Angin malam berembus kencang banget, langsung nampar muka gua begitu kami berhasil menjebol pintu darurat menuju area terbuka helipad. Hujan deras yang mengguyur dari tadi bikin pandangan agak kabur, tapi di ujung sana, di tengah-tengah helipad beton yang basah kuyup, baling-baling helikopter evakuasi udah berputar lambat. Suaranya bising banget, membelah suara petir yang bersahut-sahutan di langit hitam Kamp 99.
"Dikit lagi! Ayo, cepetan!" tergah gua sambil narik tangan Kenji yang jalannya udah kayak zombi saking lemesnya. Dia meluk tablet dekripsi erat-erat di dadanya, seolah barang itu adalah nyawanya sendiri.
Alera jalan paling depan, masih siaga dengan senapan serbunya meski langkah kakinya kelihatan agak pincang akibat pertarungan di dalam gedung tadi. Tapi langkah kami bertiga mendadak berhenti total waktu lampu sorot helipad tiba-tiba menyala terang benderang, nyorot langsung ke arah kami sampai bikin mata perih.
Dari balik bayangan helikopter yang berguncang ditiup angin badai, muncul sesosok pria paruh baya. Tapi panggil dia 'bapak-bapak biasa' jelas kesalahan besar.
Komandan Kamp—Jenderal purnawirawan yang jadi otak dari semua eksperimen g*** dan neraka di tempat ini—berdiri tegak di sana. Dia gak pakai seragam kebesarannya lagi. Cuma kaos dalam hitam ketat yang memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang gak wajar buat ukuran orang seumuran dia. Kulitnya pucat kayak mayat, tapi pembuluh darahnya menonjol warna hitam keunguan, merambat naik dari lengan, leher, sampai ke pelipisnya. Yang paling bikin merinding, matanya merah menyala kena sorot lampu.
"Lu mau pergi ke mana, tikus-tikus kecil?"
Suaranya berat banget, ada semacam distorsi aneh yang bikin dada gua bergetar saking ngerinya. Itu jelas bukan suara manusia biasa lagi.
"A****... itu Jenderal?" Kenji langsung mundur selangkah, mukanya pucat pasi sampai kacamatanya hampir merosot lagi. "Dia... dia nekat nyuntikin prototipe serum prajurit super itu ke badannya sendiri? G***! Itu kan belum stabil sama sekali!"
"Gak usah banyak bacot, Kenji," bisik gua, ngerasain keringat dingin bercampur air hujan mengalir di punggung gua. Gua bisa ngerasain firasat buruk yang luar biasa kencang. Sumpah, aura orang di depan kami ini bener-bener intimidatif.
Alera gak nunggu lama. Sebagai mantan agen terlatih, dia tahu gak ada gunanya negosiasi sama monster. Dia langsung ngangkat senjatanya dan nembak.
*Dor! Dor! Dor!*
Tiga peluru kaliber tinggi melesat cepat membelah hujan. Tapi g***, gerakan Jenderal itu cepet banget! Dia refleks ngehindar dengan kecepatan yang gak ma**k akal sehat. Peluru yang sempat kena pundaknya cuma bikin dia mundur satu langkah tanpa ngeluarin darah merah segar. Yang keluar cuma cairan kental warna kehitaman, dan dia bahkan gak meringis sama sekali.
"Hanya segini kemampuan kalian?" Jenderal itu menyeringai, nunjukkin gigi-giginya yang entah kenapa kelihatan lebih runcing dari biasanya.
Sebelum Alera sempat menarik pelatuk lagi, si Jenderal udah melesat maju. Jarak sepuluh meter di depan kami dipangkas dalam sekejap mata. Kecepatannya gokil, mirip kayak bayangan hitam yang melintas cepat.
*B**kk!*
Dengan satu pukulan telapak tangan, dia ngehantam senapan Alera sampai patah jadi dua bagian. Gak berhenti di situ, tangan kekar si Jenderal langsung mencengkeram leher Alera dan mengangkat tubuh cewek itu ke udara seolah dia cuma boneka kertas tanpa bobot.
"Alera!" teriak gua panik. Gua refleks mau maju, tapi insting bertahan hidup gua nahan kaki gua untuk gak bertindak bodoh.
Alera berusaha berontak. Mukanya memerah karena kehabisan napas, tapi matanya tetap tajam. Dia berusaha mukul lengan si Jenderal pakai siku dan lututnya berkali-kali. Sialnya, suara hantaman itu kedengaran kayak mukul tembok baja beton. Gak ngefek sama sekali!
Jenderal itu cuma ketawa sinis, suara tawanya berat dan parau. "Eksperimen gagal harus dimusnahkan."
Tanpa perasaan, dia ngelempar tubuh Alera ke arah tumpukan besi pembatas helipad.
