Cara Bertahan Hidup di Kamp Militer Terlarang

Bab 2: Aturan Pertama: Jangan Terlihat Menonjol

Pengaturan Membaca

Gua tersungkur ke tanah merah yang basah. Rasa sakit di punggung gua akibat tendangan tentara tadi langsung menjalar ke seluruh tubuh, bikin gua megap-megap kayak ikan yang baru dikeluarkan dari akuarium. Dinginnya angin laut yang menusuk tulang langsung menyapa kulit gua, bercampur dengan bau karat dan mesiu yang menggantung tebal di udara.

"Berdiri, an****! Jangan manja!"

Bentakan keras itu disusul oleh hantaman laras senapan ke pundak gua. Gua meringis, buru-buru bangkit berdiri sebelum tentara itu mutusin buat meletuskan peluru ke kepala gua.

Di depan gua, berdiri sebuah gerbang besi raksasa yang sudah berkarat, dengan kawat berduri melingkar-lingkar di atasnya. Di balik gerbang itu, gua bisa melihat ratusan orang dengan pakaian abu-abu lusuh sedang lalu-lalang. Beberapa dari mereka menatap gua dengan pandangan lapar. Pandangan predator yang melihat mangsa baru yang masih segar dan berbau "anak mami".

Hari-hari pertama gua di Kamp 99 adalah definisi dari neraka dunia.

Gak ada waktu buat beradaptasi. Di sini, lo gak kerja, lo gak makan. Dan kerjaan kami bukan cuma bersih-bersih biasa, tapi kerja paksa memecah batu di tambang bawah tanah atau memikul balok kayu raksasa di bawah guyuran hujan badai. Tubuh gua yang biasanya dirawat di klinik kecantikan dan nge-gym sant** di kawasan SCBD, sekarang penuh dengan luka memar, lecet, dan kapalan.

Tapi, siksaan fisik dari para penjaga militer itu belum ada apa-apanya dibanding ancaman dari sesama tahanan.

Di tempat tanpa hukum seperti ini, hierarki terbentuk berdasarkan otot. Dan di puncak rant** makanan Blok B—tempat gua ditempatkan—ada seorang cowok bernama Igor.

Igor itu monster. Badannya segede lemari dua pintu, kepalanya botak plontos dengan tato kalajengking raksasa di lehernya. Kabarnya, dia mantan narapidana kelas berat yang sengaja "dibuang" ke sini karena terlalu berbahaya untuk penjara biasa. Di Kamp 99, Igor punya geng sendiri yang isinya orang-orang berbadan kekar yang hobi menindas tahanan baru yang lemah.

Dan tebak siapa yang jadi target empuk mereka? Ya, gua. Rayan. Mantan anak orang kaya yang sekarang gak lebih dari seonggok daging tak berharga.

"Heh, anak manja."

Suara berat dan serak itu bikin bulu kuduk gua merinding. Gua yang baru selesai memba**h muka di wastafel toilet umum yang kotor, langsung membeku. Pas gua balik badan, Igor udah berdiri di depan pintu toilet, menghalangi satu-satunya jalan keluar. Di belakangnya, ada tiga orang anak buahnya yang senyum-senyum sinis.

"Dengar-dengar lo dulu anak konglomerat ya?" Igor melangkah maju, bikin gua terpaksa mundur sampai punggung gua mentok ke dinding tembok yang berlumut. Dia mencengkeram kerah kaos abu-abu gua, mengangkat tubuh gua sampai ujung kaki gua nyaris gak menyentuh lant**.

"Lepas..." bisik gua, mencoba berontak, tapi tenaga gua gak ada apa-apanya dibanding lengannya yang segede pohon pisang.

"Bagi-bagi dong jatah makanan lo hari ini. Lagian, badan kerempeng kayak lo gak butuh banyak makan, kan?" Igor tertawa lepas, diikuti oleh tawa antek-anteknya.

Gua tahu, kalau gua kasih jatah makanan gua hari ini, besok mereka bakal minta lagi. Dan lusa, mereka bakal minta hal yang lebih parah. Di tempat ini, sekali lo kelihatan lemah dan tunduk, lo bakal diperas sampai mati. Tapi kalau gua ngelawan sekarang, gua pasti bakal digebukin sampai mati di toilet ini tanpa ada yang peduli.

