Bau hangus kabel terbakar bercampur keringat dingin langsung menyengat hidung gua begitu kami berhasil menjebol pintu belakang Gedung Kendali Utama. Alarm merah berputar di langit-langit, ngasih efek dramatis kayak di film-film kiamat. Tapi sayangnya, ini bukan film. Ini nyata, dan nyawa kami taruhannya.
Di luar, suara badai tropis masih meraung-raung, sesekali disusul hantaman guntur yang bikin kaca-kaca tebal di ruangan ini bergetar hebat.
"Ken, cepetan! Colok buruan!" gertak gua, setengah berbisik sambil celingukan ke arah koridor luar yang remang-remang. Gua mencengkeram pipa besi di tangan gua erat-erat sampai buku-buku jari gua memutih.
Kenji, dengan tangan yang gemetaran parah sampai kacamata bulatnya hampir merosot ke ujung hidung, buru-buru mengeluarkan dekripsi portabel yang udah dia modifikasi dari barak logistik kemarin. Dia mencoba menancapkan kabel USB tebal itu ke port utama mainframe server Kamp 99. Tapi tangannya gemetar terlalu hebat sampai kabel itu meleset terus.
"S-sabar, Ray! Ini port-nya beda, mereka pakai enkripsi militer tingkat tinggi generasi terbaru! Kalau gua salah colok atau salah ma**kin kode sekali aja, sistemnya bakal nge-lockdown otomatis dan kita semua bakal mati konyol di sini!" balas Kenji panik setengah mati. Suaranya melengking tinggi, khas orang yang lagi di ambang histeria. Jarinya mulai menari cepat di atas keyboard virtual tabletnya, mencoba meretas lapisan keamanan pertama.
Di dekat pintu ma**k besi yang setengah terbuka, Alera berdiri kokoh dengan senapan serbu otomatis di tangannya. Dia gak menatap kami sama sekali. Matanya fokus penuh ke arah lorong gelap tempat suara langkah kaki bersepatu bot militer mulai terdengar mendekat. Tempo langkahnya cepat, berisik, dan teratur.
"Mereka datang," kata Alera dingin. Nada suaranya datar, tapi gua tahu dia lagi memompa adrenalinnya sampai batas maksimal. "Gua bakal tahan mereka di sini. Lu berdua, jangan sampai gagal. Kalau data itu gak kesebar malam ini, mati kita semua bakal sia-sia."
"Gak bakal sia-sia, Al," sahut gua, mencoba terdengar optimis padahal dada gua rasanya mau meledak saking kencangnya jantung gua berdegup. "Ken, berapa persen?"
"Baru dua puluh persen untuk bypass pertahanan luar! G***, ukuran file-nya bergiga-giga, Ray! Ini semua video rekaman eksperimen manusia, jurnal autopsi korban, sampai daftar nama donatur asing dan pejabat korup yang mendanai kamp ini!" Kenji berteriak frustrasi, air keringat sebesar biji jagung mulai bercucuran dari dahi dan pelipisnya.
*B**k!*
Pintu besi di ujung koridor depan dijebol paksa. Tiga orang pa**kan elite berbaju taktis hitam lengkap dengan helm antipeluru hitam pekat dan masker gas langsung merangsek ma**k. Mereka bukan penjaga patroli biasa yang sering kami temui di area barak atau menara pengawas. Ini adalah unit khusus pelindung lab—orang-orang tanpa empati yang dilatih cuma buat satu hal: melenyapkan siapa pun yang tahu rahasia tempat ini.
*Duar! Duar! Duar!*
Alera langsung melepas tembakan beruntun tanpa ragu. Suara tembakan di dalam ruangan sempit berdinding beton itu bener-bener m****akkan telinga, bikin kuping gua berdengung hebat. Gua refleks merunduk, melompat ke depan untuk melindungi kepala Kenji yang langsung berteriak histeris, meski anehnya tangan anak itu masih tetap mengetik di keyboard dengan kecepatan cahaya.
