**Bab 14: Kebebasan yang Mahal**
Ledakan dahsyat itu masih terngiang-ngiang jelas di kuping gua. Getaran hebat yang hampir ngebuat helipad runtuh, kobaran api raksasa yang menelan tubuh monster Jenderal itu, sampai perjuangan hidup-mati kami berlari menuruni tebing curam menuju dermaga logistikβsemuanya kayak mimpi buruk yang berputar cepat di kepala gua.
Tapi begitu angin laut yang dinginnya menusuk tulang nampar muka gua, gua langsung tersadar. Ini bukan mimpi. Kami beneran selamat.
Gua berdiri di dek belakang kapal logistik militer berukuran sedang yang sekarang melaju membelah ombak malam. Di ujung cakrawala, Kamp 99βtempat yang selama berbulan-bulan jadi neraka personal kamiβkelihatan kayak obor raksasa di tengah kegelapan laut. Api merah kejinggaan menyala-nyala hebat, melahap seluruh fasilitas militer rahasia itu sampai gak bersisa. Asap hitam pekat membubung tinggi, perlahan menyatu dengan awan mendung yang mulai menipis setelah badai reda.
Tempat laknat itu akhirnya hancur. Rata dengan tanah.
"Nih, minum dulu. Muka lu udah kayak mayat hidup, Yan."
Sebuah cangkir st**nless steel berisi kopi instan hangat tiba-tiba disodorkan ke depan muka gua. Gua menoleh dan mendapati Hugo berdiri di samping gua, lengkap dengan handuk kecil yang melingkar di lehernya dan beberapa plester medis yang nempel di pelipis dan lengan berototnya.
Gua tersenyum tipis, menerima cangkir itu. "Thanks, Go. Yang lain gimana?"
"Aman," Hugo bersandar pada pagar pembatas kapal, ikut memandang ke arah pulau yang terbakar di kejauhan. "Para tawanan yang kita selamatin lagi pada istirahat di dalam kabin bawah. Sebagian besar masih syok, tapi mereka bersyukur banget bisa keluar hidup-hidup. Si Kenji... yah, lu tahu sendirilah. Dia lagi sibuk sama dunianya."
Gua terkekeh pelan mendengar nama Kenji disebut. Rasa hangat dari kopi yang gua sesap pelan-pelan menjalar ke seluruh tubuh, sedikit mengusir rasa gigil yang sedari tadi bersarang di dada gua.
Tiba-tiba pintu dek terbuka, dan langkah kaki yang agak pincang terdengar mendekat. Alera berjalan keluar dengan jaket militer kedodoran yang menutupi kaos hitamnya yang robek di beberapa bagian. Bahu kirinya dibalut perban putih bersih, tapi raut mukanya kelihatan jauh lebih rileks dibanding sebelum-sebelumnya.
"Gak bisa tidur?" tanya gua sambil melangkah mendekat, reflek menuntun lengannya biar dia gak kehilangan keseimbangan karena guncangan kapal.
Alera menatap gua, matanya yang biasa tajam dan waspada kini terlihat lebih lembut. "Gimana bisa tidur kalau di luar seindah ini?" bisiknya sambil menatap ke arah laut lepas. "Gua hampir lupa gimana rasanya menghirup udara yang gak bau mesiu atau cairan kimia."
"Kita beneran berhasil, Al," kata gua lirih, masih agak gak percaya dengan realitas yang ada di depan mata.
"Iya, Rayan. Kita berhasil," jawab Alera lembut, tangan kanannya perlahan menyentuh punggung tangan gua yang masih memegang cangkir kopi. Sentuhan hangat itu bikin jantung gua berdegup agak kencang, tapi kali ini bukan karena adrenalin dari bahaya, melainkan karena rasa lega yang luar biasa.
"WOY! GUYS! SINI CEPETAN! A****, INI VIRAL PARAH!"
Teriakan super heboh dari dalam kabin kemudi langsung memecah suasana syahdu kami. Itu jelas suara Kenji. Gua, Alera, dan Hugo saling pandang sebelum akhirnya mutusin buat ma**k ke dalam ruangan kemudi yang hangat.
Di sana, Kenji lagi duduk bersila di atas kursi kapten yang kebesaran buat badannya yang kurus. Tablet dekripsi militer miliknya ditaruh di atas meja panel instrumen, memancarkan cahaya biru terang yang menyorot wajahnya yang super tegang tapi penuh kemenangan.
"Ada apa sih, Nji? Berisik banget lu kayak toa masjid," gerutu Hugo sambil menjitak pelan kepala Kenji.
"Aduh! Sakit, b***!" Kenji mengusap kepalanya, tapi sedetik kemudian dia langsung heboh lagi sambil nunjuk-nunjuk layar tabletnya. "Lihat nih! Lu semua harus lihat! Data Kamp 99 yang gua kirim lewat satelit darurat tadi... udah bocor ke publik! Bukan cuma di forum underground, tapi udah ma**k ke portal berita internasional!"