*Gub**k!*
Tubuh Alera menghantam besi pembatas itu dengan keras sebelum akhirnya jatuh terjerembap ke lant** semen yang basah kuyup. Dia langsung terbatuk darah, megangin rusuk kirinya yang kayaknya patah.
"Uhuk... r-rusuk gua..." gumam Alera lemah. Dia berusaha buat bangun, tapi rasa sakit yang luar biasa bikin dia jatuh lagi sambil meringis menahan perih.
"Gua bakal robek kalian satu-satu, mulai dari yang paling lemah," kata Jenderal itu, mulai memutar lehernya sampai berbunyi *krek* yang ngeri, lalu jalan sant** ke arah gua dan Kenji. Langkah kakinya yang berat sampai bikin genangan air di helipad beriak hebat.
"Ray, kita harus gimana? Kita mati, Ray! Kita bakal mati di sini!" Kenji mulai histeris. Badannya gemeteran parah sampai tablet di tangannya hampir jatuh.
Gua berusaha tetap tenang, meskipun jantung gua rasanya mau copot. Otak gua dipaksa muter keras, nyari apa aja yang bisa dipakai buat bertahan hidup di tengah badai ini. Gua gak mungkin menang kalau duel fisik murni. Fisik gua cuma anak kuliahan biasa, sedangkan dia udah kayak monster fiksi ilmiah.
Gua ngeliat sekeliling dengan cepat. Air hujan menggenang c**up tinggi di tengah helipad karena saluran pembuangannya tersumbat runtuhan puing. Terus, mata gua gak sengaja menangkap sesuatu di dekat sudut helipad. Ada instalasi kabel listrik tegangan tinggi dari generator cadangan helipad yang terkelupas akibat hantaman badai tadi. Kabel tembaga tebal itu menjunt** bebas, bergesekan dengan pagar besi, dan sesekali ngeluarin percikan api biru kekuningan yang lumayan gede.
*Tegangan tinggi... air hujan... konduktor...*
Seketika, satu ide g*** muncul di kepala gua. Ini taruhan nyawa yang super berisiko. Kalau gua salah perhitungan dikit aja, bukan cuma si Jenderal yang mateng, tapi gua juga bakal ikut terpanggang jadi abu.
"Ken, lu mundur sekarang! Cari tempat kering di dekat tangga darurat, bawa tablet itu dan jangan sampai lepas!" bisik gua setengah berteriak di tengah deru angin.
"Tapi, Ray—lu mau ngapain?!"
"Gak ada waktu buat jelasin! Pergi sekarang atau kita mati bareng di sini!" gertak gua sambil mendorong bahu Kenji kasar.
Kenji yang ketakutan akhirnya nurut. Dia merangkak mundur dengan panik sambil meluk tabletnya, menjauh dari area genangan air di tengah helipad.
Gua menarik napas dalam-dalam, mencoba ngumpulin sisa-sisa keberanian gua yang udah di ambang batas. Gua membungkuk, mengambil sebatang pipa besi panjang yang tadi sempat gua bawa dari dalam gedung kendali buat jaga-jaga.
"Woi, Jenderal tua bangka yang kesepian!" teriak gua sekencang-kencangnya, mencoba memancing perhatiannya. "Sini lu! Katanya prajurit super hasil teknologi masa depan, tapi jalan aja lambat banget kayak siput! Sini kalau berani!"
Jenderal itu langsung berhenti melangkah. Dia menoleh perlahan ke arah gua. Matanya yang merah menyala makin melebar karena murka yang luar biasa. Mungkin dia gak terima dihina sama bocah ingusan kayak gua.
"Berani-beraninya lu bicara begitu, kecoak kecil!" raungnya.
Tanpa b***bu lagi, dia langsung melesat ke arah gua dengan kecepatan penuh.
Gua gak lari menjauh. Gua justru lari lurus ke arah kotak panel generator cadangan yang ada di sudut helipad.
"Ray! Jangan ke sana! Bahaya!" Alera berteriak dari kejauhan dengan sisa tenaganya. Suaranya terdengar parau dan penuh kecemasan.
Begitu jarak si Jenderal tinggal dua meter di belakang gua—gua bahkan bisa ngerasain embusan angin dingin yang dibawa sama pergerakannya—gua langsung melompat dengan sekuat tenaga ke atas kotak panel generator yang terbuat dari bahan isolator karet tebal. Gua mendarat dengan tidak mulus, lutut gua menghantam besi penutup panel sampai terasa linu, tapi gua gak peduli sama rasa sakitnya.
Jenderal itu terlambat ngerem karena kecepatannya yang terlalu tinggi. Kedua bot militernya mendarat tepat di tengah genangan air yang luas di tengah helipad.
"Ini buat semua orang yang udah lu siksa di kamp ini, ke*****!" teriak gua sekencang-kencangnya.
