresi wajahnya gak menunjukkan rasa lega sama sekali. Dia malah mengeluarkan sebuah komputer tablet usang yang layarnya retak-retak dari dalam tas ransel taktisnya.
"Al, kita gak punya banyak waktu buat meratapi nasib. Lu harus lihat ini," kata Kenji serius. Jarinya dengan cepat menari-nari di atas layar tablet yang berkedip. "Gua berhasil nge-hack sebagian kecil data dari server pusat pas listrik padam tadi. Dan... duga lu bener. Kamp ini udah gak aman lagi buat siapa pun."
Gua mengernyitkan dahi, mencoba fokus melihat baris-baris kode dan dokumen berstempel merah yang ditampilkan Kenji. "Maksud lu?"
"Protokol Pembersihan," bisik Kenji dengan suara bergetar. "Pihak otoritas kamp... mereka gak bakal mindahin kita ke sektor lain. Mereka mau ngehapus tempat ini dari peta. Semua tahanan, baik kriminal kelas kakap, tentara buangan, sampai orang-orang kayak kita yang cuma korban salah tangkap... semuanya bakal dieksekusi serentak dalam waktu empat puluh delapan jam dari sekarang. Mereka mau ng***ngin jejak, Al."
Darah gua rasanya langsung membeku seketika.
Gua tahu tempat ini kejam. Gua tahu kamp militer terlarang ini adalah neraka dunia tempat manusia diperlakukan lebih rendah dari binatang. Tapi gua gak pernah menyangka kalau mereka bakal se-nekat ini untuk melakukan pembant**an massal.
"Empat puluh delapan jam..." gumam gua, menatap langit-langit beton yang berdebu. "G***. Mereka bener-bener mau ngebant** kita semua."
"Dan yang lebih parah," Kenji menambahkan, "tahanan di atas masih sibuk saling bunuh. Anak buah Vito dan faksi-faksi lain lagi perang perebutan wilayah di koridor barat. Mereka gak tahu kalau mereka semua cuma nunggu giliran buat dijagal."
Gua terdiam c**up lama. Otak gua berputar dengan sangat cepat, mengingat kembali setiap halaman dari "Panduan Bertahan Hidup" yang selama ini gua tulis secara sembunyi-sembunyi di kepala gua. Di kamp ini, aturan nomor satu adalah: *Jangan pernah percaya siapa pun.* Aturan nomor dua: *Utamakan keselamatan diri sendiri.*
Tapi sekarang, aturan-aturan itu udah gak berlaku lagi.
Kalau gua cuma lari berdua sama Kenji, kami gak bakal pernah bisa menembus gerbang luar yang dijaga ketat oleh senapan mesin otomatis dan pagar kawat berduri beraliran listrik tegangan tinggi. Kami butuh massa. Kami butuh kekacauan berskala besar. Kami butuh... semua orang.
"Ken," gua menatap Kenji dengan pandangan lurus. "Kita harus kumpulin mereka semua."
Kenji melongo. Matanya membulat di balik kacamatanya. "Hah? Lu si*****, Al?! Kumpulin siapa? Para tahanan? Vito? Orang-orang yang dari kemarin nyaris ngegorok leher kita?!"
"Iya," jawab gua mantap sambil berusaha berdiri, meskipun seluruh sendi di tubuh gua protes karena rasa sakit. Gua berpegangan pada pipa besi di dinding untuk menyeimbangkan tubuh. "Gak ada pilihan lain untuk bertahan hidup. Kita gak bisa keluar dari sini sendirian. Kita butuh tenaga mereka buat ngejebol barikade luar."
"Tapi mereka itu binatang, Al! Mereka gak bakal mau dengerin lu. Begitu lu muncul di depan mereka, Vito atau Boris bakal langsung nembak kepala lu!" protes Kenji, suaranya naik satu oktav karena panik.
"Gak kalau gua bawa sesuatu yang bikin mereka gak punya pilihan lain selain dengerin gua," kata gua sambil tersenyum tipis, sebuah senyum nekat yang sebenernya menyembunyikan rasa takut yang luar biasa. "Bantu gua akses interkom pusat dan buka pintu aula utama. Kita undang semua ba****** itu ke pesta penyambutan."
***
Satu jam kemudian.