Gua harus mikir cepat. Otak gua harus bekerja lebih keras daripada otot gua.

Mata gua melirik ke luar jendela toilet yang mengarah langsung ke area kantin outdoor. Di sana, di salah satu meja kayu, sedang duduk kelompok lain. Mereka adalah gengnya Leon—seorang mantan tentara bayaran yang terkenal dingin dan gak pernah mau urusannya diganggu. Geng Igor dan geng Leon udah lama terlibat perang dingin karena perebutan wilayah distribusi rokok selundupan di dalam kamp.

Satu ide g*** langsung terlintas di kepala gua.

"Bang, sori..." kata gua dengan suara yang sengaja gua bikin gemetar, akting ketakutan setengah mati. "Gua gak keberatan kasih jatah makanan gua ke lo. Tapi... tadi pagi gua gak sengaja dengar anak buahnya Leon di kantin."

Igor mengernyitkan dahi. Cengkeramannya di kerah baju gua sedikit melonggar. "Dengar apaan lo?"

"Mereka... mereka bilang lo cuma an**** menggonggong yang gak berani ma**k ke wilayah mereka. Katanya, lo cuma berani malakin anak baru kayak gua karena takut sama Leon," ucap gua dengan nada seyakin mungkin, sambil memasang wajah polos tanpa dosa.

Wajah Igor langsung berubah merah padam. Urat-urat di pelipisnya menonjol. Cowok temperamental kayak dia paling gak bisa kalau harga dirinya diinjak-injak, apalagi bawa-bawa nama rival terbesarnya.

"Lo gak bohong kan, bocah?!" bentak Igor, napasnya yang bau tembakau murahan berembus kasar di wajah gua.

"Sumpah, Bang! Tadi pagi pas gua ambil air, anak buah Leon yang pakai anting di telinga kiri yang ngomong gitu. Dia bilang lo itu pengecut," kompor gua lagi, sengaja mendeskripsikan salah satu anak buah Leon yang paling emosian, namanya Riko.

Igor melepaskan cengkeramannya kasar sampai gua jatuh terduduk di lant** toilet yang becek. Dia berbalik ke arah anak buahnya dengan mata menyala penuh amarah.

"Kurang ajar si Leon dan an****-an****nya! Mereka pikir mereka siapa?!" raung Igor. "Ayo! Kita samperin sekarang!"

Tanpa memedulikan gua lagi, Igor dan komplotannya langsung badai keluar dari toilet, berjalan cepat menuju area kantin dengan langkah gusar.

Gua buru-buru bangkit, mengusap leher gua yang memerah, lalu mengintip dari balik pintu toilet.

Di luar, suasananya langsung memanas. Igor langsung menerjang meja tempat geng Leon berkumpul. Dia langsung menarik kerah baju Riko—cowok beranting yang gua sebutkan tadi—dan melayangkan satu pukulan mentah tepat di rahangnya.

*BUKK!*

"Apa-apaan nih, b***?!" teriak Riko yang langsung tersungkur, memicu reaksi cepat dari Leon dan anggota gengnya yang lain.

"Lo nanya apa-apaan?! Jaga bacot lo ya, an****!" balas Igor berteriak.

Dalam hitungan detik, keributan besar pecah di tengah kantin. Baku hantam massal gak terhindarkan lagi. Kursi-kursi kayu beterbangan, piring-piring seng berdenting keras menghantam tanah, dan teriakan penuh emosi menggema di seluruh penjuru lapangan. Para penjaga militer di menara pengawas langsung membunyikan sirene tanda bahaya dan bergegas turun dengan tongkat pemukul untuk membubarkan massa.

Gua tersenyum tipis di balik bayang-bayang toilet.

*Berhasil.*

Sambil memanfaatkan kekacauan tersebut, gua menyelinap pergi lewat jalur belakang kantin, menjauh dari keributan yang baru saja gua ciptakan. Gak ada yang memperhatikan gua. Di mata semua orang, gua hanyalah si anak baru yang ketakutan dan bersembunyi. Dan itu adalah posisi paling aman yang bisa gua dapatkan saat ini.

***

Malam harinya, di dalam barak Blok B yang dingin dan pengap.

Gua berbaring di atas ranjang tingkat berbahan besi yang reyot. Ka**rnya tipis, bau apek, dan penuh dengan kutu busuk. Di sekeliling gua, terdengar suara dengkur keras dari puluhan tahanan lain yang kelelahan setelah seharian bekerja paksa.