Satu penjaga elite tumbang di tempat setelah peluru Alera menembus sambungan leher rompi taktisnya. Tapi dua penjaga lainnya langsung membalas dengan tembakan taktis. Mereka bergerak maju sambil berlindung di balik pilar beton tebal. Percikan api dari peluru yang menghantam dinding besi dan server beterbangan di sekitar kami, menciptakan pemandangan yang kacau balau.
"Rayan! Sisi kanan!" teriak Alera di tengah desingan peluru.
Gua menoleh cepat dan melihat salah satu dari mereka mencoba memutar lewat barisan server kosong, berniat buat menembak Kenji langsung dari samping. Si****. Gua gak punya senjata api, tapi gua punya amarah yang udah numpuk berbulan-bulan di kamp neraka ini.
Tanpa berpikir panjang, gua lompat dari balik meja server cadangan. Gua manfaatkan momentum tubuh gua untuk menerjang tubuh penjaga itu dari samping sebelum dia sempat mengarahkan moncong senjatanya ke arah Kenji.
*Bruk!*
Kami berdua bergulingan di lant** semen yang dingin dan kotor. Senapan serbu di tangannya terlepas, bergeser jauh ke sudut ruangan. Tapi penjaga ini kuat banget. Otot badannya kayak batu. Sebelum gua sempat bereaksi, dia langsung mendaratkan satu pukulan mentah tepat di rahang kiri gua.
*Bugh!*
Rasa asin darah langsung menjalar di mulut gua. Kepala gua pusing tujuh keliling, pandangan gua sempat buram selama satu detik. Tapi kalau gua menyerah sekarang, Kenji mati, Alera mati, dan gua juga mati. Gua cengkeram erat kerah rompi taktisnya, lalu dengan nekat gua hantamkan dahi gua ke arah pelindung wajah helmnya.
B*** emang, dahi gua langsung robek dan darah segar mengalir ke mata gua. Tapi itu berhasil bikin dia kaget dan limbung sesaat. Begitu dia agak goyah, gua raih pipa besi yang tadi sempat terlepas di lant**, lalu gua hantamkan ke arah lututnya dengan seluruh sisa kekuatan yang gua punya.
*Krak!*
Dia mengerang kesakitan yang tertahan di balik maskernya, langsung jatuh berlutut. Gak nunggu lama, gua ayunkan lagi pipa besi itu, kali ini tepat ke arah tengkuknya sampai dia jatuh tersungkur dan gak bergerak lagi.
Napas gua ngos-ngosan, dada gua naik turun kayak habis lari maraton. Sambil menyeka darah di dahi yang mulai ma**k ke mata, gua menoleh ke arah Kenji. "Ken! Gimana?! Bilang sama gua kalau udah selesai!"
"Empat puluh persen! Tapi sial, sistemnya minta verifikasi biometrik admin untuk akses folder utama 'Projek Chimera'!" Kenji berteriak histeris, wajahnya udah pucat pasi mirip mayat. "Gua gak bisa nge-bypass protokol biometrik ini tepat waktu, Ray! Kita butuh sidik jari atau retina mata Dr. Viktor!"
Gua memaki dalam hati. Dr. Viktor—kepala lab sadis yang bertanggung jawab atas semua penderitaan kami—pasti ada di bunker terdalam yang gak mungkin bisa kami jangkau sekarang.
"Gak ada cara lain? Lu kan hacker paling jenius yang pernah gua kenal, Ken! Pikir!" gua mengguncang bahunya keras-keras, berusaha mengembalikan fokusnya di tengah suara tembakan Alera yang makin brutal di pintu ma**k.
Alera mulai terdesak. Dua penjaga cadangan baru ma**k lagi dari lorong samping. Dia terpaksa mundur ke dalam ruangan, berlindung di balik meja besi tebal sambil terus membalas tembakan seadanya. "Rayan! Gua gak bisa nahan mereka lebih lama lagi! Peluru gua sisa satu magasin terakhir!"