Aula utama sektor hunian yang biasanya dipakai buat tempat pembagian jatah makanan yang minim, kini dipenuhi oleh atmosfer yang luar biasa mencekam. Ratusan tahanan—mulai dari para pembunuh bayaran yang badannya dipenuhi tato, mantan tentara desersi dengan tatapan mata dingin, sampai kriminal kelas teri yang gemetaran—berkumpul di sana.
Mereka datang bukan karena sukarela. Mereka datang karena pintu-pintu sektor mereka mendadak terkunci secara otomatis akibat ulah Kenji, memaksa mereka semua mengalir ke satu-satunya ruangan yang terbuka: aula ini.
Di ujung ruangan, berdiri Vito, bos geng terbesar di kamp ini, dikelilingi oleh belasan anak buahnya yang bersenjata tajam rakitan. Di sisi lain, sisa-sisa anak buah Boris yang masih hidup juga berdiri dengan siaga, saling melempar tatapan benci yang siap meledak kapan saja. Satu gesekan kecil saja, dan tempat ini akan berubah jadi ladang pembant**an.
Gua menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah keluar dari bayang-bayang koridor belakang panggung aula.
Begitu sosok gua kelihatan di bawah sorotan lampu gantung yang remang-remang, kasak-kusuk langsung terdengar. Ratusan pasang mata menatap gua dengan berbagai macam ekspresi: bingung, marah, dan lapar akan darah.
"Siapa ba****** kecil ini?" teriak salah satu anak buah Vito dari barisan depan.
Vito sendiri cuma menyipitkan matanya, mengisap sisa rokoknya sebelum membuangnya ke lant** dan menginjaknya sampai padam. "Alrayan. Bocah yang harusnya mati di ruang interogasi. Kok lu bisa ada di sini?"
Gua gak langsung menjawab. Gua berjalan dengan sant**—atau setidaknya, gua berusaha kelihatan sant** banget padahal tulang rusuk gua rasanya mau patah—lalu duduk di tepi meja kayu panjang yang ada di tengah panggung. Gua menyilangkan kaki, menatap ratusan kriminal di depan gua dengan gaya seolah-olah gua lagi nongkrong di kafe biasa, bukan di tengah sarang penyamun.
"Yo, halo semuanya," sapa gua dengan nada suara ka**al, lewat mikrofon nirkabel yang terhubung ke pengeras suara aula. "Sori ya udah ganggu waktu saling bunuh kalian yang berharga itu. Tapi gua punya info penting nih, dan percayalah, kalian bakal nyesel setengah mati kalau gak dengerin."
"Bacot lu! Mau mati sekarang?!" seorang tahanan berbadan kekar maju sambil mengacungkan sebilah besi runcing.
"Eits, sant**, Bro," gua mengangkat kedua tangan gua, tetap tenang. "Gua tahu lu semua hebat. Lu semua jago berantem, jago ngebunuh. Tapi sehebat-hebatnya lu semua, emang ada yang bisa menahan peluru kaliber 50 atau gas sarin?"
Hening seketika. Kata 'gas sarin' berhasil membuat suasana ruangan turun beberapa derajat.
Vito maju dua langkah, tatapannya menajam. "Maksud lu apa, Bocah?"
Gua memberi isyarat ke arah Kenji yang bersembunyi di ruang kontrol atas. Detik berikutnya, layar proyektor besar di belakang gua menyala, menampilkan dokumen-dokumen rahasia yang berhasil di-hack Kenji, lengkap dengan foto-foto tangki gas kimia yang sudah disiapkan di sekitar perimeter kamp, serta peta koordinat pengeboman udara.
"Ini dokumen Protokol Pembersihan," kata gua, nada sant** gua kini berubah jadi dingin dan menusuk. "Pihak otoritas kamp udah mutusin kalau tempat ini bakal di-format ulang. Besok pagi, mereka gak bakal ngasih kita makan siang. Mereka bakal ngelepasin gas beracun lewat saluran udara, lalu ngebom seluruh sektor ini sampai rata dengan tanah. Gak ada yang bakal disisain hidup-hidup. Nol. *Zonk*."
"Bohong! Ini pasti trik lu buat nyelametin diri!" teriak salah satu anak buah Boris.
"Trik?" gua terkekeh pelan, terdengar sangat sarkas. "Gua emang pengen nyelametin diri, a****. Tapi gua gak sebodoh itu buat bikin draf dokumen militer palsu dengan tanda tangan komandan sektor lengkap dengan stempel digitalnya yang aktif jam ini juga. Lu bisa liat sendiri tanggal eksekusinya. Itu besok, jam enam pagi."