Igor dan beberapa anak buahnya belum kembali ke barak. Kudengar mereka semua dima**kkan ke dalam sel isolasi bawah tanah karena memulai keributan di kantin tadi siang. Mereka bakal disiksa di sana selama tiga hari tanpa makan dan minum.

Gua menghela napas panjang. Hari ini gua selamat. Tapi besok? Lusa? Minggu depan? Gua gak bisa terus-menerus mengandalkan keberuntungan atau manipulasi murahan kayak tadi. Gua harus punya rencana yang matang kalau mau bertahan hidup di tempat terkutuk ini sampai gua bisa menemukan cara untuk keluar dan membalas dendam pada Adrian Wijaya.

Gua merogoh bagian dalam celana gua, lalu mengeluarkan secarik kertas buram yang agak kotor dan sebatang pensil kayu kecil yang ujungnya tumpul. Kertas dan pensil ini gua curi dari meja pos penjaga saat mereka sedang lengah melerai perkelahian tadi siang. Tindakan nekat yang bisa bikin gua ditembak mati kalau ketahuan, tapi ini sangat berharga bagi gua sekarang.

Gua memosisikan tubuh gua membelakangi lorong barak, menyalakan korek api gas kecil yang gua sembunyikan di telapak tangan sebagai pencahayaan minim agar gak menarik perhatian penjaga malam yang berpatroli.

Di atas kertas buram itu, dengan tulisan tangan yang kecil dan rapi, gua menuliskan judul di bagian paling atas:

**PANDUAN BERTAHAN HIDUP DI KAMP 99**

Gua terdiam sejenak, memikirkan apa yang sudah gua lalui selama beberapa hari ini. Pelajaran terbesar apa yang gua dapatkan dari mengamati cara kerja tempat ini?

Gua mengetukkan ujung pensil ke dagu, lalu mulai menuliskan poin pertama.

*Aturan Pertama: Jangan Terlihat Menonjol.*

Gua menjabarkan poin tersebut di bawahnya dengan kalimat-kalimat yang langsung pada intinya.

*Jangan pernah kelihatan terlalu kuat. Kalau lo sok kuat atau pamer kemampuan di sini, lo bakal dianggap sebagai ancaman oleh para 'penguasa' kamp seperti Igor atau Leon. Mereka gak bakal ragu buat nyingkirin lo sebelum lo jadi terlalu besar.*

*Tapi, jangan juga kelihatan terlalu lemah.*

*Kalau lo kelihatan rapuh, gampang nangis, atau penakut, lo cuma bakal jadi mangsa empuk bagi para predator. Lo bakal diperas, dipukuli, dan dijadikan keset sampai lo mati karena depresi atau bunuh diri.*

*Jadilah seperti bayangan. Berada tepat di tengah-tengah. Jadilah orang yang biasa-biasa saja di mata publik. Lakukan pekerjaan lo dengan standar rata-rata. Jangan jadi yang terbaik, jangan jadi yang terburuk. Dengan begitu, lo gak akan menarik perhatian penjaga maupun tahanan lain.*

Gua membaca ulang tulisan itu. Senyum sinis terukir di wajah gua yang penuh luka lebam.

Gua, Rayan, yang dulunya selalu ingin menjadi pusat perhatian di setiap pesta, yang selalu bangga dengan mobil sport dan pakaian bermerek, sekarang harus belajar cara menjadi "tidak terlihat" demi menyambung nyawa. Ironis banget memang. Tapi inilah kenyataannya.

Di tempat ini, kesombongan adalah tiket tercepat menuju liang lahat. Dan gua belum mau mati. Belum saatnya.

Gua melipat kertas itu kecil-kecil, lalu menyembunyikannya di dalam robekan kecil di bawah sol sepatu bot karet gua yang kotor. Tempat penyimpanan paling aman yang gak bakal terpikirkan oleh para penjaga saat melakukan razia rutin.

Gua meniup api korek gas hingga padam, lalu memejamkan mata di tengah kegelapan barak yang dingin.

"Tunggu gua, Adrian," bisik gua lirih pada kegelapan malam. "Gua bakal bertahan hidup di neraka ini, dan gua bakal pastikan lo membayar semua ini."

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca