Bab 11: Malam Pemberontakan Dimulai
"...nekat itu buat ngebant** kita semua," sambung Kenji, memotong lamunan gua. Suaranya gemetar parah, dan matanya yang dilapisi kacamata bulat itu menatap gua dengan pandangan kosong penuh ketakutan.
Gua mengepalkan tangan, menahan rasa sakit di perut gua yang rasanya kayak dihantam balok es raksasa. "G***. Mereka bener-bener nganggep kita kayak serangga yang tinggal diinjek terus dibuang."
*BOOM!*
Suara gemuruh guntur yang luar biasa keras tiba-tiba menghantam atap beton di atas kepala kami, bikin lampu darurat yang tadinya berkedip merah sempat padam selama dua detik sebelum menyala lagi. Di luar sana, badai tropis lagi ngamuk sejadi-jadinya. Angin kencang terdengar meraung-raung, disusul suara hantaman air hujan yang derasnya mirip air terjun jatuh ke bumi.
Gua menarik napas panjang, mencoba memproses semuanya. Ini takdir atau emang keberuntungan? Badai ini adalah pelindung terbaik kami untuk malam ini.
*KRIET.*
Pintu besi ruang utilitas tiba-tiba terbuka lebar. Gua refleks meraih sepotong pipa besi berkarat di dekat kaki gua, bersiap buat ngehantam siapa pun yang ma**k. Tapi, begitu sosok berambut pendek dengan jaket taktis hitam yang basah kuyup muncul di balik pintu, gua langsung mengembuskan napas lega.
Alera.
Gadis itu ma**k dengan napas terengah-engah. Di tangannya, dia memegang sebuah senapan serbu otomatis yang dia rampas entah dari penjaga mana. Rambutnya yang basah menempel di dahi, tapi matanya menyala tajam, penuh tekad yang gak bisa diganggu gugat. Di belakangnya, ada tiga orang tahanan lain yang keliatan tegang tapi bersenjata lengkap.
"Lu berdua masih hidup? Bagus," kata Alera tanpa basa-basi. Suaranya yang serak terdengar tegas di tengah suara badai yang meredam segalanya. "Kita gak punya banyak waktu. Di luar kacau banget. Penjaga lagi sibuk ngurusin tanggul timur yang jebol gara-gara ba****, tapi patroli menara tetap ketat."
"Alera, dengerin gua," kata gua sambil berusaha berdiri, meskipun harus meringis pelan pas otot perut gua ketarik. Gua mencengkeram pundaknya yang dingin karena air hujan. "Rencana kita gak bisa ditunda lagi. Gak bisa nunggu besok lusa. Protokol Pembersihan udah aktif. Kurang dari empat puluh delapan jam lagi, tempat ini bakal diratakan sama bom pemusnah massal. Mereka mau ngapus semua bukti keberadaan kamp ini."
Mata Alera melebar sesaat. Detik berikutnya, dia meludah ke lant** semen. "Br******. Otoritas si****. Oke, berarti malam ini adalah satu-satunya kesempatan kita buat keluar dari neraka ini, atau kita semua bakal mati jadi abu di sini."
Alera langsung berbalik menatap timnya, lalu kembali menatap gua dan Kenji. "Rencananya berubah. Kita jalan sekarang juga. Badai ini pelindung kita, tapi juga bakal bikin semuanya makin rumit."
Dia menunjuk Kenji yang masih memegang tabletnya dengan tangan gemetaran. "Kenji, lu sama Rayan harus ke Gedung Kendali Utama di Sektor Satu. Lu harus matiin semua sistem pertahanan otomatis—turret gun, sensor gerak, sama pagar listrik. Dan yang paling penting, batalin perintah bom pemusnah massal itu lewat terminal pusat."
Kenji menelan ludah dengan susah payah. "G-gua? Tapi Alera, penjagaan di Sektor Satu itu ketat banget. Gimana caranya kita bisa ma**k?"
"Gua yang bakal buka jalan buat lu," potong Alera cepat. Dia menepuk bahu Kenji dengan keras, hampir membuat cowok berkacamata itu terjungkal. "Gua dan pa**kan garis depan bakal langsung menyerbu menara pengawas barat dan timur. Kita bakal bikin keributan seg*** mungkin. Begitu sniper mereka fokus ke kita dan menara pengawas lumpuh, lu berdua harus langsung menyusup ma**k. Paham?"
Gua menatap Alera, cemas. "Alera, menara pengawas itu punya senapan mesin berat. Lu bisa mati."