Bisik-bisik panik mulai menyebar kayak wabah di antara kerumunan. Beberapa orang mulai saling pandang dengan wajah pucat. Mereka mungkin kriminal yang gak takut mati di ujung pisau, tapi mati konyol seperti tikus yang diracun di dalam lubang adalah hal yang berbeda.
"Jadi," gua melanjutkan, berdiri dari meja dan berjalan perlahan di sepanjang tepi panggung. "Kalian mau lanjutin perang wilayah yang gak ada gunanya ini? Silakan. Terusin aja saling tusuk sampai mampus. Tapi biar gua kasih tahu satu hal: pemenang dari perang kalian gak bakal dapet mahkota. Dia cuma bakal dapet hak istimewa buat jadi mayat pertama yang membusuk kena gas kimia."
Vito mengepalkan tangannya kuat-kuat. Gua bisa melihat rahangnya mengeras. "Kalau ini bener... terus apa mau lu? Lu mau kita semua sujud minta tolong sama lu?"
"Gak perlu sujud, Bro. Gak level juga gua jadi tuhan kalian," balas gua sambil tersenyum miring. "Gua cuma menawarkan satu hal: Gencatan Senjata Terpaksa. Kita berhenti saling serang sampai kita berhasil keluar dari gerbang luar kamp ini. Setelah kita di luar? Terserah lu semua mau saling bunuh lagi, gua gak peduli."
"Keluar dari sini?" seorang mantan tentara buangan tertawa sinis. "Lu gak tahu apa? Pagar luar itu punya sensor gerak dan senapan mesin otomatis yang bakal nembak apa pun yang lewat. Belum lagi patroli lapis baja. Itu rencana bunuh diri!"
"Memang. Itu rencana yang hampir mustahil," kata gua, lalu mengeluarkan sebuah buku catatan kecil berlumuran darah dari saku jaket gua. *Panduan Bertahan Hidup gua.*
"Tapi gua punya blueprint sistem pertahanan mereka," lanjut gua dengan percaya diri. "Senapan mesin otomatis itu punya *blind spot* selama tiga detik setiap kali radar utamanya berputar. Dan patroli lapis baja selalu punya rute tetap yang berganti setiap dua puluh menit sekali. Kenji bisa memutus aliran listrik pagar utama selama tepat sembilan puluh detik. Kalau kita bergerak bareng, terorganisir, dan pake taktik yang udah gua susun... kita semua bisa lolos."
Gua menatap mereka semua satu per satu. "Pilihannya simpel banget, para ba****** yang terhormat. Lu mau tetep di sini, gengsi-gengsian, lalu mati konyol jadi abu besok pagi? Atau lu mau taruh senjata lu sejenak, kerja sama bareng gua, dan ambil satu-satunya kesempatan buat hidup bebas di luar sana?"
Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Hanya terdengar suara dengung proyektor dan helaan napas berat dari ratusan orang yang sedang dihadapkan pada pilihan hidup dan mati.
Vito menatap gua dengan pandangan yang sulit diartikan. Dia melangkah maju sampai tepat di bawah panggung, mendongak menatap gua.
"Lu punya nyali juga buat ukuran bocah ingusan, Al," kata Vito, suaranya berat dan mengancam. "Tapi kalau rencana lu ini gagal... gua sendiri yang bakal mastiin kulit lu dikupas hidup-hidup sebelum gas itu ngebunuh kita semua."
Gua menatap balik mata Vito tanpa berkedip sedikit pun. Gua menelan ludah, menahan rasa takut yang sempat menyelinap, lalu mengangguk pelan.
"Deal," jawab gua sant**. "Lagipula, kalau rencana ini gagal, kita semua bakal mati juga. Jadi, minimal lu gak usah repot-repot ngulitin gua."
Vito terdiam sejenak, lalu perlahan-lahan dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, mengepalkan tinjunya ke udara—sebuah simbol bahwa gengnya, faksi terbesar di kamp ini, menyetujui gencatan senjata tersebut. Melihat itu, faksi-faksi lain perlahan-lahan mulai menurunkan senjata mereka.
Gua mengembuskan napas lega yang luar biasa dalam hati. G***, taruhan gua berhasil.
Gencatan senjata terpaksa ini resmi dimulai. Sekarang, bagian yang paling sulit baru saja akan dimulai: bertahan hidup dari rencana pelarian paling g*** dalam sejarah kamp militer terlarang ini.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!