Gua langsung condongin badan buat melihat layar tablet itu. Di sana, berbagai tajuk berita utama dari media-media raksasa dunia terpampang dengan huruf tebal dan kapital:
**"SKANDAL KAMP 99: PROYEK MANUSIA SUPER ILEGAL DAN KORUPSI JENDERAL MILITER TERBONGKAR!"**
**"DOKUMEN RAHASIA BOCOR: PULUHAN PEJABAT TINGGI NEGARA TERLIBAT EKSPERIMEN MANUSIA."**
**"BREAKING NEWS: PENANGKAPAN MASSAL PARA PETINGGI MILITER DI IBU KOTA!"**
Kenji menggeser layarnya, memperlihatkan video siaran langsung dari salah satu stasiun TV berita. Di dalam video itu, terlihat beberapa helikopter polisi dan barikade mobil hitam mengepung rumah-rumah mewah milik para jenderal korup yang selama ini jadi dalang di balik Kamp 99. Mereka digiring keluar dengan tangan diborgol, wajah-wajah angkuh mereka kini tertutup rapat oleh sorotan kamera wartawan yang jumlahnya ratusan.
"G***..." gumam Hugo, matanya melotot gak percaya. "Mereka... beneran ditangkep? Semudah ini?"
"Gak mudah, Go," sahut Alera dengan nada serius tapi ada kepuasan tersendiri di suaranya. "Data yang di-upload Kenji itu mencakup semua transaksi keuangan, nama-nama korban, sampai formula serum ilegal yang mereka bikin. Pemerintah gak punya pilihan lain selain bersih-bersih massal kalau gak mau dicap sebagai negara pelindung penjahat perang oleh dunia internasional."
Kenji nyengir lebar sampai matanya yang sipit hampir hilang di balik kacamata bulatnya. "Gua sengaja pasang timer otomatis buat sebar data itu ke ratusan jurnalis independen sekalian. Jadi, begitu militer coba buat nge-take down, datanya udah terlanjur ke-mirror di ribuan server dunia. Mereka gak bakal bisa nutupin borok ini lagi!"
"Lu keren, Nji. Sumpah," gua menepuk pundak Kenji keras-keras sampai cowok itu hampir tersedak ludahnya sendiri.
"Uhuk! Sant**, Yan! Jasa gua emang gede, jadi nanti pas kita udah di darat, lu wajib traktir gua bakso sepuluh mangkok!" kelakar Kenji sambil menaik-turunkan alisnya.
"Jangankan sepuluh, seratus mangkok juga gua jabanin kalau kita udah dapet identitas baru," balas gua sambil tertawa lepas. Rasa sesak yang menyiksa dada gua selama berbulan-bulan di Kamp 99 rasanya menguap begitu aja mendengarkan candaan gak bermutu khas Kenji.
Kami semua tertawa. Untuk pertama kalinya, tawa kami terdengar lepas tanpa ada ketakutan kalau besok kami gak bakal bangun lagi karena dieksekusi atau dijadikan bahan percobaan.
Gua berjalan pelan menuju sudut ruangan, tempat tas ransel usang gua tergeletak. Gua membuka resletingnya dan merogoh ke dalam, mengambil sebuah buku catatan kecil bercover kulit hitam yang permukaannya udah lecet-lecet dan kotor karena tanah dan cipratan darah.
Buku panduan bertahan hidup.
Buku yang gua tulis sendiri secara sembunyi-sembunyi selama berada di Kamp 99. Buku yang berisi coretan taktik, peta rute patroli penjaga, titik-titik kelemahan sistem keamanan, dan tips-tips konyol tapi menyelamatkan nyawa untuk bertahan di tengah keg***an militer. Buku ini adalah kompas gua, pemandu jalan gua di saat semua harapan rasanya udah mati.
Gua membuka halaman demi halaman. Di halaman terakhir, gua melihat tulisan tangan gua sendiri yang agak berantakan: *Aturan nomor 99: Jangan pernah mati sebelum melihat dunia luar.*
Gua tersenyum tipis. Gua mengambil sebuah pulpen dari saku jaket, lalu menarik garis panjang untuk mencoret aturan terakhir itu. Di bawahnya, gua menuliskan satu kalimat baru dengan huruf yang rapi:
*Aturan Baru: Nikmati kebebasanmu. Lu pantas mendapatkannya.*
*Plak.*
Gua menutup buku panduan itu rapat-rapat, lalu mema**kkannya kembali ke dalam tas. Kali ini, gua tahu gua gak bakal butuh buku itu lagi. Gua gak perlu lagi membaca panduan tentang cara bertahan hidup, karena mulai detik ini, gua bener-bener akan mulai *hidup*.
Gua kembali berjalan ke dek luar, menikmati sisa-sisa angin malam yang kini terasa jauh lebih bersahabat. Alera menyusul gua, berdiri di samping gua sambil melipat kedua tangannya di dada, memandangi langit timur yang perlahan mulai memancarkan semburat warna biru muda dan jingga.
Matahari terbit yang pertama bagi kebebasan kami.
"Jadi..." Alera menoleh ke arah gua, rambut pendeknya berkibar lembut ditiup angin laut. "Setelah kapal ini bersandar di pelabuhan aman nanti, lu mau ke mana, Rayan?"
Gua memandang ke depan, ke arah hamparan laut luas yang seolah gak berujung. Ke arah dunia baru yang menanti kami di luar sana.
Gua menoleh ke arah Alera, menatap matanya dalam-dalam, lalu tersenyum sangat lebar.
"Ke mana aja, Al. Yang penting, bareng lu dan anak-anak."
Alera tertegun sejenak, sebelum akhirnya sebuah senyuman paling manis yang pernah gua lihat terukir di wajahnya. Dia menyandarkan kepalanya di bahu gua, dan di bawah langit pagi yang perlahan mulai terang, kapal logistik kami terus melaju, membawa kami pergi jauh dari neraka masa lalu menuju kebebasan yang, meskipun dibayar dengan harga yang sangat mahal, akhirnya bener-bener jadi milik kami.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!