Alera cuma tersenyum tipis—senyum menantang maut yang selalu bikin gua takjub sekaligus ngeri. "Gua gak berencana mati di pulau terkutuk ini, Rayan. Dan lu juga jangan berani-berani mati sebelum lu traktir gua kopi di luar sana."
Dia mengokang senjatanya dengan bunyi *KLIK-KLAK* yang dingin. "Dua menit dari sekarang, kekacauan dimulai. Bersiap."
***
Begitu kami melangkah keluar dari area bawah tanah, udara dingin dan guyuran hujan langsung menghantam wajah gua kayak tamparan keras. Air hujan yang dingin bener-bener bikin mata perih, dan jarak pandang gak lebih dari lima meter. Di kejauhan, lampu sorot dari menara pengawas berputar-putar liar, menembus kabut hujan yang tebal.
Gua menggandeng lengan Kenji yang gemetaran parah. "Tahan, Ken. Ikutin gua."
"Gua... gua merinding banget, Al," bisik Kenji, suaranya hampir hilang ditelan deru angin badai.
Tiba-tiba, suara ledakan dahsyat terdengar dari arah barat!
*BOOM!!!*
Gua bisa melihat kobaran api membubung tinggi, meski langsung tersapu air hujan yang sangat deras. Menara pengawas barat berguncang hebat sebelum akhirnya miring dan ambruk, menghantam pagar kawat berduri di bawahnya.
"Alera..." gumam gua. Cewek itu bener-bener g***. Dia berhasil meledakkan generator menara.
Detik berikutnya, sirene darurat kamp menjerit-jerit membelah malam. Suaranya yang melengking tinggi berpadu dengan suara tembakan yang mulai bersahut-sahutan. *RAT-TAT-TAT-TAT!* Suara senapan mesin berat dari menara timur mulai membalas tembakan. Teriakan kemarahan, tangisan, dan suara perintah dari pengeras suara kamp bercampur aduk jadi satu simfoni kematian yang mengerikan. Kamp militer terlarang ini resmi berubah jadi medan perang berdarah.
"Sekarang, Ken! Lari!" teriak gua.
Kami berdua berlari menembus lumpur yang tebal. Setiap kali kaki gua menginjak tanah, rasa sakit dari luka pukulan Boris tadi serasa menusuk-nusuk rusuk gua. Gua menggertakkan gigi, mengabaikan rasa perih yang teramat sangat. Gua gak boleh lemah sekarang. Nyawa ratusan orang, terma**k nyawa gua dan Kenji, ada di tangan kami.
Kami berhasil mencapai dinding belakang Gedung Kendali Utama Sektor Satu. Tempat ini keliatan sepi karena sebagian besar penjaga udah dikerahkan ke area barat buat meredam pemberontakan Alera.
Kenji dengan cekatan mengeluarkan kabel konektor dari tasnya, lalu mencolokkannya ke panel akses pintu belakang. Jarinya yang basah menari-nari di atas layar tablet.
"Ayo... ayo... *please*, kerja sama dong," gumam Kenji panik.
*KLIK.*
Lampu indikator pintu berubah dari merah jadi hijau. Pintu besi itu bergeser terbuka sedikit. Gua langsung mendorong pintu itu dan kami menyelinap ma**k ke dalam lorong yang terang benderang. Perbedaan suhu yang drastis dari luar yang dingin ke dalam ruangan ber-AC bikin tubuh gua yang basah kuyup langsung menggigil.
"Sektor Satu bersih, tapi kita harus cepet sebelum patroli dalam gedung sadar," kata gua sambil memegang pistol semi-otomatis yang tadi dikasih salah satu anak buah Alera.
Kami berjalan mengendap-endap menyusuri koridor steril berwarna putih. Di ujung lorong, pintu kaca tebal menuju Ruang Kendali Utama terlihat. Tapi sialnya, ada dua orang penjaga bersenjata lengkap yang lagi berdiri panik sambil menatap layar monitor pemantau.
"Mereka lagi lengah," bisik gua ke Kenji. "Gua bakal pancing mereka. Begitu mereka lengah, lu langsung ma**k dan kunci pintunya dari dalam."
"Lu g***, Al? Lu lagi luka parah!" protes Kenji dengan mata melotot.
"Gak ada pilihan lain, Ken!"
Gua menarik napas dalam-dalam, lalu sengaja menjatuhkan sebuah kaleng besi kosong di dekat tempat sampah koridor. Bunyi nyaring itu langsung menarik perhatian kedua penjaga.