Dengan sisa tenaga terakhir, gua mengayunkan pipa besi di tangan gua, memukul kabel utama bertegangan tinggi yang terkelupas itu agar terlepas sepenuhnya dari sambungan panel.
*Krakkk!*
Pipa besi gua berhasil menghantam kabel itu. Kabel besar bermuatan ribuan volt itu putus dan ujung tembaganya yang masih menyala-nyala langsung jatuh bebas, menjunt** tepat ke dalam genangan air yang mengelilingi kaki si Jenderal.
*ZAPPPPP!!!*
Suara dengungan listrik yang sangat m****akkan telinga langsung memenuhi udara malam itu. Cahaya biru keputihan yang sangat terang menyala hebat, menerangi seluruh area helipad selama beberapa detik yang terasa kayak selamanya.
Jenderal itu langsung kaku seketika. Seluruh tubuhnya yang besar dialiri arus listrik berkekuatan luar biasa. Otot-otot super hasil serumnya yang tadi kelihatan kokoh dan keras justru jadi bumerang—mengalirkan listrik dengan sangat cepat dan bikin seluruh tubuhnya kejang-kejang hebat tanpa bisa dikontrol.
Cairan hitam dari pembuluh darah di leher dan wajahnya mulai mendidih, mengeluarkan asap putih berbau gosong yang menyengat hidung. Dia berteriak, tapi suara teriakannya gak terdengar kayak manusia lagi, melainkan lolongan monster yang sangat menyedihkan.
Gua yang berdiri di atas kotak panel karet juga sempat ngerasain sengatan sisa listrik yang merambat lewat udara basah. Rasanya kayak disengat ribuan semut api, bikin seluruh bulu kuduk gua berdiri dan jantung gua berdegup gak karuan. Tapi gua terus bertahan di atas sana, menutup mata rapat-rapat sampai akhirnya sekring utama generator meledak karena korsleting parah.
*Duar!*
Panel generator di bawah kaki gua meledak kecil, mengeluarkan letupan api dan asap hitam tebal sebelum akhirnya mati total.
Suasana mendadak jadi hening banget, cuma menyisakan suara gemuruh hujan yang mengguyur bumi dan desis sisa pembakaran dari tubuh si Jenderal.
Tubuh raksasa Jenderal itu akhirnya ambruk ke depan. Dia jatuh terjerembap ke dalam genangan air dengan bunyi kecipak yang keras. Kulitnya yang tadi putih pucat kini menghitam legam karena luka bakar hebat, dan dari sela-sela jarinya masih mengeluarkan asap tipis. Dia gak bergerak lagi. Sama sekali gak bernapas. Prototipe prajurit super paling sempurna itu akhirnya tewas mengenaskan karena hukum fisika dasar.
Gua langsung merosot jatuh dari atas panel generator, duduk lemas di atas beton yang basah. Napas gua memburu hebat, dada gua naik turun dengan cepat dan rasanya sesak banget. Tangan gua gemetaran parah, bahkan buat ngepalin jari aja gua udah gak sanggup lagi karena efek syok adrenalin.
"R-Ray... lu gak apa-apa? Sumpah, itu barusan g*** banget!" suara Kenji terdengar gemetar dari arah kegelapan.
Dia perlahan berjalan mendekat sambil memapah Alera yang jalannya terpincang-pincang. Alera memegangi rusuk kirinya, mukanya masih kelihatan pucat, tapi ada binar kekaguman di matanya yang dingin itu.
Gua memaksakan diri buat tersenyum tipis, meski rasanya perih banget karena bibir gua sempat tergigit tadi. "Masih hidup, Ken. Gua masih hidup."
Gua bangkit berdiri dengan sisa-sisa tenaga yang ada, lalu nyamperin mereka berdua. Gua merangkul bahu Alera yang sebelah kanan, membantunya buat tetap tegak.
"Kerja bagus, Rayan," bisik Alera pelan banget di dekat telinga gua. "Gua gak salah milih buat percaya sama lu."
"Iya, makasih. Tapi puji-pujiannya nanti aja pas kita udah di udara," sahut gua sambil meringis. "Sekarang... ayo pergi dari neraka ini sebelum pa**kan cadangan mereka datang."
Kami bertiga melangkah terseok-seok menuju helikopter evakuasi yang mesinnya masih menyala stabil. Kenji langsung naik duluan ke kursi kopilot, jarinya dengan cekatan memencet tombol-tombol yang dia pelajari dari simulator barak kemarin. Gua membantu Alera naik ke kabin belakang, lalu gua menyusul ma**k.
Begitu pintu geser helikopter ditutup rapat oleh Kenji, suara bising angin badai dan dinginnya malam langsung teredam. Helikopter perlahan mulai terangkat naik, meninggalkan helipad Kamp 99 yang perlahan mengecil di bawah sana, menyisakan kenangan buruk dan perjuangan hidup mati yang gak akan pernah kami lupain seumur hidup.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!