"Ken, fokus ke gua," kata gua, memegang kedua pipi Kenji dengan tangan gua yang gemetaran dan berlumuran darah. Gua paksa dia menatap mata gua langsung. "Lu bisa. Cari celah di sistemnya. Ingat adik lu yang nunggu di rumah. Kita harus pulang, Ken. Kita harus bikin orang-orang br****** yang menyiksa kita di sini membayar semuanya."
Kata-kata gua kayaknya berhasil menembus rasa panik yang menyelimuti otaknya. Mata Kenji yang tadinya liar dan ketakutan langsung fokus kembali. Dia menarik napas dalam-dalam, membetulkan letak kacamatanya yang miring, lalu jarinya bergerak di atas keyboard dengan ketenangan yang luar biasa.
"Oke... oke... mereka pakai sistem operasi berbasis Linux kuno untuk server cadangan ini. Kalau gua bisa bikin *buffer overflow* di port autentikasi lokal..." Kenji menggumam cepat, hampir gak kedengaran di antara suara bising tembakan. "Gua bisa memaksa sistemnya untuk *reboot* ke mode aman tanpa perlu verifikasi biometrik..."
Jarinya mengetik baris demi baris kode eksploitasi dengan kecepatan yang gak ma**k akal.
*Klik! Klik! Enter!*
"Bisa! Gua dapet celahnya!" teriak Kenji dengan senyum lebar yang terlihat kontras banget di tengah situasi hidup dan mati ini. "Downloading... 60%... 75%... Ayo, dikit lagi!"
Satu peluru nyasar melesat dan menyerempet bahu kiri Alera. Gadis itu meringis tertahan, tapi dia bahkan gak menurunkan senjatanya. Dia terus menembak, menahan posisi dengan ketangguhan yang bikin gua takjub. "Setengah menit lagi, Rayan! Peluru gua habis!"
Gua langsung memungut senapan serbu dari penjaga yang tadi gua lumpuhkan. Gua merangkak cepat ke samping Alera, ikut mengarahkan moncong senjata ke arah pintu dan melepaskan tembakan acak untuk menekan gerak maju musuh. Gua bukan penembak jitu, tapi dalam jarak sedekat ini, rentetan tembakan gua sukses bikin para penjaga elite itu terpaksa berlindung kembali di balik dinding koridor.
"Rayan, kalau malam ini kita gak berhasil keluar..." bisik Alera di sela-sela deru napasnya yang berat.
"Kita bakal keluar," potong gua tegas, tanpa sedikit pun keraguan. "Gua gak bakal biarin lu atau Kenji mati di sini. Kita bakal pulang bareng-bareng."
Alera menatap gua sekilas. Di balik wajahnya yang kotor karena debu mesiu dan keringat, dia tersenyum tipis—senyuman pertama yang tulus yang gua lihat dari dia sejak kami terjebak di tempat terkutuk ini. "Oke. Gua pegang janji lu."
"SELESAI! DOWNLOAD-NYA SELESAI!" teriak Kenji histeris sampai suaranya serak.
Gua langsung mundur dari barisan depan, kembali ke meja server tempat Kenji berada. "Langsung sebar, Ken! Jangan tunggu apa-apa lagi!"
"Gua udah nge-link tablet ini ke jaringan satelit darurat yang gua retas lewat jalur cuaca tadi. Gua bakal nge-mirror seluruh data ini ke ratusan situs torrent publik, forum komunitas hacker internasional, Reddit, Twitter, dan langsung ke email redaksi utama media internasional kayak BBC, CNN, Reuters, sama Al Jazeera!"
Kenji menatap layar tabletnya dengan mata yang berbinar penuh kepuasan dendam yang terbayar. Tangannya melayang di atas tombol virtual berwarna merah bertuliskan *'BROADCAST TO GLOBAL NETWORK'*.