"Siapa di sana?!" teriak salah satu penjaga sambil mengarahkan senjatanya ke arah gua.
Gua langsung melompat keluar dari belokan, melepaskan dua tembakan asal-asalan. *DOR! DOR!*
Satu tembakan gua meleset, tapi satu lagi berhasil mengenai bahu penjaga pertama. Penjaga kedua langsung membalas tembakan. Peluru-peluru berhamburan menghantam dinding koridor, bikin serpihan beton beterbangan. Gua berguling ke lant**, meringis kesakitan karena dada gua langsung berdenyut nyeri luar biasa.
Sebelum penjaga kedua sempat membidik gua lagi, dari arah belakang, Kenji tiba-tiba berlari dan menghantam kepala penjaga itu pake tabung pemadam api yang dia lepas dari dinding.
*KRAK!*
Penjaga itu langsung ambruk seketika. Gua melongo menatap Kenji yang napasnya satu-satu, memegang tabung pemadam dengan tangan gemetar hebat.
"Gua... gua gak ngebunuh dia, kan?" tanya Kenji dengan wajah pucat pasi.
"Enggak, dia cuma pingsan. G***, Ken... lu keren banget!" kata gua sambil berusaha berdiri, dibantu oleh Kenji.
Kami berdua langsung menerobos ma**k ke dalam Ruang Kendali Utama. Begitu di dalam, Kenji langsung menekan tombol darurat buat mengunci pintu kaca tebal di belakang kami dengan barikade baja. *KLANK.* Kami aman untuk sementara.
Di dalam ruangan, lusinan layar monitor menampilkan situasi kamp yang bener-bener kayak neraka. Gua bisa melihat Alera di salah satu monitor. Dia lagi berlindung di balik bangkai truk militer yang terbakar, menembaki para penjaga yang mencoba mengepungnya. Di sudut lain, para tahanan mulai menjebol gerbang barak, ikut bertempur pake senjata seadanya. Darah dan lumpur menyatu di bawah guyuran hujan yang gak kunjung reda.
"Al! Lihat ini!" teriak Kenji dari depan konsol utama yang super besar.
Gua buru-buru menghampirinya. Di layar monitor utama, ada tulisan besar berkedip warna merah darah:
**PROTOKOL PEMBERSIHAN: AKTIF.**
**WAKTU EKSEKUSI: 00:04:12**
"Empat menit lagi?!" pekik gua. "Ken, batalin sekarang! Cepetan!"
"Gua lagi usaha, ba*****!" teriak Kenji, saking paniknya dia sampai mengumpat kasar—hal yang jarang banget dia lakuin. Jarinya menari-nari di atas keyboard dengan kecepatan luar biasa. "Sistemnya di-enkripsi pake kode militer berlapis. Gua harus nge-bypass mainframe-nya dulu!"
*DUAK! DUAK! DUAK!*
Pintu baja di belakang kami mulai digedor keras dari luar. Pa**kan keamanan kamp udah tahu kami ada di sini. Suara tembakan mulai terdengar menghantam pintu besi itu, menyisakan bekas-bekas penyok yang mengerikan.
"Al, jagain pintunya! Kalau mereka ma**k, kita semua kelar!" teriak Kenji tanpa menoleh sedikit pun dari layar.
Gua berdiri di dekat pintu, mengarahkan pistol gua ke arah pintu yang mulai goyah. Keringat dingin bercampur air hujan menetes dari dahi gua. Jantung gua berdegup kencang banget, rasanya kayak mau lompat keluar dari dada.
"Ayo, Ken... cepet..." gumam gua dalam hati.
Monitor menampilkan hitungan mundur yang terus berjalan tanpa ampun.
*00:02:45...*
*00:02:44...*
Di luar, pertumpahan darah makin menjadi-jadi. Gua melihat salah satu teman satu barak kami jatuh tertembak di bawah menara timur. Dada gua terasa sesak. Kami harus memenangkan pertempuran ini. Kami harus bertahan hidup.
*DUAK!*
Engsel pintu atas mulai jebol. Moncong senapan laras panjang mulai terlihat menyembul dari celah pintu yang rusak. Gua langsung menembak ke arah celah itu. *DOR!* Terdengar teriakan kesakitan dari luar. Tapi itu gak bakal menghentikan mereka lama-lama.
"Kenji! Berapa lama lagi?!" teriak gua panik.
"Dikit lagi! Satu firewall lagi! Si****, ini ribet banget!" Kenji berteriak frustrasi, air mata panik mulai menggenang di matanya. "Ayo... ayo... mengalah lah, sistem si****!"
*00:01:05...*
*00:01:04...*
Satu menit tersisa. Jika bom pemusnah massal itu meledak, seluruh pulau ini bakal dipenuhi gas saraf mematikan dalam hitungan detik. Semua orang yang ada di sini—baik tahanan maupun penjaga—bakal mati mengenaskan.
Pintu baja di belakang gua akhirnya jebol sepenuhnya. Tiga orang penjaga berseragam hitam langsung merangsek ma**k dengan senapan mereka terkokang.
Gua refleks menjatuhkan diri ke balik meja konsol baja tepat saat rentetan peluru menghujani tempat kami berlindung. Pecahan kaca dan percikan api dari sirkuit yang hancur beteram terbang di atas kepala gua.
"Mati lu semua!" teriak salah satu penjaga.
Gua mencoba mengarahkan pistol gua, tapi peluru gua habis. Si****! *KLIK-KLIK.* Bunyi kosong itu terdengar kayak vonis mati buat gua.
Gua menatap Kenji yang masih fokus mengetik, seolah-olah dia gak peduli dengan peluru yang beterbangan di sekitarnya. Dia bener-bener mempertaruhkan nyawanya di detik-detik terakhir ini.
*00:00:15...*
*00:00:14...*
"SELESAI!" teriak Kenji histeris, lalu menghantam tombol 'Enter' dengan telapak tangannya sekuat tenaga.
Seketika itu juga, lampu merah yang berkedip-kedip di seluruh ruangan mati. Layar monitor besar di depan kami berubah warna menjadi hijau terang dengan tulisan besar:
**PROTOKOL PEMBUNUHAN MASSAL: DIBATALKAN.**
**SISTEM PERTAHANAN OTOMATIS: NON-AKTIF.**
Di luar gedung, suara raungan turret otomatis tiba-tiba berhenti. Pagar-pagar kawat berduri yang tadinya dialiri listrik ribuan volt langsung kehilangan dayanya, menyisakan kegelapan total di area batas luar kamp.
"Apa-apaan ini?!" teriak salah satu penjaga yang ma**k, kebingungan melihat sistem yang tiba-tiba mati total.
Gua gak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan sisa tenaga yang gua punya, gua melompat dari balik meja, menerjang penjaga terdekat dan merebut senjatanya. Gua menghantamkan gagang senapan itu ke rahangnya hingga dia tumbang, lalu mengarahkan moncong senjata ke dua penjaga sisanya.
"Angkat tangan lu semua, atau gua bolongin kepala lu berdua," ancam gua dengan suara dingin, meski napas gua udah bener-bener habis dan pandangan gua agak kabur karena rasa sakit yang luar biasa di rusuk gua.
Melihat sistem pertahanan mereka lumpuh dan situasi yang berbalik 180 derajat, kedua penjaga itu perlahan menurunkan senjata mereka dan mengangkat tangan ke atas.
Kenji langsung ambruk di kursinya, mengembuskan napas panjang seolah seluruh bebannya baru saja diangkat. "Kita... kita berhasil, Al. Sistem pertahanan mereka mati semua. Gerbang utama sekarang kebuka."
Gua tersenyum lebar, meski rasanya perih banget di sudut bibir gua yang robek. Lewat layar monitor, gua bisa melihat gerbang besi raksasa yang membatasi kamp dengan hutan luar perlahan terbuka lebar. Alera yang menyadari hal itu langsung berteriak memberikan komando kepada seluruh tahanan yang tersisa.
"Cabut, semuanya! Lari ke hutan! Gerbangnya kebuka!" teriak Alera lewat interkom yang berhasil kami bajak.
Gua menatap Kenji, lalu mengulurkan tangan gua ke dia. "Kerja bagus, bocah genius. Sekarang, ayo kita jemput Alera, terus kita keluar dari tempat terkutuk ini."
Malam pemberontakan ini belum selesai sepenuhnya, tapi setidaknya, harapan buat bertahan hidup itu sekarang bener-bener ada di depan mata kami. Perjalanan sesungguhnya baru saja dimulai. Di tengah badai yang masih mengamuk, kami berdua berlari keluar dari ruang kendali, siap menyambut kebebasan yang sudah lama dirampas dari kami. Ditengah kepulan asap, desingan peluru, dan guyuran hujan badai, kami terus melangkah maju menuju gerbang kebebasan.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!