"Ini buat semua teman-teman kita yang gak sempat bertahan hidup sampai hari ini," gumam Kenji dengan suara yang tiba-tiba bergetar emosional.
Dia menekan tombol itu dengan mantap.
Seketika, bar progres pengiriman di layarnya berjalan sangat cepat, didukung oleh jalur satelit yang stabil. 10%... 45%... 80%...
*SUCCESS. ALL FILES SENT AND PUBLISHED.*
Di saat yang bersamaan, semua layar monitor besar di ruang kendali utama—yang tadinya menampilkan logo militer Kamp 99—tiba-tiba berkedip merah terang dan memunculkan teks peringatan dalam bahasa Inggris: *DATA BREACH DETECTED. GLOBAL BROADCAST ACTIVE. ENCRYPTION BROKEN.*
Suara sirine internal di seluruh gedung tiba-tiba berubah nada. Bukan lagi alarm penyusup biasa, melainkan alarm darurat kegagalan sistem tingkat nasional yang melengking panjang.
Dari interkom nirkabel yang tergeletak di sabuk penjaga yang pingsan di dekat kaki gua, terdengar suara panik luar biasa dari ruang komando pusat di sektor seberang.
*"Halo?! Sektor Satu, jawab! Apa yang terjadi di sana?! Kenapa sistem kita bisa jebol?! Seluruh data eksperimen 'Projek Chimera' bocor ke internet publik! Hentikan transmisi itu sekarang juga! Cepat!!! Ini perintah!!!"*
Gua melangkah mendekat, memungut interkom itu, lalu menekan tombol bicaranya. Gua menarik napas dalam, lalu tersenyum dingin.
"Udah terlambat, br******. Seluruh dunia udah tahu seberapa busuknya kalian semua," kata gua pelan tapi tajam.
Gua lempar interkom itu ke lant** dan gua injak sampai hancur berkeping-keping di bawah sepatu bot gua.
Di luar koridor, suara tembakan yang tadinya gencar tiba-tiba berhenti total. Sayup-sayup gua bisa mendengar suara kepanikan dari sisa-sisa penjaga yang ada di luar. Mereka terdengar menerima perintah mundur darurat lewat radio masing-masing. Mereka sadar, misi mereka untuk menyembunyikan Kamp 99 dari mata dunia udah gagal total. Sekarang, mereka bukan lagi penjaga rahasia negara, melainkan kriminal perang yang sedang diburu oleh dunia internasional.
Kenji langsung menyandarkan punggungnya di kursi server, lemas seketika seolah seluruh energinya baru saja disedot habis. "Kita berhasil, Ray... kita bener-bener bikin mereka hancur..."
Alera berjalan mendekat ke arah kami, menurunkan senjatanya yang moncongnya masih mengeluarkan asap tipis. Dia menatap ke arah salah satu layar monitor yang masih menampilkan peta penyebaran data yang terus menyebar secara *real-time* ke berbagai belahan dunia—Eropa, Amerika, Asia, semuanya menyala merah.
"Sekarang, seluruh dunia lagi melihat ke arah kita," kata Alera, napasnya perlahan mulai teratur kembali. "Dalam hitungan jam, tempat ini bakal dikepung oleh pa**kan internasional atau tim penyelamat. Tapi sebelum itu..."
Gua menatap Alera, lalu beralih menatap Kenji. Tubuh gua rasanya remuk, luka di dahi gua masih perih, tapi ada rasa lega yang luar biasa besar yang menjalar di dada gua.
"Kita harus tetap hidup sampai mereka datang," kata gua sambil mengepalkan tangan erat-erat.
Perjuangan kami belum sepenuhnya selesai, tapi malam ini, di tengah badai yang mengamuk, kami akhirnya berhasil meruntuhkan dinding kegelapan Kamp 99. Kami gak lagi berjuang sendirian di tempat terlarang ini. Dunia sekarang sedang menonton kami.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!